
Tidak berselang lama, Arumi kembali mengangkat wajahnya. Ditangkupnya dengan mesra wajah tampan Edgar dan kembali diciumnya bibir pria itu. Ia juga mulai menjalarkan sentuhan bibirnya pada leher sang suami. Sementara Edgar membiarkan Arumi melakukan apapun yang ia mau. Edgar membalasnya dengan sentuhan-sentuhan kecil yang menjalar di seluruh bagian tubuh wanita itu.
Arumi kembali mengangkat wajahnya dan menatap Edgar dalam keremangan. Ia lalu tertawa pelan. “Haruskah kita melakukannya di sini?” bisik Arumi dengan geli.
“Kenapa tidak?” tantang Edgar.
“Bagaimana jika ada yang datang?” resah Arumi pelan.
“Siapa yang akan terbangun pada tengah malam di musim dingin seperti ini?” sahut Edgar dengan tenangnya. Tangan pria itu kini kembali berada di pinggul Arumi, mengusap-usapnya dengan lembut, sesekali mere•mas dan menepuknya perlahan.
“Kita ....” jawab Arumi dengan tawa geli.
Edgar tersenyum lebar. Ia lalu mengelus lembut wajah Arumi dan menyibakan rambut yang menutupi kening sang istri. “Bukankah kamu ingin coklat hangat, Sayang?”
Arumi mengangguk pelan. ”Mungkin nanti,” jawab Arumi. “Sebelum itu ... aku ingin susu kental manis hangat,” bisik Arumi diiringi tawa nakal. Namun, dengan segera ia menutup mulutnya dengan menggunakan telapak tangan.
Edgar mengernyitkan keningnya. Sementara tangannya masih terus bermain-main dan menelusuri paha Arumi dengan perlahan. “Kamu sangat nakal sekarang, tapi aku jauh lebih menyukainya. Kamu mengetahui seperti apa diriku, Sayang. Semenjak aku sibuk mengejarmu, aku sudah melepaskan semuanya dan hanya fokus pada dirimu,” tutur Edgar.
“Bagaimana kamu bisa begitu yakin jika usahamu akan berhasil?” tanya Arumi seraya memainkan jemarinya di wajah Edgar.
Edgar tersenyum dengan kalemnya. Pria itu tak juga melepaskan pandangannya dari wajah cantik Arumi yang polos, tanpa polesan make up sedikitpun. Rambut wanita itu bahkan terlihat sedikit acak-acakan.
__ADS_1
“Ayah angkatku selalu mengatakan jika keyakinan akan mendatangkan kekuatan hati yang kuat. Kekuatan hati dapat menuntun pikiran kita untuk terus membuat kita bergerak demi mencapai tujuan yang kita inginkan. Semakin kita bergerak dengan cepat, maka kita akan semakin dekat pada tujuan kita. Sejauh apapun itu, kita pasti akan tiba di sana selama kita memiliki tujuan yang pasti. Tentunya, itu juga jika Tuhan memang menghendaki.”
Edgar tersenyum simpul sebelum akhirnya ia melanjutkan kata-katanya. “Aku suka mendaki gunung. Aku menyukai panjat tebing, dan itu merupakan hal yang sangat melelahkan juga menegangkan. Adrenalin-ku benar-benar tertantang ketika aku melihat seberapa terjal tebing yang akan kutaklukan. Lalu, setelah aku berhasil berada di puncak, aku berdiri di sana dan terkadang aku merasa tidak percaya jika aku telah merangkak naik dari bawah dengan begitu susah payah, penuh perjuangan, tapi terbayar dengan sebuah kepuasan yang tidak ternilai. Itu artinya, semakin keras kita berjuang, maka akan semakin besar yang kita dapatkan," papar Edgar dengan panjang lebar.
Kapan-kapan aku akan mengajakmu mendaki gunung, itu juga jika kamu mau,”
Arumi begitu terharu mendengar kata-kata yang telah diucapkan Edgar kepadanya. Harus Arumi akui jika Tuhan memang selalu mengetahui segala hal yang terbaik untuk umat-Nya, meski harus melewati langkah terjal dan berliku, yang terkadang membawa manusia dalam sebuah kekecewaan yang begitu mendalam.
Tidak akan ada yang sia-sia untuk segala hal yang telah terjadi di dalam hidup kita, bahkan ketika kita menteskan satu liter air mata kepedihan. Terkadang kita terlambat menyadari makna dari kepedihan dan hal buruk yang telah terjadi pada diri kita. Terkadang kita menyalahkan Tuhan, dan menganggap Dia telah berbuat tidak adil terhadap kita. Namun, pada suatu ketika Tuhan membalikan semuanya. Dia memerlihatkan betapa ia memiliki kuasa yang tidak terbatas. Dalam sejekap mata, kita berada di atas puncak kebahagiaan, dan seakan lupa dengan setiap kepedihan yang telah kita dapatkan sebelumnya. Tak jarang, kita bahkan lupa untuk mengucap syukur.
“Kenapa cara bicaramu sangat mirip dengan ayahku?” raut wajah Arumi perlahan berubah sendu.
Arumi mengangguk pelan. “Ayahku pria yang sangat bijaksana dengan sikapnya yang tenang. Itu yang membuat ibuku tidak mampu berpaling pada siapapun. Aku pernah diceritakan oleh ibuku. Beliau mengatakan jika ayahku adalah seorang pejuang yang pantang menyerah. Kamu pernah bertemu dan berbincang secara langsung dengannya dulu. Aku yakin kamu sudah dapat menangkap seperti apa karakter ayahku,” ucap Arumi mencoba menahan rasa haru dalam dirinya.
“Aku merasa sangat bahagia. Aku tidak pernah menyangka dapat kembali ke kota Paris yang indah ini dan ... entahlah Sayang, aku tidak mengerti kenapa aku ataupun ibuku merasa begitu terikat dengan negara ini. Seperti dirimu yang menganggap Indonesia sebagai rumah kedua-mu, maka bagiku Perancis adalah rumah kedua-ku.”
“Apakah dulu kamu tidak meyadari hal itu, Sayang?” tanya Edgar. Sorot matanya menyipit dan sentuhan jemari tangannya kini beralih pada bibir tipis Arumi.
Arumi terdiam untuk sejenak. “I’m sorry ....” ucapnya pelan dengan penuh sesal.
Edgar tidak menjawab. Pria itu hanya tersenyum dan segera menarik wajah Arumi untuk mendekat kepadanya. Kembali dilu•matnya bibir sang istri dengan lembut dan mesra, penuh kehangatan dan gairah. Edgar kemudian mengajak Arumi untuk berdiri.
__ADS_1
Dibalikannya tubuh wanita itu. Edgar kemudian menyusuri daun telinga dan leher sang istri dengan bibirnya, sehingga Arumi dapat merasakan napas dari sang suami yang terasa begitu hangat.
Perlahan Edgar menyusuri setiap lelukan tubuh berbalut sweater rajut itu, dari atas hingga ke bagian pinggang Arumi. Kedua tangannya kini mulai menurunkan bawahan piyama yang dikenakan oleh Arumi malam itu, dengan menggunakan ujung dari ibu jarinya.
Arumi hanya terdiam, bahkan ketika Edgar mengelus lembut pinggul indahnya yang berbalut kulit kuning langsat. Kulit yang terasa begitu halus dan lembut.
Perlahan Arumi merundukan tubuhnya hingga dadanya menyentuh permukaan meja. Dengan lembut, Edgar menahan tengkuk kepala wanita itu hingga Arumi terus menundukan kepalanya. Arumi hanya mampu mend•esah pelan ketika ia merasakan sesuatu yang mulai memasuki dirinya, menghujamnya dengan pelan pada awalnya, tapi makin lama terasa semakin kuat hingga membuat tubuh rampingnya terguncang hebat.
Erangan manja mulai meluncur dari mulut Arumi. Hal itu membuat Edgar harus menurunkan tubuhnya. “Pelankan suaramu, Sayang! Kamu tidak ingin ada yang memergoki kita di sini, kan?” bisik Edgar dengan suara beratnya. Setelah itu, ia kembali menegakan tubuhnya. Edgar kembali berkuasa atas diri Arumi dan membuat wanita itu tidak berdaya.
Arumi menurut saja ketika Edgar menarik tubuhnya hingga ia berdiri tegak. Kedua tangan dengan jemari lentiknya berpegangan erat pada tepian meja, sementara matanya sesekali terpejam. Ingin rasanya ia berteriak dengan sangat kencang saat itu. Namun, Arumi hanya dapat membuka mulutnya dan kemudian menggigit bibirnya demi menahan semua yang dilakukan Edgar terhadapnya.
“Apa kamu masih kuat, Sayang?” bisik Edgar di sela-sela napas beratnya yang terus memburu.
Arumi melirik ke samping, di mana terdapat wajah Edgar. Wanita itu kemudian mengangguk pelan.
Edgar lalu menghentikan gerakannya untuk sesaat. Dibalikannya tubuh sang istri. Kini mereka saling berhadapan. Edgar segera mengangkat tubuh ramping itu dan menaikannya ke atas meja. Dengan cekatan ia melepas bagian bawah piyama Arumi yang tadi hanya ia turunkan sedikit, sehingga kini celana panjang itu benar-benar terlepas.
Direngkuhnya pinggul sang istri. Tubuh keduanya pun menjadi semakin mendekat dan saling menempel. Kembali dilu•matnya bibir tipis Arumi. Edgar pun melanjutkan apa yang tadi sempat terjeda. Ia kembali membawa Arumi terbang dalam erangan-erangan manjanya yang tertahan. Ia kembali membuat sang istri merasakan kli•maks untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1