
Moedya sadar jika Arumi memang sengaja menunjukkan sikap yang sangat berlebihan di depannya. Pria itu hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman kecil. Lagi pula ia tahu jika Arumi memang selalu bersemangat. Hal itu mengingatkan Moedya pada beberapa tahun ke belakang, ketika Arumi sedang menyiapkan persiapan pertunangan mereka berdua. Gadis itu begitu heboh dan terlihat sangat antusias. Sebuah kenangan yang sebenarnya tidak pernah hilang dari ingatan pria tiga puluh tahun itu.
Bagi Arumi, mungkin ia berpikir jika Moedya sudah melupakan semuanya dengan mudah. Namun, gadis itu salah. Hingga saat ini, Moedya masih sering diliputi kegalauan jika ia telah mengingat semua kenangan indahnya bersama Arumi. Tidak ada yang dapat menebak arah pemikiran pria bertato itu. Moedya seakan tidak membiarkan orang lain untuk dapat mengenalnya secara menyeluruh. Karakternya terlalu aneh, meskipun yang terlihat ke permukaan selama ini adalah sifatnya yang plin-plan dan egois.
Namun, kita semua mengetahui dengan jelas, jika tidak ada satu hal pun di dunia ini yang tidak memiliki nilai kebaikan. Ranting kering yang telah terjatuh pun bahkan masih dapat bermanfaat bagi manusia, apalagi manusia itu sendiri yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk paling sempurna.
Moedya hanya terlambat dalam menemukan jati dirinya. Ia terlalu asyik dengan segala urusannya dan melupakan sisi lain dari kehidupannya. Bagaimanapun juga, darah seorang Pramoedya Aryatama mengalir dalam dirinya. Setidaknya,pasti ada sedikit saja karakter dari sang sang ayah yang ia warisi.
“Aku harap Arum tidak langsung pindah ke Perancis setelah menikah nanti. Setidaknya habiskanlah waktu beberapa lama di sini,” Puspa membuka suaranya.
“Semuanya tergantung Edgar. Aku hanya mengikutinya. Bagiku Perancis dan Indonesia sama saja. Aku menyukai tinggal di manapun, selama aku bersama Edgar” sahut Arumi. Ia mulai menyantap makanannya.
Puspa tertawa geli mendengar ucapan yang lagi-lagi dirasa berlebihan dari Arumi. Gadis itu memang selalu senang membuat kegaduhan.
Sementara itu, Moedya terlihat mengernyitkan keningnya ketika mendengar jika Arumi akan pindah ke Perancis. Akan tetapi, ia memilih untuk tidak banyak bicara. Moedya hanya tampak sedikit berpikir.
Waktu telah menunjukkan pukul dua puluh tiga puluh malam. Moedya akhirnya berpamitan untuk pulang. Namun, sebelum pulang ia menyempatkan dirinya untuk mengirimkan sebuah pesan kepada Arumi.
Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu? Ia mengetahui dengan jelas jika Arumi akan segera menikah, tetapi ia masih memaksa untuk dapat bertemu dan berbicara sebentar dengan gadis itu.
Arumi tentu saja menolaknya dengan tegas. Pada akhirnya, Moedya memilih untuk berbicara lewat sambungan telepon, tetapi hal itupun Arumi abaikan. Gadis itu tidak menjawab panggilan dari Moedya.
Moedya tidak menyerah. Sambil duduk di atas motornya, ia kembali mengirimkan sebuah pesan kepada Arumi. Ia mengatakan jika dirinya tidak akan pulang sebelum dapat berbicara berdua saja.
Lagi, Arumi tdak mengindahkan pesan itu. Hingga satu jam berlalu, Arumi belum juga mendengar suara motor milik Moedya. Gadis itu menjadi penasaran. Ia lalu beranjak ke dekat jendela dan mengintip dari balik tirai.
__ADS_1
Seketika Arumi membelalakan matanya karena ternyata Moedya masih berada di sana sambil duduk tenang di atas motornya. Arumi mendengus kesal. Kenapa juga ia harus memedulikannya. Ia kembali ke tempat tidurnya dan berniat untuk segera beristirahat. Namun, lagi-lagi pikirannya terganggu oleh pria bertato itu. Arumi kembali menyibakan selimutnya dan beranjak ke dekat jendela.
“Ya Tuhan! Dasar pria bodoh!” umpat Arumi. Gadis itu tampak sangat kesal dengan ulah mantan tunangannya. Moedya masih berada di atas motornya dan menunggu Arumi untuk menemuinya.
Akhirnya, Arumi meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada pria itu. Ia menyuruhnya untuk segera pulang. Moedya membalasnya dengan sebuah panggilan telepon yang mau tidak mau harus Arumi jawab.
“Arum, aku ingin bicara sebentar saja!” pinta Moedya dengan penuh harap.
“Bicara apa lagi? Kita sudah tidak memiliki urusan apa-apa!” tegas Arumi dengan jengkel. “Sebaiknya kamu segera pulang! Jangan sampai ibu Ranum menyalahkanku jika kamu sampai merasa mual karena masuk angin!” celoteh Arumi masih dengan nada bicaranya yang terdengar kesal.
“Ayolah, Arum! Aku janji hanya sebentar saja!” bujuk Moedya lagi.
Arumi terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, gadis itu kembali bicara. “Ya, sudah. Ayo bicaralah!” suruhnya dengan nada bicara yang terdengar jauh lebih tenang.
“Tidak bisakah jika kamu turun dan ....”
Arumi sudah belajar dari pengalaman pahitnya. Ia tidak ingin segala sesuatu yang telah diperjuangkannya berakhir dengan sia-sia, seperti kisahnya dengan Moedya.
“Aku mohon Moedya, tolong mengertilah! Aku akan segera menikah, dan calon suamiku tidak akan pernah menyukai hal ini! Kamu sudah mengetahui seperti apa Edgar, bukan?”
Terdengar helaan napas berat dari pria dengan jaket kulit hitam itu. Ia tidak memiliki cara lain untuk mengajak Arumi berbicara. Mau tidak mau, Moedya hanya dapat berbicara dengan gadis itu lewat telepon.
“Arum, apa kamu yakin akan pindah ke Paris setelah menikah nanti?”tanya Moedya. Ia terdegar seperti bujangan lugu yang belum berpengalaman.
Arumi tertawa pelan. Ia merasa lucu dengan pertanyaan pria itu. “Jadi, kamu duduk berjam-jam di atas motormu sejak tadi hanya untuk menanyakan hal itu? Oh ... ya ampun!” gumam Arumi dengan nada mengejek.
__ADS_1
“Apa salahnya jika aku bertanya seperti itu?” protes Moedya.
“Tidak ada. Memangnya kenapa jika aku pindah ke Perancis?” tanya Arumi.
“Apa kamu sudah memikirkan segala sesuatunya, Arum?”
Arumi kembali tertawa pelan. “Sejak kapan kamu menjadi seseorang yang perhatian?” sindir Arumi.
“Aku selalu perhatian dan peduli padamu,” balas Moedya dengan percaya diri. Namun, hal itu justru malah membuat Arumi tertawa geli. Moedya merasa semakin heran dengan sikap gadis itu. “Kenapa kamu tertawa, Arum? Apanya yang lucu?” Moedya mengernyitkan keningnya.
“Aku tertawa karena kamu memang lucu Moedya. Dengar, perhatian dan rasa pedulimu salah alamat! Seharusnya hal itu kamu berikan kepada tunanganmu yang cantik itu. Lagi pula, aku akan mengikuti Edgar meskipun ia membawaku ke Kutub Utara, karena aku akan menjadi istri yang baik untuknya,” jawab Arumi dengan entengnya.
“Sudahlah, sebaiknya sekarang kamu pulang dan hubungi Diana lalu beri dia ucapan selamat malam! Siapa tahu saat ini dia sedang termenung memikirkanmu,” ucap Arumi lagi.
“Dari mana kamu tahu hal itu?” tanya Moedya.
Arumi mengela napas dalam-dalam. Sebuah keluhan pendek terdengar dari suara halus yang cukup menggetarkan relung hati Moedya.
“Aku tahu, karena dulu aku sering melakukan hal seperti itu. Namun, aku tahu jika kamu sedang sibuk dengan segala urusanmu,” ada nada sesal dalam ucapan Arumi. Gadis itu kemudian terdiam.
Begitu juga dengan Moedya. Pria itu ikut terdiam. Ia mungkin tengah mengingat-ingat semua yang Arumi katakan.
“Maafkan aku, Arum,” ucap Moedya pelan dan penuh sesal.
“Untuk apa?” tanya Arumi.
__ADS_1
“Maaf karena aku sering mengabaikanmu. Maaf karena aku membiarkanmu sendiri selama tiga tahun dan tidak berani menemuimu. Maaf karena aku terlalu pengecut dan tidak dapat melawan rasa sakit di dalam hatiku. Aku juga minta maaf, karena hingga saat ini ... aku masih mencintaimu."