Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Lazy Time


__ADS_3

Secangkir coklat hangat buatan Edgar kini telah berada di tangan Arumi. Wanita itu masih duduk manis di atas meja sambil memainkan kakinya yang dibalut kaus kaki berwarna putih.


Sementara itu, Edgar berdiri di hadapan Arumi dengan tangan yang mencengkeram tepian meja, dan ia letakan di sisi kiri dan kanan wanita itu. Ia menatap sang istri dengan penuh cinta, dengan senyuman yang terus terkembang di bibirnya, meskipun hanya sebuah senyuman kecil. Edgar terus memerhatikan wanita yang tengah asyik meneguk minuman yang ia buatkan tadi, sesaat setelah mereka selesai bercinta.


“Bagaimana rasanya?” tanya Edgar tanpa melepas tatapan dan senyumannya dari Arumi.


“Kamu mau, Sayang?” tawar Arumi. Ia menyodorkan cangkir berisi coklat hangat itu ke dekat mulut Edgar. Pria itupun meneguknya sedikit. "Aku tidak terlalu menyukai coklat," ujarnya.


Arumi tertawa pelan seraya mengusap bibir Edgar dari sisa minuman yang menempel di sana. Edgar membalasnya dengan sebuah senyuman lebar dan tentunya sebuah ciuman hangat. Kebetulan saat itu Arumi telah menghabiskan minumannya.


"Ya, dan kamu sangat menyukai kopi," sahut Arumi dengan manjanya.


"Hampir setiap pria menyukai kopi, Sayang," Edgar menegaskan kepada Arumi. Ia tahu jika wanita itu tengah menyindirnya dengan halus. Sedangkan Arumi hanya menanggapinya dengan sebuah tawa pelan.


“Apa kamu sudah mengantuk?” tanya Edgar sesaat setelah Arumi mengakhiri tawanya.


“Kamu ingin tidur sekarang?” Arumi balik bertanya.


Edgar memainkan alisnya. Ia berlagak seolah-olah tengah berpikir keras. “Bagaimana jika kita segera kembali ke kamar?” tawar pria itu masih dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat menggemaskan. Ia bermaksud untuk membantu Arumi turun. Akan tetapi, Arumi menolaknya. Wanita itu menggelengkan kepalanya seperti seorang bocah.


Dengan sikapnya yang sangat manja, ia meminta Edgar untuk menggendongya hingga ke dalam kamar. Dengan senang hati, Edgar memenuhi permintaan sang istri. Ia menggendong Arumi di punggungnya dan keluar dari dapur menuju kamar tidur mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Rasa lelah mulai datang menyapa. Mereka memutuskan untuk segera beristirahat.


Arumi tertidur lelap di dalam pelukan hangat sang suami. Ia seperti terkena sihir yang membuatnya begitu nyaman berada di balik selimut, bahkan hingga langit berganti warna. Wanita itu masih tertidur dengan begitu nyenyak.

__ADS_1


Sementara Edgar sudah terbangun sejak tadi. Arumi selalu kalah cepat dari pria itu. Beberapa saat kemudian, Arumi mulai membuka matanya. Rasa kantuk dan lelah masih menderanya saat itu. Akan tetapi, sentuhan halus Edgar di wajahnya telah membuat ia terjaga dari tidur lelapnya.


“Good morning, My Wife,” sapa Edgar dengan mesranya.


“Good morning, My Husband,” balas Arumi dengan suaranya yang terdengar parau.


“Apa kamu akan tidur sepanjang hari?” tanya Edgar masih dengan tatapan lembut penuh cinta untuk dan istri. Ia terus mengelus lembut wajah polos Arumi.


Sedangkan Arumi justru menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Hanya sebagian kepalanya yang terlihat dari balik selimut itu. Ia juga tertawa pelan. Sebuah tawa dengan suara paraunya yang terdengar sangat manja dan begitu manis, membuat Edgar merasa sangat bahagia saat mendengarnya.


“Aku akan tidur selama musim dingin, seperti beruang,” celoteh Arumi dengan entengnya.


Kini giliran Edgar yang tertawa pelan. Sambil menggelengkan kepalanya dengan perlahan, pria itu kembali mengelus rambut sang istri. “Kalau begitu ... aku harus ekstra sabar menunggumu terbangun di musim semi mendatang. Kasihan sekali diriku,” ujar Edgar seraya beranjak dari duduknya.


Menyadari sang suami beranjak dari dekatnua, dengan segera Arumi menyibakan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia lalu mencari keberadaan Edgar dengan tatapan yang masih terlihat sayu.


“Aku kira kamu pergi,” ujar Arumi dengan wajah dan rambutnya yang terlihat sangat kacau. Arumi menutup mulutnya karena berkali-kali menguap panjang. Terlihat dengan sangat jelas jika dirinya sangat sangat mengantuk saat itu. Setelah itu ia menyibakan rambutnya ke belakang. “Apa kamu tidak mengantuk, Sayang?” tanya Arumi yang keheranan melihat Edgar yang terlihat biasa saja.


“Bagiku, tidur tiga atau empat jam sudah cukup. Jika aku tidur lebih lama dari itu, biasanya kepalaku akan terasa pusing,” jawab Edgar. Ia terus menatap sang istri yang masih duduk malas di atas tempat tidur dengan selimut yang dilingkarkan pada seluruh tubuhnya.


Edgar sangat menyukai pemandangan itu. Saat seperti itulah, Arumi terlihat begitu alami dan apa adanya. Wajah dan penampilannya memang acak-acakan, tetapi ada sebuah pesona indah yang terlihat di sana. Sebuah kecantikan yang sulit untuk dilukiskan dengan kata-kata.


“Coklat hangat buatanku membuatmu tidur dengan sangat nyenyak rupanya,” canda Edgar meski masih dengan nada bicaranya yang terdengar kalem. Sementara Arumi hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman.


“Apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanya wanita yang masih bersembunyi di dalam selimut tebalnya.

__ADS_1


“Aku akan ke kantor sebentar. Apa kamu mau ikut?" tawar Edgar.


Arumi mengeluh pelan. Ia kembali merebahkan tubuhnya ke atas bantal dengan sedikit kasar. “Haruskah kita keluar, Sayang? Kita baru saja menikah. Apa kamu masih harus pergi ke kantor?” protes Arumi dengan malas. Hari ini rasanya ia ingin berada di atas tempat tidur untuk sepanjang hari.


Edgar masih memerhatikan sang istri dengan cukup lekat. Pria itu memerlihatkan ekspresi wajah yang begitu tenang. Ia merasa lucu dengan tingkah manja Arumi hari itu.


“Asistenku mengatakan jika ada file penting yang harus kuperiksa. Aku pikir setelah dari kantor, kita bisa pergi berbelanja atau apa saja terserah kamu. Bukankah kamu sudah lama tidak melihat salju di kota Paris? Ayolah, Sayang! Pada musim dingin seperti ini, kota Paris terlihat sangat mengagumkan. Seperti di negeri dongeng,” bujuk Edgar dengan manis. Ia seperti tengah merayu seorang anak kecil saja.


“Aku belum punya pakaian musim dingin,” bantah Arumi. Ia bersikeras tidak mau keluar dari kamarnya.


Edgar tersenyum kecil. Pria itu kemudian menghampiri Arumi yang masih merebahkkan tubuhnya di atas kasur. Dengan cekatan, ia menyibakan selimut yang menutupi tubuh sang istri. Edgar pun membopong tubuh ramping itu menuju ke kamar mandi.


Apa yang dilakukan Edgar, telah membuat Arumi menjadi sangat terkejut. Wanita cantik itu memekik karena merasakan kaget yang luar biasa. Ia tidak menyangka jika Edgar akan melakukan hal seperti itu. Arumi bahkan menjadi semakin histeris, ketika ia sudah berada di dalam kamar mandi. Entah apa yang Edgar lakukan terhadap istrinya saat itu.


Selang beberapa saat, Arumi tampak sudah terlihat jauh lebih segar. Ia telah berganti pakaian, menyisir rambutnya dengan rapi, dan tentu saja memoleskan bedak serta lipstik meskipun hanya tipis-tipis.


Setelah selesai bersiap-siap, mereka kemudian menuju ruang makan. Waktu untuk sarapan telah lewat karena Arumi bangun terlalu siang. Mereka berdua pun hanya mengisi perut alakadarnya dan segera memutuskan untuk pergi.


Sebelum keluar, Edgar memasangkan penutup kepala untuk Arumi. Ia juga memasangkan syal rajut yang tebal di leher sang istri.


Arumi tersenyum lembut. Ia begitu terkesan dengan perlakuan Edgar terhadapnya, terlebih setelah itu Edgar kemudian mengecup keningnya dengan mesra. “Tenang saja, karena aku tidak akan membiarkanmu kedinginan,” ucpanya dengan suara yang terdengar begitu dalam. Arumi kembali tersenyum. Ia siap untuk menembus cuaca dingin bersalju yang tengah melanda kota Paris saat itu.


Mobil sedan hitam milik Edgar, terus menembus cuaca yang kurang bersahabat hari itu. Akan tetapi, hal itu tidak menyurutkan niat Edgar untuk membawa Arumi keluar dari rumah. Beberapa saat di perjalanan, akhirnya mereka tiba di perusahaan milik Edgar. Perusahaan yang kini telah berada dalam kondisi yang lebih kondusif, dibandingkan kemari-kemarin.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2