
"Sorry? For what?" Edgar melirik kembali wajah cantik di sebelahnya.
"For all my faults," jawab Arumi pelan. Suaranya terdengar begitu lesu dan sedikit parau.
Edgar lagi-lagi terdiam. Helaan napas panjang kembali terdengar dari bibirnya. Ia lalu menyandarkan kepalanya. Sesaat pria dengan senyum menawan itu tampak memejamkan matanya. Edgar terlihat sangat kelelahan.
"Are you okay, Ed?" Tanya Arumi. Ia menatap lekat pria yang berada tepat di sampingnya, hingga Edgar kembali membuka matanya dan menoleh. Ia menatap Arumi dengan lembut.
Sesaat kemudian, Edgar beranjak dari duduknya. Ia lalu berdiri di dekat pembatas kaca. Postur tegapnya terlihat sangat jelas saat itu, meskipun ia berdiri dengan sedikit membungkuk. Kedua tangannya yang dipenuhi bulu-bulu halus dengan urat yang menonjol, semakin menandakan jika Edgar sebenarnya adalah pria yang tegas.
"Aku merasa senang karena malam ini tidak turun hujan," ucap Edgar tanpa menoleh kepada Arumi. Sementara gadis itu masih menatapnya. "Kemarilah, Arum! Kamu pasti akan menyukai ini," ajak Edgar. Ia kemudian menoleh kepada gadis itu.
Arumi beranjak dari duduknya. Ia kini berdiri di sebelah Edgar, dan menemaninya menatap pemandangan kota di malam hari.
"Apa kamu tidak merindukan Perancis, Arum?" Tanya Edgar seraya melirik Arumi.
Gadis itu tersenyum kecil. "Makam orang tuaku di sana. Aku pasti akan berkunjung ke Perancis," jawab Arumi pelan.
"Keanu mengatakan jika kalian sudah lama tidak ke sana," ujar Edgar.
"Ah ... aku sedang kesal dengan kakak-ku!" Balas Arumi. Ia melipat kedua tangannya di dada dan memasang wajah ketusnya.
"Kamu sedang dihukum?" Tanya Edgar seraya mengulum senyumnya. Ada rasa geli sekaligus puas dalam ekspresi wajahnya yang rupawan. Sedangkan Arumi tidak menjawab. Ia tampak sangat kesal.
"Kamu memang layak diberi hukuman, Arum," ujar Edgar lagi. Kata-katanya membuat Arumi semakin cemberut saja.
__ADS_1
"Kamu dan kakak-ku sama saja!" Arumi merasa semakin kesal. Ia memilih untuk duduk kembali. Sementara Edgar tertawa pelan. Pria itu memang sangat ramah.
Edgar mengikuti Arumi duduk kembali. Ia lalu menoleh kepada gadis yang sejak tadi masih memerlihatkan wajah merajuknya. "Aku rasa Keanu tidak akan marah terlalu lama kepadamu," ucap Edgar seraya meluruskan tangan kiri yang ia letakan di atas sandaran sofa.
"Dia merampas kunci mobilku, dan mungkin sebentar lagi akan membekukan semua akses keuanganku. Luar biasa! Padahal aku hanya minum sedikit," keluh Arumi dengan penuh sesal.
Edgar kembali tertawa pelan seraya menggelengkan kepalanya perlahan. "Seharusnya kamu sadar diri, Arum! Kamu tidak kuat minum. Kamu akan selalu hilang kendali setiap kali melakukan hal itu. But you are so naughty!"
Arumi tidak menjawab. Bukannya tidak sadar akan hal itu, tapi Arumi terkadang butuh ruang untuk merasakan suatu kebebasan.
Edgar kembali terdiam. Entah apa yang tengah ia pikirkan saat itu. Arumi pun kini teringat pada lukisan pria yang ia lihat di ruang tamu.
"Kamu tidak pernah bercerita tentang ayahmu," Arumi kembali memecah kebisuan di antara mereka berdua. Edgar segera membetulkan posisi duduknya ketika mendengar Arumi menyinggung tentang ayahnya.
"Aku belum sempat bercerita," kilah Edgar. Ia terlihat sedikit tidak nyaman karenanya. Sedangkan Arumi memilih untuk tidak melanjutkan hal itu, karena mungkin itu dianggap sebagai sesuatu yang terlalu privasi bagi Edgar. Gadis itu pun memilih untuk diam. Akan tetapi, ketika Arumi memilih untuk diam, maka lain halnya dengan Edgar. Ia justru mulai bercerita.
Arumi menatap lekat wajah rupawan itu. Di satu sisi ia melihat ada lengkungan kecil di bibir Edgar. Namun, di sisi lain ia juga melihat ada rona sendu pada sepasang matanya yang dalam. "Lalu ... apa yang membuat ceritamu menjadi menarik, Ed? Hidup dalam kemewahan sejak kecil ... aku rasa ... itu pasti sangat membosankan," ujar Arumi.
Edgar menoleh dan tersenyum simpul. "Kamu benar, Arum. Semuanya sangat membosankan, setidaknya ... hingga usiaku beranjak sepuluh tahun," ucap Edgar dengan nada bicara yang terdengar sangat aneh.
"Apa yang terjadi saat itu?" Tanya Arumi lagi. Ia merasa penasaran. Sepertinya ia juga mulai tertarik untuk lebih mengenal Edgar.
Edgar menatap lekat kepada Arumi. Sorot matanya terlihat sangat aneh. Arumi merasakan sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti. Gadis itu mencoba untuk menerka, tetapi Edgar sepertinya tidak ingin membiarkan gadis itu terlalu bekerja keras.
"Ibuku meninggal dunia, Arum," ucap Edgar dengan ekspresi wajah yang terlihat tenang, tapi menyimpan banyak sekali keresahan di dalamnya.
__ADS_1
Arumi terdiam. Raut mukanya tiba-tiba berubah sendu. Ia teringat kepada Ryanthi. Hatinya begitu hancur ketika Ryanthi pergi untuk selamanya, padahal saat itu usianya sudah terbilang dewasa. Lalu, apa yang terjadi pada anak usia sepuluh tahun saat kehilangan ibu yang sangat ia cintai?
Arumi mengetahui hal itu. Ia sangat mengerti jika Edgar begitu mencintai ibunya. Arumi pernah melihat koleksi foto yang memerlihatkan kedekatan antara Edgar dengan sang ibu. Akan tetapi, Edgar tidak pernah bercerita apa pun kepadanya. Hubungan yang mereka jalani selama hampir dua tahun, hanya sebatas hubungan di permukaan. Mereka seakan tidak ingin saling membuka diri satu sama lain.
"Apa yang terjadi setelah itu, Ed?" Tanya Arumi. Ia menjadi semakin penasaran.
"Tidak lama setelah ibuku meninggal, ayahku menikah lagi. Ia masih muda, tampan, dan kaya. Ayahku tergoda oleh seorang wanita cantik dengan tubuh yang indah dan ... tentu saja berambut pirang," tutur Edgar dengan senyuman kelu di sudut bibirnya.
"Lalu?"
"Lalu? Aku harap kamu tidak berpikir jika dia menjadi istri dan ibu yang baik, terlebih setelah ayahku mengalami kecelalaan fatal. Ia lumpuh total, Arum. Ayahku seperti mayat yang masih bernyawa. Sementara wanita berambut pirang itu ... dia pergi meninggalkan ayahku setelah semua kekayaannya habis," papar Edgar lagi.
"Kamu tahu, Arum? Aku bahkan belum mengetahui bagaimana caranya menyalakan kompor, sementara aku harus merawat ayahku seorang diri. Kami hidup miskin, kelaparan, dan aku sering sekali terlambat datang ke sekolah. Aku bahkan harus ...." Edgar menjeda kata-katanya. Ia menghela napas dalam-dalam untuk sekedar memberinya waktu, agar ia dapat sedikit menenangkan dirinya.
"Semuanya terasa sangat sulit dan menakutkan, Arum. Setiap hari aku hidup dalam kecemasan. Setiap kali aku terbangun di pagi hari, maka yang pertama kali kulakukan adalah memastikan jika ayahku masih bernapas dengan normal. Aku belum siap untuk kehilangan segalanya saat itu. Namun, saat yang aku takutkan itu ... akhirnya datang juga padaku. Tuhan menjadikanku sebatang kara ketika aku berusia sebelas tahun."
"Apa kalian tidak memiliki saudara yang lain?" Terenyuh hati Arumi mendengar cerita pilu dari masa lalu seorang Edgar.
Edgar tertawa getir. Ia pun menggelengkan kepalanya. "Apa yang bisa dibanggakan dari kami yang sudah jatuh miskin? Tidak ada, Arum! Kami hanya akan menjadi beban mereka. Namun, aku tidak menyesalkan hal itu. Karena kehidupan keras yang sudah kujalani, maka aku dapat berdiri di atas kakiku sendiri dan aku bisa berada di posisiku saat ini," tutup Edgar. Ia kemudian menghela napas lega.
"Kamu tidak sedang mengarang cerita agar aku merasa terkesan, kan?" Celetuk Arumi sambil menatap lekat pria itu. Sesekali ia mengernyitkan keningnya.
Edgar seketika tertawa ketika mendengar celetukan dari Arumi. Gadis itu terdengar sangat polos. Ia membalas tatapan Arumi tanpa melepas tawanya. "Tentu saja itu hanya bualan! Aku merasa bangga karena kamu sangat pintar, Babe. Kamu tidak mudah dibohongi dengan cerita murahan seperti itu," ucap Edgar. Sesaat kemudian, ia terdiam. Tatapannya lurus menembus suasana malam yang semakin sepi. Entah sudah jam berapa saat itu.
Arumi tiba-tiba merasakan hal lain. Ada sesuatu yang berbeda pada raut wajah pria yang selama ini ia anggap sebagai pengganggu itu. Ia tahu jika Edgar tengah menutupi sesuatu dari dirinya.
__ADS_1
"Aku biasa duduk di sini sendirian, Arum. Tidak ada yang kulakukan. Aku hanya menatap lampu yang terlihat begitu kontras dengan warna langit malam," ucap Edgar seperti pada dirinya sendiri.