Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Everything Has Changed


__ADS_3

Edgar memarkirkan mobil sedan hitamnya yang mengkilap di depan toko kue. Pandangannya lurus tertuju pada seseorang yang tengah berdiri di depan toko itu. Seseorang yang juga menjadi pusat perhatian Arumi.


Dengan segera, Arumi melepas sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil milik Edgar. Ia tidak menunggu pria tampan itu membukakan pintu untuk dirinya. Arumi segera menghampiri seseorang yang tiada lain adalah Moedya.


Pria berambut gondrong itu terlihat tidak nyaman melihat kebersmaan antara Arumi dan Edgar, yang saat itu mengikuti Arumi dari mobilnya dan melangkah ke arah mereka berdua.


"Ponselmu tertinggal di bengkelku," ucap Moedya seraya menyodorkan ponsel milik Arumi.


Dengan segera, Arumi menerima ponsel yang disodorkan oleh Moedya kepadanya. Wajahnya terlihat tegang. Bola matanya bergerak dengan tidak beraturan. Ia kembali merasa resah.


"Terima kasih. Aku tidak tahu kenapa ponselku bisa tertinggal di sana ...." ujar Arumi dengan setengah menggumam.


Moedya hanya menatap gadis dengan sanggul asal-asalan itu untuk sesaat. Ia tidak banyak bicara. Moodnya seketika hilang setelah ia melihat keberadaan Edgar di sana.


Setelah itu, Moedya kemudian mengalihkan tatapannya kepada pria rupawan yang kini berdiri di sebelah Arumi. Pria yang juga tengah menatapnya dengan tajam.


Ini adalah situasi yang tidak menyenangkan. Arumi terlihat tidak nyaman saat itu. Lain halnya dengan Edgar yang masih terlihat tenang.


Moedya pun demikian. Pria dengan jaket kulit berwarna hitam itu masih memasang ekspresi datarnya. "Aku permisi dulu," ucap Moedya. Suaranya telah memecah keheningan di antara mereka bertiga.


"Ya ... pergilah! Hanya itu yang dapat kamu lakukan," sindir Edgar dengan seenaknya.


Mendengar sindiran dari pria bermata abu-abu itu, Moedya kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Edgar. Pria yang saat itu masih terlihat tanpa beban sama sekali.

__ADS_1


Moedya berdiri tepat di hadapan Edgar. Tatap mata kedua pria itu saling beradu. Ada dendam lama yang belum terbalaskan. Ada kemarahan yang besar dalam diri Moedya yang belum ia lampiaskan dengan sepenuhnya.


Sementara Arumi hanya mematung dan memperhatikan kedua pria itu. Ia terlalu malas untuk menjadi penengah di antara kedua pria itu. Adalah sesuatu yang sangat memalukan, jika sampai mereka bersikap di luar kendali. Apakah cerita lama akan terulang kembali? Tentu saja Arumi tidak berharap hal itu terjadi.


Moedya dan Edgar masih beradu tatapan dengan tajam. Meskipun tanpa kata-kata makian, namun sorot mata Moedya menunjukan sebuah amarah yang sangat besar. Tangan pria bertato itu sudah terkepal dengan sempurna meskipun masih ia letakan di bawah, di samping tubuh tegapnya.


Sementara Edgar hanya menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya yang terlihat manis. Ia seakan tidak terpengaruh oleh gertakan dari Moedya. Edgar belum tahu bagaimana Moedya, jika ia sudah tidak dapat menahan emosinya.


Arumi sangat mengetahui hal itu. Ia juga tidak ingin mengotori halaman tokonya yang bersih dan asri, karena itu ia tidak boleh hanya berdiam diri.


Arumi kemudian mendekati kedua pria itu. Ia lalu berdiri di sebelah mereka berdua. Meskipun malas, namun ia harus menyudahi perang urat syaraf di antara Moedya dan Edgar.


"Aku rasa sudah cukup saling melepas rindunya!" Ujar Arumi dengan tenangnya. "Sebaiknya kalian kembali ke kendaraan masing-masing dan tinggalkan tempat ini! Lagi pula tokoku sudah tutup," lanjut Arumi lagi.


Moedya dan Edgar serempak menoleh kepada gadis dengan kaos press body berwarna putih itu untuk sesaat. Setelah itu mereka kembali saling beradu tatapan tajam dan sinis.


"Arumi menyuruh kita pergi ... karena ia tahu jika aku bisa menghabisimu hanya dengan satu kali pukulan. Itu artinya ... ia tahu jika kamu tidak akan sanggup menghadapiku!" Balas Moedya dengan lebih percaya diri. Tersungging senyuman sinis di wajah maskulinnya.


Mendengar hal itu, Edgar langsung tertawa pelan. "Ya ... tentu saja. Tiga tahun di dalam penjara adalah jawaban betapa hebatnya dirimu, Kawan!" Sindir Edgar seraya menepuk lengan Moedya. Sebuah ejekan yang sangat keterlaluan dari Edgar.


Moedya sudah bersiap untuk melayangkan pukulannya kepada pria Perancis itu. Akan tetapi, dengan segera Arumi mencegahnya. Ia menahan tangan pria itu hingga tidak jadi terangkat. Arumi kemudian mengalihkan pandangannya kepada Edgar.


"Pergilah, Ed! Kamu adalah tamu di sini, jadi jangan membuat keributan sedikitpun!" Suruh Arumi. Ia mencoba untuk bertindak dengan bijaksana dengan mengingatkan posisi Edgar.

__ADS_1


Edgar balas menatap Arumi. Senyum manis masih terus menghiasi paras rupawannya. Tatapannya jauh lebih lembut ketika ia menatap Arumi, sangat berbeda dengan tatapan yang ia layangkan kepada Moedya.


"Okay, aku akan pulang sekarang. Lagi pula aku yakin jika kamu pasti sangat lelah setelah tadi kita menghabiskan waktu bersama," celoteh Edgar. Dengan sengaja ia mengatakan hal itu di depan Moedya.


Edgar berharap agar Moedya terpengaruh. Akan tetapi, Moedya masih dapat menyembunyikan apa yang ia rasakan saat itu. Moedya bersikap tidak peduli pada apa yang diucapkan Edgar. Ia juga hanya terdiam ketika melihat Edgar mendekati Arumi dan berbicara dengan penuh kelembutan kepada gadis itu.


"Jangan lupa, besok temani aku menengok anak kedua Keanu!" Pesan Edgar dengan setengah berbisik. Arumi hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan pelan.


Setelah berpamitan dengan Arumi, Edgar menyempatkan diri untuk menoleh kepada Moedya. Menyunggingkan senyum sinisnya, pria itu memilih untuk segera masuk ke mobilnya.


Edgar kemudian melambaikan tangannya kepada Arumi. Tidak berselang lama, mobil sedan yang ia kendarai pun pergi meninggalkan halaman toko itu dengan anggunnya.


Kini, tinggalah Arumi dan Moedya. Pria itu masih terdiam. Dalam hatinya ada rasa penasaran yang besar. Ingin rasanya ia bertanya kepada mantan kekasihnya yang pernah sangat ia cintai. Akan tetapi, entah kenapa karena semuanya terasa begitu berat. Bibirnya terasa begitu sulit untuk ia gerakan. Lidahnya teramat kelu dan suaranya seakan tertahan di tenggorokannya. Moedya tidak dapat mengatakan apapun selain kata "selamat malam".


Lagi-lagi ia bersikap seperti seorang pengecut yang memilih untuk bersembunyi dan melarikan diri. Apa yang sebenarnya tengah Moedya pikirkan?


Dengan segera, Moedya melangkahkan kakinya menuju tempat ia memarkirkan motornya. Sikap tidak peduli yang ditunjukannya saat itu, telah mayakinkan Arumi jika pria itu sudah sepenuhnya melupakan kisah indah dan manis di antara mereka berdua.


Ya, tentu saja. Moedya kini telah mendapatkan pengganti Arumi, yaitu Diana. Arumi harus belajar untuk menerima hal itu. Lalu bagaimana antara dirinya dan Edgar?


Apakah Arumi membutuhkan sebuah pelarian dari rasa kecewanya? Jika dulu ia pernah menantikan kepulangan Moedya, maka hal itu ia lakukan dengan penuh harapan yang besar. Lalu, apa yang mendasari penantiannya selama tiga tahun setelah itu? Apalah harapan itu masih ada?


Ditatapnya Moedya yang tengah menstarter motornya. Pria itu tidak menunjukan rasa apapun lagi kepada dirinya. Haruskah Arumi merasa kecewa? Tentu saja tidak. Ia seharusnya sudah menyadarinya sejak awal.

__ADS_1


Semua hal telah berubah. Begitu juga dengan hubungan asmaranya dan Moedya yang telah lama berakhir. Bukan salah Moedya, jika ia mencari pengganti dirinya.


Perlahan motor yang dikendarai Moedya mulai bergerak meninggalkan halaman toko itu. Sementara Arumi masih berdiri mematung di tempatnya. Ia menatap pria yang pergi begitu saja tanpa menoleh kepadanya sama sekali. Harapannya untuk mendapatkan sebuah sapaan hangat, ternyata tidak terlaksana sama sekali.


__ADS_2