
Arumi berkali-kali mengeluh pelan. Rasanya ia ingin marah. Pada akhirnya, ia tidak dapat menikmati makanannya.
Melihat hal itu, Edgar kembali menenangkan Arumi. Masih dengan senyum kalemnya yang tampak sangat memesona, ia memberanikan dirinya untuk menyentuh tangan Arumi dengan lembut.
"Tenanglah!" Ucapnya pelan.
Dengan segera, Arumi menarik tangannya dari sentuhan tangan Edgar. Akan tetapi, hal itu lagi-lagi tidak membuat Edgar menjadi kesal ataupun marah karenanya. Ia masih menunjukan sikap kalemnya.
Meneguk minumannya untuk sesaat, Edgar kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Ia tampak menghubungi seseorang. Setelah itu, ia memberikan ponselnya kepada Arumi. Rupanya Edgar menghubungi nomor milik Arumi.
"Masih aktif. Kalau pun ada orang yang menemukannya, aku harap dia adalah orang yang baik," ucap Edgar sambil kembali mengunyah makanannya.
Sesaat kemudian, ia kembali menghubungi nomor Arumi. Akan tetapi, tidak ada yang menjawab panggilan darinya. "Sudah kupanggil dua kali, tapi tidak ada yang mengangkat," ucap Edgar lagi seraya meletakan ponselnya di atas meja.
Arumi tidak menjawab. Keraguan dan kayakinannya kini berada di dalam posisi yang sama.
"Katakan padaku ke mana terakhir kamu pergi sore ini?" Selidik Edgar.
Arumi menatap pria itu dengan cukup intens. Setelah itu ia kembali mengalihkan tatapannya pada piring berisi makanan yang ada di hadapannya.
"Ke bengkel milik Moedya," jawab Arumi dengan yakin. Jawaban yang telah membuat Edgar terlihat gusar.
"Kamu masih menemuinya, Arum? Kenapa? Untuk apa?" Edgar memberondong Arumi dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Kenapa aku harus memberikan penjelasan kepadamu?" Arumi menatap tajam pria dengan tatapan lembut itu.
"Come on, Arum! Aku mohon, hentikan!" Pinta Edgar dengan sungguh-sungguh.
Arumi tidak menjawab. Ia tahu Edgar pasti akan bersikap keras jika ia tahu Arumi masih berhubungan dengan Moedya.
__ADS_1
"Apa urusanmu? Kamu tidak berhak melarang apapun yang ingin aku lakukan!" Tegas Arumi.
"Aku tidak akan melarang apapun yang ingin kamu lakukan, tapi sesuatu yang berhubungan Moedya adalah suatu pengecualian!" Edgar tak kalah tegas.
Arumi tersenyum kecil. Ia tidak peduli dengan apapun yang Edgar katakan.
"Dengar, Arum!" Edgar kembali melanjutkan kata-katanya. "Moedya kini tengah menjalin hubungan dengan Diana."
"Wow ... kamu sangat mengetahui hal itu rupanya. Apakah Diana juga memberitahumu tentang kedekatannya dengan Moedya? Luar biasa sekali pertemanan kalian," sindir Arumi dengan nada bicaranya yang tenang namun terkesan sinis.
Mendengar hal itu, Edgar justru malah tertawa pelan. Ia sudah dapat menangkap maksud dari sindiran Arumi kepadanya.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan tentang aku dan Diana. Akan tetapi, aky tegaskan padamu jika itu salah besar!" Sanggah Edgar.
"Oh ... begitukah?" Ledek Arumi dengan senyum sinisnya.
"Dengar, Arum! Aku tidak terlalu mengenal Diana ...."
"Lalu kenapa kamu bisa berada di pesta yang diadakannya malam itu?" Potong Arumi. Ia mulai terlihat jengkel.
"Kamu lupa jika Diana adalah kekasih Adam?Aku dan Adam berteman baik, kami partner bisnis. Aku berada di pesta itu atas ajakannya," jelas Edgar.
"Aku juga tidak tahu jika kamu ada di pesta yang sama. Kamu mabuk dan hilang kendali. Itu bukan salahku jika kamu menjadi lepas kontrol seperti itu!" Lanjut Edgar.
"Kamu bisa mengantarku, pulang bukannya malah mengambil kesempatan!" Bantah Arumi dengan kesal.
Edgar tersenyum lebar mendengar ucapan Arumi. Ia lalu menggelengkan kepalanya dengan perlahan. " Aku menginginkanmu sejak lama, Arum! Kamu pikir aku akan mensia-siakan kesempatan itu? Tentu saja tidak! Apalagi kamu sendiri yang memulainya! Kamu yang menggodaku dan ...." Edgar tersenyum puas saat mengenang malam indah antara dirinya dan Arumi tiga tahun yang lalu.
"Menjijikan!" Umpat Arumi seraya mendengus kesal. Ia kemudian memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Edgar masih tetap terlihat tenang. Ia lalu meneguk minumannya, setelah itu ia menggaruk keningnya sebanyak beberapa kali.
"Dengarkan aku, Arum!" Edgar masih berbicara dengan sikapnya yang sangat tenang. Ia tidak ingin terpancing, apalagi saat itu mereka tengah berada di tempat umum.
"Arum, coba kamu pikirkan dan resapi apa yang akan aku katakan padamu! Aku harap kamu dapat memahaminya dengan baik," lanjut Edgar lagi.
Arumi tidak menjawab. Ia juga masih memalingkam wajahnya dari Edgar.
"Aku sudah tidak merasa penasaran lagi denganmu, Arum. Aku sudah merasakanmu, meskipun hanya satu kali dan tidak di tempat yang semestinya. Namun, seharusnya kamu mulai membuka pikiranmu! Kenapa aku masih menunggumu? Kenapa aku masih mengejarmu dan berharap agar kamu bersedia untuk menerima cintaku! Tidak kah kamu memikirkan hal itu, Arumi?"
"Aku tahu dan sangat menyadarinya, jika aku adalah pria yang brengsek! Aku ingin memperbaiki diriku, dan sayangnya ... aku telah begitu jatuh cinta kepada seorang gadis yang tidak menginginkanku sama sekali!"
Arumi masih terdiam. Akan tetapi kini ia mulai kembali mengalihkan tatapannya kepada pria rupawan yang ada di hadapannya.
"Aku sudah tidur dengan banyak wanita, kamu tahu hal itu dengan baik. Namun, aku begitu kesulitan untuk melupakan apa yang telah kita lakukan malam itu. Tiga tahun, Arum! Tiga tahun bayangan itu mengikutiku. Bagaimana mungkin aku bisa melupakanmu dengan begitu mudahnya?"
"Aku mohon, Sayang! Kembalilah padaku! Aku berjanji jika kedua mataku ini hanya akan tertuju padamu. Aku akan mengabaikan yang lain demi dirimu. Semuanya ...."
Arumi mengelengkan kepalanya dengan perlahan. "Kenapa harus aku? Masih banyak gadis lain yang dapat memberimu kepuasan dan juga kebahagiaan yang kamu butuhkan. Sudahlah, Ed! Berhentilah mengejarku, karena aku sudah tidak mencintaimu lagi!" Arumi beranjak dari duduknya. Ia bermaksud untuk pergi dari tempat itu.
Dengan segera Edgar berdiri dan meraih pundak gadis itu. Ia lalu menyuruhnya untuk kembali duduk.
"Jika kamu mengatakan bahwa kamu sudah tidak mencintaiku lagi, maka itu artinya kamu pernah memiliki rasa itu untukku. Seberapa besar dulu kamu merasakan cinta itu kepadaku? Katakan, Arum!"
"Jangan ungkit semua yang sudah lama berlalu! Itu sudah terlalu lama, Ed! Banyak hal yang sudah berubah! Begitu juga dengan perasaanku!" Tolak Arumi dengan tegas.
"Oke. Jika perasaanmu kepadaku telah berubah ... maka hargai perasaanku yang tidak pernah berubah padamu. Aku membawa semua beban ini selama bertahun-tahun. Kamu tahu, Arum? Indonesia telah menjadi negara kedua yang sangat aku sukai. Alasannya sangat jelas, karena di Indonesia aku bisa menemuimu, melihat kembali cinta yang begitu besar yang sudah membalikan duniaku dengan sangat cepat."
"Ya, Arum! Kamu telah mengubah seluruh duniaku. Aku merasa jika diriku bukan lagi seorang Edgar yang brengsek saat di dekatmu. Aku merasakan ada banyak cinta dan keindahan ketika aku melihat wajahmu. Aku tidak ingin kehilangan itu semua. Silakan tolak aku! Akan tetapi, aku akan tetap berjuang untukmu!" Tegas Edgar.
__ADS_1