
Moedya tertawa pelan. Ia kemudian melirik Diana yang saat itu memasang wajah cemberut. Ia lalu menghentikan tawanya. "Aku melakukan segala hal atas mauku. Tidak ada siapa pun yang dapat mengaturku. Kamu tahu hal itu kan, Arum?"
"Ya, tentu saja. Aku tahu segalanya tentang dirimu," sahut Arumi dengan tatapan nakal kepada Moedya. Ia juga melirik bagian bawah pria berambut gondrong itu dan membuat Moedya sedikit risih. Moedya hanya menggaruk-garuk keningnya sesaat.
"Kunci mobilmu," Moedya mengulurkan tangannya kepada Arumi. Dengan senyuman manis dan menggoda, Arumi memberikan kunci mobilnya kepada pria itu. Selesai menerima kunci dari Arumi, Moedya kemudian berlalu keluar dari dalam bengkel dan melangkah menuju halaman bengkel di mana mobil arumi terparkir.
Kini tinggalah Arumi kembali berdua dengan Diana. Gadis blasteran Perancis itu berdiri dengan setengah bersandar pada tepian meja sambil melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya lurus ke luar bengkel, pada sesosok tubuh tegap yang tengah fokus pada mobil miliknya.
"Lihatlah, Di! Dia benar-benar seksi. Iya, kan?" Gumam Arumi tanpa mengalihkan tatapannya dari sosok Moedya.
"Ya, kamu benar Arum. Dia jauh lebih seksi jika dibandingkan dengan Adam," balas Diana. Gadis itu juga masih fokus memperhatikan Moedya. "Aku sudah menyukainya sejak lama. Sangat lama ...." ucap Diana lagi dengan tatap matanya yang kian datar.
Arumi membetulkan posisi berdirinya, sementara kedua tangannya masih terlipat dengan rapi di dada. Ia menatap Diana dengan cukup intens. "Sejak kapan, Di?" Tanyanya. Ia mulai tertarik dengan pembicaraan itu.
"Sudah lama, Arum. Jauh sebelum kamu mengenalnya," terang Diana.
"Oh, ya? Moedya tidak pernah bercerita apa-apa kepadaku," balas Arumi.
Diana tertawa pelan. Ia lalu menoleh kepada Arumi dan menatap gadis itu untuk sesaat. "Bukankah kamu sangat mengenal Moedya? Dia bukan tipe pria yang senang bercerita," sahut Diana. Ia bersikap seolah-olah menjadi orang yang paling memgenal Moedya.
"Ah ... ya, kamu jauh lebih mengenalnya daripada aku," ujar Arumi.
"Ya, mungkin saja begitu. Meskipun aku yakin jika kamu sudah lebih mengetahui sesuatu yang belum aku ketahui dari Moedya," sahut Diana dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
Arumi tertawa pelan mendengar ucapan Diana. Ia paham apa yang dimaksud gadis itu. Apa lagi jika bukan kenangan lama yang entah akan dapat terulang atau tidak antara dirinya dan Moedya.
Tak jarang hal itu membuat Arumi begitu merindukan sang mantan. Moedya adalah pria yang hangat. Ia memang bukan seseorang yang senang bercerita, tapi ia merupakan tipe pria yang tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita, terutama di atas ranjang.
Arumi tidak akan pernah melupakan ketika ia untuk pertama kalinya, menyerahkan dirinya kepada pria dengan dengan gaya rambut man bun itu.
Hari itu, ia meraskan suatu kebebasan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Semua kepolosannya sirna dan memudar seiring dengan tetesan keringat dan darah, yang menandakan bahwa ia adalah seorang perawan suci sebelumnya.
Ya, Arumi mungkin telah melampaui batasan dalam dirinya. Namun ia tidak pernah menyesal, karena ia memberikannya pada seseorang yang sangat ia cintai, meskipun saat ini pria itu seakan begitu jauh dari jangkauannya.
Entah berapa pelukan hangat yang telah ia rasakan. Entah berapa ciuman mesra yang telah ia nikmati. Semuanya kini sudah berlalu dan menjadi sebuah kenangan yang sangat sulit untuk ia hapuskan begitu saja.
Kisah cinta yang dijalaninya dengan Moedya memang penuh liku. Mereka tidak selalu menghabiskan waktu bersama seperti kebanyakan pasangan lain. Namun, mereka selalu memiliki kehangatan setiap kali mereka bertemu.
"Dia tidak banyak bicara dan misterius. Terkadang aku melihat dia sangat lucu dan unik. Akan tetapi, aku lebih sering melihatnya seperti itu ...." tunjuk Diana. Ia menatap Moedya dengan senyum manisnya. "Dia begitu serius dan terlihat sangat fokus," lanjut gadis berambut pendek itu.
"Seberapa lama kalian saling mengenal?" Selidik Arumi.
"Sudah kubilang itu jauh lebih lama jika dibandingkan dengan hubungan kalian," sahut Diana. "Apakah Moedya tidak pernah mengatakan padamu?" Tanya Diana seraya melirik Arumi yang masih menatapnya.
"Tentang apa?" Arumi balik bertanya.
Diana kembali melayangkan tatapannya kepada Moedya yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Ibuku adalah sahabat baik tante Ranum. Mereka sudah berteman sejak lama, sangat lama. Mereka menghabiskan masa muda bersama, bahkan ayahku adalah mantan suami tante Ranum," Diana tertawa pelan. "Lucu, kan? Ibuku menikahi mantan suami sahabatnya sendiri. Lalu apa bedanya denganku saat ini? Aku jatuh cinta pada mantan calon suami sahabatku?"
Arumi seketika menegakan sikap berdirinya. Ia juga menatap lekat Diana yang kini terlihat sangat tenang dengan senyum puasnya. Sungguh luar biasa. Sekian lama ia berteman dengan Diana dan sekian lama ia berhubungan dengan Moedya, nyatanya ia tidak tahu apa-apa. Semua cerita itu, tidak pernah ia dengar sekalipun dari bibir Moedya. Moedya bahkan lebih sering bersikap seolah-olah dirinya tidak mengenal sosok Diana.
Entah berapa banyak rahasia yang disembunyikan pria itu dari dirinya? Arumi pun tidak mengerti kenapa Moedya tidak bersikap terbuka kepadanya, padahal hubungan mereka sudah sangat dekat. Tentu saja, mereka akan melangsungkan pernikahan andai saja insiden malam kelabu itu tidak pernah terjadi.
Arumi terdiam dan berpikir. Apakah selama ini ia sudah cukup mengenal Moedya dengan baik? Apakah yang salah dari hubungannya, dengan pria yang merupakan sahabat kakaknya itu? Arumi merasa kalah telak saat ini.
Kabut pekat itu kembali menyelimuti hatinya. Harapan yang telah kembali, kini tiba-tiba menguap bagaikan asap, terbang dengan perlahan. Haruskah dirinya mundur?
"Tidak Arum! Jika kamu ingin mengetahui alasan Moedya bersikap seperti itu kepadamu, maka kejar dan tanyakan secara langsung kepadanya!" Batin Arumi.
Arumi tersenyum kelu. Ada sedikit kebimbangan dalam hatinya. Namun ia sudah memutuskan jika dirinya tidak akan mundur. Ia mungkin harus kembali bekerja keras untuk dapat menyelami hati pria itu dengan lebih dalam.
"Boleh aku bertanya sesuatu kepadamu, Di?" Tanya Arumi setelah sekian lama ia larut dalam pikirannya sendiri.
"Tentu saja," jawab Diana dengan senyumnya. Mungkin gadis itu telah merasa menang karena berhasil meruntuhkan rasa percaya diri yang baru dibangun kembali oleh Arumi.
"Seberapa dekat hubungan kalian saat ini? Apakah kalian pacaran?" Selidik Arumi.
Diana tertawa pelan mendengar pertanyaan dari Arumi. Ia semakin merasa berada di atas angin. Ditatapnya Arumi dengan lekat. Senyum puas masih terus menghiasi bibir merah mudanya. "Ya, Arum. Kami sudah resmi berpacaran," jawabya.
● Ada yang bisa menebak siapa emaknya Diana? Yang sudah membaca Pelangi Tanpa Warna pasti tahu ya, siapa dia?
__ADS_1