Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Thrilling Night


__ADS_3

“Apa urusanmu dengan Arumi?” Edgar terus menatap tajam Mirella seraya kembali meneguk kopinya hingga habis.


“Kau masih sibuk mengejarnya? Aku harap dia dapat segera menyadari jika kau sangat mencintainya,” ujar Mirella dengan tenang. Ia juga ikut meneguk kopi pesanannya.


Edgar tersenyum tipis. Ia sebenarnya sedang tidak ingin membahas tentang Arumi. Perasannya pagi ini telah dibuat sangat kacau oleh gadis itu. Akan tetapi, ia juga merasa perlu untuk membungkam mulut Mirella agar tidak terlalu banyak bicara.


“Aku rasa kau tidak harus ikut campur untuk  sesuatu yang bukan urusanmu! Lagi pula hubunganku dengan Arumi sudah jauh lebih baik. Kami berpacaran saat ini,” jelas Edgar dengan sangatq tenang.


Seketika raut wajah Mirella terlihat berubah. Senyum menggoda dari bibir merahnya kini menghilang entah ke mana. Ia pun mengalihkan tatapannya pada cangkir berisi kopi yang tinggal setengahnya lagi. Ia tampaknya mulai kehilangan selera untuk kembali memerlihatkan sikap menggodanya kepada Edgar ketika mendengar jawaban yang dilontarkan oleh pria rupawan itu.


“Sungguh? Aku tidak percaya jika Arumi ... bukankah dulu dia akan menikah dengan pria lain?” Mirella terlihat meragukan ucapan Edgar. Ia berharap jika apa yang didengarnya hanyalah sebuah karangan dari Edgar.


Edgar mengela napas panjang. Ia lalu menyandarkan tubuhnya. Sesekali ia menatap wanita cantik yang berada di hadapannya. Namun, ia lebih sering melihat ke arah lain. Ia sudah berjanji dalam hatinya, jika dirinya hanya akan menatap Arumi seorang. Ya ... meskipun kenyataannya gadis itu kini tengah membuatnya kesal dan terasa sangat sulit untuk ia kendalikan.


“Aku minta maaf, Millie! Aku harus segera pergi karena saat ini aku masih punya urusan lain. Jika kamu masih ingin di sini ... silakan lanjutkan!” Edgar kemudian beranjak dari duduknya. Ia berlalu begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi kepada wanita muda itu. Dengan langkah yang selalu terlihat gagah, ia meninggalkan Mirella yang masih dilanda keresahan.


Ya, Mirella sepertinya masih berharap agar Edgar mau kembali kepadanya dan melanjutkan kisah asmara mereka yang sudah berakhir. Sebenarnya, tidak pernah ada komitmen yang terlalu mengikat di antara mereka berdua, tetapi bagi Mirella semua hal yang ia lakoni dengan pria rupawan itu sangatlah berkesan dan terasa begitu mendalam. Padahal ia sudah mengetahui, jika dulu Edgar bukanlah seseorang yang menyukai sebuah komitmen yang serius.


Akan tetapi, sayangnya Edgar kini sudah dalam fase memperbaiki diri. Ia tidak lagi berpikir tentang kesenangan ataupun sebuah kepuasan.


Edgar sudah merasa lelah, karena itu ia menjatuhkan pilihannya kepada Arumi dan terus mengejar gadis itu, hingga Arumi berhasil ia taklukan dan sudah berada di dalam genggamannya.

__ADS_1


Malam itu sekitar pukul delapan. Arumi sudah terlihat cantik dengan mini dress-nya. Ia akhirnya setuju untuk menemani sepupunya Chantal. Siapa sangka jika ternyata Chantal mengajak Arumi ke sebuah pesta yang diadakan oleh teman-temannya di sebuah tempat.


Ada banyak minuman di sana. Ada banyak pasangan yang tengah asyik bermesraan tanpa terlihat canggung sama sekali. Semua hal yang membuat Arumi merasa risih. Rasanya ia ingin segera melarikan diri tempat itu. Apalagi kini ia teringat pada pesta terakhir yang dihadirinya, yang berada di tempat Diana beberapa tahun silam.


“Cha, aku tidak suka tempat ini,” bisik Arumi. Sementara Chantal begitu asyik menikmati pesta itu dengan beberapa temannya.


“Ayolah, Arum! Nikmati pestanya dan lupakan sejenak pacarmu!” Jawab Chantal sambil sesekali tertawa riang. “Tenang saja, Arum! Aku tidak akan minum terlalu banyak. Aku takut mabuk. Jika sampai aku pulang dalam keadaan mabuk, maka ibu pasti akan langsung membunuhku!”


“Kalau begitu ... ayo kita pulang saja!” Ajak Arumi resah. Ia merasa takut, apalagi ia tahu jika Edgar bisa berada di manapun yang ia mau. “Aku ingin ke toilet,” bisik Arumi lagi.


“Ya ... ya ... pergi saja! Hati-hati tersesat, sepupu!” Sahut gadis bermata hijau itu. Ia terlihat sangat berbeda malam itu. Ia bukan lagi Chantal si kutu buku yang naif, yang selalu menjadi kebanggaan dari ibunya angkatnya Brigitte.


Arumi berjalan menuju toilet. Suasana di sana sangat berbeda dengan di ruangan tadi. Di sana sangat sepi dan hanya ada satu atau dua orang saja yang datang. Arumi merasa tidak nyaman. Berkali-kali ia menoleh ke belakang. Ia merasa takut jika ada seseorang yang mengikuti dan mengawasinya.


Dalam seharian ini, Edgar tidak menghubunginya sama sekali. Apakah pria itu benar-benar sibuk, atau merasa kesal dan cemburu gara-gara kiriman bunga itu? Arumi tidak tahu dengan pasti. Ia ingin sekali menghubunginya, tapi tentu saja tidak dari tempat itu. Ia lalu segera masuk ke salah satu kamar kecil dengan pintu yang terbuka.


“Ya Tuhan, Chantal! Kenapa kamu membawaku ke tempat seperti ini?” Keluh Arumi pelan. Ia lalu mencuci tangannya dan merapikan dirinya setelah keluar dari salah satu kamar kecil tersebut.


Setelah dirasa cukup, Arumi segera keluar dari sana. Akan tetapi, tiba-tiba langkahnya seketika terhenti. Ia merasa jika ada seseorang yang tengah mengawasinya. Gadis itu kemudian menoleh. Rasa takut mulai menyelimutinya. Wajah cantiknya terlihat tegang.


Dengan langkah cepat bahkan setengah berlari, Arumi meninggalkan area toilet itu. Ia juga tidak kembali ke ruangan pesta tadi. Ia berlari ke tempat lain dengan suasana yang ternyata jauh lebih sepi dari toilet tadi.

__ADS_1


Arumi tertegun dan merasa bingung. Ia tidak tahu harus ke mana. Tadinya ia ingin mencari jalan cepat tanpa harus melalui ruangan pesta itu, tapi ternyata petunjuk arah yang ia ikuti malah membawanya pada gudang kosong dengan pintu keluar yang terkunci.


Ketakutan gadis itu semakin memuncak. Ia hampir menangis, terlebih ketika sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang sedang menuju ke arahnya. Suara derap sepatu yang diatur dengan sedemikian rupa.


Arumi kemudian merapatkan tubuhnya ke dinding yang merupakan sebuah lorong menuju ruangan lain. Di sana juga terdapat sebuah meja. Entah meja untuk apa, Arumi pun tidak mengetahuinya.


Arumi merasa beruntung, karena suasana di sana cukup temaram, sehingga dapat menyamarkan persembunyiannya. Gadis itu segera berjongkok dan merapatkan tubuhnya ke dinding di balik meja tadi. Sebisa mungkin ia menahan dirinya agar tidak menimbulkan suara sedikitpun.


Tidak berselang lama, tampaklah sesosok tubuh tegap dengan mantel hitam yang panjang. Ia berdiri tidak jauh dari tempat Arumi bersembunyi. Pria itu tampak mengedarkan pandangannya. Ia sepertinya tengah mencari sosok Arumi, gadis yang saat itu tengah dilanda ketakutan yang teramat sangat. Arumi bahkan sudah menitikan air matanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini.


Cukup lama pria itu berdiri di sana dan mengawasi seluruh tempat itu. Pada akhirnya, tatapannya tertuju pada meja yang menjadi tempat persembunyian Arumi. Derap langkah sepatu yang dipakainya terdengar semakin mendekat. Arumi harus mempersiapkan diri, dengan berbekal sedikit keahliannya dalam beladiri Taekwondo semasa SMA.


Benar saja, ketika pria itu berdiri tepat di hadapannya, dengan segera Arumi melayangkan tendangan yang mengarah langsung pada perut bagian bawah pria itu, hingga ia mundur dan hampir terjengkang. Saat itulah Arumi segera berlari dari sana. Ia memilih untuk kembali ke ruang pesta tadi.


Arumi terus berlari. Sesekali ia menoleh dan memastikan bahwa pria itu tidak mengikutinya. Ia terus melihat ke belakang dan akhirnya ia menabrak seseorang. "Oh ... sorry!" Resah Arumi.


Seorang pria yang Arumi tabrak segera memegangi lengan gadis itu, karena Arumi hampir terjatuh. Ia menatap heran kepada gadis itu. "Ada apa, Nona?" Tanyanya.


Arumi mengernyitkan keningnya. Ia menatap pria itu dengan jauh lebih heran, "Ben? Kamu di sini?" Tanyanya.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2