Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Berakhir di Tepi Danau Kenangan


__ADS_3

Sore itu, cuaca cukup cerah. Sepertinya alam memberikan kesempatan bagi kedua insan yang sudah lama saling merindukan itu, untuk dapat bertatap muka di tempat yang bersejarah bagi mereka berdua.


Hari itu, Arumi terlihat sangat cantik dengan midi dress sebatas lutut berlengan tiga perempat. Ia juga membiarkan rambut panjangnya terurai begitu saja di atas pundak sebelah sebelah kirinya.


Berdiri sambil meletakan tangannya di atas besi pembatas danau, Arumi menatap riakan air yang berwarna kehijauan di sana. Setelah itu, ia mengarahkan pandangannya pada langit sore yang indah. Senyumnya pun terkembang di bibir joyfull orange-nya. "Terima kasih, Tuhan. Kau tidak menurunkan hujan hari ini," ucap Arumi pelan. Rona bahagia, terlukis dengan sempurna di wajah cantiknya.


Kebahagiaannya hari itu kian bertambah, ketika ia mendengar suara deru motor yang berhenti tidak jauh darinya. Arumi segera menoleh.


Tampaklah seseorang yang sedang ia tunggu dengan penuh harap-harap cemas. Moedya saat itu baru melepas helmnya. Ia juga melepas kaca mata hitam yang dikenakannya.


Tatapan Arumi tak dapat teralihkan sama sekali dari si pemilik wajah maskulin itu. Pria yang kini tengah melangkah dengan gagah, menuju ke arahnya.


Hari itu, Moedya datang dengan mengenakan jaket dari bahan jeans. Masih setia dengan celana sobek-sobeknya, Moedya terlihat sangat percaya diri, meskipun sebenarnya hati pria itu sedang teramat kacau. Ia telah menjerumuskan dirinya ke dalam masalah besar.


"Hai, Arum," sapa Moedya seraya berdiri di sebelah Arumi yang saat itu menyambutnya dengan sebuah tatapan penuh cinta dan harap. "Sudah lama menunggu?" Tanyanya kemudian. Ia membalas tatapan Arumi dengan dalam.


Sakit rasa hati Moedya, ketika melihat wajah cantik itu menyunggingkan senyuman manis kepadanya. Ingin rasanya ia memutar waktu dan memperbaiki segalanya, atau bahkan mencegah semua hal yang menjadi penyebab perpisahannya dengan Arumi.


"Baru sekitar sepuluh menit. Hari ini aku hanya ke toko sebentar," sahut Arumi pelan.


Moedya mengangguk saat menanggapi jawaban gadis itu. Ia lalu mengalihkan tatapannya pada danau yang cukup luas di hadapan mereka berdua.


"Sekarang tidak diperbolehkan lagi memancing di sini. Ada pembatas di mana-mana," ujar Moedy dengan senyum kelu. Entah apa yang ia maksud. Arumi tidak peduli dengan hal itu.

__ADS_1


"Semenjak kita berpisah, aku tidak pernah datang lagi kemari. Terlalu banyak kenangan di tempat ini. Kenangan yang sangat sulit untuk dilupakan," balas Arumi. Ia juga melayangkan tatapannya pada danau itu.


Moedya tidak menjawab. Ia masih tampak berpikir. Ada banyak hal yang berputar di kepalanya dan membuatnya menjadi pusing, terlebih setelah perbincangannya tadi dengan Diana. Ia menjadi semakin serba salah.


"Terima kasih, Arum. Kamu sudah bersedia datang kemari. Aku pikir kamu akan menolak ajakanku," Moedya masih terlihat kikuk. Ia seperti kebingungan dan tidak mempunyai bahan untuk dijadikan topik pembicaraan dengan Arumi.


Ya, tentu saja. Semua untaian kata yang telah ia persiapkan semalam, nyatanya harus sirna seketika tersapu oleh air mata Diana yang merasa tersakiti akan sikapnya. Moedya tidak dapat lagi berpikir dengan jernih. Bagaimanapun juga, ia bukanlah pria yang tidak punya hati, meskipun penampilannya tidak serapi Edgar atau pun Keanu.


"Ada apa kamu mengajakku bertemu di sini? Kita baru bertemu kemarin di toko," ucap Arumi. Ia kemudian mengulum bibirnya sendiri ketika teringat akan ciuman lembut yang terakhir ia dapatkan dari Moedya.


"Um ... aku ... aku ingin bicara denganmu," jawab Moedya. Ia lalu menghela napas dalam-dalam dan mulai menenangkan dirinya. Moedya kemudian membalikan badannya kepada Arumi.


Diraihnya tangan gadis itu. Tangan dengan kulit kuning langsat yang sangat terawat dan halus. Jemari lentik yang sangat indah dan telapak tangan yang begitu lembut bagaikan telapak tangan seorang bayi.


Moedya segera melepaskan tangan Arumi. Ia kini meletakan kedua tangannya pada wajah cantik itu, menangkupnya dengan penuh perasaan. Segenap cinta ia curahkan untuk si pemilik paras cantik itu, meskipun pada akhirnya mereka harus berpisah.


"Arum ... kamu adalah hal termanis yang pernah aku miliki di dalam hidupku. Aku belum pernah merasakan cinta yang begitu besar terhadap seorang gadis dan aku tidak tahu apa itu kesetiaan. Saat bersamamu ... aku menemukan itu semua. Dalam dirimu, dalam cintamu, dalam hubungan kita," ucap Moedya dengan setengah berbisik. Sementara Arumi hanya menatap pria itu. Ia masih menerka akan ke mana arah perkataan Moedya.


"Aku mencintaimu, Arum. Aku sangat mencintaimu," Moedya menggenggam erat jemari Arumi dan menciumnya berkali-kali, membuat Arumi merasa semakin heran akan sikap sang mantan.


"Aku tahu jika kamu sudah lama menantikanku. Kamu selalu menungguku dengan sabar. Tiga tahun aku menjalani hari-hariku di dalam penjara. Lalu kita kembali bersama. Namun, entah kenapa karena sepertinya semesta tidak merestui hubungan kita. Aku tidak mengerti kenapa kita harus kembali terpisah dan menjalani hari-hari kita dalam kesendirian," Moedya tampak tidak dapat mengendalikan dirinya.


"Aku sangat marah dan terluka! Seorang Moedya, harus merasa tersakiti oleh seorang gadis manis sepertimu. Itu hal yang sangat konyol bagiku, Arum! Aku tidak dapat berpikir dengan jernih, dan aku ...." Moedya tidak melanjutkan kata-katanya. Tanpa Arumi duga, pria itu tiba-tiba berlutut di hadapan dirinya. Moedya pun menundukan wajahnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan? Ayo, berdirilah!" Arumi merundukan tubuhnya dan hendak membantu Moedya untuk bangkit. Namun, ia seketika tertegun ketika Moedya kembali berkata, "Maafkan aku, Arumi! Maaf karena aku tidak dapat menjadi kekasih yang baik bagimu. Aku hanya punya cinta dan perasaan yang besar, tetapi tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan dan menunjukannya kepadamu. Tolong maafkan aku, Arum!"


Arumi masih terpaku menatap Moedya. Ada perasaan lain yang ia tangkap dari sikap pria itu. Dia, bukanlah Moedya yang Arumi kenal. Pria itu terlihat sangat lemah dan tidak berdaya.


Perlahan Moedya kembali berdiri di hadapan Arumi. Untuk sejenak, ditatapnya wajah cantik sang mantan. Moedya kemudian mengecup kening Arumi dengan lembut dan penuh perasaan.


Haru, itulah yang dirasakan Arumi saat itu. Ada sebuah desiran aneh yang tiba-tiba hadir di dalam hatinya. Air matanya pun jatuh tanpa ia sadari.


Moedya kembali menatap wajah Arumi sekali lagi. Ia lalu menghapus air mata dari pipi gadis itu. Kali ini kepekaannya kian terasah. Ia tahu, masih ada cinta yang begitu besar di dalam mata Arumi untuk dirinya. Kembali ditangkupnya wajah cantik itu dengan lembut.


"Jangan menangis, Arum! Kamu tidak pantas meneteskan air mata, untuk seorang bajingan sepertiku!" Cegah Moedya. Ia lalu menempelkan keningnya pada kening Arumi.


"Aku bukan pria yang baik, Sayang! Aku ... bukan pria yang tepat untukmu ...."


Seketika Arumi membuka kedua matanya yang sejak tadi terpejam karena terlalu terbawa perasaan. Air mata Arumi kembali menetes, ketika Moedya melepaskan tangannya dari wajah cantik itu.


"Carilah kebahagiaanmu, Arum! Terima kasih untuk ... cerita indah kita selama ini," ucap Moedya seraya berjalan mundur dan menjauh dari Arumi. Pada akhirnya ia membalikan badannya dan berlalu menuju motornya tanpa menoleh lagi.


Sementara Arumi, ia masih terpaku dengan perasaan yang teramat hancur. Sakit yang bukan main. Angan-angan indah yang ia khayalkan sejak kedatangannya di tepi danau itu, semua sirna dan tak tersisa lagi. Terbang bersama angin senja itu dan tenggelam ke dasar danau.


Tidak ada ungkapan cinta dari Moedya. Tidak ada ciuman hangat pria itu seperti yang dilakukannya kemarin. Moedya pergi meninggalkannya. Ia telah berpamitan dari hidup Arumi.


Satu hal yang membuat Arumi terenyuh saat itu, ia melihat Moedya mengusap matanya sambil berlalu. Seorang Moedy menangis karena cinta? Arumi tidak dapat mempercayai hal itu.

__ADS_1


Lalu, apa yang Arumi sendiri rasakan sepeninggal Moedya saat itu? Arumi seakan mati rasa. Ia kebingungan dan tidak tahu harus bagaimana. Saat itu, Arumi hanya terpaku menatap kepergian Moedya dari pandangan matanya, dari kehidupannya. Tanpa air mata atau ratapan, Arumi hanya terdiam. Kisah cintanya telah berakhir dengan sepenuhnya di sana, di tepi danau kenangan.


__ADS_2