Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
5-2


__ADS_3

Dengan setengah hati Junna menuruti permintaan Rhine untuk datang ke konsernya. Ia benar-benar kalah telak dengan keempat temannya. Ya eyalah..., satu lawan empat kan yang menang sudah pasti empat, dasar Junna aneh.


Sialan..., pada akhirnya aku harus mengikuti keinginan si Tuan Narsis itu untuk datang ke konsernya..., dasar cowok kurang ajar!!! Dia memanfaatkan kelemahanku yang terbesar nggak enakan pada teman-temanku!


Junna mengeluh dalam hatinya sesampainya di TA Hall, sebuah aula berukuran sebesar lapangan bola dan bisa ditebak, hari itu suasananya dipenuhi oleh fans-nya Rhine yang ingin menonton konser sang idola.


"KYAAA!!!! Kita sungguh beruntung bisa nonton konser gratisnya Rhine!!!" Teriak keempat teman Junna.


"Padahal kan dapetin tiketnya susah banget," Ujar Lily. "Dapat tempat strategis lagi."


"Enggak sia-sia punya teman yang bertetangga baik dengan Rhine!" Sambung Cia yang spontan mencium pipi Junna.


"Najis! Tega-teganya lo nyium gue!" Ujar Junna mengusap-usap atau tepatnya membersihkan bagian pipinya yang baru saja dicium Cia. "Gue masih suka cowok tahu!"


"Yeee..., nggak segitunya kaleeeee...," Protes Cia. "Gue juga masih suka cowok!"


"Makasih banget lho Junna, lo beneran memikirkan kita berempat, padahal kita tahu kan lo nggak suka sama Rhine," Lanjut Riri.


"Gue tahu! Karena keseringan dicekokin ceramah-ceramah lagu Rhine, Junna jadi berubah nge-fans sama Rhine!" Tia berkata seenaknya.


"Sembarangan! Memangnya acara keagamaan sampai membawa kata ceramah segala...," Junna langsung cemberut. "Terpaksa nih gue ceritanya sampai harus menonton konser si Tuan Narsis! Kalau enggak, kalian mana bisa mendapatkan tiket gratis konsernya, lagian syaratnya aneh-aneh saja! Meskipun dia melakukan sampai sejauh ini, gue tetap saja nggak akan mau jadi fans-nya!"


"Ya ampun..., lo sampai kasih sebutan spesial untuk Rhine? Guys, teman kita yang satu ini beneran jadi fans-nya Rhine," Tia berkata berlebihan. "Ternyata Rhine idola kita bisa merubah paradigmanya."


"Gue kan sudah bilang gue bukan fans-nya Tuan Narsis!" Junna yang terdesak berkata setengah teriak.


"Ssstttt!" Keempat sahabat Junna segera membekap mulut Junna. Seluruh orang di TA Hall yang sempat mendengar ucapan Junna menatap kearah Junna.


"Tuh kan..., gue adanya kena sial terus kalau sudah berhubungan dengan cowok itu...," Kali ini Junna benar-benar tak bisa berkutik. "Daripada membuat keributan disini lebih baik kita langsung masuk saja ke tempat konsernya! Gue nggak mau jadi objek penderitaan fans-nya Tuan Narsis yang lainnya gara-gara gue terlalu menyuarakan aspirasi ketidaksukaan gue kepadanya!"


Junna dan teman-temannya pun masuk ke dalam aula untuk mencari tempat duduk yang sudah disesuaikan dengan tiket yang diberikan Rhine padanya. Tak beberapa lama kemudian konser pun dimulai...


"Hallo everybody!!!" Ucap Rhine begitu ia naik ke panggung.


"KYAAA!!!" Ucapan Rhine dibalas dengan teriakan oleh para fans Rhine tak terkecuali keempat teman Junna.


Tuhkan benar..., narsisnya kumat..., jadi beneran malas nonton... Junna hanya bisa menghela napas melihat tingkah dan polah Rhine yang begitu percaya dirinya menyapa para fansnya dengan gaya overconfident-nya.


Ternyata dia beneran datang... Rhine yang menyadari kehadiran Junna dengan sengaja mengerlingkan mata kearah Junna.


"KYAAAA!!! Rhine mengerlingkan matanya kepada kita!!!" Teriak orang-orang yang berada disekeliling Junna termasuk keempat sahabatnya


HUUEEEKKK!! Sumpah gue beneran mau muntah!!! Perut Junna mendadak mulas dan teraduk sehingga menyebabkan rasa mual ketika melihat apa yang dilakukan Rhine barusan.


Hehehehe..., kayaknya gue sudah keterlaluan, melihat responnya saja kelihatan banget ia mau muntah melihat gaya gue tadi... Rhine sangat memaklumi sikap Junna. Tapi lihat saja, selama 2 jam akan gue buat dia beneran mengakui gue lewat lagu-lagu yang gue nyanyikan...


Strength! I will subjugate you with my S-T-R-E-N-G-T-H!


Nobody can do like me...


Just only me to make u fall to ME!!


Fall in the desire


Surrender everything to me


Moaned enjoying every passion there

__ADS_1


Hug you and own you forever...


Come to me with a feeling that demands


Caresses pleading with lust


And we will fall together


The eternal pleasure...


"Eh?" Beberapa bait lirik lagu Rhine langsung membuat rasa eneg yang Junna rasakan hilang, ia merasa lagu itu seolah-olah untuknya. Membayangkan dirinya berada dihadapan Rhine, memeluk, mencium dan jatuh bersama hasrat yang dimiliki dan menjadi satu dengan Rhine. Ah..., sungguh keinginan gila yang betapa indah jika hal itu terjadi..., bagaimana bisa ia memiliki pikiran liar seperti itu? Padahal saat bersama Ega ia tak merasakan hingga sedalam ini...


Pandangannya tak lepas sedikitpun selama Rhine menyanyikan lagu-lagunya. Ekspresi itu tanpa disadari oleh Junna tertangkap oleh Tia. Tia pun hanya tersenyum kecil melihat sikap Junna.


"KEREN BANGET!!!" Teriak Tia, Cia, Riri, dan Lily bersamaan. Saat ini mereka mendapat izin berada di belakang panggung untuk bertemu dengan Rhine secara langsung.


"Terima kasih ya sudah mau datang ke konserku," Rhine memasang senyuman super komersilnya seperti biasa.


"Ah, biasa saja kok konsernya, yang ada telinga gue sakit karena dipaksa dengerin lagu-lagu lo selama 2 jam," Junna berkomentar pendek dan pedas. "Belum lagi ditambahin teriakan-teriakan nggak jelas dari fans-lo itu."


"Oh ya?" Rhine hanya menanggapinya dengan datar.


"Bohong Rhine! Selama 2 jam konser berlangsung mata Junna nggak lepas sedikitpun kearahmu lho Rhine!"


"Apa?!" Junna yang merasa ketahuan tak bisa menutupi rasa malunya.


"Benarkah?" Rhine yang awalnya menanggapi datar jadi tersenyum puas. Perasaan hatinya membucah bak ada sekumpulan bunga-bunga bermekaran di dalam hatinya. "Berarti aku berhasil dong menghasut teman kalian yang keras kepala ini untuk jadi salah satu fans-ku...ehehehe..."


"Ukh...," Junna yang tak bisa berkata apa-apa langsung ambil langkah seribu alias kabur. Sementara Rhine yang menangkap wajah merahnya Junna hanya tersenyum lembut menatap sosok Junna yang tampak terburu-buru untuk pulang.


***


"Enggak! Kalau gue bilang enggak ya enggak!!" Teriak Junna juga dari balkon rumahnya. "Gue kan cuma menikmati lagunya aja, tapi bukan elonya! Pede gila!"


"Lho, menikmati lagu ciptaan gue itu sama saja dengan nge-fans sama gue kan. Ngaku saja deh, susah benar..."


"Terserah lo deh mau bilang apa! Susah emang ngomong sama orang narsis kayak lo!" Junna memilih kembali ke kamarnya.


"Tapi gue seneng banget lho, elo bisa menikmati lagu-lagu yang gue nyanyiin tadi."


Junna terkejut mendengar pengakuan Rhine tersebut. Hatinya kembali berdebar-debar tak karuan. Ia merasakan ada kehangatan yang menjalar dikedua pipi mulusnya.


"Ukh..., gue nggak mau tahu!!" Junna bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia merasa mati kutu tak dapat membalas balik pernyataan dari Rhine.


Rhine yang melihatnya hanya bisa menghela napas dan bertanya-tanya, mengapa ia bisa sejauh ini terlibat dengan Junna. Gadis keras kepala yang ternyata pelan-pelan telah berhasil mengambil hatinya. Hatinya yang selalu ia tutup untuk orang lain. Ia menyentuh dahinya dan meraba pelipis kanannya yang terdapat sebuah bekas luka yang selalu ia tutupi dengan poni rambutnya. Ekspresinya yang semula cerah berubah menjadi muram. Pandangannya menerawang ke atas langit yang sepertinya sangat mendukung perasaannya hari ini, mendung. Ia kemudian menundukkan kepalanya menyentuh balkon merutuki nasibnya. Ingin ia menangis namun sudah tidak ada air mata lagi yang tersisa. Air mata yang telah ia kuras habis sepuluh tahun yang lalu ketika ia memutuskan untuk hidup sendiri dan berusaha lepas dari bayang-bayang masa lalunya yang sangat tidak mengenakkan untuk dikenang.


"Dasar anak haram! Tidak punya Ayah!"


"Kau sungguh menyedihkan!"


"Lebih baik kau mati saja!"


"Pergi kau!"


Entah apa yang dipikirkan dari salah satu anak yang menghina Rhine, ia mengambil sebuah batu yang cukup berat dan melemparkannya kearah dirinya yang saat itu berusia tujuh tahun. Batu tersebut tepat mengenai pelipis kanan Rhine sehingga mengeluarkan darah. "Tidak ada tempat untuk anak haram disini! Dasar pembawa sial!"


"Ibu...," Rhine kecil pun menangis sejadi-jadinya. Dengan peluh dan luka yang masih berdarah ia berjalan menuju rumahnya.

__ADS_1


"Ada apa sayang, kenapa badanmu kotor dan dahimu terluka?" Ashiya, Ibunya begitu panik ketika melihat Rhine yang kotor dan terluka. Ia pun segera menghampiri Rhine dan berusaha membersihkan kotoran yang menempel di tubuh Rhine.


"Ibu..., mereka bilang aku anak haram karena tak punya Ayah...," Tangisan Rhine semakin meledak. "Apakah benar itu Bu?"


Rhine ingat, ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Ibunya. Sedih dan terdiam tak sanggup untuk memberikan jawaban atas pertanyaan dirinya itu.


"Maafkan Ibu ya Nak..., Maafkan Ibu...," Ibunya memeluknya dengan erat seolah dirinya sangat bersalah pada apa yang telah terjadi pada anak semata wayangnya. Satu-satunya miliknya yang berharga.


"Rhine! Rhine! Bangun!" Sebuah suara memanggil Rhine membuatnya tersadar dari tidurnya. "Apa yang kamu lakukan sampai bisa tidur di balkon rumah kamu sendiri?"


"Mas Yudha?" Mata Rhine teperanjat melihat sosok manajernya berdiri di hadapannya dengan ekspresi bingung dan heran. Sepertinya nyawanya belum sepenuhnya terkumpul. "Balkon? Siapa yang tidur di balkon?"


Yudha menunjuk kearah Rhine.


"Aku?!" Rhine panik kemudian melihat kesekililingnya. Ia sadar bahwa ia telah melakukan perbuatan konyol dengan tidur di balkon. "Gila, aku bisa juga ya nggak sadar tidur di balkon?!"


"Justru aku yang seharusnya bingung, sungguh tidak biasanya orang se-perfectionist seperti kau yang terlalu mencintai dirimu sendiri melebihi apapun bisa melakukan hal-hal yang aneh dan ceroboh seperti tidur di balkon, bukannya kau pernah bilang kepadaku kalau udara malam itu tidak baik untuk kesehatanmu?" Yudha mencondongkan tubuhnya menempel ke balkon sambil memperhatikan rumah sebelah penasaran. "Hmm..., aku jadi penasaran, apa ya kira-kira yang menyebabkanmu sampai error begitu? Apakah ada sesuatu yang indah diseberang sana?"


"Jangan ngawur," Rhine menutupi wajah Yudha dengan telapak tangan kanannya dan menariknya masuk ke kamar. Ia tidak senang jika ada orang lain yang mengetahui sosok Junna selain dirinya. "Nobody perfect tahu! Aku juga bisa melakukan kesalahan."


"Tapi aneh saja Rhine," Yudha tetap ngotot ingin tahu.


"Sudah nggak usah memberikan pendapat yang tidak ada gunanya," Dan Rhine pun tetap ngotot tidak ingin memberi tahu. "Hari ini ada jadwal apa?"


"Oh iya, hampir lupa," Yudha segera mengambil agenda berisi jadwal Rhine. "Kau masih ingat dengan perusahaan rekaman dari Korea Selatan yang mengajakmu berkolaborasi membuat album? DG Entertainment..."


"Kenapa memangnya?" Tatapan Rhine berubah menjadi tajam dan serius. Terlihat sekali bahwa emosinya mendadak berubah naik. Seolah kalimat yang diucapkan oleh Yudha adalah hal yang tidak ingin dia dengar apalagi harus ditanggapi.


"Mereka masih ngotot ingin mengajakmu bekerja sama Rhine."


"Lupakan soal itu! Dibayar 1 Triliun sekalipun aku nggak akan pernah mau bekerja sama dengan mereka!"


"Tapi aku mau dibayar 1 Triliun Rhine...," Ujar Yudha membujuk.


"Dasar Manajer mata duitan!" Cibir Rhine kesal. "Kalau begitu Mas Yudha saja yang buat album dengan mereka!"


"Kau ini kenapa sih Rhine? Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu! Salah satu Perusahaan rekaman besar di Korea Selatan mengajakmu untuk membuat album disana, wajahmu yang mirip dengan para artis K-Pop ditambah lagi kamu juga fasih dalam berbahasa Korea, ini kan kesempatan emas buatmu untuk melebarkan sayap ke belahan Asia Timur. Kau tahu sendiri kan daerah itu paling sulit ditembus oleh penyanyi diluar negara tersebut..."


"Aku nggak masalah kalau perusahaan rekaman lain yang menawarkan, tapi khusus perusahaan rekaman itu, aku menolak 100%! Enggak ada tapi-tapian!"


"Padahal itu sudah termasuk dalam master plan-ku lho..., pertama-tama kamu harus menguasai pasaran Asean dan kau sudah membuktikannya, sekarang seharusnya kau bisa masuk ke pasaran Asia Timur namun kau telah menyia-nyiakannya," Yudha menghela napas dan geleng-geleng kepala. Baru kali ini ia memiliki anak didik yang sangat merepotkan dan keras kepala. Tapi tanpa Rhine ia bukanlah apa-apa. Ia adalah artis pertama yang membantunya melewati masa-masa sulit dalam hal keuangan. Perusahaan management artisnya nyaris bangkrut jika saja ia tidak menemukan Rhine. Dan kini ia tak bisa berbuat apa-apa menghadapi kekeraskepalaan artis kesayangannya itu. Padahal ia tahu bahwa Rhine mampu memperoleh ketenaran jauh lebih besar daripada sekarang. Terutama pada perusahaan rekaman yang ia ucapkan tadi. Sebenarnya ia pun heran, pemilik perusahaan rekaman nomor satu di Korea Selatan itu tiba-tiba mendatanginya dan mengajukan kontrak kerjasama album rekaman dengan syarat artis tersebut adalah Rhine. Bagaimana mereka bisa tahu tentang Rhine? Bagian marketing-nya hanya memasarkan album Rhine disekitar kawasan Asean. Dipikirkan dengan logika apapun tetap saja ia tidak mengerti.


"Sekali aku bilang enggak ya enggak Mas Yudha," Rhine mengambil handuk yang tergantung di tempat jemuran. Ia memilih untuk mandi mendinginkan otaknya yang tiba-tiba memanas. "Aku mau mandi!"


Mau mandi kan nggak ada hubungannya dengan menolak kontrak kerjaan... Yudha membatin sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa samping tempat tidur Rhine. Ia mengambil remote televisi yang tergeletak di tempat tidur. Tak dipungkiri rumah milik Rhine ini sangat nyaman. Dengan konsep minimalis perpaduan etnik dari lukisan-lukisan khas Nusantara membuat siapapun yang berada disana akan betah berlama-lama disini.


Bertolak belakang dengan Yudha, rasa frustasi dan kesal menyelubungi Rhine.


"Berengsek!"


Ia membanting keras-keras handuk yang dibawanya. Untung saja air pancuran dari shower menutupi teriakan umpatan yang keluar dari mulutnya. Kenapa ia harus dikaitkan dengan pemilik perusahaan itu? Kwon Hyun Suk, lelaki yang paling ia benci di dunia ini. Lelaki yang telah membuatnya tak berani mendekati perempuan manapun karena ia mewarisi gen darinya. Gen yang tidak pernah bisa mencintai seseorang sehingga tidak mau terikat oleh siapapun dan memilih mencampakkan wanita yang mencintainya dengan tulus. Lelaki yang telah memberikan dirinya cap anak haram selama ini, cap yang sampai kapanpun tidak akan pernah hilang dari hidupnya.


"Rhine, jangan lama-lama mandinya!" Teriak Yudha dari luar. "Aku tadi belum sempat menjelaskan jadwal untukmu hari ini! Ada lima schedule yang harus kamu lakukan!"


"Iya, iya, cerewet banget sih! Kayak yang diseberang saja!" Umpat Rhine masih dengan kekesalannya.


***

__ADS_1


__ADS_2