
Junna menggaruk-garuk kepalanya ketika melihat jadwal tes ujian akhirnya di sekolah. Sungguh tidak mengenakkan. Ia duduk terpisah dari keempat sahabatnya. Di sekolahnya menerapkan sistem acak seperti mengambil nomor undian berhadiah untuk menentukan posisi duduk pada saat ujian akhir. Baginya, terpisah dari keempat sahabatnya sama saja seperti pimpinan yang kehilangan pasukannya alias lemah. Pendapat yang sepertinya terlalu berlebihan.
TIIN!! TIIIN!!!!
Suara klakson mobil yang dibunyikan dengan keras dan tiba-tiba, membuat Junna yang sedang melamun di atas sepedanya terkejut sehingga terjatuh dari sepeda dengan posisi yang sungguh menyedihkan dan memalukan.
"Aduh...," Keluh Junna sambil mengelus pantatnya yang terasa sakit.
"Hahahahaha, makanya Non..., jangan kebanyakan bengong di jalan!" Tawa Rhine membahana puas menertawakan posisi jatuh Junna yang kaki kirinya tertimpa sepeda.
"Puas ya lo nyiksa gue?! Puas?!" Junna langsung memasang wajah jutek dengan nada suara tinggi tak hentinya memaki Rhine. "Orang jatuh bukannya ditolongin malah diketawain..."
"Habis lucu banget sih lihat cara lo jatuh tadi," Rhine segera turun dari mobilnya dan membantu Junna berdiri. "Amazing banget!"
"Nyebelin banget sih lo? " Junna masih sibuk dengan membersihkan kotoran yang menempel di rok bagian belakangnya. "Kenapa sih elo itu seneng banget lihat gue susah?! Enggak ada baik-baiknya sama sekali!"
"Lo sendiri juga nggak ada baik-baiknya sama sekali," Rhine berusaha menggoda Junna.
"Elo...," Akhirnya muncul juga perempatan siku-siku di dahi Junna yang menunjukan bahwa ia sudah kesal setengah mati dengan ucapan Rhine.
"Mau nemenin gue ke pantai nggak?"
"Hah?" Junna mengernyitkan dahinya bingung dengan pertanyaan yang mendadak dilontarkan Rhine. Emosinya yang sempat naik berubah turun dengan drastis kembali ke level normal. Sungguh lucu, batin Rhine, anak gadis didepannya sangat mudah naik-turun emosinya. Salah satu hal yang membuat Rhine betah bersama Junna dan selalu ingin menggodanya. "Elo nggak salah minum obat kan?"
"Yeee..., orang lagi serius juga..."
"Elo tuh orangnya kan susah dibedain kapan serius kapan becandanya! Karena elo itu manusia berkepribadian ganda!" Lontar Junna seenaknya.
"Sembarangan!" Rhine yang gemas mencubit pipi Junna.
"Aduh-duh...," Junna meringis kesakitan berusaha melepaskan cubitan Rhine.
"Jawab saja kenapa sih? Lo mau nggak nemenin gue ke pantai?"
"Enggak ah kalau ke pantai."
"Memangnya kenapa?"
"Panas!"
"Kalau gitu ke Puncak deh!"
"Malas, ke Puncak dingin banget! Macet pula kalau jam segini!" Junna menunjukkan jam tangan ungu model sporty yang melingkar di lengan kirinya. Saat itu waktu bergerak kearah jam dua siang.
"Ke Mall saja gimana?"
"Itu sama saja bunuh diri tahu! Kalau ketahuan jalan sama lo."
"Elo itu diajak aja pake milih-milih tempat segala! Sebenarnya siapa yang ngajak siapa yang diajak sih?!" Rhine mulai kehabisan kesabaran akhirnya kesal sehingga memutuskan tempat yang tak terduga. "Kalau gitu ke sawah saja! Dan kali ini lo nggak boleh nolak! Gue lagi butuh tempat menyepi!"
Rhine segera menarik tangan kanan Junna dan sedikit memaksa Junna untuk duduk di kursi kiri sebelah kemudi dan meninggalkan sepeda milik Junna tergeletak di jalan depan rumah Junna. Gadis itu pun hanya bisa terbengong-bengong dengan tindakan aneh yang dilakukan oleh Rhine.
***
"Gila! Elo beneran gila!" Protes Junna begitu keluar dari mobil milik Rhine dan melihat hamparan sawah yang terbentang luas dengan padi-padi yang mulai menguning siap untuk dipanen. Dari kejauhan tampak sebuah gunung yang berdiri kokoh dengan sinar matahari menemani yang perlahan-lahan mulai bersembunyi di balik gunung. Seperti pemandangan yang menjadi andalan Junna ketika SD dulu setiap kali mendapat tugas menggambar. "Otak lo lagi nggak waras ya? Lo beneran ngajak gue ke sawah dalam kondisi gue masih berseragam sekolah lengkap kayak gini! Lo bisa dikira Lolita nyulik anak umur 17 tahun kayak gue!"
"Kalau ngomong disaring dulu kenapa?!" Rhine pun memprotes balik kepada Junna. "Elo itu bisanya ngeluh terus!"
"Siapa suruh lo ngajak gue?!"
"Karena lo satu-satunya orang yang nggak akan mengganggu gugat apa yang gue lakukan!" Ucapan yang keluar dari Rhine membuat Junna terdiam penuh tanya. Apa maksud Rhine berkata seperti itu? Bisakah ia beranggapan bahwa dia sedikit istimewa dimata Rhine. Ia sendiri heran dengan perubahan ini. Ia tidak seperti dulu yang selalu kesal luar dan dalam setiap kali bertemu dan berdebat dengan Rhine. Sekarang ini berada sedekat ini memberikan perasaan bahagia. Berdebat dengan Rhine justru membuatnya semakin dekat dengannya. Meskipun tak pelak, rasa benci karena kenarsisan Rhine masih menduduki peringkat pertama di hatinya.
"Hei, gue lagi bosan nih, cerita sesuatu dong...," Pancing Rhine untuk memulai pembicaraan memecahkan kesunyian yang sempat terjadi beberapa menit yang lalu.
"Cerita apa?"
"Apa saja."
__ADS_1
"Ummm..., curcol tentang jadwal ujian akhir gue aja deh."
"Terserah." Rhine mengangkat bahunya. Tangannya masih berada di dalam saku celana jeans yang ia kenakan. Tubuhnya menyender di samping mobil.
"Gue lagi sebel nih..., tempat duduk untuk ujian sudah ditentukan dan gue duduk terpisah dari teman-teman gue..."
"Terus masalah buat lo?"
"Ya pasti jadi masalah lah...," Bibir Junna mengerucut dan menunjukkan wajahnya yang seperti bakpao. Ingin rasanya Rhine mencubitnya karena gemas. Namun tidak ia lakukan karena khawatir kebablasan. "Gue selalu bersama mereka sejak kecil, rasanya seperti kehilangan saja..., ditambah lagi gue khawatir mereka tidak bisa mengerjakan soal ujian mereka karena biasanya mereka ketergantungan sama gue juga kalau sudah mentok nggak bisa jawab soal..."
"Dasar payah! Benar-benar ciri khas ABG sekali, galau nggak jelas! Dan alasan terakhirmu tadi paling nggak benar. Membantu memberikan jawaban soal? Lo terlalu memanjakan mereka makanya mereka jadi ketergantungan sama lo dan elo yang merasa berjasa jadi merasa kehilangan orang-orang yang membutuhkan lo! Itu sama saja lo melegalisasi sistem percontekan dan itu perbuatan kriminal di dunia pendidikan!" Rhine memukul kepala Junna pelan. "Dua kali saja lo ngeluh untuk hal yang nggak penting."
“Enak saja gue dibilang payah! Gini-gini juga gue juara umum di SMA gue tahu! Tadi lo sendiri kan yang bilang kalau gue boleh cerita apa saja, gimana sih?"
"Iya...iya..., nggak usah ngambek gitu, nanti mukanya tambah jelek!" Ledek Rhine.
"Terus aja ngeledeknya! Lama-lama gue tinggal pulang nih," Junna yang tingkat kekesalannya sudah memuncak berniat meninggalkan Rhine. Rhine yang menyadarinya menarik baju seragam Junna untuk mencegah Junna pergi. Ia masih membutuhkan Junna disisinya. Baginya, hanya Junna yang menjadi penghiburnya meskipun sang gadis tidak menyadarinya. Hari ini ia mengalami peristiwa yang tidak mengenakkan di kantor Management-nya. Ia kedatangan tamu yang sangat tidak ia inginkan. Kwon Hyun Suk berdiri dihadapannya secara langsung dan lelaki itu memanggil dirinya dengan sebutan 'Nak', sebutan yang menurutnya memang tidak pantas diucapkan oleh seorang Kwon Hyun Suk.
"Jangan pergi...," Bujuk Rhine. "Gue akan kasih solusi untuk masalah lo itu."
"Apa solusinya?" Junna menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Rhine. Tanpa sadar ia menarik kaos hitam yang dikenakan Rhine. Jarak diantara mereka begitu dekat, tidak kurang dari 15 cm. Mereka berdua yang menyadarinya mendadak tersipu malu dan mengalihkan pandangan. Rhine ingin sekali mencium Junna, saat ini seharusnya merupakan waktu yang tepat untuk melakukannya karena mereka hanya berdua ditempat sesepi ini. Namun ia memilih tak melakukannya.
"Ya gitu...," Jawab Rhine gugup namun berusaha ditutupinya. Sialan! Dia itu manis banget! Hampir saja gue melakukan hal bodoh!
"Gitu gimana?" Junna pun merasakan hal yang sama. Jantungnya berdetak kencang. Ia tak pernah merasakan perasaan seperti ini ketika ia bersama Ega. Meskipun ia pernah menyukai Ega dan tak memungkiri bahwa Ega adalah cinta pertamanya, perasaannya kali ini sungguh berbeda. Perasaan ini seperti hasrat menuntut ingin melakukan apapun bersama Rhine tak perduli konsekuensinya. Tapi bagaimana mungkin ia bisa memiliki perasaan seperti ini pada Rhine? Bagaimana bisa? Orang yang sangat dibencinya.
"Cepat atau lambat lo pasti berpisah dengan mereka. Jadi mulai sekarang lo harus belajar untuk itu. Coba gue tanya, memangnya lo akan melanjutkan kuliah dengan jurusan yang sama dengan sahabat-sahabatmu? "
"Enggak," Junna menjawab dengan polos sambil menggelengkan kepalanya. "Hanya gue yang meneruskan ke Jurusan Kedokteran."
"Jadi nggak perlu berlebihan menanggapi perpisahan dengan mereka. Gue tahu lo sayang banget dengan mereka begitu juga sebaliknya. Tapi ada kalanya lo harus membuat mereka belajar untuk mandiri dan lepas dari lo."
Sepintas Junna menangkap tatapan Rhine yang kosong menatap ke hamparan sawah yang ada di depan mereka. Sedih, kecewa, dan terluka bercampur menjadi satu. Baru kali ini ia melihat ekspresi itu. Ia ingin menanyakan kepada Rhine, mengapa wajahnya seperti itu? Apa yang membuatnya seperti itu? Namun seperti ada tembok tak terlihat yang menghalangi dirinya untuk menanyakan hal itu. Sebuah janji yang pernah ia ucapkan bahwa ia tidak akan pernah ingin mengetahui dan mencampuri urusan pribadi Rhine. Jika mengingat hal itu dadanya mendadak sesak. Ia benci mengakuinya, tapi ia memang telah jatuh cinta kepada Rhine.
"Hei, gimana kalau kita taruhan?" Rhine tersenyum kearah Junna.
"Kalau lo bisa lulus dengan nilai sempurna, gue akan mengikuti semua keinginanmu, begitu juga sebaliknya. Bagaimana?"
"Boleh, siapa takut!" Junna yang sejak awal memiliki jiwa tidak mau kalah dari orang lain, menerima tantangan Rhine. "Gue yakin pasti gue yang menang! Karena selama ini gue selalu mendapatkan nilai sempurna! Gue nggak sabar mau balas dendam sama lo! Ha..ha..ha..ha..."
"Jangan sombong," Rhine tertawa. Rasa kesal dan sedih yang ia rasakan sedikit berkurang. Ia seperti mendapat kekuatan untuk bangkit menghadapi kenyataan yang sangat tidak ingin ia hadapi. "Kalau sombong alamat gagal!"
"Siapa yang sombong!" Junna mengambil kunci mobil milik Rhine yang disimpannya didalam kantong celana kirinya.
"Hei, mau lo apakan kunci mobil gue?"
"Mau gue buang!" Ucap Junna seenaknya. Ia pun berlari menuju pematang sawah. "Soalnya lo udah ngeremehin kemampuan gue."
"Siapa yang meremehkan kemampuan lo bocah!" Teriak Rhine dan tanpa berpikir panjang mengejar Junna yang saat ini posisinya berada dua meter jauh dari tempat Rhine berdiri.
"Tuh kan! Lo aja manggil gue dengan sebutan bocah! Gue kan sudah bilang gue punya nama. Nama gue Junna..J-U-N-N-A! Susah amat sih manggil nama gue?! Padahal kan hanya terdiri dari lima huruf."
"Anak sialan! Awas saja ya kalau sampai beneran kunci mobil gue elo buang, gue gantung lo di tempat jemuran gue sampai garing!!!"
"Coba saja kalau bisa! Weeeeee...," Junna menjulurkan lidahnya meledek kearah Rhine.
"Ukkhhhh..., Junna!!! Kembalikan kunci mobil gue!!! Kita nggak bisa pulang kalau lo buang kunci itu!! Gue nggak bawa serep soalnya!" Teriakan Rhine memecah suasana sunyi yang tercipta di senja itu dan tentu saja..., ditengah-tengah sawah!
***
Rhine melangkah masuk ke dalam kantor Management-nya. Sebuah gedung berlantai sepuluh dengan gaya minimalis yang tepat berada di jantung Kota Jakarta. Hari ini ia mendapat telepon mendadak dari Yudha yang mengatakan bahwa ada orang penting yang ingin bertemu dengannya pagi ini. Ditekannya tombol lift menuju ke atas yang berada di lantai satu. Sesekali ia mendapati junior-junior yang sedang training menjadi artis seperti dirinya menyapanya. Beruntung sekali lift dalam keadaan kosong sehingga ia tak harus menunggu seperti biasanya. Ia pun masuk dan menekan tombol lantai 10, lantai tertinggi tempat Yudha berada.
"Ada-ada saja si perjaka tua itu!" Keluh Rhine yang baru saja bisa menikmati tidurnya selama satu jam, terpaksa dibangunkan oleh telepon dari Yudha. Seperti biasanya ia berjalan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana cargo selutut dan sneaker yang dikenakannya. "Dia benar-benar gila! Mentang-mentang tidak punya pacar dia mengorbankan waktu pribadiku yang sangat berharga! Awas saja ya kalau kedatanganku hari ini berakhir sia-sia!"
Sepanjang perjalanan lift dari lantai satu ke lantai sepuluh Rhine terus saja menggerutu. Rupanya hasil meditasi semalam suntuk untuk mendapatkan ide baru membuat lagu baru telah menguras energi dan emosinya.
"Selamat pagi Rhine," Sapa Windy, sekretaris Yudha yang sangat terkenal dengan keseksiannya. Bagaimana tidak, dengan tubuh bak gitar spanyol dan wajah yang begitu sensual, siapapun tidak akan menolak rayuan mautnya kecuali Rhine. Bagaimanapun Windy bersikap menggoda tetap tidak membuat Rhine bergeming apa lagi meliriknya.
__ADS_1
"Pagi Windy...," Rhine hanya melambaikan tangan kanannya dan terus berjalan masuk ke ruangan Yudha.
"Si Bos sudah menunggu tuh di dalam." Windy mengerlingkan mata kirinya yang hanya ditanggapi oleh helaan napas panjang Rhine.
"Thank you," Rhine tersenyum tipis kemudian menekan daun pintu dan membukanya. "Mas Yudha, aku masuk ya..."
"Masuk saja Rhine."
Pada saat Rhine hendak menghampiri Yudha, tiba-tiba langkahnya terhenti. Tubuhnya berubah kaku dan kedua tangannya mengepal keras sehingga membuat buku-buku jarinya memutih ketika melihat sosok di hadapannya. Sosok yang paling dihindari oleh dirinya selama ini, Kwon Hyun Suk.
"A..apa maksud Mas Yudha mempertemukan aku dengan lelaki ini?!" Mood Rhine yang sejak awal memang sudah tidak baik menjadi semakin memburuk. Ia yang merasa dijebak oleh Yudha pun marah dan meluapkannya kepada Yudha.
"Maaf ya Rhine, aku tidak menyebutkan siapa yang harus kamu temui," Yudha menghampiri Rhine menepuk pundah artis kesayangannya itu seolah memberikan kekuatan. "Karena kalau kubilang siapa orangnya kau akan..."
"Kalau Mas Yudha sudah tahu kenapa masih juga Mas Yudha pertemukan dia denganku?!" Emosi Rhine menjadi tak terkendali. Ia yang sangat kesal menarik kemeja yang dikenakan Yudha.
"Justru karena aku ingin tahu yang sebenarnya makanya aku memintamu untuk datang kesini dan mempertemukan Mr. Kwon denganmu! Sebenarnya aku juga kaget kenapa Mr. Kwon yang notabennya adalah pemilik perusahaan rekaman itu rela datang dan memohon kepadaku agar kau mau bekerja sama dengan perusahaan rekamannya."
"Persetan dengan itu semua! Aku bisa memenuhi semua impian yang sudah Mas Yudha rancang untukku, tapi untuk menerima ajakan dari orang ini sekali aku bilang enggak ya enggak! Mas Yudha ngerti nggak sih?!"
"Apa kabar Nak?" Suara dari Ayahnya menghentikan sejenak perdebatan antara Rhine dan Yudha. Tutur bahasanya yang sangat halus dengan bahasa Indonesia nan formal namun sedikit kaku memberikan kesan kewibawaan. "Sudah lama Ayah menunggu momen ini untuk bertemu denganmu langsung..."
"Ayah?!" Yudha spontan terkejut mendengar pengakuan dari Kwon Hyun Suk. "Aku nggak salah dengar nih? Rhine! Apa maksud semua ini? Bukankah kau bilang Ayahmu sudah meninggal dan hanya hidup berdua dengan Ibumu?"
"Mas Yudha, bisa minta tolong untuk meninggalkan kami berdua" Rhine berkata dengan nada suara datar. Tatapannya berubah menjadi dingin. Sebenarnya ia ingin marah kepada Ayahnya yang dengan seenaknya memanggilnya 'Nak', seenaknya membuka rahasia yang selama ini ia simpan rapat karena tak ingin membuka lukanya kembali, namun keinginan itu ia tahan, ia tak mau melibatkan Yudha dalam urusan pribadinya meskipun saat ini Yudha adalah walinya sejak Ibunya memberinya restu untuk terjun ke dunia hiburan. Dunia yang sebenarnya telah dilarang oleh Ibunya karena terkait dengan masa lalunya dengan lelaki yang ada dihadapannya.
"Hah..., baiklah...," Yudha yang telah memahami situasinya menghela napas panjang dan segera keluar dari ruangannya untuk memberikan kesempatan kepada dua orang tersebut berbicara.
BLAM!
Pintu ruangan pun tertutup. Rhine menoleh kepada Ayahnya, ekspresi yang Ayahnya tunjukkan adalah ekspresi yang mengatakan bahwa seolah tidak pernah terjadi apa-apa dalam hidupnya. Ekspresi seorang Ayah yang rindu dengan anaknya. Ekspresi rasa bersalah. Ia sungguh muak dengan semua itu.
"Ayah katamu?" Rhine mengernyitkan alisnya. Tatapannya tidak hanya dingin namun berubah menjadi tajam dan menusuk lurus kearah mata Ayahnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Hal yang selalu ia lakukan untuk mengontrol emosinya dengan kepalan tangannya. Ia tak mau hal itu terlihat orang lain. Perasaan kebencian yang terus tumbuh di dalam hati Rhine seolah berkembang pesat dan tak terbendung lagi untuk dikeluarkan. "Apa pantas orang yang menelantarkan seorang gadis muda yang sedang dalam keadaan hamil dan tidak mengakui janin yang ada dikandungannya adalah darah dagingnya dipanggil Ayah? Apakah pantas orang seperti dirimu yang tidak pernah sekalipun menjenguk dan memberikan kasih sayangnya kepada anaknya dipanggil Ayah? Apakah pantas orang seperti dirimu yang tidak pernah melindungi anaknya yang selalu mendapatkan cap ANAK HARAM dan caci maki dari orang-orang disekelilingnya dipanggil Ayah?! APAKAH PANTAS?!!"
"Maafkan Ayah anakku...," Ayahnya menunduk dan meminta maaf. Hal yang sama sekali tidak Rhine prediksi. Gambaran selama ini tentang Ayahnya yang selalu ia lihat di televisi adalah seorang jenius dibidang musik yang sangat angkuh dan penuh dengan ego. Tapi sekarang, dihadapannya hanyalah lelaki tua yang rela menundukkan kepalanya didepan dirinya. "Ayah minta maaf karena selama ini tidak mengetahui keberadaan dirimu sehingga membuatmu seperti ini..."
Tidak tahu? Apa maksudnya? Bukankah lelaki ini yang telah mencampakkan Ibu karena tidak mengakui anak yang dikandungnya?! Rhine bertanya-tanya dalam hatinya.
"Apa maksudmu dengan tidak tahu tentang keberadaanku?!" Rhine memukul tembok dengan sisi kiri tangan kanannya yang mengepal. "Kau mengerti apa tentang aku dan Ibu?!"
"Aku ingin menebus semua yang tak pernah kau rasakan, kasih sayang dan pengakuan..."
"Cukup Tuan! Anda sudah terlalu berlebihan!" Rhine mendadak merasa mual menerima hal yang begitu mendadak ini. Ia merasa tidak siap untuk semua ini. Ia menutup telinganya dengan kedua tangannya tak ingin mendengar kelanjutannya. Ia takut dirinya akan melemah dan memaafkan Ayahnya. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya untuk memaki Ayahnya namun entah mengapa lidahnya kelu. ia memilih keluar dari ruangan tersebut dan pergi secepatnya dari tempat itu.
"Tuan Narsis! Tuan Narsis!" Rhine terkejut dan membuka matanya. Keringatnya sontak bercucuran. "Bener-bener deh lo ini..., sempat-sempatnya ketiduran di gubuk!"
Rhine bangkit dari posisi tidurnya dan duduk dipinggir gubuk. Ia menatap kesekelilingnya, hamparan sawah dengan padi-padinya yang mulai menguning dan langit yang berwarna oranye pertanda bahwa sebentar lagi malam akan datang. Rupanya ia sempat tertidur karena terlalu lelah mengejar-ngejar Junna untuk mendapatkan kunci mobilnya kembali. Ia melihat sosok Junna yang sedang melipat kedua tangannya. Wajahnya tampak cemberut dan kesal. Wajah yang selalu membuat Rhine menjadi dirinya sendiri dan merasa tenang. "Ayo pulang, mulai besok gue harus fokus belajar untuk ujian akhir, kalau sampe gue nggak dapat nilai sempurna, gue karungin lo terus gue buang ke laut!"
"Iya-iya...," Rhine berjalan menuju mobilnya dan diikuti Junna yang menyusul dari belakang berusaha menyamakan langkah kakinya dengan Rhine.
"Tuan Narsis," Panggil Junna.
"Apa?" Jawab Rhine dengan enteng.
"Terserah lo mau jawab komentar gue apa enggak. Gue nggak suka sama kenarsisan lo!"
"Enggak usah lo nyampein kayak gitu gue juga sudah tahu," Rhine mengangguk tersenyum simpul.
"Tapi gue lebih nggak suka lihat lo berekspresi datar dan dingin kayak tadi! Seolah lo berusaha menyimpan kesedihan atau kekhawatiran lo sendirian." Rhine terkejut dengan kalimat yang dikeluarkan Junna. Ia tak menyangka bahwa Junna dapat menangkap kegelisahan dan kegundahannya. Padahal tak satupun menyadarinya. "Gue tahu lo nggak suka orang lain ikut campur apa lagi gue yang notabennya nggak suka sama lo. Tapi kalau dipaksa untuk memilih, gue pilih lo yang sedang narsis!"
"Pufh..., hahahahaha...," Rhine tak dapat menahan tawanya. Ia suka sekali dengan gaya Junna mengatakan pendapatnya. Terus terang dan tanpa basa-basi.
"Apa yang lucu?!"
"Enggak ada, gue suka lo yang kayak gini!" Rhine mengusap rambut Junna lembut. Kali ini Junna tak dapat menutupi kegugupannya. Wajahnya tampak bersemu merah. Rhine yang melihat ekspresi di wajah Junna hanya bisa terdiam. Dalam benaknya ia berkata, seandainya darah lelaki itu tidak mengalir di dalam tubuhnya, sudah sejak lama ia ingin mengutarakan perasaannya kepada gadis disebelahnya dan menyambut perasaan yang gadis itu miliki untuknya. Gadis yang selalu ekspresif menyampaikan apapun meskipun berusaha ia simpan dengan baik. Gadis polos yang keras kepala yang selalu membuat dirinya tersenyum dan lupa akan masalah-masalahnya.
***
__ADS_1