
"Moedya! Aku sedang mentertawakan diriku sendiri! Kamu tahu kenapa? Karena aku ... aku adalah gadis yang sangat bodoh! Aku terlalu banyak berpikir dan melupakan segala hal! Aku hanya memikirkamu dan mengharapkan sebuah keajaiban yang ternyata tidak pernah datang kepadaku," racau Arumi.
"Sementara kamu, Tuan Bertato! Kamu seorang pecundang yang hanya dapat melarikan diri dan bersembunyi di bawah ketiak gadis-mu! Kamu tidak memiliki keberanian sama sekali untuk mengambil sebuah keputusan dan sikap yang sesuai dengan penampilanmu! Mungkin lain kali ... sebaiknya kamu menggambar tato bergambar pelangi yang beraneka warna dan boneka beruang di tubuhmu, agar kamu terlihat jauh lebih manis!" Arumi kembali tertawa. Sementara Keanu sudah tidak tahan untuk segera menyeret sang adik pergi dari sana.
Lain Keanu, lain juga dengan Puspa. Wanita itu justru terlihat geli dengan ulah adik iparnya. Berkali-kali ia mengulum senyumnya sendiri.
"Aku ingin sekali menyeret Arum dan mengguyurnya dengan air dingin!" Bisik Keanu dengan emosi tertahan, kepada sang istri.
"Biarkan, Sayang! Arum sedang mengungkapkan perasaan yang ia pendam selama ini. Kita lihat saja dulu apa yang akan terjadi berikutnya!" Sahut Puspa pelan.
"Ini sangat memalukan!" Balas Keanu lagi. Tangannya sudah terkepal dengan sempurna. Sedangkan Puspa, lagi-lagi hanya tersenyum dan memegangi lengan Keanu untuk sesaat. Ia mencoba untuk menenangkan sang suami.
"Moedya! Aku menunggumu selama ini dengan penuh harapan! Aku selalu menunggumu! Lalu kamu datang kepadaku dan menawarkan perdamaian, tapi lihat apa yang terjadi saat ini? Kamu ... kamu ... ah ... sudahlah! Itu menunjukan betapa kamu adalah pria yang tidak konsisten! Aku menyesal telah sangat mencintai pria tidak berguna sepertimu!" Umpat Arumi.
"Arum! Hentikan!" Bentak Keanu lagi. "Ayo kita pulang!" Ajak pria itu. Ia sudah kehilangan kesabarannya melihat kekacauan yang ditimbulkan Arumi di pesta itu.
Arumi kembali menepiskan tangan Keanu. "Tunggu, Kak! Aku belum selesai!" Arumi kembali menepiskan tangan Keanu. Ia kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Diana yang malam itu tampil sangat cantik.
"Hai, Diana," Sapa Arumi dengan diselingi tawa. "Silakan nikmati kemenanganmu! Jaga pria itu baik-baik dan jangan pernah mengecewakannya, karena sekali saja kamu membuatnya kecewa ... maka dia pasti akan mencampakanmu! Sama seperti yang dilakukannya kepadaku, tapi ... it's okay. Aku sudah tidak ingin mengingat hal itu lagi." Arumi mengibaskan tangannya dengan sikap tak acuh.
"Diana yang malang ...." Arumi kembali tertawa.
Melihat hal itu, Edgar yang sejak tadi hanya berdiri dari kejauhan, memutuskan untuk segera menghampiri Arumi. "Arum, hentikan! Ini sudah keterlaluan. Kamu sudah di luar kendali!" Cegah Edgar. "Mari kuantar pulang!" Edgar kemudian meraih tangan Arumi. Akan tetapi, dengan segera gadis itu menepiskannya.
__ADS_1
"Ah ... kamu ada di sini, Ed? Ya ... tentu saja kamu pasti ada di pesta ini untuk merayakan kemenangan atas persekongkolanmu dengan Diana!" Arumi semakin hilang kendali atas semua yang diucapkannya.
"Arum ...." Edgar mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan ucapan Arumi. "What are you talking about?"
Arumi kembali tertawa. "Jangan berpura-pura bodoh, Mr. Hilaire. I know ... kamu dan Diana telah merencanakan semua ini, kan? Tiga tahun yang lalu ... kamu dan nona cantik itu sudah merancang strategi untuk memisahkan aku dan Moedya!" Tuding Arumi dengan tegas.
Mendengar tuduhan tidak mendasar itu, Edgar tentu saja tidak terima. Begitu juga dengan Diana.
"Arumi! Jangan menuduh sembarangan! Aku tidak pernah melakukan hal seperti itu!" Bantah Diana. Ia merasa semakin hancur atas kelakuan Arumi yang telah mengacaukan pesta pertunangannya.
Edgar yang sejak tadi bersikap tenang juga kini merasa sangat kesal dengan tuduhan dari Arumi. Diraihnya pergelangan tangan gadis itu. "Ayo kita pulang sebelum kamu semakin mempermalukan dirimu sendiri!"
"No! Lepaskan tanganku, Ed!" Arumi terus berontak. Akan tetapi, Edgar tidak melepaskannya sama sekali. Ia terus memaksa gadis itu untuk ikut dengannya.
"Lepaskan tanganku!" Arumi berusaha melepaskan genggaman tangan Edgar yang terus mencengkeram pergelangan tangannya. Ia terus berontak, tetapi Edgar tidak memedulikannya sama sekali.
"Aku belum selesai bicara, Ed!" Seru Arumi dengan cukup lantang. Ia terus memukul lengan Edgar yang saat itu menggenggam tangannya dan bermaksud untuk membawanya pergi dari sana.
"Kamu sudah terlalu banyak bicara!" Sanggah Edgar dengan jengkel. "Aku akan mengantarnya pulang," ucap Edgar lagi kepada Keanu.
Akan tetapi, sebelum Edgar sempat membawa gadis itu pergi dari sana, Arumi justru malah terus berontak dengan semakin kuat. Ia tidak memerhatikan langkahnya sendiri yang terlalu ke tepi hingga akhirnya ia harus terjatuh ke dalam kolam renang. Nahas, saat itu Edgar yang masih memegangi tangan Arumi otomatis ikut terjatuh juga.
Lengkap sudah kekonyolan Arumi malam itu. Ia menjadi tontonan semua tamu undangan dan membuat Ranum serta Puspa seketika menutupi mulut mereka karena terkejut dengan insiden yang terjadi malam itu.
__ADS_1
Edgar tampak semakin emosi terhadap Arumi. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Setelah membantu Arumi naik, ia lalu menoleh kepada Keanu. "Bawa dia pulang, Ken! Aku sudah muak dengan semua ini!" Gerutu pria itu seraya beranjak pergi dari sana dengan membawa kemarahan dalam dirinya kepada gadis itu.
Sementara itu, Arumi hanya terdiam. Ia begitu terkejut dan terlihat kebingungan, sebelum akhirnya Puspa segera membawanya pergi dari sana. Sementara Keanu segera menghampiri Moedya.
"Maaf untuk semua kekacauan ini. Aku akan memberinya pelajaran!" Ucap Keanu dengan penuh sesal. Setelah melirik kepada Ranum untuk sesaat, Keanu kemudian menganggukan kepalanya dengan sopan seraya pamit dari sana.
Entah bagaimana kelanjutan pesta pertunangan Diana dan Moedya malam itu? Satu hal yang pasti, hati Diana begitu hancur. Ia merasa sangat malu atas apa yang telah dilakukan oleh Arumi. Tidak berbeda dengan Moedya dan Ranum, mereka juga sangat menyesalkan apa yang telah Arumi lakukan malam itu.
Sementara Edgar, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Wajahnya terlihat sangat tegang karena menahan amarah yang sangat luar biasa kepada Arumi. Gadis itu sudah menuduhnya yang tidak-tidak.
Keesokan harinya.
Hari sudah menjelang siang ketika Arumi terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa begitu berat dan ia merasa malas untuk turun dari tempat tidurnya. Arumi lalu termenung sambil bersandar. Ia ingat, jika semalam adalah pesta pertunangan Moedya dengan Diana. Itu artinya hari ini mereka berdua telah resmi mengikat tali cinta yang mungkin akan segera berlanjut ke jenjang yang jauh lebih serius.
Arumi memijit keningnya perlahan ketika saat itu Puspa masuk dan membawakannya segelas jus jeruk. Wanita itu kemudian tersenyum dan duduk di tepian tempat tidur, sambil menghadap kepada sang adik ipar.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Arum?" Tanya Puspa dengan lembut. Ia lalu menyodorkan jus jeruk itu kepada Arumi.
"Kepalaku terasa sakit sekali, Kak," jawab Arumi sambil meringis kecil. Ia terus memijit keningnya.
"Persiapkan dirimu! Aku rasa ... tidak lama lagi, Keanu akan datang dan memarahimu habis-habisan," ujar Puspa seraya menahan senyumnya. Sementara Arumi hanya mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti. Ya, tentu saja. Ia tidak mengingat kekacauan yang telah dilakukannya semalam di pesta pertunangan Moedya dan Diana.
"Maksud, Kakak?" Tanya gadis itu.
__ADS_1
Puspa belum sempat menjawab karena saat itu Keanu telah telah lebih dulu masuk ke kamar Arumi. Wajah kalem yang biasa menjadi ciri khas pria itu, tidak terlihat sama sekali, karena yang tampak saat itu hanyalah kemarahan yang begitu besar dalam sorot matanya.
Puspa kemudian beranjak dari duduknya. Ia lalu menghampiri sang suami. Dipengangnya lengan Keanu dengan penuh kelembutan. "Jangan terlalu keras padanya dan jangan berlebihan!" Pesan ibu dua anak itu. Setelah itu, ia memutuskan untuk keluar dari kamar Arumi dan meninggalkan Keanu dengan kemarahannya serta Arumi dengan wajah keheranannya.