Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Hadiah untuk Mirella


__ADS_3

Arumi segera berdiri. Dengan cepat ia meraih lengan Mirella yang masih duduk manis dan menariknya hingga ikut berdiri. “Tutup mulutmu dan keluar dari sini sekarang juga!” sentak Arumi seraya menyeret Mirella keluar dari ruang tamu.


“Hey, Arum hentikan!” Mirella mencoba untuk melepaskan cengkeraman tangan Arumi yang begitu kuat dari lengannya. Setelah di depan pintu keluar, barulah Arumi melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Sementara Mirella segera merapikan pakaiannya yang kusut.


“Apa seperti ini caramu memerlakukan seorang tamu?” protes Mirella dengan nada tinggi. Kemarahan mulai datang dan menguasainya. Ia tidak terima atas perlakuan Arumi terhadapnya.


“Aku hanya menerima tamu orang normal, bukan wanita gila sepertimu!” umpat Arumi seraya meluruskan jari telunjuknya kepada wanita bermata abu-abu itu. Arumi tidak akan pernah takut meskipun ia harus berkelahi dengan wanita itu.


“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, tapi kau bersikap tidak sopan kepadaku!” balas Mirella masih dengan nada bicara yang tinggi sehingga mengundang rasa penasaran Carmen yang tengah berada di bagian lain rumah itu.


“Tutup mulutmu, Ja•lang! Kau tahu saat ini kau sedang bicara di rumah suamiku dan sebagai nyonya di rumah ini, aku berhak mengusirmu dengan tidak hormat karena kau sudah membuatku merasa sangat tidak nyaman!” Arumi dengan nada bicara yang tak kalah tegas dan keras tentunya.


Mirella tertawa puas mendengar Arumi merasa terganggu dengan ceritanya, karena itulah yang ia inginkan. Tujuannya memanglah seperti itu. “Kau cemburu, Arum? Apakah Edgar tidak pernah bercerita padamu tentang hubungan kami? Dia pasti belum mengatakan padamu jika dia pernah membuat payu•daraku berwarna merah kebiruan hingga beberapa hari, tapi aku sangat menyukai hal itu karena ....” Mirella tidak sempat melanjutkan kata-katanya yang terdengar sangat menjijikan, karena Arumi telah terlebih dulu membungkamnya dengan sebuah pukulan yang sangat keras dan mengenai hidung wanita itu.


Mirella hampir terjengkang ke belakang jika tidak ada dinding yang menahannya. Wajahnya mendongak ke atas, dan dengan segera ia meringis sambil memegangi hidungnya.


Darah segar menetes dari hidungnya. Sebelum ia sempat melakukan balasan, Arumi segera menarik rambut wanita itu dengan kencang kemudian membuka pintu. Ia mengusir Mirella dengan sangat tidak hormat.


“Jangan pernah menampakan lagi wajahmu di hadapanku atau suamiku, Kuntilanak Pirang!” maki Arumi dengan kemarahan yang sudah tidak dapat ia kendalikan.


Dengan emosi tinggi, Arumi membanting pintu dan membuat Mirella tersentak. Usahanya untuk mengganggu Arumi, malah berbalik kesialan baginya dirinya.

__ADS_1


“Kuntilanak Pirang?” gumam Mirella seraya mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti dengan arti dari sebutan itu. Hidungnya terasa begitu sakit. Begitu juga dengan kepalanya, karena Arumi menjambak rambutnya dengan sangat kencang.


Mirella kemudian mengeluarkan selembar tisu dari dalam tas yang ia tenteng. Ia kemudian mengusap darah segar yang mengucur dari hidungnya. Ia baru tahu, ternyata Arumi sangat menakutkan.


Baru saja Mirella akan pergi dari rumah itu, mobil milik Edgar tampak memasuki halaman. Pria itu keluar seraya melepas kaca mata hitamnya. Edgar tertegun melihat Mirella ada di rumahnya dengan penampilann yang terbilang kacau. Edgar pun mengernyitkan keningnya ketika melihat ada noda darah di dekat hidung wanita itu.


“Istrimu harus bertanggung jawab untuk hal ini!” gerutu Mirella seraya berlalu dengan kesal. Terdengar ia terus menggerutu sambil menuju mobilnya. Sementara Edgar masih belum mengerti dengan apa yang telah terjadi di rumahnya. Ia memutuskan untuk segera masuk dan menemui sang istri.


Sebelum sampai di kamarnya, Edgar berpapasan dengan Carmen. Wanita itu terlihat kebingungan. Namun, pada akhirnya ia tertawa pelan.


“Aku tadi melihat Mirella di luar, apa yang dia lakukan di sini?” tanya Edgar dengan khawatir dan penasaran tentunya.


Carmen mengulum senyumnya. “Aku rasa kau harus bersiap-siap untuk menghadapi Arumi. Kelihatannya Mirella sudah mengganggu ketenangan istrimu, Ed. Saat aku kemari, aku melihat Arumi memukul hidung wanita itu, menjambak serta menyeretnya keluar ....” Carmen tidak kuasa melanjutkan kata-katanya. Ia kembali tertawa saat teringat tentang  betapa buasnya istri dari putra asuh kesayangannya .


Sesampainya di dalam kamar, Edgar mendapati Arumi yang tengah duduk termenung di ujung tempat tidur. Wanita itu tidak memedulikan kehadirannya, bahkan ketika Edgar duduk di sebelahnya. Arumi masih saja terdiam.


Edgar kemudian berpindah posisi. Ia berdiri dengan menekuk kedua lututnya dan menjadikannya sebagai tumpuan, di hadapan Arumi. Direngkuhnya wanita itu dengan penuh kasih sayang. Arumi kemudian terisak di dalam dekapannya.


Arumi tidak suka saat mendengar apa yang diucapkan Mirella tadi, meskipun hal itu terjadi sebelum ia kembali ke dalam kehidupan Edgar. Rasa cemburu itu tetap ada. Bayangan-bayangan tentang betapa nakalnya sang suami, kembali hadir di dalam benaknya.


Edgar mengelus lembut rambut panjang Arumi. Ia kemudian mengecup kening sang istri dengan penuh perasaan. “Apakah Mirella mengganggumu, Sayang?” bisiknya.

__ADS_1


Arumi tidak segera menjawab. Hatinya masih diliputi rasa kesal yang teramat besar. “Aku tidak suka mendengar semua yang dikatakannya tentang dirimu. Itu terlalu menjijikan!”


Perlahan Edgar merenggangkan dekapannya. Ditatapnya wajah cantik sang istri yang saat itu tengah merasa kacau. Edgar kemudian menangkup wajah itu dan kembali mengecup keningnya dengan mesra. “Abaikan saja! Jika perlu aku akan meminta pihak kepolisian untuk membatalkan pembebasan bersyaratnya.”


“Tidak perlu! Aku tidak peduli. Aku hanya berharap kamu tidak terjebak lagi dengannya, karena aku tidak akan pernah memaafkanmu seandainya aku mengetahui jika kamu bersikap nakal di belakangku!” ancam Arumi dengan tegasnya.


Edgar tertegun mendengar ancaman keras dari sang istri. Namun, sesaat kemudian ia tersenyum. Ia merasa senang, karena itu artinya Arumi takut kehilangan dirinya. Edgar pun kembali memeluk sang istri dengan erat. Ini adalah sebuah penyambutan yang tidak terlalu baik baginya, tapi tidak terlalu buruk juga.


Arumi beranjak dari duduknya, Edgar pun segera mengikutinya. Mereka kini berdiri dengan saling berhadapan. Tidak ada hal lain yang ingin Edgar lakukan selain memeluk dan mencium sang istri.


Dua hari tidak bertemu, membuat rasa rindu di dalam dirinya terasa begitu menyiksa. Edgar ingin segera pulang dan kembali menyentuh makhluk cantik yang telah menawan hatinya dengan sangat erat.


“Aku hanya milikmu, Sayang. Jangan hiraukan apapun yang sekiranya dapat mengganggu keharmonisan kita berdua, dan jangan pernah meragukanku."


"Apapun, bagaimanapun diriku di masa lalu, itu hanya sebuah perjalanan yang kutempuh untuk dapat menemukanmu. Sekarang aku telah menemukan tujuan hidupku, dan tujuan hidupku adalah bahagia bersamamu. Aku tidak mengharapkan yang lain yang terlalu muluk-muluk. Bagiku, dapat melihatmu tersenyum, dapat memeluk dan menciummu setiap saat, itu merupakan suatu keindahan yang tidak bisa aku dapatkan dari pelosok dunia manapun,” ungkap Edgar. Semua kata-katanya terdengar begitu manis, mungkin karena itulah ia dapat menjadi pujaan dari banyak wanita.


“Termasuk Maldives?” sindir Arumi. Ia bermaksud untuk berlalu dan melepaskan dirinya dari dekapan Edgar. Akan tetapi, Edgar selalu jauh lebih cepat. Lengan kokohnya sigap menahan tubuh Arumi agar tidak dapat pergi ke mana-mana. Pria itu justru semakin mempererat dekapannya.


“Apa kamu ingin ke sana, Sayang? Bagaimana jika kita pergi saat musim panas nanti?” tawar Edgar dengan nada merayu kepada Arumi. Sementara Arumi justru memilih untuk memalingkan mukanya dan tidak menanggapi tawaran dari Edgar.


Edgar tertawa pelan. “Baiklah. Sebelum aku mangajakmu pergi ke Maldives, sebaiknya kubawa dulu kamu ke tempat tidurku atas penyambutan aneh ini,” ucap Edgar seraya membopong tubuh Arumi. Ia tidak peduli meskipun Arumi berontak dan meminta untuk segera diturunkan, karena kini Edgar telah membaringkan tubuh ramping sang istri di atas kasur dan membuat wanita itu menyerah dalam kungkungannya.

__ADS_1


Arumi tak mampu berkutik. Ia selalu takluk dalam setiap sentuhan mesra Edgar. Arumi tak kuasa untuk menolak, ketika ia harus kembali mengeluarkan lenguhan demi lenguhan yang menggetarkan, yang dapat melepaskan segala hasrat dari kerinduan yang telah memuncak.


 


__ADS_2