
Hari masih siang ketika Moedya menutup bengkelnya. Ia sudah mandi. Rambut pendeknya tersisir rapi. Ia masih setia dengan jaket kulit dan tentu saja celana jeans sobek-sobeknya. Dengan langkah tegap, pria berpostur 178 cm itu menuju motor retro-nya dan mulai menyalakan motor itu.
Siang itu, Moedya sudah ada janji untuk bertemu dengan tunangannya, di sebuah coffee shop langganan mereka.
Setelah menempuh beberapa saat lamanya di perjalanan, Moedya akhirnya tiba di tempat tujuannya. Ia langsung saja menuju meja di mana telah menunggunya seorang gadis cantik berambut pendek, yang langsung tersenyum ketika melihat kedatangannya.
“Apa kabar, Moe,” sapa Diana. Moe adalah panggilan sayangnya untuk sang kekasih yang telah menjadi tunangannya. Akan tetapi, entah kapan mereka akan merencanakan pernikahan.
“Sudah lama, Di?” Moedya membalas sapaan Diana. Gadis dengan mini dress berwarna biru elektrik itu tersenyum. Ia merasa bahagia karena sikap Moedya mulai berangsur-angsur ‘ramah’ terhadap dirinya. Sepertinya pria itu sudah mulai dapat menerima hubungan mereka dengan normal.
“Orang tuaku akan pulang dari Amerika bulan depan. Aku ingin kamu mengajak ibu Ranum ke rumahku dan kita membahas kelanjutan dari hubungan kita. Bagaimana menurutmu?”
Moedya tersenyum kalem. Ia mengangguk setuju. “Terserah kamu,” jawabnya.
Diana menatap pria di hadapannya. Ia yakin jika Moedya pasti sudah mengetahui tentang kabar pernikahan Arumi dan Edgar, karena itu Moedya langsung setuju ketika Diana mengajaknya untuk membahas kelanjutan dari hubungan mereka.
Biasanya, Moedya selalu menghindar setiap kali Diana membahas masalah itu. Moedya selalu berkata jika ia belum siap untuk menghadapi sebuah pernikahan.
“Jadi, kamu sudah menerima kartu undangan dari Arumi?” tanya Diana seraya mengaduk minuman yang sudah dipesannya. Tidak lupa ia juga memesankan kopi untuk Moedya.
“Ya,” jawab Moedya dengan singkat. Pria itu seakan enggan utuk membahas masalah pernikahan mantan kekasihnya yang ternyata telah berhasil melupakannya. Gadis itu bahkan menikah lebih dulu dari dirinya.
Diana tersenyum kelu. Ada kegetiran di dalam hatinya. Bagaimanapun juga, Arumi adalah sahabatnya. Terkadang ia merasakan sebuah penyesalan yang cukup dalam atas semua yang telah ia lakukan terhadap gadis itu.
Semua telah terjadi. Sebesar apapun sebuah penyesalan, maka itu akan hanya menjadi sebuah beban batin yang terasa menyiksa. Tidak akan ada yang dapat mengembalikan segala sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Tidak dengan ratapan atau bahkan tangisan darah sekalipun. Sebuah permohonan maaf pun bahkan terkadang tidak cukup untuk menghapuskan sebuah kekhilafan yang telah dilakukan.
__ADS_1
“Apa kamu akan hadir di acara pernikahan Arumi dan Edgar?” tanya Diana.
Moedya meneguk kopinya. Ia merasa bimbang. Lagu pula, kartu undangan itu ditujukan untuk Ranum bukanlah untuk dirinya. Itu artinya, Arumi tidak berniat untuk mengundangnya dalam acara pernikahan itu.
“Aku tidak diundang, Di. Kartu undangan itu untuk ibuku,,” ucap Moedya pelan. Ia mungkin sedikit kecewa, tapi Moedya juga merasa bersyukur karena ia tidak harus menyaksikan gadis yang pernah ia cintai bersanding dengan pria lain, terlebih pria itu adalah Edgar Hillaire.
Entah apa yang menyebabkan Moedya begitu membenci pria itu, begitupun sebaliknya. Edgar juga tampaknya benar-benar tidak suka terhadap Moedya. Entah ada apa dengan kedua pria yang mengaku sudah sama-sama dewasa itu.
“Tidak mungkin Arumi tidak mengundangmu,” Diana merasa sangsi atas ucapan Moedya.
Sedangkan Moedya hanya mengangkat bahunya. Ia pun kembali meneguk kopinya.
“Kalau begitu temani aku ke sana!” pinta Diana. Ia sepertinya sengaja melakukan hal itu.
“Apa maksudmu?” Moedya tampak mengernyitkan keningnya. Ia menatap tunangannya dengan penuh selidik.
“Arum memberikan undangan padaku. Jika memang kamu tidak mendapatkan undangan, maka kamu bisa datang ke sana bersamaku,” ujar Diana dengan tenangnya. Gadis itu terlihat sangat puas ketika melihat ekspresi tidak nyaman yang ditunjukan oleh Moedya saat itu.
“Apa maksudmu, Di? Aku tidak mau datang ke sana karena Arum tidak mengundangku. Bisa saja karena ia tidak ingin aku menghadiri acara pernikahannya,” kilah Moedya. Padahal ia sendiri yang tidak ingin menghadiri acara pernikahan itu.
“Kamu adalah tunanganku. Aku rasa sah-sah saja jika aku mengajakmu bersamaku. Lagi pula, dari pada aku ke sana sendirian,” bujuk Diana.
Moedya mengela napas panjang. Ia menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan dari Diana. Hal itu telah membuat Diana menjadi semakin gencar untuk memaksa Moedya agar bersedia ikut dengannya.
“Kenapa, Moe? Jangan katakan jika kamu memang tidak berniat untuk datang pesta pernikahan Arumi!” tukas Diana dengan penuh curiga.
__ADS_1
Moedya tertawa pelan. Ia kembali menggelengkan kepalanya. “Calon suaminya tidak akan suka jika melihat aku ada di pesta pernikahannya. Pria itu sangat membenciku,” kilah Moedya. Ia mencari alasan lagi.
“Bukannya kamu yang sangat membencinya?”
“Ya ... kami saling membenci,” pungkas Moedya. Ia kembali meneguk kopinya. “Aku tidak mengerti kenapa kita harus membahas masalah ini. Aku pikir masih ada hal lain yang jauh lebih penting dari pada membahas pernikahan Arumi! Aku tidak menyukainya, Di. Itu bukan berita bagus untukku!” ucapnya lagi dengan cukup berapi-api.
Akan tetapi, beberapa saat kemudian Moedya seketika terdiam. Ingin rasanya ia menarik kata-kata yang terakhir ia ucapkan tadi. Namun, apa yang sudah terlanjur keluar dari mulutnya, tidak mungkin untuk ia tarik lagi. Moedya pun hanya menggaruk-garuk kepalanya. Terlebih ketika ia melihat cara Diana dalam menatapnya.
Gadis itu terlihat kecewa dengannya, tapi tidak ia ungkapkan. Diana lebih memilih mengaduk-aduk minumannya dengan kesal.
“Bisakah kita mengganti topik pembicaraan?” tanya Moedya dengan nada bicara yang jauh lebih tenang. Sementara Diana tidak menyahut. Gadis itu terlihat merajuk.
Harus Diana akui, jika bayangan Arumi masih saja selalu menjadi ancaman yang sangat menakutkan bagi hubungannya dengan Moedya. Terlebih ia mengetahui karakter Moedya yang mudah terpengaruh. Terkadang Diana tidak mengerti karena ia harus begitu tertarik pada seorang Moedya. Namun, gadis itu masih tetap mancari sisi baik Moedya dan pembenaran atas diri sang kekasih.
“Berhubung Arumi juga sudah akan menikah, itu artinya kesempatanmu untuk kembali padanya sudah tertutup, Moe. Jadi, apakah kita juga akan mulai mengikutinya? Aku mulai lelah menunggumu, dan kamu masih terlihat tenang saja! Sepertinya kamu memang tidak berniat untuk melanjutkan hubungan ini meskipun kita sudah lama bertunangan!” tuding Diana.
“Ayolah, Di! Kenapa kamu tiba-tiba harus terpengaruh dengan pernikahan Arumi? Kamu tahu jika aku belum siap untuk sebuah pernikahan!” tegas Moedya. Ia semakin tidak nyaman dengan perbincangan itu, terlebih tiba-tiba ponsel yang ia letakan di atas meja kemudian bergetar.
Moedya segera memeriksanya. Sebuah pesan masuk dari Keanu. Entah ada janji apa antara mereka berdua, yang pasti saat itu Moedya tampak bersiap untuk pergi.
“Mau ke mana?” tanya Diana yang terlihat semakin kecewa dengan tunangannya. Seperti biasanya, perbincangan di antara mereka selalu berakhir dengan begitu saja. Moedya selalu lebih memilih untuk mengedepankan urusan pribadinya. Jika bukan bengkel, ya club motor.
“Aku masih ada sedikit urusan dengan Keanu. Kita lanjutkan saja nanti, ya!” ujar pria itu seraya merapikan jaketnya. Ia lalu beranjak dari duduknya.
“Kamu yakin akan meninggalkanku di sini?” protes Diana dengan kesal.
__ADS_1
Moedya menatap gadis itu untuk sejenak. “Ayolah, Di. Ini urusan laki-laki, dan kamu tidak akan menyukainya,” jawab Moedya. Hidupnya selalu dipenuhi dengan alasan-alasan yang membingungkan kaum wanita. “Kapan-kapan kita bisa melanjutkan pembahasan ini lagi, okay!” ucap pria itu lagi dengan entengnya. Setelah melayangkan sebuah senyuman untuk Diana, Moedya kemudian berlalu begitu saja dari hadapan gadis itu.
Termenung sendiri menatap kepergian Moedya, itu adalah hal yang sudah biasa bagi Diana. Gadis itu tidak pernah mengetahui, jika dulu Arumi pun sama dengan dirinya. Ia harus berjuang untuk dapat bertahan dan bersaing dengan segala urusan Moedya, yang berhubungan dengan club motor ataupun hal lainnya. Karena itulah, bahkan Moedya hampir tidak memiliki foto Arumi sama sekali. Pria itu terlalu asyik dengan dunianya sendiri.