
Mendengar nama Mirella, seketika raut muka Edgar berubah masam. Ia sebenarnya tidak ingin lagi membahas ataupun disangkutpautkan dengan gadis itu. Semua yang telah dilakukannya terhadap Arumi, membuat Edgar sebenarnya tidak dapat memafkannya.
Namun, di sisi lain Edgar merasa penasaran dengan apa yang akan disampaikan Durant kepadanya. Ia sangat mengenal pria itu. Durant adalah pria yang selalu serius dalam ucapannya. Ia hampir tidak pernah membahas sesuatu yang tidak penting. Pria itu bahkan seakan tidak memiliki selera humor sama sekali.
“Baiklah. Aku akan menemuimu besok sore di tempat biasa,” ucap Edgar. Pada akhirnya ia setuju untuk bertemu dengan pria itu. Beberapa saat kemudian, Edgar menyudahi perbincangannya dan segera menutup sambungan teleponnya. Ia tahu jika Arumi sudah terlihat tidak nyaman.
Dihampirinya gadis yang saat itu tengah mematung sambil menatap dirinya. Edgar berdiri tepat di hadapan Arumi. Tanpa permisi, diraihnya wajah Arumi dan desentuhnya bibir gadis itu untuk beberapa saat lamanya. Itu hanya sekadar trik lama untuk menenangkan gadis itu.
“Ini sudah terlalu malam. Bagaimana jika malam ini kita menginap di sini dan kembali besok pagi- pagi sekali,” usul Edgar setelah ia merasa puas mencium Arumi. Arumi sendiri tidak langsung menjawab. Gadis itu hanya menatap Edgar dengan penuh penasaran. Setelah beberapa saat kemudian, barulah ia bersuara, “Siapa yang menghubungimu tengah malam begini?” selidiknya dengan penasaran.
“Durant. Dia sahabatku. Kami sudah lama tidak bertemu. Aku juga tidak tahu jika ia telah mengganti nomor ponselnya. Kami sudah cukup lama tidak berkomunikasi,” jelas Edgar. Ia tidak ingin menyebutkan nama Mirella di hadapan Arumi. Apalagi belakangan ia mengetahui jika pelaku pelemparan di paviliun waktu itu adalah adik dari Benjamin alis Ben alias Dru. Semua itu hanya akan membuat keruh suasana. Karena itu, Edgar lebih memilih untuk tidak bicara apa-apa, meskipun ia juga merasa penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Durant kepadanya.
Arumi mengangguk pelan. Tidak ada alasan lagi baginya untuk mencurigai kekasihnya. Ia tahu jika Edgar yang saat ini berdiri di hadapannya, bukan lagi Edgar yang dulu. Gadis itu kemudian memamerkan sepasang lesung pipit di wajahnya seraya menyentuh wajah Edgar dengan lembut.
“Beristirahatlah! Besok kamu akan melakoni perjalanan yang panjang,” suruh Edgar. Ia lalu mengantar Arumi ke dekat tempat tidur.
Arumi tertawa pelan. “Aku bukan anak kecil lagi, Ed!” ujarnya seraya naik ke kasur dan membaringkan tubuhnya. “Kamu tidur di sini juga, kan?”
Edgar tersenyum seraya mengangguk pelan. Setelah itu, ia mengikuti Arumi naik ke tempat tidur dan berbaring tepat di sebelah gadis itu.
Tidur menyamping dan saling berhadapan, mereka tidak puas-puasnya saling memandang. Edgar kembali tersenyum seraya mengelus lembut wajah yang akan selalu ia rindukan. Ia juga mengecup hangat kening Arumi. “Aku harap kamu tidak nakal saat jauh dariku,” ucap Edgar dengan pelan, bahkan hampir seperti berbisik.
Arumi tersenyum manis. “Aku juga ingin mengatakan hal yang sama padamu,” balas gadis itu dengan nada bicara yang sama.
__ADS_1
Edgar kemudian mengalihkan usapan hangatnya pada rambut panjang Arumi. Ia menyibakan rambut yang jatuh dan menutupi kening sang kekasih yang sangat ia cintai. Setelah itu, Edgar kembali mengecup lembut keningnya. “Jangan lupa untuk selalu memberi kabar padaku!” ujar pria itu lagi.
“Kamu juga,” balas Arumi tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah tampan di hadapannya.
Edgar tersenyum dan mengangguk pelan. “Aku akan segera ke Indonesia setelah semua urusanku selesai. Aku sudah tidak sabar untuk menjadikanmu Nyonya Hillaire. Aku juga ingin memiliki empat orang anak,” celetuk Edgar dengan tiba-tiba dan seketika membuat Arumi membelalakan matanya.
“No!” tolak Arumi dengan tegas dan terus melotot kepada pria itu.
Edgar tertawa pelan. “Apakah kurang? Baiklah, bagaimana jika lima?” ujarnya semakin ngaco.
Arumi tidak menjawab. Ia hanya menanggapi ide gila kekasihnya dengan sebuah cubitan di pinggang Edgar yang saat itu hanya mengenakan celana jeansnya saja.
“Aku tidak ingin memiliki terlalu banyak anak. Aku selalu melihat bagaimana repotnya kak Puspa dalam merawat Dinan dan Jenna. Terkadang ia tidak sempat menyisir rambutnya sendiri,” ucap Arumi dengan wajah resah dan tidak percaya.
“Ow ... parah sekali. Apa dia masih memiliki waktu untuk Keanu?” tanya Edgar dengan polosnya.
Mereka terus berbincang ringan malam itu tanpa mengubah posisi tidur keduanya. Entah sampai jam berapa mereka melakukan hal itu, karena tidak berselang lama mereka telah sama-sama terlelap masih dalam posisi saling berhadapan.
......................
Pagi telah datang. Cuaca hari ini tidak semuram kemarin, meskipun udara masih terasa dingin, tetapi itu tidak membuat sepasang kekasih itu untuk terus bermalas-malasan di atas tempat tidur. Edgar dan Arumi, bahkan telah tiba di kediaman milik pria itu.
“Aku harus menjawab apa jika kakak-ku bertanya ke mana kita semalaman?” bisik Arumi sesaat sebelum mereka masuk ke rumah.
__ADS_1
“Yang pasti, jangan katakan jika perjalanan kita dihadang monster menakutkan,” kelakar Edgar dengan diselingi tawa. “Katakan saja jika ban mobilku bocor, bensinku habis, dan kita berada di jalanan sepi lalu ....” Edgar terdiam dan menatap Arumi.
“Lalu bagaimana kita bisa pulang hari ini?” sela Arumi dengan nada setengah meledek ide konyol dan tidak masuk akal dari Edgar.
“Keajaiban musim gugur,” jawab Edgar dengan segera. Ia telah berhasil membuat Arumi tampak terharu dengan kata-katanya.
“Aku akan selalu menyukai musim gugur,” ucap Arumi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Kebersamaannya dengan Edgar hanya tinggal menghitung jam, sebelum ia terbang ke Indonesia.
Tanpa banyak bicara, Edgar segera meraih Arumi ke dalam pelukannya. Untuk beberapa saat lamanya, kedua sejoli itu saling berpelukan di depan pintu masuk.
Sementara itu, dedaunan berserakan di tanah. Warna-warnanya yang indah sangat memanjakan mata. Sebagian dari mereka ada yang jatuh dan terbawa angin, menjauh dari pohonnya.
Apakah daun yang telah terpisah dari ranting sebuah pohon, akan melupakan pohon tersebut?
Apakah pohon yang ditinggalkannya akan ingat, jika ia pernah memiliki daun itu pada salah satu cabang rantingnya. Daun yang telah menemaninya selama beberapa musim, tapi harus mengalah pada waktu dan meninggalkan cabang pohon tempatnya menempel. Daun yang telah terjatuh, memang tidak akan kembali pada cabang pohon di atas sana.
Namum, tidak dengan kisah cinta Arumi dan Edgar. Meski telah terpisah dan patah hati, tetapi nyatanya mereka dapat merekatkan kembali hubungan itu. Meskipun kini mereka akan kembali berpisah, tapi ada saatnya nanti mereka akan kembali bertemu untuk sebuah kebersamaan yang yang jauh lebih intens.
Satu harapan yang pasti, semoga semua yang menjadi impian mereka berdua, dapat sejalan dengan goresan takdir yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuk mereka. Arumi memang akan pergi, dan Edgar akan kembali mengikutinya lagi.
Hai, reader. Terima kasih untuk semua like dan komennya. Mohon maaf jika tidak sempat di balas, ceuceu othor sedang sibuk manggung☺😁.
__ADS_1