
“Ada apa, Ed? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?” Tanya Arumi dengan penasaran. Sedangkan Edgar hanya mengela napas panjang. Sebisa mungkin ia tidak ingin membuat Arumi merasa tidak nyaman, terlebih gadis itu baru tiba di Paris.
“No. Aku hanya ... bukan sesuatu yang aneh ‘kan jika kita mencemaskan orang yang kita cintai,” ujar Edgar dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan oleh Arumi.
Arumi menatap lekat pria itu. Ia seakan tengah menyelidikinya dan terus mencoba menerka apa yang ada di dalam pikiran Edgar saat itu. Arumi kemudian mengernyitkan keningnya.
“Boleh aku bertanya sesuatu?”Arumi membuat Edgar terlihat semakin kikuk. Akan tetapi, pria itu terus mencoba untuk bersikap normal. Sebisa mungkin ia tidak ingin membuat Arumi curiga.
“Ya, tentu saja. Apa yang ingin kamu tanyakan?” Edgar membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak. Ia pun mendehem pelan. Sikapnya saat itu sangat mirip dengan seorang presiden yang akan memberikan sambutannya.
Melihat hal itu, Arumi tertawa geli. Ia lalu mengambil bantal kecil yang ada di atas sofa dan memeluknya. “Bagaimana perasaanmu saat ini?”
“Tentang apa?” Edgar balik bertanya.
Arumi tidak segera menjawab. Ia menatap Edgar dengan senyuman manis dan kerlingan nakalnya. Sesuatu yang seakan menjadi sebuah kode bagi Edgar. Sebagai seorang pria yang sudah dewasa, tentu saja Edgar paham dengan maksud dari kode itu.
“Tentu saja aku sangat bahagia. Aku senang melihatmu ada di kota Paris,” ujar Edgar seraya menggenggam jemari lentik Arumi. Ia juga mencium jemari yang kini berhiaskan cincin berlian yang baru dipasangkannya tadi.
Arumi tersenyum manis. Ada rasa bahagia bercampur haru di dalam hatinya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Getaran-getaran aneh itu telah menguasai dirinya dan membuatnya seakan tidak berdaya.
Perasaan itu hadir dengan tiba-tiba. Rasa itu bahkan lebih dari apa yang pernah Arumi persembahkan bagi Edgar beberapa tahun yang lalu. Bisa jadi karena saat ini mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Benar-benar dewasa tentunya.
“Apa yang membuatmu tidak pernah berhenti mengejarku?” Tanya Arumi lagi. Ia seakan tengah menginterogasi Edgar saat itu.
“Kamu sudah mengetahui jawabannya, Arum,” jawab Edgar. “Dengar, Babe!” Edgar melanjutkan kata-katanya, “Bagaimana jika kamu menginap di sisni selama kamu berada di Paris? Pasti akan sangat menyenangkan bisa melihatmu setiap hari. Kamu ingin tahu kenapa?” Tanya Edgar seraya menatap lekat gadis itu.
“Kenapa?” Tanya Arumi penasaran.
“Aku sangat menyukai wajahmu ketika bangun tidur,” jawab Edgar seraya tersenyum .
__ADS_1
Arumi segera membelalakan kedua matanya ketika mendengar jawaban dari Edgar. Ia ingin protes kepada pria itu. “Jangan mengejekku!” Sergahnya.
“Hey, siapa yang mengejekmu? Itu kenyataan. Dengar ya! Terkadang aku merasa bosan dengan lipstik merah dan eye shadow berwarna ... apa namanya?” Edgar terlihat berpikir.
“Purple?” Tanya Arumi dengan mimik menerka- nerka.
Edgar meringis kecil mendengarnya. “Aku harap kamu tidak berpikir untuk memakainya,” ujar Edgar.
“Okay, lalu?” Tanya Arumi lagi, ia tahu jika pasti ada sesuatu yang jauh lebih seru dari sekadar eye shadow berwarna ungu.
Edgar kembali mengela napas panjang. Ia lalu duduk menyamping dan menghadap kepada Arumi. “Aku ingin melemparkanmu ke kolam renang,” jawab pria itu dengan senyum gemas. Akan tetapi, sesaat kemudian Edgar terlihat menjadi sedikit gelisah.
Arumi tersenyum geli melihat sikap pria yang kini telah resmi menjadi kekasihnya itu. Ia ingin sedikit bermain-main dengan pria itu. Arumi kemudian berdiri dan meletakan bantal yang sejak tadi ia peluk. “Aku sedang tidak ingin berenang. Aku baru menempuh perjalanan yang sangat jauh, jangan sampai aku masuk angin dan sakit,” ujarnya.
Edgar mengikutinya berdiri. Ia menghadap kepada Arumi seraya menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Saat itu ia memang tidak bicara apa-apa. Akan tetapi, Arumi seakan sudah dapat memahami sikap gelisah yang ditunjukannya.
“Good night!” Arumi menatap pria itu untuk sesaat.
“Good night!” Balas Edgar. Ia masih berdiri menatap Arumi yang kini telah membalikan badannya dan berjalan beberapa langkah meninggalkannya. Sementara itu, Edgar masih menatap gadis itu dan berharap agar Arumi bersedia untuk berbalik ke arahnya.
Arumi masih terus melangkahkan kakinya. Apa yang Edgar harapkan pun sepertinya tidak akan terwujud. Edgar kemudian mengeluh pelan dan mengusap-usap keningnya. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya, tapi apa mau dikata.
“Ed!” Panggil Arumi pelan. Ia membalikan badannya dan tersenyum.
Dengan segera, Edgar menghampirinya. “Ada apa, Arum?” Tanyanya. Harapan itu kembali muncul ke permukaan.
“Rumahmu sangat besar. Aku lupa di mana kamarku ... maukah kamu mengantarku ke sana?”
Tersungging sebuah senyuman di bibir pria tiga puluh tahun itu. Ia mengalihkan tatapannya ke lantai untuk sejenak dan terus tersenyum. Sesaat kemudian, Edgar kembali menatap Arumi. “Aku tidak akan membiarkanmu tersesat di sini,”jawab pria tampan itu seraya meraih tangan Arumi dan menuntunnya masuk.
__ADS_1
Arumi terus melangkah mengikuti pria yang sejak tadi tidak melepaskan tangannya sama sekali. Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya tiba di depan sebuah kamar dengan pintu berwarna coklat.
“Ini kamarmu, Nona,” tunjuk Edgar.
“Terima kasih sudah mengantarku sampai di sini ... Mr. Hilaire,” ucap Arumi dengan nada bicara yang sedikit manja dan menggoda tentunya. Membuat Edgar merasa semakin tergelitik.
Edgar tidak segera menjawab. Ia menatap lekat gadis itu dan semakin mendekat kepadanya, hingga seakan tidak ada jarak di antara mereka berdua.
“Apa kamu ingin kuantar ke tempat tidur?” Bisik Edgar nakal dengan suaranya yang terdengar begitu dalam dan berat, membuat Arumi seketika merinding. Akan tetapi, gadis itu sekarang sudah tahu harus bersikap bagaimana. “Jika kamu tidak keberatan ....” jawabnya pelan.
Dengan segera Edgar meraih pinggang ramping Arumi. Ia merapatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya. Dilu•matnya bibir Arumi. Tidak berselang lama, Edgar kemudian mengangkat tubuh Arumi ke dalam pangkuannya sambil membuka pintu kamar itu. Sementara Arumi melingkarkan tangan dan kakinya pada tubuh tegap yang kini membawannya menuju tempat tidur. Mereka pun tak henti-hentinya berciuman dengan mesra.
Edgar kemudian menurunkan tubuh Arumi di dekat tempat tidur besar itu. Lembut tangannya bergerak melepas tali halter dress yang Arumi kenakan malam itu.
Untuk kesekian kalinya, Arumi mengekspos tubuh indahnnya di hadapan Edgar. Pria itu berharap, semoga malam ini tidak ada yang mengganggu mereka sama sekali.
Keadaan sepertinya sedang berpihak kepada Edgar saat itu. Lagi-lagi, ia merasa tidak percaya ketika melihat tubuh Arumi yang benar-benar polos di hadapannya.
Esgar sudah sering melihat tubuh wanita dalam keadaan telanjang bulat seperti itu. Akan tetapi, kali ini terasa sangat berbeda bagi dirinya. Saat ini, ia seperti telah menyentuh keindahan sebuah pelangi.
Sementara Arumi hanya terdiam, ketika Edgar kembali membawanya ke atas tempat tidur. Ia hanya pasrah ketika Edgar mulai menyusuri setiap lekuk indah miliknya dengan helaan napas yang penuh gairah.
“Be mine, Arum!” Bisik Edgar menghangat di telinga Arumi, yang saat itu hanya mampu memejamkan matanya. Gadis itu sudah mulai terbius oleh permainan dan sentuhan demi sentuhan sang cassanova.
“I’m already yours,” balas Arumi dengan suaranya yang sedikit parau. Ia lalu meremas lembut rambut belakang Edgar. Pria yang kini berkuasa penuh atas dirinya.
De•sah napas dan erangan manja mulai mengisi ruangan kamar dengan interior klasik itu. Tempat tidur itu menjadi saksi, untuk setiap tetesan keringat yang mulai membasahi tubuh keduanya. Akan tetapi, hal itu tidak menyurutkan keinginan mereka berdua. Mereka sepertinya tidak peduli dan masih ingin terus melanjutkan permainan.
Tentu saja, Edgar tidak akan pernah melewatkan kesempatan indah itu. Ia akan menunjukan kepada Arumi, jika dirinya adalah seorang pria yang memang layak untuk diperhitungkan, yang tidak hanya menjual paras tampannya saja.
__ADS_1