
Moedya melangkah keluar dari dalam dapur dengan gagahnya. Jaket kulit hitam itu, masih melekat dan membuatnya terlihat begitu maskulin dalam tampilannya yang terbilang urakan. Keluar dari dalam toko, Moedya segera menuju ke tempat ia memarkirkan motornya.
Sebelum memakai helm, Moedya sempat terdiam untuk sejenak. Tidak lama kemudian, ia lalu tersenyum simpul dan mulai menyalakan motornya. Selang beberapa saat, motor itu pun melaju dengan gagahnya, meninggalkan halaman parkir toko kue itu.
Sepeninggal Moedya, Arumi pun hanya termenung. Ia bahkan lupa, jika saat itu ia tengah memanggang kue. Alhasil, Arumi harus mengeluh kesal ketika melihat kuenya yang berwarna kehitaman. "Oh ... God!" Gadis itu menepuk keningnya. Itulah akibatnya jika melakukan suatu pekerjaan sambil melamun.
"Ini semua gara-gara, Moedya! Kenapa dia harus menggangguku sepagi ini? Pria itu benar-benar meresahkan! Menyebalkan! Dasar dia ...."
"Kenapa, Arum? Ini baru jam sepuluh pagi dan kamu sudah menggerutu seperti itu?" Sebuah suara seketika mengejutkan Arumi. Gadis itu bahkan sampai menjatuhkan loyang yang sedang ia pegang. Croisant yang hangus itu pun berhamburan di lantai.
"Ya ampun, Arum!" Si pemilik suara yang tiada lain adalah Edgar, segera menghampiri Arumi. Tanpa ragu, pria itu membantu Arumi memunguti croisant yang berceceran di lantai.
"Kenapa, Arum? Sepertinya kamu sedang tidak fokus?" Tanya Edgar.
Arumi tidak menjawab. Ia hanya menatap Edgar dengan aneh dan membuat pria rupawan menjadi terheran-heran.
"Kenapa? Apakah ada yang aneh?" Tanya Edgar lagi. Terlukis sebuah senyuman yang sangat memesona pada wajah tampan itu.
Lagi-lagi, Arumi hanya terdiam. Ia berdiri dan membawa semua croisant itu ke sebuah meja, di mana terdapat tempat sampah yang cukup besar pada bagian bawahnya. Arumi membuang semua croisant itu di sana.
"Ada apa kemari?" Tanya gadis dengan mini dress foral lengan pendek itu. Ia tidak menyambut Edgar dengan wajah yang ramah, apa lagi senyuman hangat. Akan tetapi, itu merupakan hal yang sudah biasa bagi pria tiga puluh tahun asal Perancis itu.
"Tentu saja aku ingin menemuimu," jawab Edgar seraya memdekati Arumi. Ia berdiri di dekat Arumi dengan posisi menyamping sehingga menghadap kepada gadis itu.
__ADS_1
Arumi menghela napas dalam-dalam. Ia tidak mempedulikan Edgar dan kembali pada pekerjaannya. Edgar hanya tersenyum ketika melihat sikap dari mantan kekasihnya itu.
"Bagaimana jika siang ini kita makan siang bersama?" Tawar Edgar dengan wajah berharap. Arumi menoleh untuk sejenak. Akan tetapi, ia hanya terdiam.
"Are you angry with me, Arum?" Tanya Edgar lagi dengan sedikit cemas.
Arumi mengeluh pelan. Ia melirik Edgar untuk sejenak, kemudian menghentikan pekerjaannya yaitu mencampur beberapa bahan ke dalam mixer. "Aku sedang berkonsentrasi. Salah menakar sedikit saja saat memasukan bahan, maka kue yang kubuat akan gagal. Tolong jangan ganggu aku!" Arumi kembali pada pekerjaannya.
"Aku tidak akan me ...." Edgar tidak melanjutkan kata-katanya, karena terganggu oleh suara berisik dari mixer yang baru saja dinyalakan oleh Arumi. "Kenapa berisik sekali?" Keluhnya pelan.
"Aku lebih senang mendengar suara berisik mixer ini dari pada mendengar ocehanmu dan Moedya!" Tandas Arumi. Ia kembali fokus pada kaki mixer yang tengah berputar itu. Tidak berselang lama, adonan telah siap untuk dicetak. Arumi kemudian mematikan mixer itu sehingga suara berisiknya pun menghilang.
"Jangan samakan aku dengan berandalan itu!" Tolak Edgar dengan raut wajah yang tidak senang.
Edgar masih setampan dulu. Ia bahkan kini terlihat lebih matang dan tentu saja lebih menggoda. Arumi pun mengakui hal itu. Akan tetapi, tentu saja Arumi tidak akan tergoda.
"Oh iya, Arum. By the way ... aku akan melakukan kerja sama dengan Keanu. Apa kamu menyetujuinya?"
"Terserah. Itu bukan urusanku," jawab Arumi dengan ketusnya dan menggunakan bahasa Perancis. Lagi-lagi, Edgar hanya tersenyum.
"Come on, Babe! Setidaknya berikan sedikit pendapatmu tentang hal itu!" Pinta Edgar. Ia memerhatikan Arumi yang sesekali ke sana-kemari untuk mengambil beberapa peralatan dan bahan pelengkap yang dibutuhkannya.
"Apa yang harus kukatakan? Aku bukan sekretaris ataupun penasihat keuanganmu," jawab Arumi lagi masih dengan nada bicaranya yang ketus.
__ADS_1
Edgar menopang tangan kiri di atas tangan kanan yang ia letakan di dada dengan lurus. Ia lalu mengusap-usap dagunya yang berjenggot tipis.
"Ah ... itu ide yang bagus. Bagaimana jika kamu menjadi sekretaris pribadiku saja? Aku yakin kamu pasti akan sangat membantuku," cetus Edgar masih dengan senyumnya yang menawan. Padahal ia sudah dapat menebak bagaimana respon Arumi, ia hanya ingin menggoda gadis itu.
Dugaannya tidak meleset. Arumi mendelik tajam kepadanya. Jelas ia tidak akan menyukai pekerjaan itu. "Maaf Tuan Hilaire, tapi aku sangat mencintai pekerjaanku saat ini. Aku mencintai kue dan aku sangat menyukai dapurku jika diandingkan dengan ruang kerjamu yang nyaman, meskipun dengan pengharum ruangan yang paling wangi sekalipun!" Tolak Arumi lagi-lagi dengan ketus.
"Ya. Aku tahu hal itu. Mungkin sebaiknya aku menawarimu untuk memasak di dapurku, kemudian menyajikan makanan yang enak untukku dan kita akan menyantapnya di meja makan yang sama," celoteh Edgar. Ia semakin senang kala menggoda gadis itu.
"Kalau begitu bawa saja Nining atau Zulaikha. Mereka pasti akan bersedia melakukan itu untukmu," sahut Arumi dengan tak acuh.
Edgar tergelak mendengar hal itu. Sesaat kemudian, ia lalu menghentikan tawanya dan menatap lekat gadis yang ada di hadapannya Harapan cinta yang ia rasakan kepada gadis itu teramat besar. Penantian panjang pun ia lakoni tanpa mengenal lelah, meskipun ia tahu jika semua yang dilakukannya hanyalah sia-sia.
Pada kenyataannya, Arumi tidak pernah menghiraukannya. Terkadang Edgar merasa hanya membuang-buang waktu. Namun, perasaan yang begitu besar kepada Arumi, telah membuatnya menjadi melupakan semua itu.
"Arum. Apakah kamu sudah membuka hadiah dariku?" Tanya Edgar dengan wajah yang cukup serius. Arumi tertegun untuk sejenak. Setelah itu, ia lalu mengangguk pelan.
"Apa kamu menyukainya?" Tanya Edgar lagi.
Arumi tidak segera menjawab. Ia menyudahi pekerjaannya dengan sangat cepat. Ketangkasannya dalam membuat kue sudah kembali lagi.
"Dengar, Ed! Meskipun kamu mengirimkan semua kenangan yang sudah kita lewati selama aku berada di Paris, aku tetap tidak akan pernah kembali padamu. Aku pastikan itu. Haruskah aku menyatakan hal itu secara tertulis dan dengan membubuhkan tanda tangan notaris?"
"Aku yakin jika kamu pasti akan segera berubah pikiran," sahut Edgar dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Silakan lanjutkan apapun yang menjadi keyakinanmu! Satu yang pasti ... aku tidak akan kembali ke pelukanmu!"