Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
What's Wrong with Moedya


__ADS_3

Sore itu, Moedya baru saja menutup bengkelnya. Ia tampak begitu bersemangat. Alasannya sangat jelas, karena sore itu ia akan bertemu kembali dengan Arumi.


Akan tetapi, tanpa diduga ternyata Diana datang ke sana. Seperti biasa, gadis itu selalu terlihat cantik dan seksi dengan mini dress yang dikenakannya. Senyum manis pun Diana layangkan, semenjak ia keluar dari dalam mobilnya.


"Kenapa tutup lebih cepat?" Tanya gadis itu seraya berjalan menghampiri Moedya yang saat itu sudah bersiap duduk di atas motornya.


Moedya meletakan kembali helmnya. "Ada apa, Di?" Tanya pria berambut gondrong itu dengan nada yang biasa saja.


Diana tersenyum manja. Tanpa segan, ia memegangi tangan Moedya yang diletakan di atas helm. "Sudah lama kita tidak keluar bersama-sama. Bagaimana jika malam ini kita ...."


"Aku tidak bisa," tolak Moedya dengan segera.


Senyum manis Diana seketika pudar. Wajah cantiknya kini terlihat sedikit tegang. Ia menatap lekat kepada Moedya. Tatapan yang penuh dengan tanda tanya dan tentu saja curiga.


"Kenapa? Tidak biasanya kamu menolak ajakanku untuk keluar," Diana terlihat resah.


Moedya menggaruk keningnya beberapa kali. Setelah itu, ia kembali menatap gadis cantik yang ada di hadapannya. "Aku rasa kita harus bicara serius, Di," ujar Moedya membuat ketegangan kian terlihat dengan jelas di wajah cantik Diana. Gadis itu juga sepertinya makin gelisah dan salah tingkah. Ia seakan sudah dapat menebak apa yang akan Moedya bicarakan dengan dirinya.


"Bicara tentang apa?" Diana ingin meyakinkan hatinya. Ia berharap agar apa yang ada di dalam pikirannya, tidak sesuai dengan apa yang akan dibicarakan Moedya dengannya.


"Tentang hubungan kita," jawab Moedya singkat.


Diana menelan ludahnya sendiri karena terlalu gugup. Rasa gelisah itu kian menyeruak di dalam hatinya. Tidak! Semoga Moedya tidak mengambil keputusan sepihak, pikirnya.


Diana sangat mengenal Moedya. Ia tahu jika pria dengan gaya rambut man bun itu, biasa melakukan apapun yang ia mau sesuai kehendaknya.


"Hubungan kita?" Diana mengulangi ucapan Moedya dengan nada khawatir. Tatapannya masih belum ia alihkan dari wajah maskulin pria itu.

__ADS_1


Moedya menghela napas panjang. Ada sedikit kebimbangan dalam sorot matanya yang dalam. Sebenarnya, ia tidak tega untuk membahas masalah itu dengan Diana. Akan tetapi, ia harus mengambil keputusan yang tegas.


"Di ... jujur saja jika ibuku tidak menyetujui hubungan kita. Dia tidak ingin aku melanjutkan hubungan ini," Moedya langsung berbicara pada intinya, tanpa basa-basi sama sekali.


Diana tertegun mendengar apa yang Moedya ungkapkan barusan. Rasanya seperti terkena hujaman anak panah berapi, Diana merasakan sakit yang luar biasa di dalam dadanya.


"Lalu ... apa keputusanmu?" Tanya Diana dengan nada penuh keraguan. Raut kecemasan belum juga sirna dari wajah cantiknya. Ia berharap agar Moedya tidak memberinya sebuah jawaban, yang akan membuat jantungnya berhenti berdetak.


"Aku sangat menyayangi ibuku. Dia satu-satunya yang kumiliki di dunia ini. Aku juga sudah berjanji pada mendiang ayahku, untuk selalu menjaga ibuku dengan baik," jawab Moedya.


Sebuah jawaban yang sudah mewakili segalanya. Ia tidak harus menjabarkan lagi dengan kata-kata yang lain, yang mungkin akan terdengar jauh lebih menyakitkan bagi Diana.


Mendengar hal itu, seketika Diana tersenyum kelu. Ternyata kata hatinya benar. Apa yang ia pikirkan tidaklah meleset.


"Semudah itukah?" Tanya Diana dengan lirih.


"Cukup dengan kata maaf? Kamu pikir perasaanku yang sakit akan segera terobati hanya dengan kata maaf? Apa-apaan kamu, Moedya?" Diana tidak terima dengan keputusan sepihak dari Moedya.


"Arumi saja yang katanya sangat kamu cintai, bisa kamu tinggalian dengan sangat mudah ... apa lagi aku! Di mana perasaanmu sebagai seorang pria sejati?" Diana mulai tersulut emosi, meskipun ia masih berbicara dengan nada yang cukup rendah.


Moedya segera turun dari motornya dan berdiri di hadapan gadis itu. Sementara ekspresi Diana terlihat begitu marah. Namun, gadis itu sekuat tenaga menahan agar kemarahannya tidak sampai meledak dengan berlebihan.


"Ini yang terbaik, Di," ujar Moedya masih dengan sikapnya yang tenang. Sementara, sikap tenangnya justru membuat kemarahan di dalam diri Diana semakin tersulut.


"Kamu mengatakan kata-kata seperti itu kepadaku dengan tanpa beban sama sekali! Di mana hati nuranimu?" Diana pada akhirnya tidak dapat mengendalikan lagi emosinya, sehingga membuat Moedya harus turun tangan dan segera menenangkanya.


Dipeganginya kedua lengan gadis itu. Moedya terus berusaha menenangkannya. "Diamlah, Di! Pelankan suaramu!"

__ADS_1


Moedya kemudian membawa gadis itu semakin menepi ke dekat rolling door yang telah tertutup rapat.


"Bersikap dewasalah sedikit! Kita berdua tahu jika hubungan ini, tidak seperti hubungan pada kebanyakan pasangan. Aku tidak pernah menganggap ini sebagai sesuatu yang serius! Kamu tahu jika aku sangat mencintai Arumi!" Tegas Moedya.


Diana menatap tajam kepada Moedya. Sisi wanitanya terluka. Ia merasa begitu tersakiti dan seakan tidak memiliki harga diri sama sekali. Ia tidak menyangka jika Moedya akan setega itu terhadapnya. Kedua matanya pun mulai berkaca-kaca.


"Aku tahu jika aku hanyalah sebuah pelarian untukmu! Aku tidak menyangkal ketika kamu hanya datang padaku saat membutuhkan sebuah pelampiasan," Diana mulai terisak. Sementara Moedya seketika terdiam. Ia hanya terpaku menatap gadis itu.


"Kita melakukannya, Moedya. Lebih dari dua atau tiga kali, aku bahkan tidak dapat mengingatnya ...." Diana tertunduk lesu. Sementara tetesan air matanya mengucur dengan semakin deras.


"Setiap kali kamu teringat pada apa yang Arumi dan Edgar lakukan di apartemenku, maka kamu akan datang padaku dan ... dan menjadikanku sebagai pelampiasanmu," Semakin lirih kata-kata yang keluar dari mulut Diana. Ia menunjukan kepada Moedya, betapa pria itu sudah bersikap dengan tidak adil kepada dirinya.


"Kamu menikmati itu bukan? Kamu menyukainya, Modya! Lalu kenapa kamu berpikir jika itu merupakan sesuatu yang biasa saja?"


Moedya semakin terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Sebuah kesalahan yang sangat besar telah ia lakukan.


Semua yang dilakukan oleh dirinya dan Diana, adalah sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Moedya tak ubahnya dengan Arumi. Ia bahkan melakukan hal itu dalam keadaan sadar, meskipun di bawah dorongan kemarahan yang tertahan.


Sedangkan Diana, ia begitu naif dan bodoh karena cintanya yang terlalu besar kepada Moedya. Ia tidak peduli jika dirinya hanya menjadi sarana pelampiasan dari pria berambut gondrong itu.


Diana tidak pernah mengira jika Arumi akan kembali dalam kehidupan Moedya. Diana sudah merasa percaya diri, jika ia akan dapat memiliki dan mengikat Moedya dengan semua pengorbanannya selama ini.


"Silakan Moedya! Silakan tinggalkan aku dan kembalilah kepada Arumi! Aku hanya berharap agar kalian berdua bahagia," pungkas Diana. Ia lalu menghapus air matanya dan berlalu dari hadapan Moedya yang saat itu masih terpaku dan membisu.


Moedya tentu saja tidak sejahat itu. Darah Arya mengalir di dalam tubuhnya. Seberapapun brengseknya seorang Arya, pria itu memiliki kesetiaan yang tidak dapat diragukan lagi. Lalu, apa yang salah dalam diri Moedya?


Pria dengan gaya rambut man bun itu, terus terpaku menatap kepergian Diana dengan mobilnya dari sana. Gadis itu pergi meninggalkan halaman bengkel dengan membawa sebuah luka. Mungkin luka yang sama seperti yang dirasakan oleh Arumi, yang juga merasa diabaikan oleh seorang Moedya.

__ADS_1


__ADS_2