Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
7-1


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan konyol yang lagi-lagi dibuat Rhine dan Junna, mereka tidak akan mengobrol dan bertemu muka sampai dengan Junna menyelesaikan semua ujian akhirnya. Suasana begitu sepi dan lengang. Rhine hanya bisa memandangi kamar Junna yang tampak kosong. Hari ini adalah hari ketiga ia tidak melihat sosok Junna. Ia sangat merindukan perselisihan-perselisihan yang biasa ia lakukan bersama Junna. Rasa kesepiannya sudah tak dapat dibendung lagi meskipun telah ditemani gitar kesayangannya. Sungguh aneh ia bisa memiliki perasaan itu. Perasaan yang tak sekalipun terbesit dalam dirinya untuk memilikinya.


"Aku tak menyangka kalau Mr. Kwon itu adalah Ayahmu...," Tampak Yudha yang terlihat kecewa dan frustasi dengan kenyataan yang dihadapannya. Anak didiknya yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri ternyata selama ini menyembunyikan hal sebesar ini. Ia merasa gagal menjadi orang yang paling dekat dengan Rhine dan tidak dipercaya oleh Rhine sebagai walinya. "Pantas saja Ibumu sempat melarangmu untuk terjun ke dunia entertainment. Aku sekarang tahu penyebabnya..."


"Maafkan aku...," Rhine hanya bisa duduk menunduk. Ia merasakan apa yang dirasakan oleh Yudha.


"Sebenarnya apa yang terjadi hingga kau begitu membenci Mr. Kwon? Padahal ia adalah Ayah kandungmu sendiri."


"Itu...," Rhine menelan air ludahnya sendiri. Ia sungguh tidak ingin menceritakan pengalaman pahit selama lima belas tahun hidupnya. Sejak dilahirkan, ia selalu melihat Ibunya menangis merasa bersalah karena telah membuat dirinya tidak memiliki Ayah. Setiap kali ia berjalan keluar rumah, pandangan jijik terhadap dirinya selalu ia rasakan hingga suatu ketika teman-temannya mengucapkan kata-kata yang tidak pernah terbesit dalam dirinya mengetahui bahwa ia adalah anak haram. Setiap hari ia hanya bisa menangis dan semakin tidak percaya diri. Ibunya yang melihat hal itu selalu menghiburnya dengan memperdengarkan lagu-lagu milik Kwon Hyun Suk. Dari situlah ia merasakan ketertarikannya akan musik dan kepercayaan dirinya mulai tumbuh bersama lagu-lagu Kwon Hyun Suk.


Orang-orang disekelilingnya yang sempat meremehkannya berbalik terdiam ketika melihat ia memiliki prestasi di bidang akademis dan musik. Kesemuanya itu ia persembahkan kepada Ibunya dan sebagai ajang untuk menunjukkan kepada mereka yang menghina dan meremehkan dirinya. Hingga suatu ketika ia melihat Ibunya menangis di depan televisi. Dalam benaknya berpikir apa gerangan yang terjadi.


"Hyun Suk..., seandainya saja Rhine tahu bahwa kamu adalah Ayahnya..."


Kata-kata yang keluar dari mulut Ibunya bak petir di siang bolong. Kwon Hyun Syuk, penyanyi terkenal di Korea Selatan yang lagu-lagunya selalu menemani dan menghiburnya adalah Ayahnya? Bagaimana bisa?! Lantas mengapa Ibu tak pernah mengatakan padanya bahwa Ayahnya adalah Kwon Hyun Syuk? Apakah mungkin lelaki itu menolak dan tidak mengakui Ibunya? Terlebih lagi ia menolak dirinya sebagai anaknya? Pertanyaan itu terus menghantuinya hingga sekarang.


"Terus kau tidak menanyakan kepada Ibumu langsung apa yang sebenarnya terjadi dan hanya menyimpannya sendirian? Sampai sekarang?"


"Iya, dari situ kan Mas Yudha sudah dapat mengambil kesimpulan bahwa dia menolak Ibuku dan tidak mengakuiku sebagai anak," Rhine menunduk lesu. "Aku sangat kecewa dan membencinya..."

__ADS_1


"Dasar anak bodoh!" Yudha memukul kepala Rhine keras.


"Aduh, sakit Mas Yudha!" Keluh Rhine. "Kalau benjol bagaimana? Asset-ku ini sangat berharga tahu! Aku belum sampai ke puncak karirku untuk go internasional!"


"Otakmu itu ya, benar-benar tidak dewasa!" Yudha kali ini benar-benar marah.


"Kenapa jadi aku yang dimarahi?!" Protes Rhine.


"Jangan memotong pembicaraanku dulu Rhine!" Rupanya Rhine telah membangkitkan jiwa monster dalam diri Yudha yang selalu kalem dan mengalah kepada dirinya. Yudha sungguh tidak mengerti jalan pikiran Rhine. "Aku benar-benar tidak habis pikir, anak dengan nilai akademis tinggi dan bakat musik yang luar biasa seperti dirimu ternyata isi di dalam otaknya benar-benar dangkal! Kau pernah berpikir nggak bahwa apa yang selama ini kamu tangkap adalah kesalahan? Kenapa kau tidak mengklarifikasinya kepada Ibumu sendiri apa yang sebenarnya terjadi antara Ibumu dan Mr. Kwon sehingga semuanya jelas?"


"Semuanya sudah jelas Mas Yudha! Lelaki itu sejak awal memang tidak pernah bertanggung jawab dan menganggapku ada! Kalau memang ia menganggapku ada seharusnya ia menemui Ibuku dan aku sejak dulu! Tapi kenapa baru sekarang?! Lima belas tahun aku menanggung beban ini sendirian Mas! Mas Yudha tidak akan pernah mengerti perasaanku selama ini!" Rhine keluar dari ruangan Yudha. Ingin rasanya ia menangis namun baginya jika ia sampai menangis maka harga dirinya sebagai lelaki akan jatuh.


"Apa yang lo lakukan disitu?" Suara Junna mengejutkan Rhine yang ternyata sedang melamun. "Untung gue tegur, kalau nggak lo bisa kesambet penghuni di komplek sini lho..."


"Apa lo sudah gila?!"


"Justru lo yang gila!" Junna memegang pipi Rhine dengan kedua tangannya. "Lo beneran jadi aneh! Baru juga ditinggal tiga hari nggak diajak ngomong karena gue ujian, tampang lo itu lho, enggak banget! dasar payah!"


"Gue nggak payah!" Rhine menapik tangan Junna. Junna terkejut. Namun Rhine lebih terkejut lagi dengan apa yang ia lakukan. Ia telah menyakiti Junna.

__ADS_1


"Balik sana!"


"Ooo..., gitu, ya sudah! Gue balik saja!" Jujur keterkejutan Junna tidak biasa. Ia merasa dirinya telah ditolak oleh Rhine. Dadanya mendadak sesak dan terasa sakit. Tubuhnya gemetar namun ia berusaha menutupinya. Ia pun memilih untuk membalikkan posisi tubuhnya dan mengambil aba-aba untuk meloncat kembali ke teras rumahnya. Ketika hendak meloncat, Junna yang terlalu pendek mengambil start nyaris saja jatuh dari balkonnya jika saja Rhine yang sudah menyadarinya sejak awal memilih ikut loncat untuk menyelamatkan Junna. Mereka pun terjatuh bersama di teras kamar Junna dengan posisi Rhine yang mengorbankan tubuhnya dengan memeluk tubuh kecil Junna untuk melindunginya.


"Sekarang siapa yang gila hah?!" Teriak Rhine kesal. "Pikir dong pake otak lo! Ini lantai dua! Lo bisa saja jatuh kalau lo salah memperkirakan jarak awalnya!"


"Berisik! Gue nggak butuh komentar lo!" Junna segera bangkit dari posisinya yang berada di atas Rhine. "Percuma khawatir sama orang kayak lo! Membuang-buang energi dan waktu gue aja!"


"Elo...khawatir sama gue?" Rhine tak percaya pada yang baru saja didengarnya. Tiba-tiba ia merasakan dadanya menghangat. Ia senang, ya ia senang mendengar kalimat yang baru saja terucap dari Junna. "Kok bisa?"


"Sudahlah, balik sana!" Usir Junna berusaha menutupi rasa malunya. Ia melepaskan pelukan Rhine dan berdiri dari posisinya diikuti oleh lelaki itu. "Bukankah kita sudah sepakat nggak akan ngomong dan ketemu kalau ujian akhir gue belum selesai?"


"Tapi gue kangen sama lo Junna," Tiba-tiba Rhine menatap serius kearah Junna. Tanpa ia sadari tangan kanannya menarik ujung kaos putih yang Junna kenakan.


"Eh?" Mata Junna melebar berusaha menangkap apa yang baru saja diucapkan Rhine. Sontak jantungnya berdebar kencang. Kangen? Apa aku nggak salah dengar? Seorang Rhine kangen padaku?


"Gue kangen adu mulut sama lo," Rhine tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi dan putih. "Hehehehe..."


"Ukh..., ya sudah sana! Gue mau lanjut belajar!" Junna segera masuk ke kamar dan mengunci pintunya serta menutup gordennya. Rhine hanya bisa menghela napas sambil menahan rasa sakit di punggungnya yang lecet.

__ADS_1


Maafkan gue ya yang belum bisa jujur tentang perasaan gue sama lo..., gue takut perasaan ini malah menyakiti lo...meskipun sebenarnya gue benar-benar kangen sama lo Junna...


***


__ADS_2