
Beberapa saat lamanya Arumi menikmati ciuman mesranya dengan pria Perancis itu. Rasanya sangat berbeda dengan ciumannya beberapa tahun yang lalu. Kini, Edgar terasa begitu manis, lembut, moist, bagaikan sponge cake.
Perlahan Edgar melepaskan ciumannya. Disentuhnya bibir yang yang baru saja ia nikmati dengan penuh perasaan. Ia tidak percaya jika ia dapat melakukan hal itu lagi, setelah sekian lama ia menanti. Sementara Arumi hanya terdiam, menatap pria itu dengan sebuah desiran aneh yang mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
Sentuhan tangan Edgar kini beralih pada pipi Arumi. Pipi itu terasa begitu halus dan kencang. Sesaat kemudian, tangan Edgar mulai berpindah ke belakang leher gadis itu. Leher jenjang dengan beberapa lembar anak rambut yang jatuh dari gulungannya, dan dihiasi kalung kecil berwarna perak.
"Be mine, Arum!" Bisik Edgar seraya merekatkan keningnya pada kening Arumi. "Aku benar-benar ingin memilikimu," suara beratnya terdengar begitu dalam.
Arumi mende•sah pelan dengan mata yang terpejam. "Aku akan memikirkannya," jawab gadis itu pelan. "Apa kamu masih sanggup menunggu?"
"Jangan membuatku terus menunggu, Arum!" Edgar melepaskan tangannya dari wajah Arumi. Arumi pun menurunkan kakinya dari atas kaki Edgar.
Ditatapnya wajah rupawan sang cassanova. Arumi tersenyum. Ia sangat mengetahui semua penantian dan perjuangan panjang Edgar untuk mendapatkan dirinya. Arumi merasa jika itu mungkin sesuatu yang memang tidak adil untuknya. Haruskah ia mengesampingkan semua perasaannya selama ini?
Arumi masih merasa bimbang. Ia belum dapat menentukan perasaannya sendiri, meskipun dalam hati ia sudah berjanji untuk menghapus semua kenangan indahnya bersama Moedya hingga tak tersisa. Akan tetapi, rasanya tidak semudah itu, karena nyatanya ia masih merasakan suatu kegelisahan setiap kali bertemu dengan sang mantan.
Edgar terlihat gusar. Ia berdiri menatap deburan ombak dalam gelapnya malam. Wajahnya terlihat datar, rambut yang biasa tersirir rapi pun kini tampak sedikit acak-acakan.
"Usiaku sudah tiga puluh tahun, Arum. Harus berapa lama lagi aku menunggumu?" Ucap Edgar tanpa mengalihkan pandangannya kepada Arumi.
"Aku tidak tahu bagaimana aku bisa sesabar ini dalam menghadapimu. Aku bahkan sempat merasa tidak yakin apakah aku memang dapat meraihmu kembali atau tidak. Namun, kini harapan besar itu kembali menghampiriku, Arum," lanjut Edgar. Ia kini menatap gadis yang sudah membuatnya menjalani hidup dalam keresahan yang berkepanjangan.
"Aku sudah bertekad dalam hatiku. Seandainya Tuhan memberiku satu kesempatan lagi untuk dapat meraih hatimu, maka aku tidak akan menawarkan sebuah jalinan cinta ala anak ingusan."
"Lalu?" Tanya Arumi.
"Ayo kita menjalin hubungan selayaknya orang dewasa," Edgar membalikan badannya dan menghadap kepada Arumi. Digenggamnya kedua tangan gadis itu dengan erat.
"Maksudmu, Ed?" Arumi mengernyitkan keningnya.
"Be my wife!" Pinta Edgar dengan penuh harap.
Arumi tertegun. Ditatapnya pria itu. Kedua bola matanya yang berwarna abu-abu terlihat sangat indah dan memesona. Sesuatu yang luput dari pandangan Arumi selama ini.
"Say something, Arum! Apakah kamu masih teguh pada pendirianmu dan tidak menganggapku ada?"
__ADS_1
"Kenapa kamu berkata seperti itu, Ed?"
Edgar tidak menjawab. Ia merasa jika Arumi pasti sudah mengerti apa maksud dari ucapannya tadi. Ia tidak harus menjelaskannya dengan berulang-ulang.
"Kamu hanya tinggal menjawab "Iya", maka aku pastikan jika aku benar-benar hanya akan menjadi milikmu, Arum!"
Arumi kembali terdiam. Ia merasa bingung harus berkata apa kepada Edgar. Mata hatinya sebagai seorang wanita memang melihat sesuatu yang lebih dari diri Edgar, selain dari fisiknya yang menggoda tentunya.
"Aku berjanji akan memikirkannya, Ed! Aku pasti akan memberimu jawaban dalam secepatnya!" Arumi meyakinkan Edgar.
Edgar menatap Arumi dan tersenyum. "Semoga Tuhan berbaik hati kepadaku," harapnya membuat Arumi tertawa pelan. "Kenapa kamu tertawa? Apanya yang lucu?" Edgar tampak keheranan.
Arumi menggelengkan kepalanya sambil terus tertawa dan membuat Edgar menjadi gemas karenanya. Dicubitnya kedua pipi gadis itu hingga Arumi protes kepadanya.
"Aku mau kembali ke paviliun-ku saja," Arumi mulai merajuk.
"Butuh tumpangan?" Tawar Edgar.
"Maksudmu?" Arumi tidak mengerti.
Arumi kembali tertawa. "No! Badanku berat," tolak gadis itu dengan segera.
"Cepatlah sebelum aku berubah pikiran!" Ujar Edgar. Ia masih menunggu Arumi.
Tidak berselang lama, Arumi pada akhirnya menuruti apa yang Edgar perintahkan. Kedua tangannya melingkar di depan leher Edgar, sementara Edgar memegangi kedua paha Arumi yang berada di sisi kiri dan kanan tubuhnya.
"Jangan mengeluh sakit pinggang setelah ini!" Canda Arumi.
"Kamu berat juga, Arum!" Keluh Edgar. Akan tetapi, ia tidak berniat untuk menurunkan gadis itu. Edgar terus menggendongnya hingga ke paviliun yang ditempati oleh Arumi.
Sesampainya di sana, Edgar segera menurunkan gadis itu. Ia tampak terengah-engah, sementara Arumi hanya tertawa geli melihatnya.
"Segera cuci kakimu dan tidurlah!" Suruh Edgar. Ia bersikap seolah Arumi adalah anak gadisnya.
"Ini masih siang, Ed. Aku tidak terbiasa tidur jam segini," bantah Arumi. Ia sudah selesai mencuci kakinya pada kran yang disediakan di halaman paviliun itu. "Mau mampir sebentar, Ed?" Tawar Arumi.
__ADS_1
Darah di dalam tubuh Edgar berdesir dengan jauh lebih cepat mendengar tawaran itu. Bibirnya ingin menolak tawaran itu, tapi hatinya terus memaksanya untuk berkata "iya". Akhirnya, Edgar pun mengangguk pelan.
Arumi tersenyum lembut. Ia lalu membuka kunci pintu itu dan mengajak Edgar untuk masuk.
Edgar belum pernah merasa gugup seperti itu. Ini bukan pertama kalinya ia berada di dalam kamar bersama seorang gadis, tapi kali ini rasanya sangat berbeda.
"Aku punya banyak camilan, Ed. Kamu mau?" Tawar Arumi seraya menunjukan harta karun-nya kepada Edgar. Pria tiga puluh tahun itu pun tersenyum seraya duduk di sofa yang berada di ujung tempat tidur. Sofa yang menghadap langsung ke televisi serta pintu kaca menuju kolam renang di bagian luar.
"Anggap saja kamar sendiri! Aku ingin berenang dulu sebentar," ucap Arumi sambil melangkah keluar.
"Malam-malam begini, Arum?" Edgar tampak keheranan.
"Aku sudah terbiasa melakukan itu, Ed," sahut Arumi seraya menoleh untuk sesaat, sebelum akhirnya ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kolam renang.
Edgar duduk dengan tenangnya di atas sofa berwarna biru itu. Ia meletakan kaki kanannya di atas paha kirinya. Tatapannya tak teralihkan dari tubuh semampai berbalut bikini two piece berwarna hitam, yang sangat kontras dengan warna kulit kuning langsat milik Arumi. Tubuhnya sangat indah dengan lekukan yang sempurna, dan membuat naluri kelelakiannya kian tergelitik.
Ingin rasanya ia menghampiri gadis itu dan melahapnya dengan habis-habisan. Akan tetapi, Edgar terus berusaha untuk tetap menahan dirinya, meskipun napasnya sudah kian berat dan membuat dadanya terasa mulai sesak. Edgar menjadi gelisah karenanya.
"Kamu ingin menantangku, Arum?" Batin Edgar tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Ia pun berkali-kali menelan ludahnya, demi membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Tak satupun apa yang dilakukan Arumi di dalam kolam renang itu terlewat dari pandangan mata abu-abunya. Namun, pria dengan senyum menawan itu masih pada posisi duduknya seperti tadi. Ia belum beranjak sama sekali, meskipun wajah dan bahasa tubuhnya sudah kian gelisah.
Selang beberapa saat, Arumi memutuskan untuk menyudahi acara berenangnya. Ia lalu naik dan berdiri di tepian kolam renang itu dengan tubuh dan rambut panjangnya yang basah. Ia terlihat seperti sekaleng minuman dingin di musim panas.
Edgar menarik napas dalam-dalam. Keteguhannya pun runtuh ketika melihat Arumi menoleh kepadanya dan tersenyum. Edgar segera beranjak dari duduknya dan melangkah keluar.
Dihampirinya Arumi. Tanpa permisi, Edgar segera meraih tubuh yang masih dihiasi butiran-butiran air bening itu. Ia kembali mendaratkan ciumannya di bibir gadis itu. Edgar bahkan kini sudah melepas T Shirt yang dikenakannya dan melemparkan baju itu ke atas kursi santai di pinggir kolam renang.
Sementara Arumi kini menatap lekat tubuh atletis itu. Pahatan yang kokoh dan sangat tegas, begitu kuat bagaikan sebuah tebing dengan relief bebatuan yang membuatnya terlihat gagah. Pandangannya kini terfokus pada nama yang terukir di dada sebelah kanan Edgar. Arumi.
Disentuhnya nama itu dengan lembut dan penuh perasaan. Arumi seakan tidak peduli jika apa yang dilakukannya telah membuat Edgar semakin tidak karuan.
"Apakah rasanya sakit saat membuat ini, Ed?" Tanya Arumi pelan.
"Tidak sesakit saat aku melihatmu dengan Moedya," jawab Edgar datar dan membuat Arumi segera menatapnya dengan penuh penyesalan.
__ADS_1