
Hari terus berganti. Minggu dan bulan pun berlalu. Arumi menjalani kehamilannya dengan penuh suka cita. Edgar selalu menjaganya dengan sangat baik. Ia begitu perhatian, bahkan untuk hal terkecil sekalipun. Edgar tak pernah absen untuk menemani Arumi, melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan yang menjadi langganan mereka
Edgar juga selalu menemani Arumi berjalan-jalan di taman. Mereka menikmati cahaya mentari di musim semi, yang akan segera berganti ke musim panas.
Kebetulan, Arumi tidak mengalami kendala yang terlalu berarti dalam menjalani masa-masa kehamilannya. Namun, meskipun begitu mereka tetap harus mengurungkan rencana bulan madu yang akan dilakukan pada musim panas ini.
Satu hal yang juga terasa aneh, yaitu selama Arumi menjalani kehamilannya, Edgar justru menjadi bersikap sangat manja terhadap sang istri. Tak jarang, ia seringkali meminta untuk tidur di pangkuan Arumi. Pria itu bersikap seperti seperti seorang kakak, yang merasa iri karena akan memiliki seorang adik.
Akan tetapi, untungnya hal itu tidak menjadi masalah yang terlalu berarti bagi Arumi. Ia masih merasa nyaman dengan perubahan sikap yang ditujukan oleh suaminya.
Malam itu, Arumi sudah bersiap untuk tidur ketika Edgar masuk dengan membawakannya segelas susu hangat. Edgar menyodorkan susu itu kepada Arumi. “Habiskan! Jika kamu tidak menghabiskannya, maka aku yang akan memaksamu,” ucap Edgar yang terus mengawasi Arumi agar menghabiskan susunya.
“Aku sudah merasa bosan dengan si putih ini,” keluh Arumi seraya meneguk susu yang Edgar buatkan untuknya. Sedangkan Edgar hanya tergelak. Ia memeluk Arumi dari belakang dan menciumi pundak sang istri dengan mesranya.
“Aku suka dengan bentuk perutmu,” bisik Edgar seraya mengelus perut Arumi dengan lembut.
“Kamu ingat apa yang dikatakan dokter?” tanya Arumi seraya melirik sang suami yang saat itu meletakan dagunya dengan nyaman di pundaknya.
__ADS_1
“Ya, tentu. Aku harus A, harus B, harus C, dan tidak boleh D, E, F, G ....” Edgar tertawa geli seraya mencium pipi Arumi. Wanita yang kini tengah mengandung sekitar tujuh bulan. Perkiraan dari dokter, Arumi akan melahirkan pada musim gugur yang akan segera tiba.
Arumi sudah menghabiskan susunya. Edgar lalu membantunya naik ke tempat tidur. Akan tetapi, Arumi memilih untuk duduk sebentar sambil bersandar pada kepala tempat tidurnya.
Edgar mengikutinya naik ke tempat tidur. Dengan posisi menelungkup, ia membenamkan wajahnya di pangkuan Arumi dengan tangan yang melingkar pada pinggul sang istri. Edgar terlihat begitu manja. Terlebih saat itu Arumi mengelus rambutnya dengan lembut dan penuh perasaan.
Senyuman manis tak juga lepas dari bibir Arumi. Ia membiarkan Edgar yang terus menciumi perutnya dan sesekali berbicara pada si penghuni perut tersebut. Arumi tidak menyangka jika Edgar yang dulu tidak menyukai sebuah komitmen, kini dapat berubah menjadi begitu perhatian dan layak disebut sebagai suami siaga.
“Tidak lama lagi, ia akan hadir di antara kita. Aku harap kamu tidak cemburu jika nanti aku lebih perhatian kepada bayi kita,” ucap Arumi seraya terus mengelus lembut rambut sang suami. Edgar tidak menjawab. Pria itu hanya menggumam pelan.
“Aku harap kamu juga tidak merasa tersaingi jika nanti bayi kita jauh lebih cantik darimu. Dia pasi akan menjadi rebutan, sama sepertimu,” balas Edgar. Ia masih membenamkan wajahnya di pangkuan Arumi.
“Lihatlah, dia sangat aktif!” ucap Arumi dengan perasaan takjub.
“Aku rasa dia mengerti dengan perbincangan kita, Sayang,” timpal Edgar. Senyum lebar terlihat menghiasi wajah tampannya. Ia kembali mencium dan mengelus lembut perut Arumi. “Aku tidak akan pernah bosan untuk terus melakukan hal seperti ini,” gumamnya lagi.
Kebahagiaan itu terasa begitu nyata bagi keduanya, setelah mereka melewati perjalanan panjang yang penuh liku dan tantangan. Arumi pernah sangat menyesali dirinya yang terlepas dari cinta seorang Moedya. Namun, kini ia merasa bersyukur karena justru hal itu telah membuatnya masuk dan terikat dalam lingkaran indah, dari sederet kisah romantis dan manis yang penuh petualangan antara dirinya dan Edgar.
__ADS_1
Arumi tak harus menyesalkan lagi atas semua hal yang telah terjadi dalam hidupnya.
Musim panas di kota Paris telah berakhir dan digantikan dengan musim gugur. Waktu berlalu dengan begitu cepat dan tanpa sempat disadari. Musim gugur terakhir adalah ketika Arumi menerima pinangan dari Edgar, dan musim gugur kali ini ia dan Edgar tengah menunggu kehadiran dari buah cinta mereka berdua. Semuanya terjadi seperti mimpi.
Segala sesuatunya memang berada di luar dari perkiraan Arumi. Seperti dedaunan yang terlepas dari tangkainya, ia tidak dapat menolak angin untuk membawanya terbang. Daun itu hanya dapat mengikuti ke mana angin membawanya dan menjatuhkan dirinya.
Ini adalah musim gugur yang tak kalah indah. Pada musim gugur kali ini, Edgar kerap menemani Arumi berjalan-jalan di taman dengan hamparan dedaunan berwarna jingga kemerahan yang sangat indah. Udara memang terasa cukup dingin. Edgar kemudian mengajak Arumi untuk duduk di salah satu bangku taman tersebut.
Edgar merentangkan tangan kananya lurus di belakang pundak Arumi, sementara Arumi duduk manis seraya meletakan kepalanya di pundak sang suami. Edgar kemudian meraih jemari Arumi dengan tangan kirinya. Dicumnya jemari lentik sang istri dengan lembut dan penuh cinta. Arumi tersenyum seraya mendongakan wajahnya, membuat Edgar seketika mengalihkan ciumannya.
Suami istri itupun berciuman di antara dedaunan yang terjatuh ke dekat mereka. Suasana terasa begitu syahdu saat itu. Arumi berkali-kali menyunggingkan senyuman lembutnya.
“Kak Keanu akan datang tidak lama lagi. Kami sudah berjanji untuk bertemu di Marseille. Setelah aku melahirkan, aku harap kamu bersedia menemaniku ke sana,” ucap Arumi yang masih bergelayut manja di dalam dekapan hangat Edgar.
Edgar mengangguk pelan. “Tentu,” jawabnya. “Lagi pula, kita belum mengunjungi makam orang tuamu semenjak menikah. Kita juga belum berkunjung ke rumah paman dan bibimu. Lihatlah, ternyata kamu tidak sendirian di negara ini, Sayang. Kenyataannya orang tuamu ada di sini juga,” ucap Edgar membuat hati Arumi menjadi sangat terharu.
“Ya. Aku rasa itulah kenapa Tuhan menakdirkanku untuk menikah denganmu. Kamu membawaku tiggal di sini, meskipun makam kedua orang tuaku berada di kota yang berbeda. Namun, aku merasa jauh lebih dekat dan dapat mengunjungi mereka kapanpun aku mau, tentunya atas izinmu, Sayang.” Ujar Arumi dengan perasaan yang bercampur aduk saat itu.
__ADS_1
Edgar kembali meraih jemari Arumi dan menggenggamnya. “Tentu saja. Aku juga senang karena akhirnya kamu bersedia menerima usulanku,” ucap Edgar seraya melirik pria berpostur tinggi besar dengan mantel hitam, yang berdiri agak jauh dari mereka berdua. Dialah Henry, pria yang duduk bersama Arumi di pesawat, dalam perjalanannya dulu menuju ke Marseille waktu itu.
“Aku mendapat kabar dari inspektur Abellard. Ia mengatakan jika Ben akan segera mendapatkan kebebasannya,” ucap Edgar dengan ekspresi dan nada bicaranya yang datar.