
Arumi membuka matanya pagi itu. Tubuhnya terasa begitu lelah. Ia juga merasa ada sesuatu yang aneh. Namun, Arumi tetap memaksakan dirinya untuk bangkit dan duduk. Diliriknya bantal Edgar yang telah kosong. Seperti biasa, pria itu selalu bangun lebih awal dari dirinya.
Pagi ini, cuaca terlihat cerah. Matahari bersinar dengan indahnya. Namun, banyak yang mengatakan jika musim semi adalah musim galau, karena suhu dapat berubah-ubah.
Arumi memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Rasanya hari ini ia ingin berendam air hangat. Hampir setengah jam lamanya, Arumi menghabiskan waktu di dalam kamar mandi. Ia lalu keluar dengan bathrobes putih dan rambut yang dililit handuk dengan warna putih pula. Lagi-lagi, setelah itu ia memilih untuk duduk di ujung tempat tidur dan termenung.
Barulah setelah beberapa saat, Arumi memutuskan untuk berdiri dan ... entah kenapa tiba-tiba seketika tubuhnya ambruk di lantai.
Beberapa saat kemudian, Edgar masuk ke kamar itu. Ia begitu terkejut mendapati sang istri yang tergeletak begitu saja di lantai dekat tempat tidur. "Arum!" seru Edgar dengan wajah yang diliputi kecemasan. Dengan segera, ia membopong tubuh Arumi ke atas ke tempat tidur.
Rambut wanita itu masih basah. Edgar pun melepas handuk yang melilit rambut sang istri. Ia tidak tahu ada apa dengan istrinya. “Arum. Sayang,” Edgar menepuk-nepuk lembut pipi Arumi. Ia juga menggosok-gosok telapak tangan wanita yang masih tidak sadarkan diri itu.
Tanpa banyak berpikir, Edgar segera memanggil Carmen. Wanita paruh baya itu segera datang ke kamar dan ia pun terlihat sama cemasnya dengan Edgar. "Segera hubungi dr. Wiltord, Ed!" suruhnya. Ia menyebutkan nama dokter yang selama ini menjadi dokter keluarga bagi mereka.
Edgar menurut. Ia segera menghubungi dokter itu. Sementara Carmen menemani Arumi dan terus berusaha untuk membuat wanita itu kembali sadar, dengan berbagai cara.
Beberapa saat kemudian, dokter yang dimaksud akhirnya tiba di sana. Adalah seorang pria dengan usia yang tidak muda lagi, tapi terlihat sangat berpengalaman. Ia memersilakan Edgar dan Carmen untuk menunggu di luar kamar, sementara dirinya memeriksa keadaan Arumi.
Cemas, Edgar terus mondar-mandir di luar kamar ketika dokter sedang memeriksa Arumi. Sesekali ia mengacak-acak rambutnya, mengusap-usap keningnya, dan ia melakukan segala hal tidak penting lainnya.
Carmen hanya tersenyum kecil saat menyaksikan tingkah Edgar yang tengah dilanda rasa cemas. Ia lalu menghampiri Edgar dan menyentuh pundak pria itu dengan lembut. “Arumi pasti baik-baik saja,” ucapnya dengan sebuah senyuman yang menenangkan bagi Edgar. Edgar pun menoleh ke arahnya dan menyentuh tangan yang telah merawatnya selama ini Pria itu tersenyum seraya mengangguk pelan.
Tidak berselang lama, dokter keluar dan segera disambut oleh Edgar beserta Carmen. Raut tegang masih tampak jelas di wajah Edgar. Ia tampak kebingungan. Akan tetapi, perlahan ketegangan yang menyelimuti wajah rupawan itu sirna, setelah melihat sang dokter tersenyum hangat. Edgar mengernyitkan keningnya, sementara Carmen sepertinya sudah memahami arti dari senyuman itu.
“Dokter, apakah Arumi ....” belum sempat Carmen melanjutkan kata-katanya, dokter itu mengangguk dengan yakin.
“Untuk memastikan lebih lanjut, sebaiknya Nyonya Hillaire segera dibawa untuk melakukan pemeriksaan secara langsung oleh dokter spesialis kandungan,” jawab dokter itu.
__ADS_1
Edgar tertegun. Ia melirik Carmen dengan rona bahagia bercampur tidak percaya. Binar indah terpancar dari sepasang mata abu-abu miliknya. Edgar kemudian menyalami dokter itu. “Terima kasih banyak. Biar bibi Carmen yang mengantar Anda, aku harus melihat keadaan istriku,” ucap Edgar dengan senyuman lebar yang merekah indah di wajah tampannya. Setelah itu, ia segera berlalu menuju kamarnya.
Di dalam kamar, Arumi tengah duduk termenung. Senyumnya baru terlihat ketika Edgar muncul dan duduk di tepian tempat tidur sambil menghadap kepadanya. Ia menyentuh wajah Arumi dengan lembut. Sebuah ciuman hangat pun Edgar berikan untuk sang istri yang tadi sempat membuatnya begitu khawatir.
“Bagaimana keadaanmu, Sayang?” tanya Edgar seraya terus mengelus lembut pipi Arumi.
Arumi tersenyum manis, meskipun wajahnya terlihat agak pucat. Ia lalu memegangi perutnya. “Aku tidak percaya dengan hal ini, Sayang,” ucapnya pelan.
“Ya, ini keajaiban di musim semi. Hari ini kamu harus istirahat. Besok kita akan menemui dokter kandungan dan memeriksakan keadaanmu dan ... seseorang yang akan membuat perutmu menjadi terlihat jauh lebih besar,” Edgar mengakhiri kata-katanya dengan sebuah candaan.
Arumi tertawa mendengar hal itu. Ia merasa sangat bahagia, meskipun itu baru awalnya. Arumi harus siap untuk menghadapi segala tantangan dari segala hal yang akan ia hadapi, saat mengandug seorang bayi.
“Apa kamu bahagia, Sayang?” tanya Arumi tanpa melepas senyuman lebar itu dari wajah cantiknya.
“Jangan tanyakan hal itu, Sayang. Tentu saja, aku jauh lebih dari sekadar bahagia. Sudah kukatakan jika ini adalah sebuah keajaiban. Keajaiban dalam hidupku yang dimulai darimu,” Edgar kembali melayangkan ciumannya kepada sang istri. Ia tak henti-hentinya tersenyum lebar dan memeluk Arumi dengan hangat.
Keesokan harinya.
Keanu dan Puspa tengah berada di dalam perjalanan. Mereka sedang menuju ke pesta pernikahan antara Moedya dan Diana.
Sesekali ayah dua anak itu melirik sang istri yang terlihat sangat cantik dalam balutan dress berwarna hijau. Hari itu, mereka tidak mengajak Dinan dan Jenna. Kedua anak mereka diasuh di rumah oleh pengasuhnya.
Sesaat kemudian, Puspa merogoh ponselnya yang berdering. Sebuah panggilan masuk dari Arumi. Ia segera menjawab panggilan itu. “Hai, Arum. Apa kabar?” sapa Puspa dengan hangat.
__ADS_1
“Hai, kak. Apa kakak sedang sibuk?” tanya Arumi yang kini berada jauh dari belahan bumi lain, dengan jarak ribuan kilometer dari rumahnya. Rasa rindu itu tiba-tiba hadir dan menyeruak begitu saja dalam hati mereka berdua, mengingat kedekatan yang selama ini terjalin di antara keduanya.
“Kami sedang di jalan, Arum. Hari ini Moedya dan Diana akan melangsungkan pernikahan mereka," terang Puspa. "Bagaimana kabar dirimu dan Edgar? Lama sekali kamu tidak menghubungiku, Arum.” protes ibu dua anak itu.
Terdengar suara tawa manja Arumi, karena saat itu Puspa menggunakan mode loudspeaker selama panggilan berlangsung. Keanu yang sedang fokus mengemudi pun ikut berkomentar. “Aku harap Edgar mengizinkanmu keluar dari kamar,” candanya.
“Kakak!” seru Arumi masih dengan gaya bicaranya yang manja. "Kami baik-baik saja, kak. Aku minta maaf, karena aku belum sempat berkunjung ke Marseille. Di sini baru memasuki musim semi dan aku ... saat ini aku sedang mengandung tiga minggu,” tutur Arumi dengan malu-malu.
Seketika Puspa dan Keanu saling pandang. “Sungguh, Arum? Ya Tuhan, ini berita yang sangat luar biasa! Kamu harus menjaga kandunganmu baik-baik!” ujar Puspa dengan ekspresi yang terlihat sangat bahagia.
“Ya, kakak. Edgar bersikap seperti kak Keanu. Dia bahkan memaksa untuk menemaniku ke toilet. Keterlaluan!” keluh Arumi. Sesaat kemudian ia tertawa geli. Begitu juga dengan Puspa dan Keanu yang ikut merasa lucu saat mendengar cerita dari Arumi.
Sesaat kemudian, mobil yang dikendarai Keanu sudah berbelok ke sebuah gedung mewah yang telah dipenuhi oleh deretan mobil mewah pula. Mereka telah tiba di tempat tujuan. Puspa pun harus mengakhiri percakapannya dengan Arumi.
“Arum, kita lanjutkan lagi nanti. Kami sudah sampai di tempat resepsi. Apa kamu ingin berpesan sesuatu untuk Moedya dan Diana?”
Arumi tidak segera menjawab. Beberapa saat kemudian, akhirnya ia kembali bersuara. “Sampaikan saja salamku untuk Moedya dan Diana. Katakan jika aku turut berbahagia atas pernikahan mereka. Aku tulus mengatakan hal itu, kakak.”
Puspa tersenyum kelu. Ia dapat memahami apa yang dirasakan oleh Arumi. Akan tetapi, semua sudah berjalan pada jalurnya masing-masing. Arumi dengan takdirnya, begitu juga dengan Moedya. Mungkin itu adalah jalan terbaik untuk mereka berdua.
“Ya, Arum. Akan kusampaikan. Salam untuk Edgar dariku dan Keanu. Bye!"Puspa mengakhiri perbincangan mereka dan keluar dari mobil setelah Keanu membukakan pintu untuknya.
__ADS_1