
“Kamu suka baju pengantinku, Ed?” tanya Arumi ketika mereka tengah berada dalam perjalanan pulang setelah melakukan fitting baju. Gadis itu terlihat sangat ceria. Senyum manisnya terus melengkung indah dan menghiasi wajah cantiknya.
Edgar meliriknya dan tersenyum. Meski saat itu ia menyembunyikan tatapan matanya di balik kacamata hitam, tapi Arumi masih dapat merasakan betapa hangatnya sepasang mata abu-abu milik sang kekasih, yang tidak lama lagi akan menjadi suaminya.
“Aku suka dengan apapun yang kamu pakai, Arum,” jawab Edgar. Ia kembali fokus pada jalanan yang mulai macet sore itu. Mobil yang dikendarai Edgar pun menjadi tersendat-sendat lajunya, bahkan tak jarang hingga berhenti dan menunggu mobil di depannya untuk bergerak terlebih dahulu.
“Uh ... membosankan!” keluh Arumi pelan. Gadis itu kemudian menyandarkan kepalanya dan menoleh ke samping.
Edgar tersenyum kecil seraya menggumam pelan. Ia melirik calon istrinya dan meraih jemari lentik Arumi. Diciumnya dengan lembut tangan halus dengan kulit kuning langsat itu. Apa yang dilakukannya, telah membuat Arumi langsung menoleh ke arahnya. “Aku senang berada dalam kemacetan bersamamu,” ujar Edgar seraya kembali mencium lembut jemari dengan kuteks berwarna gelap itu.
Arumi tersenyum lembut. “Kenapa kamu sangat manis, Ed?” lirikan nakal Arumi membuat Edgar tidak dapat menahan dirinya. Sebuah sentuhan lembut pun mendarat dengan begitu mesra di permukaan bibir Arumi. Gadis itu tersenyum manja ketika Edgar menyudahi aksi romantisnya. Suara klakson dari mobil di belakang mereka saling bersahutan.
“Nakal!” ucap Arumi seraya mencubit lengan Edgar dengan gemas. Sementara Edgar hanya tertawa pelan seraya kembali pada kemudinya. Ia harus segera melajukan mobilnya, sebelum ia menjadi bahan ocehan pengendara lainnya.
Beberapa saat di perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman Arumi. Akan tetapi, Edgar tidak ikut turun. Ia harus segera pulang karena tidak tega membiarkan Carmen sendirian di apartemennya.
Wanita paruh baya itu tidak sedang berada di Perancis. Ia tidak mengenal siapapun. Ia juga tidak menguasai bahasa Indonesia. Jadi, adalah hal yang wajar jika Edgar sangat mencemaskannya.
“Sampaikan salamku untuk bibi Carmen,” ucap Arumi sebelum turun.
Edgar mengangguk pelan. Sebelum pergi ia kembali memberi salam perpisahan kepada Arumi.
“I love you,” ucap Edgar pelan di sela-sela ciuman mesranya. Sesaat kemudian, ia kembali melu•mat mesra bibir Arumi. Gadis itu membalas ucapan manis Edgar dengan sebuah gigitan kecil di bibirnya. Gigitan yang telah membuat Edgar meringis pelan dan menghentikan ciuman itu. Sedangkan Arumi justru malah tertawa puas seraya melepas sabuk pengaman yang melintang di dadanya.
Edgar menatap gemas kepada gadis itu. Sesaat kemudian, ia lalu keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Arumi. Gadis itu berdiri sambil bersandar pada pintu mobil Edgar, sementara Edgar berdiri di hadapannya dan meletakan tangan kananya di samping tubuh Arumi, pada kap mobilnya.
“Yakin tidak mampir dulu, Ed?”
“Lain kali saja. Datanglah ke apartemenku jika kamu tidak ke toko!”
__ADS_1
Arumi tersenyum dan mengangguk. “Semua persiapan sudah selesai. Tiba-tiba aku merasa sangat gugup,” resah Arumi.
“Kamu pikir aku tidak gugup? Aku jauh lebih gugup,” balas Edgar seraya menggaruk keningnya perlahan. “Berapa hari lagi?” tanyanya..
“Tujuh hari, Ed. Itu bukan waktu yang lama,” jawab Arumi dengan wajah yang masih terlihat khawatir.
“Setelah itu bersiaplah! Kamu tidak tahu apa yang akan kulakukan padamu setiap harinya,” seringai Edgar membuat Arumi meringis. Gadis itu kemudian menegakan posisi berdirinya.
“Sebaiknya aku masuk saja! Sudah pulang sana!” usir Arumi seraya berlalu dari hadapan Edgar. Pria itu hanya tertawa seraya memakai kembali kacamata hitamya. Setelah itu, ia lalu masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan halaman rumah Arumi.
Arumi sempat tertegun di depan pintu masuk rumahnya. Ia lalu menoleh dan menatap kepergian Edgar. Senyuman kecil terlukis di bibirnya. Satu minggu lagi, kehidupannya akan berubah seratus delapan puluh derajat. Ia akan melepaskan status lajangnya dan menjadi Nyonya Hillaire. Entah bagaimana rasanya ketika ia dapat melihat pria itu setiap saat, dalam setiap harinya.
Arumi kemudian beranjak masuk sebelum akhirnya ia harus menghentikan langkahnya pada deretan anak tangga menuju lantai dua. Ada sebuah panggilan telepon dari seorang sahabatnya. Arumi melanjutkan perbincangan mereka sambil terus melangkah menuju kamarnya.
......................
Siang itu, Arumi kembali mengecek gedung yang akan digunakan untuk acara resepsi pernikahannya nanti. Namun, sayang sekali karena Edgar tidak dapat menemaninya kali ini. Pria itu memiliki urusan penting lainnya. Alhasil, Arumi harus pergi seorang diri.
Hingga menjelang sore, Arumi baru memutuskan untuk pulang, Lagi pula, ia sempat bertemu dengan beberapa orang teman lamanya sekaligus memberikan undangan yang baru ia sebar. Ranum menjadi orang pertama yang menerima kartu undangan itu tentunya, karena wanita itu adalah tamu kehormatan bagi Arumi dan Edgar.
Menyetir seorang diri, tiba-tiba Arumi merasakan ada sesuatu yang aneh pada laju mobilnya. Namun, ia terus memaksa untuk melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya, mobilnya benar-benar berhenti. “Oh ... bagus!” keluh Arumi pelan. Ia lalu keluar dari mobil dan membuka kap mesin mobil tersebut.
Arumi tertegun. Ia tidak tahu harus melakukan apa dengan rangkaian membingungkan di hadapannya. Ia akhirnya memutuskan untuk menghubungi Edgar dan memberitahukan tentang kondisinya saat ini.
“Aku ke sana sekitar lima belas menit lagi. Jangan ke mana-mana dan buatlah dirimu nyaman, Tuan Putri!” pesan Edgar. Ia lalu menutup sambungan teleponnya.
Arumi berdiri dengan setengah bersandar pada bagian depan mobilnya. Dengan sabar ia menunggu kedatangan Edgar sambil sesekali melihat ponselnya. Namun, beberapa saat kemudian Arumi harus bernapas dengan lebih cepat, ketika ia mendengar suara seorang pria yang menyebut namanya.
Arumi tidak ingin menoleh. Akan tetapi, pria itu telah melangkah ke hadapannya dan membuat gadia itu seketika menegakan tubuhnya. “Mati aku!” gumamnya di dalam hati.
__ADS_1
Arumi menatap pria yang tiada lain adalah Moedya dengan rambut barunya. Moedya terlihat sangat berbeda, tetapi itu tidak akan membuat Arumi merasa terkesan sama sekali.
“Ada apa, Arum? Kenapa berhenti di sini?” tanya Moedya dengan heran.
“Tidak apa-apa,” jawab Arumi dengan singkat. Ia tidak ingin terlalu banyak berbasa-basi dengan pria itu.
“Apa mobilmu bermasalah, Arum?” tanya Moedya lagi seraya melirik mobil milik Arumi.
Arumi terlihat gugup. Ia harus segera menyuruh Moedya pergi, sebelum Edgar tiba-tiba ada di sana. Jangan sampai mereka bertemu dan Arumi pasti harus menjelaskan panjang lebar kepada Edgar. Itu bukan sesuatu yang ia sukai.
“Tidak, tentu saja tidak ada apa-apa. Mobilku baik-baik saja. Mungkin sebaiknya kamu pergi dan ....” Arumi belum sempat melanjutkan kata-katanya.
“Kenapa kamu berhenti di sini? Kamu bisa terkena tilang, Arum,” sela Moedya. Ia menunjukkan tanda di larang parkir kepada Arumi.
Arumi menopang keningnya. Ia bingung harus menjawab apa. Mau bagaimana lagi, karena mobilnya mogok tepat di sana.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Moedya segera melangkah ke arah mobil Arumi dan menyuruh Arumi untuk menyingkir. Ia lalu membuka kap mesin itu dan bermaksud untuk memeriksanya. Akan tetapi, dengan segera Arumi melarangnya.
“Tidak, jangan! Sebaiknya tinggalkan saja aku sendiri! Aku sudah menghubungi bala bantuan, jadi kamu tidak perlu repot-repot membantuku!” cegah Arumi lagi.
“Memangnya kenapa, Arum? Aku hanya ingin membantumu,” ucap Moedya tetap memaksa membantu Arumi.
“Sayangnya aku tidak membutuhkan bantuanmu!” tegas Arumi seraya menarik lengan Moedya agar menjauh dari mobilnya.
Moedya menoleh dan menatap Arumi. Lama tidak bertemu, gadis itu terlihat semakin cantik di matanya. Rambut panjang itu selalu ia belai, bahkan Moedya sudah mengetahui seperti apa aroma shampo yang biasa digunakan oleh Arumi.
Tatapan tajam dari Arumi, sama sekali tidak membuat Moedya gentar. Pria itu terus membalasnya dengan rasa yang bercampur aduk. Moedya tidak tahu harus berkata apa. Namun, ia ingin sekali menanyakan sesuatu kepada Arumi.
“Arum, apa kamu yakin ingin menikah Edgar?”
__ADS_1