
Edgar menatap lekat pria yang masih berdiri di hadapannya. Ia lalu memicingkan matanya dengan tatapan yang penuh curiga. Sementara pria bernama Benjamin itu, masih terlihat tenang dan tidak terpengaruh sama sekali.
“I’m sorry. Aku pikir nona cantik ini hanya sendirian, karena itu aku berani menghampiri dan menyapanya. Aku benar-benar tidak tahu jika ia bersamamu,” ujar Ben dengan wajah yang terlihat sangat menyesal. Sementara sepasang mata abu-abunya melirik sesaat pada tangan Arumi yang saat itu berada dalam genggaman Edgar.
“Dia bersamaku,” ucap Edgar lagi dengan nada dan tatapan yang semakin dingin. Ia juga masih terlihat seperti sedang menyelidiki siapa sebenarnya pria yang ada di hadapannya itu.
Ben mengangkat dan membuka kedua tangannya sebatas dada. “Sekali lagi aku benar-benar minta maaf,” ucapnya. Ia kemudian melirik Arum dan tersenyum. “Maaf, Nona Arumi,” sesalnya dengan sebuah senyuman yang lembut, tetapi terlihat sedikit aneh. Arumi hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kecil.
Mendengar Ben menyebutkan nama Arumi, seketika Edgar melirik gadis di sebelahnya. Akan tetapi, ia memilih untuk tidak banyak bicara saat itu. Terlebih Ben pun memutuskan untuk pamit dari hadapan mereka berdua.
“Bagaimana dia bisa mengetahui namamu, Arum?” Selidik Edgar setelah Ben terlihat menjauh.
“Kami sempat berkenalan tadi,” jawab Arumi dengan entengnya. Ia kemudian melirik tangan Edgar yang masih menggenggam erat tangannya dan membuat Edgar segera tersadar.
“Sorry,” ujar pria itu seraya melepaskan tangan Arumi dengan segera. Ia lalu menatap ke arah Ben yang tampak sudah menjauh dari mereka berdua. “Aku seperti pernah bertemu dengannya, tapi aku lupa di mana tepatnya. Gaya bicaranya seperti ....” Edgar tidak sempat meneruskan ucapannya karena dengan segera Arumi menyelanya.
“Mungkin saja kalian pernah bertemu di jalan. Kalian berdua sama-sama berasal dari Perancis,” ucap Arumi sambil berjalan pelan mendahului Edgar.
“Memangnya seberapa luas negara Perancis itu?” Edgar seakan memprotes pendapat Arumi. “Rupanya kalian sudah bicara banyak dan saling berbagi cerita,” sindiran halus Edgar untuk Arumi. Ia lalu mengikuti gadis itu.
“No! Kami hanya bicara sebentar sebelum kamu datang. Lagi pula, bukannya kamu mengatakan jika kamu tidak bisa ikut denganku kemari,” Arumi membela dirinya.
Edgar tertawa pelan. “Urusanku sudah selesai. Lagi pula, aku tidak mungkin menyia-nyiakan liburan seperti ini. Ah ... lihatlah! Sudah lama aku tidak mengunjungi pantai,” Edgar berdiri menatap hamparan lautan luas. Ia memasukan sebelah tangannya ke dalam saku celananya.
Pikiran Edgar mulai menerawang pada puluhan tahun silam, ketika terakhir kalinya ia bermain pasir bersama kedua orang tuanya. Itu adalah saat yang paling membahagiakan baginya. Berbeda dengan kini, ia selalu hidup dalam kesepian. Hari-harinya ia lalui seorang diri.
Diliriknya wajah cantik Arumi yang terlihat sangat natural tanpa polesan make up sama sekali. Gadis itu akan selalu menjadi yang paling cantik baginya. Sekali lagi Edgar menegaskan jika dirinya sungguh tergila-gila kepada gadis itu.
Tiba-tiba, Arumi balas menatap Edgar dengan heran. Ia seakan tengah menyeldiki pria itu. “Ed, bagaimana kamu bisa mengetahui jika aku sedang berada di sini?” Tanya Arumi dengan curiga.
__ADS_1
Edgar terkesiap mendengar pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan oleh Arumi. Terus terang saja jika ia belum memikirkan alasan yang tepat, untuk ia berikan kepada gadis itu. Akan tetapi, sebelum Edgar sempat menjawab, dengan segera Arumi menatap tajam ke arahnya. “Jangan katakan jika kamu melacak ponselku!” Tukas Arumi dengan tegas.
Edgar tidak menjawab. Ia hanya menatap gadis itu dengan ekspresi yang terlihat sedikit bingung.
“Oh ... no!” Seru Arumi pelan. “Aku tidak percaya jika kamu sampai melakukan hal seperti itu padaku!” Protes gadis itu dengan tegas. Ia terlihat kesal. Dengan segera Arumi pergi meninggalkan Edgar.
“Arum tunggu!” Panggil Edgar. Dengan segera ia mengejar gadis itu dan kembali meraih pergelangan tangan Arumi.
“Arum, biar kujelaskan dulu!” Edgar terus memegangi pergelangan tangan Arumi, meskipun gadis itu terus menolaknya dan berusaha melepaskan genggaman tangan Edgar darinya.
“Lepaskan tanganku, Ed! Kenapa semua pria sangat menyebalkan!” Umpat Arumi dengan sangat jengkel.
“Tidak, Arum ... bukan itu maksudku. Dengarkan dulu!” Pinta Edgar.
“Lepaskan tanganku!” Tegas Arumi. Akan tetapi, Edgar tidak menurutinya. Ia justru semakin mempererat genggaman tangannya. Edgar juga kini menarik Arumi ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat. Ia tidak peduli meskipun Arumi terus berontak dengan keras, karena kekuatannya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kekuatan Arumi.
Senja mulai turun. Suasana mulai temaram di pantai itu. Sesaat lagi malam akan datang. Edgar tidak melepaskan rangkulannya sama sekali. “Diamlah Arum! Jika kamu terus berontak, maka aku justru tidak akan pernah melepaskanmu sama sekali,” bisik Edgar. Namun, Arumi tidak memedulikannya. Ia memukul- mukul lengan Edgar dengan kesal. Sedangkan Edgar hanya membiarkannya. Pria itu masih terlihat sangat tenang. Ia terus membiarkan Arumi, hingga gadis itu merasa lelah dengan sendirinya. Pada akhirnya, Arumi lalu terdiam.
“Letakan kakimu di atas kakiku, Arum!” Suruh Edgar pelan.
“Untuk apa?” Tanya Arumi dengan heran.
“Lakukan saja!”
Tanpa banyak bicara, Arumi kemudian meletakan kedua telapak kakinya di atas kaki Edgar. “Kakimu pasti akan menjadi kotor karenanya,” ucap Arumi lagi dengan pelan.
“Aku bisa mencucinya nanti,” jawab Edgar dengan tenang.
Arumi tidak menjawab. Gadis itu hanya menatap pria yang kini berada begitu dekat dengannya, sangat dekat sehingga Arumi dapat merasakan setiap embusan napas pria itu yang menghangat di wajahnya. Sementara suasana menjadi semakin gelap dan Edgar semakin mempererat pelukannya. Ia kemudian tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Refleks, Arumi segera melingkarkan kedua tangannya di leher Edgar sehingga wajah keduanya kini semakin mendekat, bahkan sangat dekat karena Arumi dapat merasakan bulu-bulu halus dari wajah Edgar yang menggelitik pipinya.
“Apa kamu akan melakukan ini sampai di depan paviliunku?” Bisik Arumi.
“Jika kamu mau,” sahut Edgar dengan suaranya yang terdengar begitu dalam. Ia masih terus berjalan di bibir pantai dengan kaki Arumi yang berada di atas kakinya, “atau kamu ingin kugendong saja?”
Arumi tertawa pelan. Ia lalu menarik wajahnya yang hanya beberapa senti di depan wajah Edgar, sehingga Arumi dapat melihat sepasang mata berwarna abu-abu itu dengan jelas meskipun suasana di sana cukup temaram. Arumi pun tersenyum manis. "Memangnya kakimu tidak sakit, Ed?" Tanya Arumi lagi.
"Kamu sudah sering menyakitiku, Arum," sahut Edgar. Entah ia berkata dengan serius atau tidak, tapi Edgar mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tawa pelan.
Lalu, apa yang telah memengaruhi gadis itu kini? Arumi mere•mas lembut tengkuk kepala Edgar, membuat pria bertubuh tegap itu sedikit bereaksi dan menghentikan langkahnya. Untuk sejenak, ditatapnya wajah cantik itu dengan lekat. Ia kemudian mendekatkan wajahnya, tapi tak lama kembali menariknya dan sedikit menjauh dari wajah Arumi. Sementara Arumi juga masih menatap pria itu. Ia tahu apa yang Edgar inginkan saat itu.
“Lakukan, Ed!” Bisik Arumi dengan tatapannya yang terlihat begitu menggoda, membuat jantung Edgar berdetak dengan jauh lebih kencang.
Arumi terus menatapnya. Sesaat kemudian, gadis itu pun kembali berbisik, “Give me one kiss!” Pintanya, membuat Edgar tersenyum kecil.
Tanpa banyak bicara, Edgar segera memberikan apa yang Arumi pinta darinya. Disentunya permukaan bibir gadis itu dengan lembut dan dilu•matnya dengan perlahan.
Lidahnya pun mulai bergerak dan meminta izin untuk dapat masuk dan mengajak bermain lidah Arumi. Tentu saja Arumi menyambutnya dengan baik. Ia mempersilakan Edgar untuk melakukan permainan kecilnya, melepaskan semua kerinduannya.
Deru napas manja Arumi pun menjadi sesuatu yang membuat Edgar menjadi semakin berhasrat untuk dapat memiliki gadis itu seutuhnya. Naluri kelelakiannya tentu saja menginginkan hal yang lebih dari sekadar sebuah ciuman. Akan tetapi, seperti yang sudah ia katakan kemarin bahwa dirinya hanya akan melakukan hal itu, jika atas permintaan Arumi sendiri.
Dalam selimut malam yang gelap dan diiringi deburan ombak yang seakan menjadi instrumen pelengkap, mereka terus menautkan ciuman hangat dalam kerinduan yang masih terasa semu. Entah apa yang akan terjadi setelah itu? Apakah Arumi mulai membuka hatinya untuk Edgar? Entahlah. Satu hal yang pasti, mereka tidak tahu jika dari kejauhan ada sepasang mata abu-abu yang sejak tadi mengawasi semua yang mereka lakukan.
__ADS_1