
Senja telah turun di ufuk barat. Matahari pun mulai bersembunyi dan menarik semua sinarnya ke peraduan. Sebentar lagi, malam akan datang menjelang. Namun, Arumi masih berdiri di tepian danau itu. Danau yang dulu biasa ia dan Moedya datangi untuk memadu kasih di bawah lembayung.
Semilir angin senja mulai datang menyapa. Terasa lembut dan begitu menyejukan. Ia datang dan memainkan rambut panjang Arumi dengan sesuka hatinya. Tanpa permisi, tanpa aba-aba. Ia melakukan apa yang diinginkannya terhadap gadis itu.
Seperti sebuah takdir yang telah dilalui. Datang dan pergi tanpa disadari, terlupakan, lalu tiba-tiba teringat dan akhirnya menjadi sebuah kenangan yang menyesakan. Meninggalkan luka yang sangat sulit untuk diobati. Terus menganga dan meneteskan darah. Menyakitkan.
Arumi masih terpaku menatap air danau yang berwarna kehijauan itu. Bayangan langit senja muncul di sana, dalam riakan airnya yang tertiup angin. Air itu tampak begitu tenang dan menghanyutkan.
Semakin senja udara terasa semakin dingin. Angin yang berhembus pun terasa semakin menusuk tulang dan seakan menyuruh Arumi untuk segera pulang. Akan tetapi, gadis itu masih ingin di sana. Menyendiri dan berpikir. Menenangkan hati dan ... tidak! Pantang bagi seorang Arumi untuk kembali meratapi dirinya.
Sudah cukup ia membuat hidupnya bagaikan berada di tengah samudera. Tanpa teman, tanpa siapa-siapa. Sudah cukup ia menangisi semua kebodohannya, kecerobohannya, dan mungkin ini terakhir kalinya ia mengharapkan seseorang yang bernama Moedya.
Ya, Arumi tidak akan menantikannya lagi. Sudah cukup ia menunggu selama ini, apa lagi penantiannya hanya berujung dengan sebuah kekecewaan.
Angin kembali bertiup dengan lembut. Hembusannya menghadirkan rindu yang kian menyeruak dan seakan memberontak dalam dada Arumi. Air mata pun kembali menetes tanpa diminta. Namun, dengan segera Arumi menyekanya, terlebih ketika ia mendengar sebuah sapaan kecil menghampirinya.
Arumi menoleh. Pria itu ada di sana. Pria yang telah menyebabkan hidupnya dilanda kegalauan dalam kesendirian. Pria yang telah membuat hatinya dipenuhi oleh kabut yang tak juga dapat ia sibak. Moedya, pria maskulin yang meresahkan.
Moedya menghampiri Arumi dan berdiri tepat di sebelah gadis itu. Gadis yang kini menatapnya dengan lekat.
"Kamu di sini, Arum?" Tanya Moedya dengan cenderung datar.
"Entah kenapa aku ingin kemari," jawab Arumi pelan.
"Aku selalu kemari setiap senja,dan berada di sini hingga matahari tenggelam. Aku selalu melakukannya dari semenjak tiga tahun yang lalu," ujar Moedya. Ekspresi wajahnya masih terlihat datar.
"Untuk apa?" Tanya Arumi. Ia mulai mengalihkan pandangannya dari Moedya. Kini ia lebih memilih untuk kembali menatap sekumpulan air yang seakan menelan habis bayangan langit biru di atasnya.
"Melihat bayanganmu, Arum," jawab Moedya pelan dan tanpa menoleh sedikitpun.
__ADS_1
Arumi kembali menatap pria yang tengah berdiri di sampingnya. Entah apa maksud Moedya mengatakan hal seperti itu kepada dirinya.
"Apa maksudmu, Moedya?" Arumi kembali bertanya.
Moedya kemudian mengalihkan tatapannya. Sepasang mata dengan sorot yang dalam itu, intens tertuju pada paras cantik yang telah lama menghilang dari pandangannya. Gadis yang hidup dalam bayang-bayang senja dan tenggelam bersama pekatnya malam. Hilang dari penglihatannya.
"Apa yang telah kamu lakukan padaku, Arum? Kenapa kamu membuat hidupku begitu terpuruk? Aku merasa telah kehilangan semua kekuatanku dan menjadi lemah," ungkap Moedya masih dengan ekspresinya yang datar.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu. Kamu sangat keterlaluan!" Balas Arumi.
"Kamu yang keterlaluan, Arumi!" Sahut Moedya dengan nada bicara yang tiba-tiba tegas dan membuat Arumi tersentak.
"Kelakuan nakalmu telah menghancurkan semuanya! Kamu tidak tahu, betapa aku merasa tersakiti!" Sentak Moedya.
"Aku sudah meminta maaf padamu! Aku juga sudah menjelaskannya, tapi kamu tidak menghiraukanku sama sekali!" Arumi tak kalah tegas.
"Penjelasan seperti apa? Kamu ingin mengatakan jika kamu tidak sadar? Tidak sengaja? Atau apa?" Tantang Moedya. Ia lalu mencengkeram kedua lengan Arumi dengan cukup keras, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Tiga tahun aku hidup dalam bayangan itu. Aku terus melihatnya dan hal itu terasa sangat sulit untuk aku lupakan. Kamu pikir aku tidak mempunyai perasaan, sehingga aku bisa menerima begitu saja semua yang telah kamu lakukan, Arumi? Kamu sangat keterlaluan!" Sentak Moedya lagi.
"Aku mabuk, Moedya! Aku tidak sadar! Berapa kali harus kukatakan hal itu kepadamu? Aku tidak sadar ketika aku melakukannya!" Bantah Arumi. Gadis itu kembali membela dirinya.
Arumi membalikan badannya. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menatap pria yang kini terlihat sedang berada di puncak amarahnya.
"Aku tidak akan menyalahkanmu jika kamu marah kepadaku, karena memang sudah sepantasnya aku menerima hal itu. Namun, apakah kamu mengetahui jika aku juga merasa begitu tersakiti," Arumi kembali menyeka air matanya.
"Aku sendirian, Moedya. Aku kesepian dan terlihat sangat menyedihkan. Aku menanggung beban yang sangat berat di dalam hatiku. Aku begitu tersiksa karena semua ini ...." isak Arumi perlahan.
"Sialan!" Gerutu Moedya. Ia tidak akan sanggup melampiaskan semua kemarahannya kepada Arumi. Kenyataannya, ia tidak tega melihat gadis itu berurai air mata.
__ADS_1
Diraihnya tubuh Arumi ke dalam pelukannya. Moedya pun mendekap gadis itu dengan sangat erat.
"Aku merindukanmu, Arum. Aku sangat merindukanmu ...." lirih Moedya. "Di satu sisi kamu adalah kekuatanku, tapi di sisi lain kamu juga yang melemahkanku. Lagi-lagi aku merasa tidak berdaya menghadapi cinta, yang telah membuatku terlihat sangat bodoh!" Lanjut Moedya tanpa melepaskan pelukannya.
Sementara Arumi hanya mematung. Ia tidak berani untuk membalas pelukan dari Moedya, meskipun kenyataanya ia sangat merindukan hal itu.
Beberapa saat lamanya Moedya mendekap erat tubuh semampai Arumi. Pria itu seakan tidak ingin melepaskannya walau sedetikpun. Sedangkan Arumi hanya dapat memejamkan matanya.
Aroma tubuh pria itu masih sama dari semenjak tiga tahun yang lalu. Wangi yang sudah sangat Arumi kenal. Namun, itu tidak akan lagi membuatnya merasa terbuai. Arumi sudah mengambil keputusan.
Didorongnya tubuh Moedya dengan perlahan dan dijauhkan dari dirinya. Arumi bukannya tidak menyukai hal itu, tetapi ia harus bersikap tegas, karena Moedya kini bukan miliknya lagi.
"Tidak, Moedya!" Tolak Arumi. "Jangan merayuku!"
Moedya tertegun menatap gadis itu. "Arum?"
"Jangan mendekatiku apa lagi menyentuhku!" Arumi bergerak mundur.
"Aku mungkin bukan gadis yang penurut. Aku pembangkang dan nakal, tetapi ... tetapi aku tidak ingin kembali menjadi seorang pengkhianat," ucap Arumi. Ia masih memberikan jarak antara dirinya dan Moedya.
"Apa maksudmu, Arum?" Tanya Moedya. "Apakah karena Diana?"
Arumi tidak menjawab. Ia hanya menatap nanar pria yang berada di hadapannya.
"Apa yang Diana katakan padamu?" Tanya Moedya lagi.
"Semuanya, Moedya. Dia sudah mengingatkan aku jika kamu tidak layak lagi untuk aku nantikan. Tidak, Moedya ...." Arumi menggelengkan kepalanya.
Moedya mengernyitkan keningnya. "Untuk apa kamu menantikanku? Bukankah kamu sudah bersama Edgar?"
__ADS_1
Arumi menggeleng dengan tegas. "Kamu salah, Moedya! Aku tidak pernah menerima Edgar, baik itu dulu ataupun sekarang. Aku tidak pernah menerimanya ...." jawab Arumi pelan. Setelah itu Arumi membalikan badannya. Ia pun segera berlalu meninggalkan Moedya di sana dan membiarkan pria itu berada dalam kegalauan hatinya.