
Siang itu, Edgar mengendarai mobilnya dengan tenang menuju ke bandara. Sementara Arumi duduk di sebelahnya sambil sedikit menyamping. Hal itu ia lakukan agar dapat memerhatikan sang kekasih dengan jelas.
Di kursi belakang, duduk dengan tenangnya Keanu, Puspa, dan kedua anak mereka Dinan serta si kecil Jenna, yang berada dalam gendongan Keanu. Balita itu tertidur dengan sangat nyenyak dan tidak terganggu oleh semua ocehan dari sang kakak, Dinan.
Arumi sendiri tidak henti-hentinya memerhatikan pria yang dalam beberapa hari kemarin, telah menjadi sopir bagi dirinya, saat berkeliling kota Paris. Pria yang sejak tadi hanya terdiam dan menyembunyikan tatap matanya di balik kaca mata hitam yang ia kenakan.
Sementara itu, Dinan tak henti-hentinya berbicara. Terkadang Arumi merasa aneh, mungkin seharusnya Keanu dan Puspa memiliki dua orang putri. Namun, setidaknya anak itu membuat suasana di dalam mobil itu tidak terlalu sepi dan membosankan.
“Sayang, apa kamu akan mengajakku kemari lagi?” tanya Puspa dengan rona ceria di wajahnya. Selama berada di Paris, wanita bertubuh mungil itu memang terlihat sangat bahagia.
“Jika Arum dan Edgar sudah menikah dan tinggal di sini, aku rasa kita pasti akan lebih sering datang kemari,” jawab Keanu seraya melirik sang istri. Ucapan Keanu telah berhasil membuat Arumi menoleh ke belakang dan tersenyum malu-malu. Setelah itu, ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Edgar yang masih terlihat kalem di balik kemudinya.
“Jika Arum tidak mau ikut denganku untuk tinggal di sini, maka aku pasti akan memaksanya,” timpal Edgar yang sejak tadi hanya terdiam. Untuk sesaat, ia mengalihkan pandangannya kepada Arumi yang saat itu tengah memerhatikannya sambil tersenyum.
Arumi kemudian mendekatkan wajahnya kepada Edgar yang masih fokus pada jalanan kota Paris yang ramai. “Aku pikir kamu tidur, Ed,” celetuk gadis itu sehingga membuat Edgar seketika menoleh kepadanya. Sementara Keanu dan Puspa saling pandang sambil menahan tawa mereka.
Perjalanan hari itu terasa begitu berat bagi Edgar. Ia merasa malas dan rasanya tidak ingin segera sampai di bandara. Namun, sayang sekali karena mereka telah tiba di tempat tujuan, dan kini sedang bersiap menunggu pesawat yang akan membawa Arumi terbang jauh dari Perancis.
Duduk berdekatan, Edgar masih saja tidak banyak bicara. Arumi pun merasa bingung harus berbuat apa. Akhirnya, ia memilih untuk ikut diam, meskipun ia merasa tidak nyaman dengan situasi seperti itu. Edgar tampak sangat tidak bersemangat saat itu.
Beberapa saat kemudian, Arumi beranjak dari duduknya. Namun, baru saja ia berdiri, dengan segera Edgar memegangi pergelangan tangannya. Arumi kemudian menoleh dan menatap pria itu untuk sejenak.
“Ada apa, Ed?” tanya Arumi seraya mengernyitkan keningnya. Ia benar-benar heran dengan sikap kekasihnya yang dirasa sangat aneh.
__ADS_1
Edgar kemudian ikut berdiri. “Mau ke mana? Ayo kutemani!” ujarnya dengan wajah yang terlihat serba salah. Sedangkan Arumi kembali mengernyitkan keningnya dan tertawa pelan.
“Aku mau ke toilet. Kamu mau menemaniku?” Gadis itu menggelengkan kepalanya perlahan.
Edgar terdiam saat mendengar jawaban dari Arumi. Dengan segera ia melepaskan genggaman tangannya dari gadis itu. Edgar tersenyum kikuk. Ia kemudian memilih untuk kembali duduk dan bersikap sok kalem. Sementara Arumi berlalu begitu saja menuju toilet.
Melihat sikap aneh calon adik iparnya, Keanu dapat memahami apa yang Edgar rasakan saat itu. Ia lalu beringsut dan duduk di dekat pria yang juga merupakan rekan bisnisnya. Ditepuknya dengan pelan pundak Edgar, hingga pria itu menoleh dan tersenyum tipis. Senyuman yang terlihat sangat dipaksakan dan tidak seramah seperti biasanya.
“Jangan khawatir, Ed! Aku pasti akan menjaga Arum dengan baik. Sama seperti kemarin-kemarin di saat Arum masih bersama Moedya. Kamu masih sangat perhatian padanya, dan aku selalu ingat pesan darimu,” ucap Keanu mencoba untuk menenangkan keresahan hati Edgar.
Edgar mengangguk pelan. “I know,” jawabnya singkat. “Kamu adalah kakak yang terbaik, Ken. Seharusnya aku mulai membiasakan diri untuk memanggilmu 'kakak' mulai dari sekarang,” canda Edgar. Ia seperti sedang menghibur dirinya sendiri.
Keanu tertawa pelan mendengar ucapan pria itu. “Aku akan mengurus semuanya, Ed. Nanti kuberi kabar jika segala sesuatunya sudah selesai,” ucap Keanu lagi.
“Maaf karena sudah merepotkanmu, Ken,” balas Edgar. Sesekali ia memijit pangkal hidungnya demi menutupi keresahan di dalam hatinya.
Keanu kembali beringsut ke dekat Puspa yang tengah sibuk mengawasi Dinan. Sementara Arumi, kembali duduk di sebelah Edgar.
Edgar melirik Arumi untuk sesaat. Arumi membalasnya dan tersenyum. “Are you alright, Ed?” tanya Arumi. Sejak tadi ia ingin menanyakan hal itu kepada Edgar yang terlihat gelisah.
Edgar tersenyum seraya meraih tangan Arumi. Ia lalu menggenggam erat jemari lentik gadis itu dan memainkannya. “Kenapa lama sekali, Arum? Apa saja yang kamu lakukan di toilet tadi?” bisik Edgar dengan penasaran. Entah apa maksudnya menanyakan hal tidak penting seperti itu.
Arumi mengernyitkan keningnya. “Pentingkah kamu bertanya seperti itu padaku?” Arumi memasang ekspresi keheranan. Sedangkan Edgar terlihat memikirkan pertanyaannya barusan. Pria itu hanya menggaruk keningnya dan merasa konyol.
__ADS_1
“Apa kamu tidak punya pertanyaan lain, Ed? Pembahasan yang jauh lebih penting ... mungkin.”
“Terlalu banyak, Arum. Ada terlalu banyak hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu, sehingga aku merasa bingung. Namun, jangan khawatir, Arum! Aku akan baik-baik saja,” jawab Edgar seraya mencium jemari lentik Arumi dan merangkul pundak gadis itu. Arumi kemudian menyandarkan kepalanya dengan nyaman, di pundak sang kekasih yang mulai terlihat tenang.
“Aku tahu kamu pasti akan baik-baik saja, Ed. Jangan terlalu berlebihan! Sejak kapan kamu menjadi seseorang yang melankolis seperti ini?” ledek Arumi dengan senyum mengejek.
“Jangan mengejekku, Arum! Aku pria yang perhatian dan romantis tentunya. Kamu tidak akan mendapatkan paket lengkap seperti diriku," ujar Edgar dengan sangat percaya diri.
Arumi menanggapi semua ocehan pria itu dengan tawa. Setidaknya ia cukup terhibur dengan tingkah dan ucapan aneh Edgar hari itu. "Aku tidak akan membantah hal itu," bisiknya. "Apa setelah ini kamu akan menemui temanmu itu?"
"Ya," jawab Edgar singkat. "Kenapa?" tanyanya kemudian.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu," jawab Arumi.
"Sekian lama aku mengenalmu, baru sekarang aku merasakan jika kamu mulai perhatian padaku, Arum. Terima kasih."
"Ya ampun, Ed. Jangan kira jika aku akan tersentuh dengan kata-katamu!" sanggah Arumi dengan tak acuh.
Edgar kembali tertawa. "Itulah yang aku sukai darimu, Beib!" balas Edgar seraya kembali mencium lembut jemari Arumi.
Tidak berselang lama, saat-saat yang ditunggu pun akhirnya tiba. Dengan berat hati, Edgar harus melepaskan genggaman tangannya dari Arumi dan membiarkannya pergi.
"Tunggu kedatanganku di Indonesia!" pesan Edgar setelah ia memberikan sebuah ciuman mesra untuk Arumi.
__ADS_1