
Dengan langkah gontai, Arumi meniti satu persatu anak tangga menuju lantai dua rumahnya. Ia ingin segera masuk ke kamar dan kembali bersembunyi dari kenyataan pahit yang baru saja ia alami.
Arumi terlalu percaya diri. Ia pikir, Moedya akan kembali ke dalam pelukannya. Arumi tidak pernah menyangka, jika yang terjadi justru sebaliknya.
Lemas, tubuhnya seketika ambruk di lantai dekat tempat tidurnya. Ia terduduk dan menyandarkan tubuhnya pada ujung tempat tidur itu.
Penantiannya berakhir dengan sebuah keputusan yang jauh menyakitkan dari kata putus. Harapannya untuk dapat kembali bersama pria yang sangat ia cintai, pupus sudah seiring dengan kata pamit yang diucapkan Moedy kepada dirinya.
Panas dan bergejolak. Bagaikan api yang disiram bensin, rasanya Arumi ingin sekali berteriak dan melepaskan segala ganjalan di dalam dadanya. Begitu pula dengan rasa sakit yang kembali ia rasakan. Arumi pikir, pertemuannya dengan Moedya akan menjadi obat dari kegalauannya selama tiga tahun terakhir, bukan justru malah menambah kepedihan di dalam hatinya.
"Kenapa kamu menghukumku seperti ini, Moedya?" Rintih Arumi. Ia masih belum mengetahui kebenaran tentang Moedy hingga saat itu. Dalam pikirannya, Moedya melakukan hal seperti itu karena faktor kesalahan Arumi sendiri. Ia tidak tahu apa yang selama ini Moedya lakukan dengan Diana.
Air mata itu seakan tidak merasa ragu untuk dapat menetes, lagi dan lagi. Arumi, sudah terlalu lelah untuk menangis dan meratap sendirian. Kali ini, ia benar-benar membutuhkan bahu untuk bersandar.
"Ibu ...." rintih Arumi pelan, "aku sangat membutuhkanmu ...." gadis itu tertunduk lesu di atas lantai kamarnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Penantiannya sia-sia. Ia sudah banyak membuang waktu dengan percuma.
Diliriknya foto Ryanthi dan Adrian yang ia letakan di atas meja kecil sebelah tempat tidurnya. Arumi perlahan bangkit dan meraih foto itu. Gadis itu kemudian duduk dan bersandar pada headboard tempat tidurnya, seraya mendekap erat foto kedua orang tuanya. Ia pun mulai terisak pelan. Entah berapa lama Arumi seperti itu, karena sesaat kemudian ia tampak memejamkan matanya dan mulai tertidur.
......................
Pagi telah datang dan mempersembahkan cahaya mentari yang cukup hangat. Akan tetapi, Arumi belum beranjak dari tempat tidurnya. Ia masih termenung di sana. Ia bahkan merasakan rasa yang tidak nyaman di tubuhnya, karena semalam tertidur dalam posisi yang tidak sewajarnya.
__ADS_1
Waktu telah menunjukan pukul setengah delapan. Arumi belum tahu, apa yang akan ia lakukan hari ini. Apakah akan ke toko atau di rumah saja, yang pasti dia begitu malas untuk beranjak ke manapun.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari Vera, tantenya. Dia mengatakan agar Arumi mampir ke rumahnya, dan membawa beberapa barang milik Ryanthi yang mungkin masih tersisa di kamarnya yang dulu.
Dengan malas, Arumi melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia kemudian mulai membersihkan dirinya.
Beberapa saat berlalu, Arumi telah bersiap dengan penampilan andalannya. Sebuah midi dress polos lengan pendek dengan panjang selutut dan berwarna hijau, siap menemaninya hari ini. Seperti biasa, ia juga membiarkan rambutnya terurai begitu saja.
Arumi menatap dirinya untuk sesaat dalam pantulan cermin. Banyak hal yang telah ia lalui. Kepedihan dan tawa, semuanya datang dan pergi begitu saja. Akan tetapi, ia harus kembali berpikir rasional, bahwa hidupnya bukan untuk kemarin atau hari ini saja. Ada hari esok yang harus ia songsong dengan semangat, because life must go on.
Moedya bukanlah akhir dari hidupnya, meski Arumi berharap seperti itu. Ucapannya kemarin, sepertinya memang tidaklah keliru. Semesta seakan tidak merestui hubungan mereka berdua. Lalu, apakah itu sebuah goresan takdir bagi Arumi dan Moedya?
Ibarat seorang penulis yang telah merancang dan menentukan takdir setiap tokoh dalam tulisannya, maka Tuhan jauh lebih berkuasa dari hal seperti itu. Arumi yakin jika Tuhan sudah menyiapkan cerita lain untuk dirinya, dengan detail yang belum dapat ia pahami sepenuhnya.
Melangkah dengan tenang saat menuruni undakan anak tangga satu persatu, Arumi melihat Dinan berlari ke sana-kemari. Seperti biasanya, anak itu selalu terlihat ceria, meskipun ia sudah membuat sang ibu begitu kewalahan.
Arumi merasakan perutnya sangat lapar. Ia lalu menuju ke ruang makan. Diraihnya sepotong roti gandum dan langsung ia lahap. Hari itu, Arumi lagi-lagi absen dari meja makan. Setelah menghabiakan dua potong roti, Arumi kemudian berlalu dari ruang makan.
Di ruang keluarga, ia melihat Keanu dan Puspa yang tengah asyik mengajak main si kecil Jenna. Sementara Dinan, anak itu selalu memiliki kesibukan sendiri.
"Hai, Kak," sapa Arumi yang masih berdiri di pintu. Keanu dan Puspa serentak menoleh.
__ADS_1
"Hai, Arum," balas Puspa dengan hangat. Senyum ramah dan ceria selalu terpancar dari wajahnya yang manis. "Mau ke toko?" Tanyanya kemudian.
Arumi masuk ke ruangan itu dan duduk di salah satu kursi di sana. "Nanti saja aku ke sana. Aku harus ke rumah kakek dulu," jawab Arumi.
"Jam berapa kamu pulang semalam? Kakak tidak mendengar suara mobilmu," Keanu yang saat itu tengah menggendong Jenna, kini mengalihkan pandangannya kepada Arumi untuk sesaat.
"Entahlah. Semalam aku langsung tidur," jawab Arumi lagi dengan seperlunya.
"Ada apa ke rumah kakek? Tidak biasanya kamu tiba-tiba ingin ke sana?" Keanu mengernyitkan keningnya.
Arumi tersenyum kecil. "Tante Ve menghubungiku. Katanya mungkin masih ada barang-barang ibu di kamar lamanya. Jadi, aku harus memeriksa dan membawanya," sahut Arumi seraya beranjak.
"Aku harus pergi dulu. Ini sudah terlalu siang," ucap Arumi lagi seraya berpamitan kepada Keanu dan Puspa. Tidak lupa ia juga menyempatkan diri untuk menyapa keponakan kecilnya.
"Sibuk sekali, Arumi. Kamu bahkan sudah jarang bergabung di meja makan," ujar Puspa. "Kamu sudah sarapan, kan?" Wanita itu sangat peduli kepada Arumi.
Arumi mengangguk pelan. "Aku sibuk, sangat sibuk. Sibuk menata hidup dan hatiku yang hancur ... ah ... sudahlah! Aku pergi dulu. Bye!" Arumi segera berlalu dari hadapan Keanu dan Puspa. Begitu keluar, ia berpapasan dengan Dinan yang terlihat sangat riang dengan membawa sebuah mainan, yang berupa die cast berbentuk pesawat.
"Lihat, Tante! Mainan baruku ... bagus, kan?" Dinan menunjukan mainan barunya dengan riang. Arumi kemudian menurunkan tubuhnya. "Wah ... bagus sekali. Beli di mana, Sayang?" Tanya gadis itu dengan gemas.
"Tidak beli, Tante. Om itu yang memberikannya untukku," tunjuk Dinan pada pria rupawan yang baru saja muncul di ruangan itu. Pria yang selalu memerlihatkan senyumannya yang menawan.
__ADS_1