Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Bucket Mawar Putih


__ADS_3

Pagi itu, Arumi baru selesai melakukan olahraga. Dengan tubuh yang masih dipenuhi kerngat, ia masuk ke dapur untuk minum. Setelah itu, ia mengambil buah apel dari keranjang dan langsung memakannya.


Arumi kemudian keluar dari dapur dan bermaksud untuk kembali ke kamarnya. Ia ingin segera membersihkan tubuhnya. Akan tetapi, ketika itu Chantal datang menghampirinya. Gadis itu membawa bucket bunga mawar putih yang cukup besar dan membuat Arumi seketika tertegun sambil menatap sepupunya.


“Bunga yang cantik, Cha,” ujar Arumi. Ia begitu terpesona melihat mawar-mawar yang terlihat sangat segar itu.


“Ya, tentu saja. “Bunga yang cantik, untuk gadis tercantik”. This is for you, Arum,” Chantal menyodorkan bucket bunga itu setalah ia membacakan tulisan dalam kartu ucapan yang terdapat di dalamnya.


Arumi mengernyitkan keningnya. Senyumnya seketika merekah dengan indah, bahkan hampir mengalahkan keindahan dari bunga mawar putih itu. Arumi kemudian menerima bucket bunga yang disodorkan oleh Chantal.


“Luar biasa, Arum! Baru satu hari berada di sini dan kamu sudah mendapatkan kiriman seindah itu. Sementra aku yang sudah lama tinggal di sini, belum sekalipun menerima sanjungan seperti yang kamu terima,” Chantal terlihat sedih dan menyesali dirinya. 


Bukannya iba, Arumi justru malah tertawa geli melihatnya. Ia lalu melihat kartu ucapan yang tadi sudah dibuka oleh sepupunya.


“Tidak ada nama pengirimnya,” gumam Arumi. Gadis itu lagi-lagi mengernyitkan keningnya.


Pikiran Arumi saat itu, langsung tertuju kepada Edgar. Arumi langsung tersenyum manis. “Dia sangat romantis, kan? Aku harus segera berterima kasih padanya untuk kiriman yang indah ini,” ujar Arumi lagi. Ia lalu mencabut setangkai mawar itu dan memberikannya kepada Chantal. “Ini untukmu! Anggap saja sebagai obat pelipur lara,” ledek Arumi seraya berlalu ke kamarnya sambil membawa bucket bunga itu.


Arumi  meletakan bucket bunga itu di atas meja sebelah tempat tidurnya. Ia lalu meraih ponselnya dan mulai menghubungi seseorang yang tiada lain adalah Edgar. Tidak perlu menunggu lama bagi Arumi untuk dapat mendengar suara sang kekasih, yang kini mulai mengisi hatinya. Arumi tak henti-hentinya tersenyum bahkan sampai tersipu.


“Ada apa, Arum?” Tanya Edgar yang saat itu baru selesai merapikan kemeja putihnya. Sepertinya ia akan pergi ke kantor hari itu.


“Apa kamu sedang sibuk?” Arumi balik bertanya dari seberang sana.


“Tidak untuk saat ini, tapi sebentar lagi aku akan ke kantor, Memangnya ada apa?” Nada bicara Edgar terdengar sedikit datar dan tidak seperti biasanya. Arumi merasa sedikit heran. Akan tetapi, ia tidak terlalu memedulikan hal itu. Arumi sudah terlanjur senang karena kiriman bunga itu.

__ADS_1


“Ed ....” Arumi kembali bicara.


“Ya,” sahut Edgar masih dengan nada bicara yang sama.


“Thank you,” ucap Arumi lagi dengan senyum manis yang terus terkembang di wajah cantiknya.


“For what?” Tanya Edgar dengan heran.


Arumi tidak langsung menjawab. Gadis itu terus tersenyum seraya menatap bunga mawar putih yang terlihat begitu cantik dan segar. Arumi merasa sangat tersanjung.


“Aku sangat menyukainya. Kamu berada di Paris tapi masih sempat untuk mengirimkan bunga untukku. Bunga yang kamu kirimkan sangat indah dan ....” Arumi tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena Edgar dengan segera menyelanya.


“Bunga apa, Arum? Aku tidak pernah mengirimkan bunga untukmu.” bantah Edgar.


Seketika senyum manis Arumi perlahan memudar. Ditatapnya kembali bucket bunga itu. Jika bukan Edgar yang mengirmkan bunga itu, lalu siapa yang melakukannya? Arumi kemudian berjalan menuju meja tempat ia menyimpan bucket bunga itu.


Edgar tidak segera menjawab. Pria itu masih berdiri mematung di depan cermin. Wajah ramah dengan senyum menawannya tidak terlihat sama sekali saat itu. Edgar terlihat sangat datar dan dingin.


“Ed, kamu masih disitu?”  Terdengar suara lembut Arumi yang sedikit resah.


“Jika aku ingin memberikan bunga untukmu, maka aku akan mengirimkannya secara langsung padamu,” ujar Edgar dingin.


“Lalu ... siapa yang mengirmkan bunga ini untukku?”  Gumam Arumi.


“Mungkin pengagummu yang lain,” jawab Edgar dingin. “Maaf, Arum! Aku harus segera berangkat. Hari ini aku harus menghadiri rapat di perusahaan. Untuk hari ini kamu akan terbebas dari gangguanku,” ujar Edgar seraya merapikan dasi yang baru ia pasangkan.

__ADS_1


Mendengar nada bicara Edgar yang tidak seperti biasanya, perasaan Arumi menjadi sedikit gelisah. Ia tahu jika Edgar pasti marah dan mungkin curiga kepada dirinya.”Kenapa kamu bicara seperti itu, Ed?” Tanya Arumi dengan perasaan tidak enak.


Edgar tidak menjawab. Ia tengah sibuk merapikan jas, kemudian memasang arloji di pergelangan tangan kirinya. Setelah merasa jika penampilannya sudah benar-benar rapi, Edgar kemudian kembali bicara, “Maaf, Arum! Aku harus pergi. Sampai nanti,” Edgar menutup sambungan teleponnya begitu saja. Ia seperti tidak peduli jika sikapnya itu telah membuat Arumi menjadi resah.


Arumi duduk di tepian tempat tidur. Ia meletakan ponselnya begitu saja. Gadis itu tidak tahu harus berkata apa sekarang. Ia merasa cemas dan takut. Arumi kembali teringat pada seseorang yang seakan tengah menguntitnya. Seseorang yang bahkan tidak ia ketahui dengan jelas.


Arumi sendiri tidak yakin, apakah orang itu memang ada atau hanya khayalannya saja. Akan tetapi, jika memang seseorang itu hanya khayalannya saja, lalu dari mana datangnya bucket bunga yang ia terima pagi ini?


Tanpa berpikir panjang, Arumi segera mengambil bucket bunga itu dan membawanya beranjak dari dalam kamar. Ia melangkah dengan tergesa-gesa menuju pintu keluar. Dengan penuh rasa kesal, Arumi melemparkan bucket bunga itu ke dalam tong sampah.


Gadis bertubuh semampai itu berdiri sambil mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia memastikan apakah ada yang tengah mengawasinya atau tidak, meskipun saat itu ia benar-benar merasa cemas dan juga sangat takut.


Sepi. Jalanan di depan kediaman Emanuelle tidak terlalu ramai pagi itu. Arumi pun tidak melihat ada tanda-tanda yang mencurigakan di sana. Tidak berselang lama, gadis itu kemudian memutuskan untuk kembali masuk.


“Arum!” Terdengar panggilan Chantal dengan diam-diam. Arumi yang sedang tidak berkonsentrasi pun, harus dibuat sedikit terkejut karenanya. Dengan heran ia menoleh dan bertanya kepada gadis dengan bola mata berwarna hijau itu. “Ada apa, Cha?”


Chantal segera menarik Arumi dengan perlahan.  Ia mengjak gadis itu untuk masuk ke sebuah ruangan  yang terlihat seperti ruang keluarga.”Maukah kau membantuku, Arum?” Tanya gadis itu dengan penuh harap dan membuat Arumi mengernyitkan keningnya.


"Malam ini aku ada kencan dengan kekasihku. Kau mau kan menemaniku?"


"Untuk apa? Aku tidak ingin duduk termangu seperti orang bodoh dan menyaksikan kalian bermesraan!" Tolak Arumi dengan segera.


"Tentu saja tidak, Arum! Lagi pula, aku tidak ingin kau malihatku saat sedang berpacaran," bantah Chantal dengan agak malu-malu.


"Lalu? Kenapa kamu mengajakku?" Tanya Arumi dengan heran.

__ADS_1


"Agar ibu memberiku izin untuk pergi," jawab Chantal dengan wajah penuh harap kepada Arumi.


__ADS_2