Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Pertemuan di Kota Marseille ( Salam Perpisahan untuk Adrian dan Ryanthi )


__ADS_3

Setiap hari, setiap saat, tak ada bosannya pasangan orang tua baru itu terus memandangi wajah bayi kecil mereka. Sungguh jika itu adalah hal yang paing luar biasa dalam kehidupan Edgar dan juga Arumi.


Kamar yang telah disiapkan oleh Edgar untuk bayi mereka pun dibiarkan kosong, karena Arumi ingin agar Elle tidur di kamar mereka.


Edgar tidak dapat menolak hal itu, meskipun hampir setiap malam jam tidurnya menjadi terganggu oleh tangisan bayi yang merasa lapar. Namun, itu tidak menjadi suatu masalah yang berarti baginya. Edgar tak jarang menemani Arumi hingga ibu muda itu selesai menyusui bayinya. Hal seperti itu terus berlangsung, hingga kini usia Elle sudah genap satu bulan.


Siang itu, Arumi mendapat telepon dari Keanu. Pria itu mengabarkan bahwa ia dan keluarganya telah tiba di Marseille. Dengan senang hati, Arumi menyambut kabar gembira itu. Lama ia tidak bertemu dengan kakak, dan tentu saja kedua keponakan kecilnya, Dinan dan Jenna.


“Kami sudah memersiapkan semuanya, kak. Aku dan Edgar akan berangkat besok. Semoga tidak ada kendala apa-apa,” ujar Arumi dalam pembicaraannya di telepon bersama Keanu.


“Baiklah. Nanti kita bertemu di sini,” sahut Keanu dari seberang sana. “Aku sudah tidak sabar untuk menggendong keponakan baruku,” lanjut pria itu.


Arumi tertawa pelan. “Ya, kak. Aku juga sangat merindukan Dinan dan Jenna. Mereka pasti sudah besar sekarang,” balas Arumi.


Ketika itu, Elle terbangun dari tidurnya. Bayi itu menangis meskipun tidak terlalu nyaring. Arumi segera berpamitan kepada sang kakak. Ia menyudahi perbincangan mereka dan menutup sambungan teleponnya.


Diraihnya tubuh mungil Elle dari dalam tempat tidurnya yang cantik. Bayi kecil itu bergerak dan menggeliat pelan. Meskipun matanya terpejam, tetapi kepalanya terus bergerak mencari sumber makanannya. Dengan segera, Arumi menyusui bayi kecilnya.


Beberapa saat kemudian, Ed masuk ke kamar itu, ketika Arumi baru menidurkan Elle kembali ke tempatnya. Pria itu berdiri di sebelah Arumi. Senyumnya terkembang sempurna seraya memerhatikan Elle yang kini kembali tertidur pulas.


“Kakak-ku baru saja menelepon. Ia mengabarkan jika mereka telah tiba di Marseille. Aku bilang kita akan berangkat besok,” ucap Arumi.


“Semuanya sudah disiapkan?” tanya Edgar. Ia lalu meraih pinggang sang istri ke dalam dekapannya. Arumi mengangguk dengan yakin. Sungguh luar biasa, ia menyiapkan segala sesuatunya sendirian, karena Edgar akhir-akhir ini disibukan dengan urusan pekerjaannya. Edgar bahkan baru kembali dari luar kota, setelah ia pergi selama satu minggu. Tentu saja, mereka saling merindukan.


Tanpa harus permisi atau meminta izin, Edgar mencium mesra sang istri. “Aku sangat merindukanmu,” ucapnya dengan setengah berbisik. Sementara Arumi hanya tersenyum.


“Bagaimana dengan urusanmu, Sayang?” tanya Arumi seraya melepas jas yang dikenakan Edgar.


Pria itu tersenyum kalem. “Sudah selesai, Sayang. Aku merasa lega karena semuanya berjalan dengan lancar. Namun, aku selalu saja ingat dirimu,” Edgar meremas lembut rambut panjang Arumi. Wanita itu hanya terdiam, terlebih ketika Edgar kembali menciumnya.


“Aku ingin mandi, Sayang,” ucap Edgar lagi dengan setengah berbisik. Arumi tersipu malu. Ia menundukan wajahnya seraya mengulum senyumannya.


“Akan kusiapkan,” ucap Arumi pelan. Ia bermaksud untuk beranjak ke dalam kamar mandi, tetapi dengan segera Edgar menahannya. Pria itu memegangi tangan Arumi dan kembali menarik tubuh ramping sang istri ke dalam pelukannya.


“Bantu aku melepas kemeja,” pinta Edgar dengan suara beratnya. Helaan napas memburu mulai menghangat di wajah cantik Arumi.

__ADS_1


Tanpa harus diminta dua kali, Arumi membuka kancing kemeja yang Edgar kenakan saat itu satu persatu.


Perlahan, Arumi melepas kemeja itu hingga tampaklah tubuh atletis sang suami dengan tato di dadanya. Arumi akan selalu menyukai tato itu sampai kapanpun. Dirabanya dengan lembut tato itu kemudian dikecupnya.


Tanpa berlama-lama, Edgar segera mengangkat tubuh Arumi ke dalam dekapannya. Ia lalu membawa sang istri ke dalam kamar mandi. Setelah itu, Edgar kemudian menurunkan tubuh Arumi tepat di sebelah bathub.


Dengan begitu cekatan, Edgar mulai melucuti satu persatu pakaian yang melekat di tubuh semampai sang istri. Tubuh yang tidak ia sentuh selama satu minggu penuh.


Sementara itu, dengan cekatan Arumi melepas pengait celana panjang yang masih melekat di tubuh Edgar lalu menurunkannya. Harus ia akui, jika dirinya pun sangat merindukan sang suami. Karena itu, ia tidak menolak ketika Edgar membawanya untuk berendam di dalam bathub.


Edgar menyandarkan tubuhnya seraya merentangkan tangan kanannya dengan lurus di pinggiran bathub, sementara tangan kirinya merengkuh pundak sang istri dengan mesra.


Arumi pun bergelayut manja di dalam dekapan sang suami. Ia terlihat begitu nyaman tatkala merasakan sentuhan-sentuhan kecil yang diberikan Edgar pada permukaan kulitnya yang halus.


Arumi tertawa pelan ketika sentuhan itu dirasa semakin nakal dan berhenti pada area-area tertentu. Ibu muda itu mendongakan wajahnya, yang kemudian disambut dengan sebuah ciuman hangat yang makin lama berubah menjadi panas.


Cekatan, Edgar memindahkan tubuh polos Arumi ke atas tubuhnya, sehingga wanita itu kini duduk di atas pangkuannya. Ia lalu menarik Arumi, sehingga tubuh mereka kembali merekat bagaikan telapak tangan seorang pertapa.


“Puaskan aku, Sayang!” bisik Edgar dengan nakal.


......................


Berangkat dengan penerbangan pagi, ini pertama kalinya Arumi dan Edgar membawa Elle bepergian jauh. Bayi mungil itu tertidur lelap dalam gendongan hangat sang ayah. Ia hanya terbangun sesekali. Hal itu sangat membantu Arumi dan Edgar yang belum berpengalaman mengurus seorang bayi, terlebih membawanya bepergian dengan pesawat.


Tidak membutuhkan waktu yang terlalu lama untuk bisa sampai ke Marseille, dalam sekejap saja mereka telah tiba di kota pelabuhan itu.


Arumi tersenyum haru. Ia tidak menyangka dapat kembali ke kota itu dengan status baru dan membawa bayi kecil dari hasil pernikahannya bersama Edgar.


Sambutan hangat, Arumi dan Edgar terima dari seluruh penghuni rumah. Puspa begitu antusias melihat keponakan kecilnya yang cantik, yang tetap tertidur pulas meskipun suasana di rumah itu begitu ramai.


Brigitte dan Chantal berebut  siapa yang lebih dulu menggendong Elle, yang tengah berada dalam gendongan Puspa. Ibu dua anak itu terlihat bingung karena tidak mengerti dengan kata-kata yang mereka ucapkan.


Sementara Dinan bermanja-manja dengan Arumi. Ia seperti ingin melepas rindu, karena telah sekian lama tidak bertemu dengan tante kesayangannya itu.


Ketiga pria di rumah itu asyik berbincang ke sana kemari. Bisnis dan berita perpolitikan di Perancis, menjadi topik perbincangan mereka bertiga.

__ADS_1


Keesokan harinya.


Marseille, kota pelabuhan di mana seorang Adrian dilahirkan. Pria yang menjadi cerita dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi siapapun yang mengetahui kisahnya bersama sang istri, Ryanthi.


Kini, keduanya telah tenang. Terlelap bersama, dalam pelukan Yang Maha Kuasa. Namun, semua kisah indah mereka berdua akan selalu menjadi sebuah cerita yang tidak terlupakan.


Keanu meletakan bucket bunga yang ia bawa di atas pusara kedua orang tuanya. Perjalanan hidup mereka, penuh dengan nilai yang layak untuk selalu dijadikan acuan bagi pria beranak dua itu.


Begitu juga untuk sang adik, yang kini telah menemukan kebahagiaannya setelah selama ini berkutat dalam kebimbangan dan kesendirian.


Berdiri tegak dan berderet ke samping, Arumi dan Keanu menatap lekat pusara kedua orang tuanya. Di samping mereka, berdiri pasangan masing, dan melakukan hal yang sama.


Kerinduan itu, takan pernah ada habisnya. Cerita indah akan kebersamaan mereka bersama kedua orang tuanya, akan selalu terkenang sampai kapanpun.


Semua petuah dan untaian kata-kata yang penuh makna dari kedua orang tua mereka, akan selalu menjadi patokan bagi Arumi dan Keanu dalam menjalani dan mengambil keputusan untuk kehidupan mereka ke depannya.


"Ayah, ibu ...." Keanu mulai berbicara dengan gaya bicaranya yang begitu tenang.


"Kami datang mengunjungimu. Tidak hanya aku dan Arumi, tapi kami kemari membawa kisah cinta kami berdua. Lihatlah, menantu ayah dan ibu ada di sini! Cucu-cucu kalian pun ada di sini. Mereka mungkin tidak mengenal kalian secara langsung, tapi aku ataupun Arumi, kami berjanji akan selalu mengabadikan kisah indah kalian berdua. Kami akan menyampaikan cerita hidup yang penuh perjuangan dari ayah dan ibu kepada mereka. Seberapa gigihnya seorang Adrian, dan seberapa kuatnya seorang Ryanthi. Cerita kalian berdua akan selalu menjadi kisah yang paling indah, dari kisah yang pernah ada," Keanu terdiam untuk sesaat.


"Aku dan juga Arumi, kami akan berusaha untuk selalu mengikuti jejak ayah dan ibu. Memegang teguh cinta dan kesetian, dan membiarkan kematian yang memisahkan kami dengan orang yang kami cintai," Keanu melirik sang istri yang tersenyum lembut kepadanya. Begitu juga dengan Arumi, ia dan Edgar saling pandang dalam sebuah senyuman yang hangat.


"Selamat beristirahat. Jangan cemaskan kami lagi, karena kini kami telah berdiri dengan tegak dalam genggaman tangan orang-orang yang mencintai kami berdua. Aku dan Puspa. Arumi dan Edgar, kami akan berusaha untuk menjadi Adrian dan Ryanthi berikutnya," Keanu menutup kata-katanya.


Angin berhembus dengan lembut. Cuaca senja yang begitu cerah. Langit memang belum menampakan warna jingganya, tetapi warna biru pun akan selalu terlihat indah.


Semoga harapan mereka dapat terwujud, untuk menciptakan sebuah kisah indah yang tak lekang oleh waktu, atas nama sebuah perjuangan dan kesetiaan.


...● Tamat ●...


Lanjut yuk, ke novel berikutnya yang mengisahkan putri dari Edgar dan Arumi, yaitu Autumn Dorielle Hillaire. Seperti apa kisah cintanya?



Salam sayang,

__ADS_1


🍒 Komalasari 🍒


__ADS_2