Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Kisah Malam Kelabu


__ADS_3

Arumi terdiam dan terus berpikir. Ia tengah meyakinkan dirinya tentang apa yang terjadi pada malam itu. Sejujurnya jika ia hanya dapat mengingat sedikit saja.


"Malam itu kita sama-sama berada di pesta yang diadakan Diana. Kamu sangat mabuk, Arum," ucap Edgar. "Kamu tahu sendiri bukan, jika kamu tidak kuat minum banyak?" Edgar menatap lekat gadis itu. Sementara Arumi masih terdiam dan terus berpikir.


"Kamu ingat berapa banyak kamu minum waktu itu?" Tanya Edgar lagi. Arumi tidak menjawab. Ia merasa tidak yakin sama sekali.


Arumi kemudian menggeleng pelan. Ia terlalu menikmati pesta itu, sehingga ia tidak menyadari jika dirinya telah minum terlalu banyak.


"Kamu lepas kontrol, Arum. Tetapi aku sangat menyukainya," ucap Edgar dengan senyum penuh kepuasan. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu tampak liar menatap Arumi.


"Kamu ingat? Malam itu kita berciuman dengan penuh gai°rah. Kamu begitu hangat dan terbuka kepadaku. Kamu menginginkannya, dan aku memberikannya dengan senang hati kepadamu," tutur Edgar dengan nada bicaranya yang terdengar sedikit aneh. Suaranya begitu dalam dan berat.


Arumi menatap mantan kekasihnya itu dengan tajam. Ia ingin sekali memperotes semua penuturan Edgar barusan, namun ia tidak memiliki keyakinan yang cukup.


"Kita bahkan melakukannya di sana Arum, di dapur apartemen milik Diana ... di atas meja ...."


"Hantikan!" Sergah Arumi. "Jangan dilanjutkan!" Pinta Arumi dengan lirihnya. Sementara Edgar malah tersenyum puas saat melihat Arumi tampak gelisah seperti itu.


"Aku tidak tahu bagaimana pacar berandalanmu bisa sampai memergoki kita. Aku rasa memang sudah seharusnya dia mengetahui hal itu, Arum. Dia harus tahu jika Arumi tidaklah senaif yang dia kira," ujar Edgar lagi. Ia benar-benar telah merasa menang.


"Aku jauh lebih mengenalmu jika dibandingkan dengan kekasihmu itu, meskipun kamu lebih memilih untuk memberikan kesucianmu kepadanya," ucapan Edgar kian melebar.


"Tinggalkan aku sendiri, Ed! Aku mohon pergilah!" Usir Arumi. Ia begitu marah, terlebih pada dirinya sendiri.


Edgar beranjak dari duduknya. Ia lalu merapikan blazer yang dikenakannya. Tatapannya masih ia layangkan kepada gadis cantik itu.


"Lihatlah, Arum! Aku masih peduli padamu. Aku masih setia menunggumu selama tiga tahun ini meskipun kamu selalu memperlakukanku dengan buruk, karena aku aku tahu ... aku masih memiliki harapan."


Arumi tidak menjawab. Saat itu ingatannya hanya tertuju pada kemarahan Moedya. Pria itu begitu murka kepada dirinya.


Arumi berdiri dan menghampiri Edgar. Ia lalu menuntun pria itu keluar dari toko. "Jangan temui aku lagi!" Tegas Arumi seraya menutup pintu masuk toko itu dan menguncinya.


Berjalan dengan gontai menuju tempat tidurnya, Arumi terus berpikir. Ia masih merasa penasaran, siapa yang telah menghubungi Moedya untuk datang ke sana, ke apartemen milik sahabatnya.


Malam itu Arumi habiskan dengan termenung sendiri. Ia tidak bisa tidur dan tiba-tiba ia teringat pada nomor misterius yang kerap mengirimkan pesan kepadanya.

__ADS_1


Arumi kemudian mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya kepada si pemilik nomor itu.


Who are you?


Pesan itu langsung terbaca, namun tidak membalas. Merasa penasaran, Arumi lalu mengubungi nomor itu secara langsung.


Panggilan pertama, hanya dibiarkan dan tidak dijawab sama sekali. Hingga tiga kali panggilan, barulah ia mengangkatnya namun tidak bicara sedikitpun.


"Hallo ... siapa ini?" Tanya Arumi.


Tidak ada jawaban dari si penerima telepon itu.


Arumi terdiam. Kedua bola matanya bergerak dengan tidak beraturan. "Moedya ... apakah ini dirimu?" Hanya nama itu yang ada di dalam pikiran Arumi. Akan tetapi, lagi-lagi si penerima telepon itu tidak menjawab.


"Oke ... aku tahu jika itu dirimu ...." ucap Arumi lagi dengan yakin. "Kenapa kamu tidak bicara padaku?" Tanya Arumi lagi. Tidak ada jawaban sama sekali.


Arumi menghela napas panjang. Sebuah keluhan pendek meluncur dari bibirnya. Ia tahu dan sangat yakin jika yang ada di seberang sana adalah Moedya.


"Baiklah ... jika kamu masih tidak ingin bicara ... maka akan kututup saja teleponnya," ucap Arumi.


"Aku tutup, ya!" Ucap Arumi lagi, namun masih tetap tidak ada jawaban.


Pada akhirnya Arumi juga ikut terdiam. Ia merasa canggung dan tidak tahu harus berkata apa. Arumi ingin segera menutup sambungan teleponnya, namun rasanya seperti ada sesuatu yang mencegahnya.


"Aku tutup ...." ucap Arumi lagi. Ia terus mengulangi kata itu namun nyatanya tidak ia lakukan. Arumi kembali menghela napas panjang. Sesaat kemudian, akhirnya ia benar-benar menutup sambungan telepon itu. Dengan rasa kecewa, Arumi meletakan ponselnya di atas kasur. Gadis itu kembali termenung.


Rasanya saat itu Arumi ingin sekali berteriak. Ia ingin membebaskan segala beban yang menghimpitnya dan begitu menyesakan dadanya. Arumi ingin segera mengakhiri perasaan yang terus menyiksanya selama ini.


......................


Siang itu, seorang teman Arumi datang ke toko untuk mengambil pesanannya. Seorang gadis berparas cantik dengan rambut pendek sebahu. Penampilannya sangat manis dengan mini dress yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus.


Diana, dialah gadis itu. Posturnya tidak lebih jauh tinggi dari Arumi, namun ia memiliki paras manis yang cukup menarik. Terlebih karena ia terlihat berasal dari keluarga berada.


"Hai, Arum!" Sapa gadis berambut pendek itu seraya memeluk Arumi untuk sesaat. "Maaf karena aku sudah merepotkanmu," ucap Diana dengan senyum manisnya.

__ADS_1


"Tenang saja, kamu bukan orang pertama yang sudah membuatku kerepotan," canda Arumi. Ia lalu mengajak sahabat lamanya itu ke dapur.


"Aku sudah mengemas semuanya. Satu kotak ini berisi sepuluh toples," terang Arumi seraya memperlihatkan lima buah kotak berwarna jingga dengan ukuran yang cukup besar.


"Iya, aku percaya," sahut gadis bernama Diana itu masih dengan senyum manisnya.


"Tunggu sebentar! Aku akan memanggil Lena dan Ayu terlebih dahulu," ucap Arumi. Setelah itu ia kemudian menghubungi kedua gadis yang berada di bagian depan toko untuk segera datang ke dapur.


Tidak berselang lama, kedua gadis yang dimaksud Arumi datang ke sana. Mereka seakan sudah tahu dengan tugas mereka. Tanpa perintah yang jelas, mereka segera mengangkut kotak-kotak itu dan membawanya ke luar. Sesuai dengan intruksi dari Diana, mereka memasukan kotak-kotak itu ke bagian belakang mobil gadis itu.


Setelah semua kotak terangkut, Diana kembali ke dalam dapur dan menghampiri Arumi yang tengah mengemas kue lainnya.


"Terima kasih, Arum. Mamaku selalu berlangganan kue dari sini sejak dulu. Meskipun sekarang sudah berganti tangan, namun cita rasa kue dari toko ini tidak pernah berubah," sanjung Diana membuat Arumi tersenyum kecil saat menanggapinya.


"Jangan terlalu berlebihan! Aku hanya berusaha mempertahankan cita rasa yang sudah menjadi ciri khas dari ibuku," ujar Arumi merendah. Sesaat kemudian gadis dengan lesung pipi itu tertegun dan menoleh ke arah Diana. Entah kenapa karena gadis itu terus memperhatikannya.


"Kenapa?" Tanya Arumi seraya mengernyitkan keningnya.


Diana lagi-lagi tersenyum manis. "Tidak apa-apa," jawabnya singkat. Gadis itu tampaknya ingin mengatakan sesuatu yang membuatnya terlihat sedikit gelisah.


"Arum ... aku ... aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu ...." Diana menjeda ucapannya. Ia tampak berpikir untuk sejenak.


"Ada apa? Kenapa kamu terlihat gugup seperti itu?" Tanya Arumi heran dengan sikap sahabat lamanya.


Diana kembali menyembunyikan rasa tidak nyamannya lewat senyum manisnya. Pada akhirnya, ia pun melanjutkan kata-katanya, "Arum ... aku hanya ingin memberitahumu sesuatu."


"Tentang apa?" Tanya Arumi tanpa menghentikan aktivitasnya.


"Arum ... aku ... saat ini aku sedang menjalani pendekatan dengan Moedya ...."


Seketika Arumi menghentikan pekerjaannya. Ia lalu menatap Diana dengan tajam. "Maksudmu?" Tanya Arumi.


"Ya, aku sedang menjalani pendekatan dengan Moedya. Aku harap kamu memberi izin untuk ...."


"Kalian tidak memerlukan izin dariku. Kalian bebas melakukan apapun yang kalian inginkan," tegas Arumi.

__ADS_1


__ADS_2