
"Ukh..., sebel!" Teriak Junna di balkon.
"Kenapa lagi teriak-teriak?!" Rhine keluar dari kamarnya karena mendengar suara teriakan Junna. "Sudah bosan hidup ya?! Sampai harus menganggu ketenangan hidup orang penting kayak gue?"
"Lo yang sudah bosan hidup! Gara-gara lo datang ke sekolah semua teman-teman gue meledeki gue habis-habisan! Mereka bilang lo cowok baru gue. Dih, amit-amit kalau gue sampai jadian sama lo..., elo kan bukan tipe cowok idaman gue banget."
"Menghina nih ceritanya, hati-hati kena karma lho karena membenci gue terlalu berlebihan," Rhine agak sedikit tersinggung dengan ucapan Junna. Entah mengapa akhir-akhir ini ia lebih sensitif jika mendengar kata-kata berbau penolakan tentang dirinya dari Junna. "Lagian juga memangnya gue mau pacaran sama anak bau kencur kayak lo?"
"Gue malu, kesannya gue cepat sekali mendapatkan pengganti Ega, padahalkan nggak begitu," Junna mengungkapkan perasaannya dengan polos.
"Anggap saja mereka nggak pernah ngomong kayak gitu sama lo. Kalau lo-nya nggak ngerespon, mereka juga capek sendiri," Ujar Rhine santai.
"O iya, tunggu disitu! Ada yang mau gue kasih buat lo," Junna segera berlari ke dalam kamarnya dan kembali keluar dengan cepat.
"Ini buat lo!" Junna menyerahkan kaos warna pink oblong bertuliskan 'Mr. Narcissist' tercetak hitam dan tebal dengan huruf seperti hasil ketikan mesin ketik.
__ADS_1
"Ada angin apa lo ngasih gue hadiah? Lo kan nggak suka sama gue?" Rhine tersenyum sinis. "Jangan-jangan kepala lo kepentok pintu geser lo lagi ya karena mendadak berubah baik ke gue?"
"Sembarangan! Ini sebagai ucapan terima kasih gue karena lo sudah nyemangatin gue pas gue diputusin Ega dan juga karena lo sudah menyelamatkan gue dari hukuman Pak Thamrin," Junna tersenyum. "Pak Thamrin itu guru paling killer di sekolah gue! Kalau tadi gue nggak ngumpulin PR pasti alamat disuruh berdiri satu kaki dan kedua tangan gue memegang telinga serta dilakukan di depan kelas. Malu habis kalau beneran kejadian..."
"Ooo..., tapi bagus juga...warna pink, ditambah ada kata-kata ini," Rhine meringis sambil menunjukkan tulisan 'Mr. Narcissist' yang tersablon tepat berada di tengah-tengah kaos.
"Ngeledek nie ceritanya?!" Rhine langsung berteriak sekencang-kencangnya dihadapan Junna.
"Lho, kan pas dengan image lo," Junna membalas dengan seringai tak kalah sinisnya. "Jarang-jarang gue bisa ketemu barang bagus yang sesuai untuk lo. pink itu warna favorit gue dan kalau dipikir-pikir cocok juga untuk lo yang narsis itu! Hehehehe..."
"Harusnya mereka tahu bahwa orang yang datang mengantarkan bukunya SANG TUAN PUTRI JUNNA itu adalah Rhine si ARTIS TERKENAL," Rhine memberikan penekanan-penekanan pada beberapa kata. "Dasar fans karbitan!"
"Tersinggung nih ceritanya?" Junna meledek Rhine. "Hahaha..., ternyata fans lo nggak begitu kenal lo, gue seneng..., akhirnya..., AKHIRNYA!" Ia mengangkat kedua tangannya bersorak-sorai seolah ia telah memenangkan sesuatu.
"Sialan!" Umpat Rhine. "Enggak segitunya juga kale..., gue kan sudah bilang sebelumnya berarti penyamaran yang gue lakukan sempurna. Kalau penyamaran gue ketahuan yang ada gue beneran habis dikerubutin sama anak-anak satu sekolahan lo." Elak dirinya yang tidak terima di skak mat oleh Junna seperti mereka sedang main catur saja.
__ADS_1
"Junna, ada teman-temanu datang!" Sang Mama berteriak dari lantai bawah.
"Mampus gue!" Junna menepuk kepalanya sendiri. "Gue lupa hari ini giliran rumah gue yang dijadiin markas untuk ngerjain tugas sekolah."
"WHAT?! Lo kok nggak bilang ke gue?!" Protes Rhine.
"Namanya lupa ya berarti nggak ingat kan?" Junna mulai panik. "Sudah ya, gue cabut dulu! Dadah..."
Junna segera keluar kamar dan turun ke lantai dasar.
"Dasar anak kurang ajar!!!" Teriak Rhine. "Kalau teman-temannya tahu bisa bubar semuanya!" Ia pun memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa dikuncinya pintu kamar tersebut dan memilih mendekam sendirian didalam kamar.
"Kacau tuh bocah! Lama-lama ngelunjak juga," Rhine tersenyum melihat tingkah Junna. "Tapi kalau diperhatikan memang dia anak yang manis banget, sepertinya kalau dia nggak apa-apa..."
***
__ADS_1