
Hawa kota Seoul yang beberapa bulan lalu dilanda temperatur dingin yang mencekat tulang perlahan menghangat, pucuk-pucuk bunga sakura mulai bermunculan perlahan seolah terbangun dari peraduan panjangnya di musim dingin dan siap memberikan warna cerah pink musim semi pada dunia. Namun sungguh bertolak belakang dengan perasaan Junna. Bingung, gelisah, dan ragu merayap di relung hatinya sejak pembicaraan terakhirnya dengan Yudha di cafe rumah sakit beberapa minggu yang lalu. Darinya ia tahu bagaimana Rhine mengalami amnesia dan menghilang dari dunia entertainment yang membesarkan dirinya dan dari dunia kecil milik Junna. Disatu sisi ia ingin menyalahkan keegoisan Ibu dari lelaki yang ia cintai tersebut yang membuat Rhine secara tidak langsung meninggalkan dan melupakannya, namun disisi lain ia melihat perjuangan seorang wanita yang ingin keluarga kecilnya bahagia dan tak terpisahkan lagi seperti dulu karena kesalahan dimasa lalunya.
"Aku harus bagaimana?" Desah Junna. Ia menyenderkan tubuhnya di salah bangku taman rumah sakit dan mengadahkan kepalanya kearah langit biru nan cerah. Ia berharap benang kusut dikepalanya dapat terurai sejenak. Jujur ia merindukan Rhine, sangat merindukannya..., tapi apakah ia bisa menjadi orang yang egois hanya untuk memiliki cintanya kembali setelah sekian lama pergi karena penyebab yang sangat menyakitkan hatinya?
"Harus bagaimana apanya?" Suara bariton yang sangat Junna kenal mengejutkannya.
"Kamu kan..."
"Aku Rhine, salah satu pasien Kakakmu," Rhine seenaknya duduk disebelah Junna. "Masa' kamu bisa lupa dengan lelaki sekeren aku?"
Oh ayolah..., amnesia sih amnesia, tapi sikap narsisnya itu lho...nggak hilang-hilang... Junna hanya memutar kedua mata indahnya malas menanggapi Rhine. Untung ia masih cinta, jadi dapat ditolerir...
"Mau apa anda kemari? Bukankah anda urusannya dengan kakakku Shine?" Junna yang menyadari Rhine duduk tepat disebelahnya memilih bergeser sedikit menjauh. Ia khawatir detakan jantungnya yang bertalu-talu ketika berada didekat Rhine terdengar oleh lelaki tersebut.
"Entahlah, aku kok merasa kamu nggak asing ya dimataku?" Rhine yang menangkap sikap awkward yang ditunjukkan Junna ketika ia dekati membuatnya semakin ingin menggoda Junna dengan memperpendek jarak diantara mereka. "Apa kita pernah dekat sebelumnya? Apa lagi kamu pernah memanggilku Tuan Narsis, itu bukan julukan bernada pujian lho..."
"Aduh..., tapi bisa nggak terlalu memepetku seperti ini, risih tahu!" Akhirnya sikap galak Junna kembali keluar. Kalau aku bilang kenal juga belum tentu kamu ingat padaku." Ia mendorong tubuh Rhine dan memilih berdiri dari duduknya untuk menjauh.
"Mas Yudha bilang apa saja ke kamu kemarin?" Rhine memegang erat lengan kanan Junna. "Aku melihat kalian terlibat pembicaraan yang sangat serius membuatku tak tahan untuk bertanya padamu karena aku yakin Mas Yudha tidak akan mau menceritakannya padaku."
"Aku..., aku nggak tahu!" Junna yang belum siap untuk menjawab pertanyaan Rhine memilih untuk melepaskan genggaman tangan Rhine dengan paksa dan melarikan diri meninggalkan lelaki tersebut.
"Hei dengar, aku tidak akan berhenti mengganggumu sebelum kamu menjawab pertanyaanku tadi!" Teriak Rhine dari jauh.
"Bodo!" Balas Junna sambil menutup kedua telinganya dan terus berlari pergi dari tempat itu.
***
__ADS_1
Dan rupanya Rhine benar-benar melaksanakan niatnya untuk terus mengganggu Junna. Hampir setiap hari meskipun tidak ada jadwal terapinya ia selalu mendatangi Junna. Pada saat menerima pasien, pada saat makan siang, bahkan ketika Junna hendak ke toilet pun ada Rhine datang menghadang. Semakin lama dan semakin tinggi frekuensi tindakan kekanak-kanakan yang dilakukan Rhine membuat Junna menjadi bahan gosip oleh para suster yang ada di rumah sakit tersebut dan hal itu membuatnya frustasi. Bagaimana tidak, rupanya Rhine yang dikenalnya saat ini adalah sosok yang terkenal sebagai produser bertangan dingin yang telah menghasilkan banyak masterpiece dibidang musik. Ayolah..., jangan sampai hal yang lebih buruk terjadi pada dirinya hanya karena ia berurusan dengan Rhine yang sekarang.
"Sudah berapa kali aku bilang apa yang menjadi pembicaraanku dengan Mas Yudha bukan urusanmu Rhine!" Junna berjalan tergopoh-gopoh berusaha menghindari Rhine yang tidak juga menunjukkan tanda-tanda menyerah.
"Tapi hal itu penting Junna!" Ujar Rhine tak mau kalah. "Kamu tidak mengerti bagaimana rasanya terus dihantui mimpi yang sama setiap harinya membuatku butuh jawaban darimu secepatnya."
"Apa maksud ucapanmu itu? Aku sungguh tidak mengerti!" Junna semakin mempercepat langkahnya menuju tangga darurat. "Kita ini hanyalah sebatas dokter dan pasien tidak lebih!"
"Lebih jika kamu tahu sejak aku bertemu denganmu aku selalu memimpikan hal yang sama tentang seorang gadis dan setelah kuamati ternyata gadis itu kamu!"
"Ap...," Junna yang terkejut dengan ucapan Rhine menolehkan badannya tanpa menyadari bahwa ia sedang menuruni tangga. Kaki kirinya yang menggunakan high heels tidak menjejak anak tangga dengan benar membuat tubuhnya oleh dan bersiap jatuh jika saja Rhine tidak menariknya dan melindungi tubuh Junna dari anak tangga. Kepala Rhine terantuk lantai membuatnya pingsan.
"Rhine...," Junna yang melihat Rhine pingsan dengan pelipis yang berdarah berubah menjadi panik. "Bangun Rhine, bangun! Jangan tinggalin aku lagi Rhine!"
"Rhine!" Tangisnya pecah. "Tolong, siapa saja tolong! Ada pasien yang kecelakaan jatuh dari tangga!"
***
Ya Tuhan, kumohon selamatkan Rhine..., kami baru saja kembali bertemu dan kisah cinta kami masih belum usai Tuhan..., kumohon jangan Engkau ambil kembali dirinya dariku...
CEKLEK!
Terdengar suara pintu terbuka dan menampakan Shine yang baru selesai mengobati Rhine.
"Bagaimana keadaan Rhine Kak?" Tanya Junna dengan nada khawatir.
"Hanya gegar otak ringan Junna, kamu tidak perlu khawatir...," Shine menepuk-nepuk pelan pundak Junna yang tampak begitu khawatir. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Shine tanyakan kepada Junna mengenai hubungan adiknya itu dengan Rhine. Mengingat gosip yang beredar akhir-akhir ini tentang sang adik. Namun ia merasa saat ini belum tepat sehingga ia membiarkan saja semuanya berjalan normal seolah tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Syukurlah...," Perasaan Junna sedikit lega setelah mendengar penjelasan Shine.
"Aku minta tolong kamu menemani Rhine sebentar sementara aku akan mengabari kepada keluarganya."
Perlahan-lahan Junna mendekati Rhine yang terbaring tidur. Disentuhnya wajah tampan itu. Air matanya yang sejenak terhenti kembali mengalir.
"Maafkan aku Tuan Narsis, maafkan aku..., seandainya aku tidak menghindar darimu kecelakaan tadi tidak akan terjadi...," Kesepuluh jari Junna menutup wajah cantiknya agar air matanya tak semakin deras mengalir. "Aku bingung harus bagaimana setelah mengetahui dari Mas Yudha bahwa kamu amnesia akibat kecelakaan, dan karena amnesiamu itu Mas Yudha dan Ibumu memanfaatkan kondisimu agar kamu mau memaafkan Ayahmu yang notabennya kamu benci karena salah paham bahwa Ayahmu meninggalkan Ibumu yang sedang hamil dirimu padahal sebenarnya tidak seperti itu dan tanpa mereka sadari telah memisahkan kita dan meninggalkan luka padaku..."
"Sekarang masih terluka nggak hatinya?" Tarikan dari jas dokter yang dikenakan Junna menghentikan tangis Junna dan menoleh kearah pemilik suara.
"Rhine..."
"Kalau masih terluka biar aku obatin ya lukanya."
"Rhine syukurlah kamu sudah sadar..."
"Kamu nggak mau memelukku setelah delapan tahun tidak bertemu?" Rhine merentangkan kedua tangannya padahal kondisi tubuhnya masih lemah.
"Delapan ta...," Mata Junna membelalak sempurna. "Kamu ingat padaku Rhine? Kamu beneran ingat atau hanya bercanda?"
"Tentu saja ingat, siapa coba gadis cengeng nan jutek dan keras kepala tapi punya gengsi selangit serta hanya bisa menangis dihadapanku selain kamu," Senyuman miring khas Rhine tampak familiar dihadapan Junna. Oh betapa ia merindukan senyuman sinis nan meremehkan dari Rhine. Ini Rhine yang dia kenal. "Lantas kamu mau mengangguri dadaku yang kosong ini untuk minta dipeluk?"
"Iya, iya, aku kangen padamu Tuan Narsis...," Junna segera menghambur untuk memeluk Rhine. Kerinduan yang tertahan selama delapan tahun akhirnya tersampaikan sudah. Rhine pun tak kalah erat memeluk Junna meskipun dengan kondisinya yang sekarang. Setelah delapan tahun ia menanti saat ini, saat dimana ia tak lagi harus menahan diri. Ia harus berterima kasih dengan delapan tahun masa amnesianya.
"Ternyata..., delapan tahun kita tidak bersua kamu jadi seksi ya," Celetuk Rhine receh dan mendapat cubitan keras dari Junna di pinggang kirinya.
***
__ADS_1