Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Menuju Marseille


__ADS_3

Siang itu Edgar mengajak Arumi ke beberapa tempat yang dulu selalu mereka kunjungi, salah satunya adalah Parc Monceau.


Arumi terlihat bahagia ketika Edgar mengajaknya ke sana. Meski hampir lupa, tetapi Arumi masih dapat mengingat sedikit dari beberapa hal yang dulu sering ia dan Edgar lakukan di tempat itu.


Edgar tak henti-hentinya membuat gadis cantik berlesung pipit itu tertawa riang. Ia juga tidak melepaskan genggaman tangannya meski sebentar saja. Semua sikap yang Edgar perlihatkan saat itu sungguh telah membuat Arumi begitu terkesan. Gadis itu merasa seperti menjadi seorang tuan putri.


“Kenapa kamu sangat manis, Ed?” Tanya Arumi ketika mereka duduk berdua, di sebuah bangku taman yang ada di tempat itu.


“Karena itulah aku, Arum,” jawab Edgar dengan singkat. Ia merangkul pundak Arumi sehingga gadis itu kini menyndarkan kepalanya di pundak Edgar dengan sangat nyaman.


Hari itu mereka lalui dengan sangat berkesan. Berkeliling kota Paris dan menapaki kembali kepingan masa lalu yang telah lama terkubur sangat dalam. Arumi baru sadar, ternyata ada banyak sekali hal yang dulu sering ia dan Edgar lakukan. Dari hal yang romantis hingga hal terkonyol sekalipun. Edgar pun tidak menjaga image-nya di depan Arumi. Ia begitu apa adannya.


“I love you, Arum. Aku akan selalu mengatakan hal itu meskipun kamu sudah bosan mendengarnya. Aku hanya ingin terus mengingatkanmu, bahwa ada seseorang di dunia ini yang begitu mencintaimu lebih dari ia mencintai dirinya sendiri. Aku akan melakukan apapun untuk selalu menjagamu. Aku tidak akan membiarkanmu berada dalam bahaya, apalagi sampai membuatmu terluka. Tetaplah bersamaku, dan aku pasti akan selalu menjagamu!”


Arumi semakin terharu dengan semua sikap Edgar. Ia begitu bahagia sekaligus terkesan atas semua hal yang telah Edgar lakukan untuknya. Arumi sudah sepatutnya untuk segera memantapkan hatinya. Sudah saatnya ia benar-benar membuang semua masa lalu dan segera menyongsong masa depannya.


Tak ingin beranjak sama sekali, Arumi masih terlihat begitu nyaman bersandar di pundak Edgar. Pria itu juga terus membelai lembut rambut Arumi.


Sungguh itu merupakan sebuah kebahagiaan yang Edgar dapatkakn, di antara semua masalah yang telah membuat kepalanya terasa akan segera meledak.


Hingga menjelang petang, dua sejoli itu baru kembali ke rumah. Edgar kembali melirik amplop yang tadi ia letakan di atas meja. Amplop itu masih berada di sana. Tanpa menimbulkan kecurigaan dari Arumi, Edgar kemudian membawa amplop itu. Ia segera menuju ke ruang kerjanya, setelah Arumi pamit ke kamarnya untuk mandi.

__ADS_1


Di dalam ruang kerja itu, Edgar segera membuka amplop yang telah membuatnya merasa khawatir. Lagi-lagi, Edgar dibuat merasa cemas ketika ia mendapati foto-foto Arumi yang sedang berada di bandara.


Ada sekitar enam lembar foto yang dikirimkan kepadanya, bahkan ada pula foto yang menunjukkan ketika Arumi tengah menunggu kedatangannya di dekat Sungai Seine, sore itu. Di belakang foto itu tertulis sebuah kalimat yang membuat raut wajah Edgar semakin tegang. Elle est très belle (Dia sangat cantik).


Edgar meletakan semua foto-foto itu di atas meja. Ia merapatkan kedua tangannya dan meletakan mereka di dekat bibirnya. Edgar lagi-lagi dipaksa untuk berpikir. Rasa cemas itu kian besar terlebih karena esok Arumi akan berangkat ke Marseille tanpa dirinya. Edgar harus melakukan sesuatu untuk tetap dapat melindungi kekasih tercintanya meski mereka sedang tidak berdekatan.


Keesokan harinya, Arumi sudah bersiap untuk berangkat. Ia sedang menunggu jadwal keberangkatannya. Tentu saja Edgar ada di sana untuk menemaninya.


“Kapan-kapan aku ingin naik kereta saja,” ujar Arumi sambil mengunyah keripik kentang kesukaannya.


“Ya boleh. Jika aku menemanimu pergi. Lagi pula, kemarin kamu tidak mengatakan apa-apa padaku,” kilah Edgar.


“Jangan menggodaku, kecuali jika kamu ingin membatalkan keberangkatanmu kali ini!” Canda Edgar.


Arumi tertawa pelan mendengar ucapan Edgar yang ia anggap sebagai sebuah lelucon. Lain halnya dengan Edgar. Pria itu justru sangat mencemaskan Arumi yang memang tidak tahu jika ada seseorang yang sedang menguntitnya.


Edgar tahu jika Arumi pasti dapat menjaga dirinya. Namun, bagaimanapun juga ia merasa bertanggung jawab untuk terus memastikan jika Arumi akan baik-baik saja.


Ada rasa bimbang di hatinya. Haruskah ia mengatakan yang sesungguhnya kepada gadis itu agar Arumi lebih waspada, atau sebaiknya ia diam dan tetap melanjutkan semua yang sudah ia siapkan?


“Arum, jaga dirimu baik-baik selama di sana. Jika bisa ... jangan terlalu sering keluar rumah atau mintalah seseorang untuk menemanimu setiap kali kamu akan pergi. Aku sangat mencemaskanmu,”

__ADS_1


hanya kata-kata itu yang mampu Edgar katakan.  Ia tidak berani untuk memberitahu Arumi yang sesungghnya. Ia takut akan membuat gadis itu menjadi khawatir dan takut.


Arumi menatap lekat kepada Edgar. Senyuman manis itu kembali ia persembahkan, untuk pria yang telah berhasil membuatnya kembali harus larut dalam pesonanya yang sangat memikat. Arumi tidak berpikir terlalu jauh. Ia menganggap semua rasa khawatir Edgar adalah sesuatu yang wajar.


Ya, seperti yang Edgar katakan malam itu, hal yang wajar jika kita mencemaskan orang yang kita cintai. Kata-kata yang memang sangat benar.


Sebuah ciuman lembut Arumi hadiahkan di pipi Edgar. Pria itu menoleh kepadanya dan tersenyum. “Aku ingin lebih dari itu,” bisiknya dengan nakal, membuat Arumi segera mencubit lengan bergelombang pria itu yang selalu disembunyikan di balik blazer-nya.


Edgar tertawa geli. Sebenarnya ia merupakan tipe pria yang jarang sekali bercanda dengan gadis manapun. Hanya dengan Arumi lah ia tak jarang bersikap konyol.


Ya, ada banyak hal yang tidak ia lakukani dengan gadis lain, tapi ia lakukan dengan Arumi. Sesuatu yang tidak berkaitan dengan aktivitas ranjang tentunya.


Seperti yang telah diceritakan sebelumnya. Edgar adalah pria yang menyukai kegiatan ekstrim, salah satunya adalah panjat tebing. Ia menyukai pegunungan. Wanita adalah hiburannya yang lain. Namun, itu dulu sebelum ia mengenal Arumi. Setelah mengenal gadis itu, Edgar lebih banyak melakukan hal yang positif dan membatasi dirinya.


Akhirnya waktu keberangkatan Arumi pun tiba. Sekali lagi Edgar berpesan agar Arumi selalu menjaga dirinya baik-baik selama berada di Marseille.


Dengan senyuman yang sedikit dipaksakan, Edgar melambaikan tangannya ketika Arumi sudah benar-benar menghilang dari pandangannya. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah pesan. Setelah itu, ia bergegas pergi dari bandara. Sedangkan Arumi sudah duduk manis di dalam pesawat.


Seorang pria bertubuh tegap duduk di kursi sebelah Arumi. Ia tersenyum ketika Arumi menoleh ke arahnya. Arumi pun membalasnya dengan senyuman seperlunya saja.


 

__ADS_1


__ADS_2