Junna dan Rhine

Junna dan Rhine
13-1


__ADS_3

"Ini," Shine menyerahkan sebuah amplop berlogo rumah sakit tempatnya bekerja kepada Junna sambil menikmati makan siang di salah satu tempat makan yang menjadi bagian dari kantin rumah sakit.


"Apa ini?" Tanya Junna dan menghentikan aktifitas makannya. Ia berusaha mencerna baik-baik ucapan Shine mengingat suasana ramai di jam istirahat pada kantin tersebut.


"Surat penawaran untuk memperpanjang kontrak kerjamu disini dan menaikkan statusmu dari dokter magang menjadi dokter tetap," Shine tersenyum bangga sambil melipat kedua tangannya dan menempelkannya di dada. Tak sia-sia ia membujuk Junna yang terkenal dengan dedikasinya di dunia kedokteran untuk menyumbangkan energi dan ilmunya di rumah sakit ini.


"Kak Shine serius?" Tanya Junna dengan ekspresi antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Shine. Ia bahagia dengan kabar baik itu karena jerih payahnya diakui oleh rumah sakit tersebut dan berharap ia tidak mengalami hubungan jarak jauh dengan Rhine. Ia tak sanggup membayangkan apakah ia mampu melakukannya...


"Tentu saja, sejak kapan aku tak pernah serius mengenai kemampuanmu itu?" Shine meneguk jus buah apel yang tadi dipesannya. "Namun saranku, kamu jangan gegabah mengambil keputusan, pertimbangkan keinginan Papa yang ingin kamu jadi penerusnya di rumah sakit dan juga hubunganmu dengan produser musik itu."


"Kak Shine tahu?"


"Tidak hanya aku saja, hampir seluruh pekerja rumah sakit mengetahui hubungan kalian yang menghebohkan itu namun tetap menghargai privasi kalian," Lanjut Shine. "Sebenarnya aku sudah lama ingin tahu bagaimana kalian berdua bisa akrab dan menjalin hubungan mengingat Rhine tak pernah sekalipun tampak akrab denganmu sebelum aku kenalkan dulu bahkan cenderung menganggapmu asing."


"Itu cerita yang panjang sekali Kak," Junna mengakhiri aktifitas makan siangnya dan fokus menjelaskan awal pertemuannya dengan Rhine hingga hubungan dengannya menjadi seperti sekarang ini kepada Shine. Penuh drama, perdebatan sengit di balkon rumah di Jakarta hampir setiap harinya hingga diketahui orang tuanya, permintaan khusus orang tuanya kepada Rhine untuk memberikan nama untuk kedua adik lelaki kembarnya yang sekarang sudah bersekolah SD, amnesia yang berujung patah hati karena merasa ditinggalkan ketika mereka saling mengungkapkan perasaan dan berakhir mereka bertemu kembali untuk menjalin hubungan serius seperti saat ini. Kedua orang tuanya sempat terkejut ketika Junna memberitahukan kabar itu namun tetap memberikan dukungan untuknya mengingat cukup banyak jasa Rhine membantu dirinya menjadi pribadi yang lebih dewasa dan bertanggung jawab dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang untuk mendekati Junna yang terkenal keras kepala dan dominan karena terlalu lama menjadi anak tunggal.

__ADS_1


"Aku tak menyangka akan sejauh itu Junna," Shine menghela napas. "Apakah kamu akan baik-baik saja dengan semua ini?"


"Maksud Kak Shine?"


"Rhine itu bukan lelaki biasa Junna, ia adalah pewaris dari GD Entertainment dan duniamu berbeda 180 derajat dengan dirimu. Ketika dirinya seorang penyanyi saja sudah membuatku kaget bisa dekat denganmu. Meskipun Papa dan Mama Nadia menyetujui hubunganmu dengan Rhine ditambah profesi serta latar belakang keluarga kita juga cukup mumpuni, apakah kedua orang tuanya bisa menerimamu dengan tangan terbuka?" Pendapat Shine membuat Junna tersentak seolah tersadar ada yang luput dari pandangannya padahal dirinya sudah tahu akan masalah itu sebelumnya. "Aku bukannya membuatmu menjadi berkecil hati. Namun aku hanya mengantisipasi kemungkinan terburuk jangan sampai kamu kecewa lagi hingga terpuruk selama delapan tahun seperti sebelumnya karena kamu sangatlah berharga bagiku dan keluarga kita. Kami ingin delapan tahun kesedihanmu berganti dengan kebahagiaan selamanya," Shine menggenggam tangan kanan Junna berusaha menunjukkan dukungan kepada adik tirinya itu. "Karena bahagiamu adalah bahagia kami juga..."


"Kak Shine...,"


***


"Akhirnya aku menemukanmu Dokter Junna, atau Junna tetangga Rhine di Jakarta."


Belum juga Junna dapat menenangkan diri dari mencerna ucapan kakak tirinya, ia dihadapkan dengan salah satu orang yang telah membuatnya jauh dari Rhine selama ini dan pokok permasalahan terbesar yang menjadi batu sandungan untuk hubungannya dan Rhine, Ashiya, Ibu dari lelaki yang ia cintai.


"Dokter Junna, apakah kau ada waktu untuk berbicara dengan saya?"

__ADS_1


"Tante...," Ucap Junna lemah. Ia pun segera berdiri dan mempersilahkan Ashiya yang tiba-tiba muncul dihadapannya untuk duduk di sebelahnya. "Si...silahkan duduk Tante."


Setelah dipastikan bahwa Ibu dari lelaki yang dicintainya duduk, ia kemudian kembali duduk dan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku jas dokter untuk menutupi rasa gugupnya setelah sekian lama tidak bertemu dengan Ashiya, wanita cantik berperawakan muda dan  berbanding terbalik dengan usia yang sebenarnya, wanita yang pertama kali membuatnya cemburu karena mengira bahwa ia adalah kekasih Rhine sekaligus wanita yang ia kagumi dari cara mendidik dan membesarkan Rhine. Bagaimanapun sikap hormat kepada yang lebih tua harus tetap ia jalankan.


Melihat sikap sopan dan hormat yang ditunjukkan oleh Junna kepadanya membuat Ashiya tidak enak hati untuk mengutarakan keinginannya. Ia tahu bahwa Junna adalah anak baik-baik, dan ia pun menyukai gadis itu sejak pertama kali bertemu. Namun masa lalu Junna bersama Rhine yang membenci Kwon Hyun Suk, Ayahnya,membuat Ashiya takut Rhine akan mengingat masa lalunya dan kembali membenci Ayahnya jika semakin lama berhubungan dengan gadis dihadapannya ini. Keluarga bahagia yang ia impikan sejak dulu dan telah terealisasi sampai dengan saat ini bisa hancur seketika dan ia tak mau hal itu terjadi. Ia tak perduli jika dikatakan sebagai wanita dan Ibu yang egois, asal keluarganya tetap utuh.


"Yudha pasti sudah menceritakan semua kisah hidup anakku itu padamu dan alasan mengapa aku memintanya untuk menjauhkan dari apapun setelah kecelakaan delapan tahun yang lalu, bahkan menjauhkannya darimu,” Ashiya berkata tegas dan lugas yang hanya dapat ditanggapi sebuah anggukan polos dan lemah dari Junna. “Jika kau menjadi diriku, aku yakin kau akan melakukan hal yang sama meskipun memanfaatkan kelemahan anakmu sendiri yang mengalami amnesia.”


“Tapi Tante...,” Junna berusaha menjeda ucapan Ashiya untuk menanyakan apakah wanita itu belum tahu bahwa Rhine sudah mengingat masa lalunya kembali, namun Ashiya tak memberikan kesempatan untuk itu.


“Oleh karena itu aku mohon kepadamu Dokter Junna,” Bibir Ashiya bergetak dan tatapannya nanar memohon kepada Junna sambil menggenggam erat tangan kiri Junna yang tidak ia masukkan ke dalam saku jas dokter. “Aku mohon tinggalkan Rhine untuk selamanya, biarkan ia hidup berbahagia dengan keluarga kecil kami. Kalau perlu aku akan berlutut meminta kepadamu sampai kau mau melepaskan anakku satu-satunya itu karena aku yakin akan ada orang yang jauh lebih baik untukmu...”


Junna tak dapat melanjutkan kata-katanya melihat Ashiya bersimpuh kepadanya. Bibirnya kelu dan hanya dapat melampiaskan pada surat yang tadi ia terima dari Shine dan ia simpan di saku kanan jas dokter yang dikenakannya dengan meremasnya kuat-kuat. Dadanya mendadak sesak bak dihimpit batu yang besar dan terasa nyeri secara bersamaan namun berusaha ia tahan. Lantas bagaimana dengan perasaannya? Apakah tak lebih berharga dibandingkan perasaan wanita dihadapannya? Apakah tak lebih bermakna dibandingkan tujuan hidup wanita tersebut untuk berbahagia? Ia dan Ashiya sama-sama mencintai Rhine dengan cara yang berbeda, tak bisakah ia tetap bersama Rhine? Tak bisakah Ashiya berpikir jernih bahwa ia sebenarnya terlalu takut dengan akibat dari tindakan egoisnya yang mungkin saja tidak akan seburuk yang wanita itu pikirkan? Namun wanita ini adalah seorang Ibu yang ingin terbaik untuk anaknya. Melihat Ashiya mengingatkan pada Mamanya yang berusaha memberikan yang terbaik untuk dirinya sebagai anak. Apakah ia tega? Apakah ia tega membuat Rhine menjadi anak durhaka karena murka jika kejadian hari ini ia sampaikan kepadanya? Rasanya ia ingin menangis namun berusaha ditahannya sehingga menyebabkan kepalanya sakit.


***

__ADS_1


__ADS_2