Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Mempersiapkan Diri Kembali


__ADS_3

Arumi segera masuk ke kamar dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Ia lalu duduk di tepian tempat tidurnya. Untuk sesaat dirinya termenung. Ia baru menyadari jika masih banyak kepincangan dalam kisah cintanya bersama Moedya, yang dianggapnya sangat sempurna.


Dalam hati Arumi sudah benar-benar bertekad jika ia akan mulai mencoba untuk melepaskan Moedya dan merelakannya. Ia akan menerima jika penantiannya selama ini hanya menjadi sesuatu yang sia-sia. Bagaikan sebuah ombak yang saling berkejaran, mereka hanya dapat menyentuh bibir pantai, tetapi dengan segera harus kembali ke tengah lautan.


Seperti itu pula kisah cintanya bersama Moedya. Ada banyak penantian dan harapan, namun harus tetap berpisah. Jika memang sudah seperti itu jalannya, maka tidak ada jalan lain selain menerimanya dengan lapang dada.


Ingatan gadis itu kini tertuju pada hadiah dari Edgar. Arumi kemudian beranjak dari duduknya. Ia masuk ke walk in closet miliknya, dan mengambil sebuah paper bag yang tersimpan di dalam lemari, tempat biasa ia menyimpan barang-barang selain pakaian dan sepatu.


Diambilnya paper bag berwarna putih dari dalam sana. Arumi kemudian, kembali ke ruangan utama kamarnya. Gadis itu lalu duduk di salah satu kursi yang ada di dekat jendela kamarnya. Ia pun mulai membuka paper bag itu.


Dari dalam paper bag itu, Arumi mendapati sesuatu berbentuk persegi dengan bungkusan sebuah kertas tipis berwarna abu-abu. Arumi kemudian menyobek kertas yang membungkus benda persegi itu.


Tampaklah sebuah bingkai foto yang berisikan kolase wajah dirinya. Foto-foto masa lalu, sewaktu dirinya masih tinggal di Paris.


Senyum lebar dan ceria terlihat dengan jelas menghiasi wajah cantik Arumi yang saat itu masih terbilang cukup belia. Berlatar tempat-tempat indah yang ikonik di sana, di kota Paris yang indah.


Gadis itu masih dapat mengingat dengan jelas semua tempat yang sering ia kunjungi dulu, dan tentu saja bersama si tampan Edgar. Bahkan, Edgar sendiri lah yang mengambil semua foto itu dengan kameranya. Ya, Edgar merupakan seorang fotographer yang sangat berbakat.


Arumi kemudian membalik bingkai itu. Di belakangnya terdapat sebuah catatan kecil yang sengaja ditempelkan oleh Edgar.


Arumi, aku mencintaimu untuk hari ini, esok, dan hingga nanti.


Arumi menghela napas pelan. Diletakannya bingkai foto itu di atas meja kecil berbentuk bulat, yang terletak di antara dua kursi di dekat jendela kamarnya. Gadis itu kemudian menyandarkan kepalanya. Untuk sejenak, ia termenung seorang diri. Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama karena sesaat kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Dengan malas, Arumi berjalan menuju pintu berwarna putih itu, ia lalu membukanya meskipun tidak terlalu lebar.


Wajah tampan Keanu muncul dari balik pintu. Ia tersenyum hangat kepada sang adik. "Kenapa kamu tidak turun untuk makan malam?" Keanu langsung bertanya tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Aku tidak lapar," jawab Arumi dengan malas.

__ADS_1


"Kamu sudah cukup kurus, Arum! Aku rasa kamu tidak perlu berpuasa lagi," balas Keanu.


"Aku tidak ingin kurus. Aku hanya ingin tidur," tandas Arumi dengan lesu.


Keanu tertawa pelan. "Ayo kita bicara sebentar!" Ajaknya.


Arumi terdiam untuk sejenak, setelah itu ia kemudian membuka pintu kamarnya dengan lebih lebar. Ia mempersilakan Keanu untuk masuk.


Pria bertubuh jangkung itu segera masuk. Ia memilih untuk duduk di ujung tempat tidur Arumi, sementara si pemilik kamar kembali duduk di atas kursi dekat jendela


"Jangan berulah lagi, Arum! Mendiang ayah dan ibu sudah menitipkanmu padaku. Sebagai kakak yang baik, aku harus memastikan jika tidak terjadi sesuatu yang aneh pada dirimu!" Ujar Keanu. Ia menatap lekat adik semata wayangnya yang terlihat kacau.


Arumi memutar bola matanya yang indah. Ia lalu melirik ke luar jendela kamarnya. Hujan turun dengan cukup deras dan diiringi suara gluduk yang saling bersahutan. Sesekali terlihat cahaya dari kilatan petir. Untunglah, ia sudah berada di rumah ketika hujan itu turun. Akan tetapi, entah dengan Moedya.


"Jangan sampai dia kehujanan," gumam Arumi di dalam hatinya. Ia masih saja mencemaskan pria bertato itu.


"Kakak tidak perlu berlebihan! Aku bisa menjaga diriku sendiri," ujar Arumi dengan lesu. Matanya sudah terlihat sayu.


"Untuk apa dia ke sana?" Tanya Arumi. Meskipun malas, tetapi ia masih meladeni perbincangan itu dengan sang kakak.


"Dia ingin menjadi investor di perusahaan kita. Dia benar-benar sangat piawai dalam berbisnis. Kami bicara banyak hal tadi," terang Keanu lagi.


"Lalu?"


"Bagaimana menurutmu?"


Arumi membetulkan posisi duduknya. Ia menatap sang kakak untuk sesaat. "Ya, selama itu dapat saling menguntungkan, kenapa tidak? Aku hanya berharap dia melakukan itu murni karena urusan bisnis."

__ADS_1


"Maksudmu?" Tanya Keanu dengan tidak mengerti.


"Ya ... maksudku bukan karena hal lain, apa lagi jika akulah yang menjadi alasannya. Anggap saja aku terlalu percaya diri, tetapi sejujurnya jika aku tidak ingin berurusan lagi dengan pria itu," jelas Arumi.


Keanu terdiam untuk sejenak. Beberapa saat kemudian, ia kembali berkata, "Aku rasa ... ini murni tentang bisnis. Kalaupun dia memiliki alasan lain, itu adalah urusannya," sahut Keanu dengan tenangnya.


"Ya, aku pikir Kakak pasti sudah dapat membaca ke mana arah dari pemikirannya," balas Arumi.


"Tentu saja," sahut Keanu lagi. "Oh iya, Arum. Jika kamu memang tidak berniat untuk kembali menjalin hubungan dengan Moedya, kenapa kamu tidak memulai sebuah hubungan yang baru dengan pria lain. Edgar misalnya ...."


Arumi mengeluh pelan saat mendengar ucapan sang kakak. Tersungging sebuah senyuman tipis di sudut bibirnya. Ia kembali melayangkan tatapannya ke luar jendela, pada derasnya hujan yang turun.


"I can't! Aku tidak ingin berkompromi dengan hatiku dan membujuknya agar bersedia menerima Edgar kembali di dalam hidupku," tolak Arumi dengan pelan.


"Aku tidak mengetahui semua ini akan seperti apa jadinya. Aku tidak ingin berurusan lagi dengan Edgar ataupun Moedya. Rasanya sangat melelahkan," keluh Arumi.


"Sayangnya aku berharap agar kamu segera menikah. Lihatlah Puspa! Dia sudah memiliki dua orang anak. Sementara dirimu masih sibuk mengurusi kisah cinta yang kacau balau dan entah akan berakhir seperti apa?" Keluh Keanu seraya beranjak dari duduknya. "Kita juga sudah lama tidak mengunjungi makam ayah."


Arumi tersenyum kelu. Apa yang diucapkan Keanu memang benar adanya. Entah apa yang tengah ia cari dan ia pertahankan lagi?


Bangunan kokoh itu telah hancur dan hanya menyisakan puing-puing. Pasti akan membutuhkan waktu yang sangat lama, untuk dapat kembali menjadikannya sebagai sebuah bangunan kuat yang indah seperti sebelumnya.


Bangunan itu, bisa saja dibiarkan terlantar dan hanya menjadi puing-puing tidak berguna. Akan tetapi, bukan tidak mungkin juga justru akan berubah menjadi sebuah bangunan baru yang jauh lebih indah dengan pondasi yang jauh lebih kuat sehingga tidak akan mudah untuk roboh. Keputusan ada di tangan si pemilik. Ia yang menentukan akan di bawa ke mana dan bagaimana


nasib dari bangunan itu.


Hujan turun dengan semakin deras. Seusai perbincangan dengan Keanu yang telah membuat Arumi kembali berpikir, gadis itu malah kehilangan rasa kantuknya.

__ADS_1


Usianya akan terus bertambah, dan tentu saja mengurangi waktu hidupnya di dunia ini. Haruskah ia berada dalam situasi seperti saat ini terus-menerus? Arumi bukan lagi gadis remaja yang akan terus berkutat dalam kegalauan. Ia kini telah menjadi gadis dewasa yang sudah dapat menentukan arah hidupnya.


Ditatapnya foto kedua orang tuanya yang telah pergi. Arumi seakan menemukan kembali sebuah semangat di dalam hatinya. Ya, ia adalah Ryanthi dalam wujud yang lain. Itu memang benar, dan ia harua membuktikan jika dirinya memang layak menjadi putri dari seorang Ryanthi.


__ADS_2