Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Ajakan Kencan


__ADS_3

"Luar biasa, Arum!" Sindir Edgar dengan senyum sinisnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak habis pikir dengan sikap Arumi.


"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu!" Tolak Arumi. Gadis itu bermaksud untuk membuka pintu mobilnya. Namun, dengan segera Edgar mencegahnya. Ia menahan pintu itu dengan tangannya.


"Permisi, Tuan Hilaire!" Ucap Arumi dengan ketus. Ia tidak menatap sinis kepada pria yang kini tengah menatap dirinya dengan tajam dan terlihat menahan amarahnya.


"Kamu tidak ingin bicara denganku dan lebih memilih untuk berbicara kepada pria asing bercelana pendek?" Geram Edgar. Ia sepertinya sedang dilanda rasa cemburu. "Ya Tuhan, Arum! Kenapa kamu sangat nakal!"


Arumi mendelik tajam ketika Edgar menyebutnya nakal. Akan tetapi, ia tidak berkata apa-apa. Arumi lebih memilih untuk kembali memalingkan wajahnya dari Edgar.


"Come on, Arum! Aku akan berangkat lusa! Jangan sampai kamu menyesal jika tiba-tiba kamu merindukanku!" Ujar Edgar dengan penuh percaya diri.


"Pergi saja!" Jawab Arumi dengan kesal seraya memaksa untuk membuka pintu mobilnya meskipun Edgar terus menghalanginya. "Menyingkirlah!"


"Okay, Babe!" Edgar menarik tangannya dari pintu mobil Arumi.


"Menyebalkan!" Umpat Arumi seraya masuk ke mobilnya. Ia juga menutup pintu mobilnya dengan kasar, membuat Edgar kembali geleng-geleng kepala karena melihat sikap keras gadis itu. Sesaat kemudian, Edgar membungkukan badannya dan mengetuk jendela kaca pintu mobil Arumi. Diluar dugaan, Arumi ternyata membukanya. Ia sudah bersiap dengan kemudinya.


Edgar semakin membungkukan badannya. Ia melipat kedua tangannya dan menjadikannya sebagai tumpuan dagunya. Ia pun menatap Arumi dengan diiringi senyumannya yang sangat menggoda.


Arumi meliriknya untuk sesaat. Setelah itu, ia segera membuang mukanya ke samping. Ia tidak suka dengan ekspresi dan senyuman seperti yang diperlihatkan Edgar saat ini. Arumi tahu jika pria itu sedang merayunya.


"Ayo, kubelikan es krim greentea kesukaanmu!" Ajak Edgar.


"Sudah kukatakan jika aku tidak mau!" Tolak Arumi dengan kesal.


"Bagaimana jika kita berjalan-jalan dulu sebentar di tepi pantai? Ini liburan yang terlalu singkat, Arum," bujuk Edgar lagi.


"Aku tidak mau! Liburan ini tidak berpengaruh sama sekali bagiku! Kepalaku malah semakin pusing karenanya! Menyingkirlah! Aku tidak bertanggung jawab jika nanti kamu mati tercekik di jendela kaca mobilku!" Ancam Arumi dengan ketusnya.


Perlahan kaca itu mulai naik dan membuat Edgar segera menarik dirinya ke luar. Ia berdiri dengan rona tidak percaya. "Kamu benar-benar ingin membunuhku, Arum? Yang benar saja? Kita bahkan belum menyelesaikan permainan kita semalam!" Protes Edgar seraya mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


Untunglah suasana di tempat parkir itu sedang tidak begitu ramai. Lagi pula, semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Arumi tidak memedulikan protes keras dari Edgar. Ia kemudian menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan pria itu sendirian, dalam ekspresi yang tidak percaya.


"Yang benar saja, Arum!" Gumam Edgar dengan heran.


Sementara itu, Arumi menjalankan mobilnya dengan cukup kencang. Ia benar-benar merasa kesal.


Menjelang tengah hari, Arumi baru tiba di rumahnya. Liburan yang ia gadang-gadangkan akan memberinya sedikit penyegaran, ternyata malah membuat hatinya terasa semakin kacau, tapi ... tunggu! Arumi tertegun. Ia pun berpikir.


Arumi tidak mengerti, kenapa ia sampai harus mencegah Edgar untuk kembali ke Perancis? Gadis itupun mengernyitkan keningnya. Dilipatnya kedua tangannya di dada. Arumi kemudian berdiri di dekat jendela kamarnya.


Gadis itu mende•sah pelan, ketika ia teringat pada kejadian semalam di kamar paviliun Edgar. Tidak pernah ia bayangkan, jika dirinya hampir saja bercinta dengan pria itu, dan kini dalam keadaan sadar.


Ya, Arumi sangat sadar. Ia bahkan mengingat setiap detail dari semua sentuhan yang diberikan Edgar kepadanya. Arumi bahkan seolah masih dapat merasakan betapa hangatnya deru napas pria itu saat mencumbuinya, meskipun tidak sampai pada inti permainan yang mereka harapkan.


"Kenapa aku harus terus terjebak dengan pria yang sama?" Gumam Arumi tak mengerti.


Untuk sejenak, diliriknya foto kedua orang tuanya. Ia juga melirik fotonya yang merupakan hadiah dari Edgar. Ah ... lagi-lagi pria itu. Akan tetapi, tiba-tiba Arumi tertegun.


Edgar sedang menghadapi masalah saat ini. Arumi baru menyadari jika lagi-lagi ia telah bersikap tidak adil kepada pria itu. "Bodohnya aku!" UmpatArumi. Ia menyesali sikapnya sendiri.


Gadis itupun segera mengambil ponselnya. Akan tetapi, sebelum ia menghubungi Edgar, ternyata pria itu telah lebih dulu menghubunginya. Dengan malu-malu, Arumi menjawab panggilan itu.


"Apa kamu sudah sampai di rumah, Arum?" Tanya Edgar dari seberang sana.


"Ya, " jawab Arumi pelan. Kedua bola matanya bergerak dengan tidak beraturan. Gadis itu seperti tengah berpikir.


"Syukurlah. Aku senang mendengarnya," ucap Edgar lagi tanpa banyak basa-basi.


"Hanya itu?" Tanya Arumi. Sesaat kemudian, ia menepuk keningnya sendiri.

__ADS_1


"Lalu? Bukankah kamu sedang tidak ingin bicara denganku?"


Arumi menjadi gelagapan karenanya. Namun, ia tidak menanggapi ucapan dari Edgar.


"Okay, Arum. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku hanya ingin memastika apakah kamu baik-baik saja atau tidak. Selamat beristirahat," Edgar kemudian menutup sambungan teleponnya.


Arumi terdiam dengan mulut terbuka. Ia tidak menyangka jika Edgar bisa bersikap seperti itu kepadanya. Namun, rasa tidak enak dalam hatinya kian menyeruak. Arumi pun memutuskan untuk menghubungi kembali pria itu.


Panggilan pertama, tidak dijawab sama sekali oleh Edgar. Risau, itulah yang Arumi rasakan. Ia lalu mencoba untuk kembali menghubungi Edgar. Barulah pria itu menjawab teleponnya.


"Aku sedang di jalan, Arum," ucap Edgar sebelum Arumi sempat bicara. Ia masih fokus pada kemudinya.


"Aku pikir ... kamu akan melanjutkan liburanmu di sana," sahut Arumi. Oh ... ia merasa bingung harus bicara apa.


"Kamu sudah pulang, jadi untuk apa aku masih di sana? Apa kamu masih ingin bicara denganku? Jika ya, maka aku akan menepi sebentar," ujar Edgar lagi. Ia sadar jika sangat berbahaya berkendara sambil menelepon.


"Oke," jawab Arumi. Entah apa maksudnya menjawab seperti itu.


Edgar pun menepikan mobil yang ia kendarai. Tanpa mematikan mesinnya, ia melanjutkan obrolannya dengan Arumi. "Baikalah. Ada apa, Arum?" Tanya pria itu dengan nada bicaranya yang terdengar sangat tenang.


Arumi tidak segera menjawab. Ia bingung harus memulainya dari mana. Ia juga tidak sempat merangkaikan kata-kata yang dirasa cocok sebagai tanda permintaan maafnya kepada Edgar.


"Arum? Apa kamu masih di sana?" Tanya Edgar.


"Ya, Ed. Aku ... masih di sini ... um ...." lagi, Arumi hanya dapat mengeluh pelan.


"Are you okay, Babe?" Tanya Edgar lagi. Ia mulai mencemaskan gadis itu.


"Ya ... i'm alright. Jangan cemaskan aku!" Entah kenapa karena Arumi jadi merasa gugup sendiri. Akan tetapi, sesaat kemudian Arumi pun memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu kepada Edgar.


"Ed ... ajak aku kencan!" Ucapnya dengan yakin.

__ADS_1


__ADS_2