
Arumi tertegun. Ia berkali-kali membaca pesan yang hanya berisi kata "Hai". Ia tidak tahu itu nomor milik siapa, karena si pengirim tidak mencantumkan namanya. Arumi memilih untuk mengabaikan pesan itu. Ia pun kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.
Melihat hal itu, Moedya hanya mengernyitkan keningnya. Ia pun tersenyum simpul. Ia kembali mengetik pesan dan mengirimkannya kepada Arumi.
Arumi merogoh ponselnya lagi. Ia mengusap layar ponselnya dan kembali membaca pesan dari nomor yang sama. Pesan yang menyebalkan dan lagi-lagi ia abaikan.
Beberapa saat kemudian, Arumi kembali mendapat pesan yang sama, bahkan hingga hingga tiga kali. Kesal itulah yang gadis itu rasakan. Dengan amarah yang terpendam, ia membalas pesan itu.
Moedya segera membuka pesan masuk dari Arumi. Pesan yang hanya berupa satu kata, yaitu "Bodoh!". Seketika pria itu tertawa pelan. Ia pun memasukan kembali ponselnya ke dalam jaket dan memilih untuk menatap gadis itu dari kejauhan.
Meskipun pandangannya terhalang derasnya hujan, namun Moedya masih dapat melihat kecantikan paras gadis itu. Arumi belum banyak berubah. Sikapnya masih sama. Ia juga masih galak seperti dulu.
Rasa rindu kini hadir dan menyapa relung hati Moedya yang paling dalam. Ada banyak kenangan indah yang pernah ia lewati dengan gadis itu, kini tergambar dengan jelas dan menggelitik mata batinnya, membuatnya ingin kembali mengulang masa-masa itu.
Beberapa saat lamanya Moedya berdiri di sana dan terus memperhatikan gadis yang saat itu tampak hanya termenung sendiri. Pandangan Arumi begitu kosong dan seakan menyembunyikan duka yang cukup dalam.
Ada banyak hal yang Arumi fikirkan saat itu. Ada banyak rasa sesal dalam hatinya atas segala yang telah terjadi. Andai saja semuanya dapat ia kembalikan, maka ia tidak akan melakukan kebodohan yang membuatnya harus menanggung rasa sakit hingga saat ini.
Hujan masih turun meskipun sudah tidak terlalu deras. Entah berapa lama lagi Arumi harus berdiri di sana dan menanti hujan reda. Ia merasa telah membuang waktunya dengan percuma.
Sesaat Arumi teringat pada nomor baru tanpa nama pengirim yang tadi masuk ke nomornya. Ia yakin jika itu pasti kelakuan usil Edgar. Pria itu memang sangat meresahkan dengan segala hal yang dilakukannya.
Hampir tiga puluh menit lamanya, Arumi dan Moedya tertahan karena hujan deras. Kini hujan itu telah berhenti. Orang-orang yang tadi berteduh dengan Arumi juga, satu persatu berlalu dari sana dan kini tinggalah gadis itu sendirian.
Dengan malas, Arumi melangkahkan kakinya menyusuri trotoar yang basah. Ia tidak tahu jika saat itu Moedya terus memperhatikannya dari kejauhan, bahkan hingga Arumi benar-benar menghilang dari pandangannya.
Sesaat kemdian, Moedya pun segera pamit pada si penjual buah. Ia kembali memacu motor retronya dan melanjutkan perjalanan untuk pulang.
__ADS_1
Sementara Arumi, semenjak kepergian Ryanthi ia lebih sering ke manapun dengan berjalan kaki. Kecuali untuk jarak yang terlalu jauh, maka ia akan menggunakan sarana transportasi umum yaitu bus kota.
Entah kenapa, karena Arumi seakan ingin mengulang kehidupan masa lalu yang pernah dijalani oleh seorang Ryanthi. Ia ingin menjadi gadis biasa yang hidup dengan bersahaja, namun memiliki cinta yang luar biasa dari seorang Adrian yang bukanlah orang biasa.
Memasuki halaman rumah mewahnya, Arumi tertegun melihat mobil sedan putih miliknya. Mobil yang terparkir di dalam garasi, bersama deretan mobil mewah lainnya milik almarhum Adrian dan juga milik Keanu.
Mobil itu sudah lama tidak ia gunakan, namun Keanu pasti akan selalu mengeceknya secara berkala.
Hampir dua minggu lebih, Arumi tidak pulang ke rumahnya. Ia juga sebenarnya sangat merindukan kamarnya. Di kamar itu, ia menyimpan banyak benda kenangan selama ia menjalani hubungan percintaannya dengan Moedya.
"Tante Arum!" Seru seorang bocah laki-laki yang tiada lain adalah Dinan, putra sulung Keanu yang kini sudah berusia empat tahun. Bocah itu kemudian berlari dan langsung menghambur ke dalam pelukan Arumi.
"Apa kabar, Dinan? Tante sangat merindukanmu," ucap Arumi seraya mencubit hidung mancung bocah itu.
"Aku tidak suka dengan adik bayi, Tante," adu bocah itu. "dia terus saja menangis. Kemudian ayah menggendongnya, tapi ayah tidak menggendongku," keluh Dinan dengan wajah merajuk.
"Oh ... my sweetie pie ...." Arumi memeluk keponakan kecilnya dan mencium pipi anak itu, "kemarilah, biar Tante yang menggendongmu!" Arumi kemudian mengangkat tubuh mungil Dinan.
"Dinan sudah besar. Dinan tahu, kan jika ayah banyak pekerjaan? Dia pasti sering sakit pinggang karena kelelahan. Jadi, dia tidak kuat kalau terlalu sering menggendong Dinan," terang Arumi dengan senyuman manisnya. Ia mencoba memberi pengertian kepada bocah bermata abu-abu itu.
Arumi terus menggendong keponakannya hingga ke kamar Keanu. Ia tidak sabar untuk melihat kembali bayi mungil sang kakak.
"Hai, Kak! Boleh masuk?" Arumi menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Sementara Dinan sudah berlari terlebih dahulu menuju ke tempat Puspa berada. Wanita bertubuh mungil itu tengah duduk di atas kursi. Ia baru selesai menyusui bayinya.
"Hai, Arum. Ayo, masuklah!" Sahut Puspa dengan hangatnya. Ia selalu bersikap ramah kepada siapa pun.
Arumi kemudian masuk dan kembali menutup pintu kamar itu. Ia menghampiri Puspa dan duduk tepat di sebelah kakak iparnya. Dengan wajah berseri, Arumi memperhatikan Jenna yang terlelap dalam dekapan sang ibu.
__ADS_1
"Dinan mengadu padaku tadi," Arumi membuka percakapan diantara dirinya dan Puspa. Wanita bertubuh mungil itu seketika melirik putra sulungnya yang tengah asik bermain di dekat box bayi.
"Dia mulai merasa iri kepada adiknya," ujar Puspa sambil tersenyum geli.
"Ya ... begitulah," sahut Arumi.
Puspa kemudian beranjak dari duduknya dan melangkah ke arah box bayi. Ia lalu menidurkan Jenna di dalamnya. "Ayo, Dinan! Kita main di sebelah sana!" Ajak Puspa. Ia lalu menuntun anak pertamanya untuk menjauh dari tempat tidur sang adik. Dinan menurut saja, bahkan ketika Puspa mengajaknya bermain di atas tempat tidur.
"Kamu akan menginap di sini kan, Arum?"
"Tidak, Kak. Aku hanya mampir sebentar," sahut Arumi pelan.
Puspa kembali duduk di kursi dekat Arumi. Ia menatap lekat gadis itu. Sebagai sesama wanita, ia seakan dapat menerka apa yang tengah Arumi rasakan saat ini.
"Kami sangat merindukan bisa duduk di meja makan bersama denganmu, Arum," ucap Puspa. "Rumah ini terasa sangat sepi. Bayangkan! Rumah sebesar ini hanya dihuni oleh lima orang yang semuanya memiliki kesibukan sendiri-sendiri," keluh Puspa.
Arumi tersenyum simpul. Sebenarnya ia juga merasa sedih karena harus menjalani kesendirian. Akan tetapi, kesedihan selalu menyapa hatinya setiap kali ia datang ke rumah itu.
Seperti halnya Ryanthi yang kesulitan untuk terlepas dari kepedihan karena kepergian Farida, maka hal itu juga terjadi kepada Arumi. Gadis itu belum dapat melupakan rasa sakitnya. Terlebih Ryanthi pergi untuk selamanya, setelah ia berpisah dengan Moedya.
"Aku pasti akan kembali ke rumah ini, tapi tidak tahu kapan tepatnya. Aku masih ingin menyendiri dan sedikit merenung," tutur Arumi. Ada kegetiran dalam nada bicaranya.
Puspa segera menggenggam jemari adik iparnya. Ia tahu jika Arumi tengah dilanda kegalauan semenjak tiga tahun yang lalu.
"Apakah tiga tahun masih kurang lama untukmu, Arum?"
Arumi tidak menjawab. Ia hanya menanggapi ucapan Puspa dengan tersenyum kelu.
__ADS_1
"Kalian bertemu kemarin?" Tanya Puspa.
Arumi mengangguk pelan. Ia tahu ke mana arah dari pertanyaan Puspa. Siapa lagi yang dimaksud kakak iparnya jika bukan pria bernama Moedya.