
Kalau orang nanya apa yang paling gue benci di Dunia ini, gue bakalan jawab dengan tantang 'gue benci dengan takdir'.
Kenapa takdir harus menghadirkan gue didalam kelurga yang enggak lengkap seperti keluarga gue saat ini.
Gue Yuki Marcellia mahasiswa Arsitekture semester 5 yang tumbuh dewasa tanpa adanya kasih sayang keluarga dalam diri gue. Gue anak tunggal, punya Mama yang sibuk mengurus bissnis yang tersebar dimana-mana.
Papa sendiri gue enggak tau di mana keberadaannya dan bagaimana keadaannya. Gue dari kecil tidak pernah dikenalkan dengan sosok yang disebut Papa.
Jadi dari kecil gue enggak tau rasanya dekat dengan kedua orang tua itu bagaimana, makan bersama keluarga itu bagaimana, makan masakan yang dibikin Mama itu bagaimana. Gue enggak tau itu semua karena gue dari kecil hingga lulus SMA di urusin dengan Mbak yang selalu setia nemanin gue.
Mama cuma memberi kebutuhan financial gue, sampai gue enggak pernah merasa kekurangan. Tapi Mama lupa untuk memberi dan meluangkan waktunya.
Bohong kalau gue bilang tidak butuh fasilitas yang diberi Mama, tapi gue juga butuh dan pengen perhatian dari Mama.
Karena kesibukan Mama, gue hanya bisa bertemu sekali setahun saja. Ya, itu hanya ketika pergantian usia gue, tepatnya pada saat gue berulang tahun.
Hanya itu.
Protes? Sudah pernah coba, tapi Mama selalu mengatas namakan kesibukannya untuk membahagiakan hidup gue. Padahal gue enggak pernah minta lebih, cuma minta agar waktunya sedikit diluangkan untuk gue.
Gue pernah protes pada Tuhan kenapa gue mesti lahir di keluarga seperti ini, enggak seperti keluarga teman-teman gue lainnya yang selalu bahagia, yang selalu ada cerita tiap kebersamaan mereka. Tapi Tuhan enggak jawab protesan dari gue.
Hingga suatu hari gue lihat sebuah postingan dari seseorang yang muncul di explore gue, yang membuat tertarik yaitu sebuah potret keluarga yang menurut gue bahagia dengan caption:
'kamu terlalu sibuk melihat ke atas sampai lupa untuk menoleh ke bawah. Kamu terlalu melihat nikmat orang sampai lupa untuk merasakan nikmat kamu sendiri'
Dan juga caption-caption lainnya yang gue stalking:
__ADS_1
'Yang orang lain lihat bahagia belum tentu beneran bahagia di belakangnya. Kita adalah si manusia yang pandai berlakon sesuai keinginan orang lain'
Sampai satu caption yang benar-benar membuat Gue tersentuh membacanya:
'Percaya, di dunia ini enggak kamu saja yang ngerasain benci dengan takdir. Aku, bahkan ribuan juta manusia lainnya juga pernah ngerasain hal serupa. Hanya saja, cara kita menghadapinya yang berbeda-beda. Ada yang terus larut dalam kebencian, ada yang menanggapinya santai dan ikhlas. Ketahuilah pilihan kedua merupakan cara yang paling ampuh. Buat kamu yang masih bersedih sampai saat ini, ayo berdamai dengan takdir. Percaya, sesudah matahari terbit dengan panas di siang hari, akan datang malam yang sejuk diikuti dengan Bintang yang bersinar terang.
Membaca semua captionnya membuat gue sedikit merasa berdamai dengan takdir.
Walau hanya sedikit tapi bisa membuat dada gue merasa plong seperti semua beban hidup ini terangkat begitu saja.
Sampai saat itu juga gue jadi pengagum rahasia pemilik account tersebut tapi tanpa memfollownya, hingga gue masuk kuliah gue tau kalau pemilik akun itu adalah kakak tingkat gue yang bernama Raka Yudhistira.
Semua berawal dari caption, perlakuan dia yang begitu manis dan sopan kepada siapa saja, hingga gue benar-benar kagum padanya.
ππππ
"Hal buru-buru kaya gini ni yang buat semuanya kayak jadi sial gitu" ucapnya sewot melihat kiri dan kanan yang ramai dengan orang yang ingin beraktivitas di pagi hari.
Yuki melihat anak yang berboncengan dengan sepeda motor yang dikendarai oleh seorang Bapak.
Sekilas Yuki melihat itu merasa sedih, tapi dia harus kuat dia sudah dewasa tidak boleh terus-terusan merasa terpuruk dan benci dengan takdir, dia harus lebih berdamai lagi.
Tapi namanya Yuki juga manusia, kadang rasa egonya lebih besar dari pada logikanya. Dia tetap merasakan kebencian itu.
Kalau sudah begitu Yuki lebih memilih untuk menjadi orang yang terlihat tidak peduli sampai terbentuklah sifat dia sekarang yang sedikit keras pada siapa yang ingin mendekatinya.
Selama dia berkuliah di kampusnya ini, dia hanya memiliki seorang teman cewek yang bernama Dea Amelia. Menurutnya sifat Dea dan dirinya hampir sama, yaitu cuek terhadap hal-hal di luar sana. Tapi tetap saja definisi cuek Yuki dan Dea berbeda. Dea masih mau mendengarkan dan beramah tamah dengan sekitar, tapi Yuki tidak mau seperti itu.
__ADS_1
Tanpa disadarinya air matanya jatuh menetesi pipinya "terlalu pagi buat gue nangisi keadaan, ****" caci Yuki pada dirinya.
"Lo kuat, hingga sampai detik ini lo harus kuat" ucap Yuki menguatkan dirinya. Dia wanita kuat, enggak boleh lemah cuma karena pemandangan pagi yang begitu menyesakkan untuk hatinya.
Sekuat apapun Yuki memperingati kalau dirinya seorang wanita Yang kuat, tapi ada juga waktu di mana dia merasa kelelahan dan kehabisan kenaga untuk menyemangati dirinya, dia butuh seseorang sebagai energy-nya.
ππππ
Yuki sampai di parkiran kampusnya yang sudah ramai dengan berbagai motor dan juga mobil yang terparkir rapi di parkiran. Yuki memarkirkan trackernyaΒ buru-buru karena kelas yang ingin dia masuki 15 menit lagi akan di mulai.
Ketika Yuki berbalik dari area parkiran menuju kelasnya, tanpa di sengaja dia menabrak seorang cowok yang sedang berjalan berlawanaan arah dengannya.
Bhuuuk
Dalam waktu 10 detik Yuki merhatiin cowok yang ditabraknya dengan tampang yang datar dan tidak bersalah.
Raka, batin Yuki.
Selanjutnya Yuki pergi meninggalkan cowok tersebut tanpa ada kata-kata minta maaf yang semestinya dikasih ketika dia memiliki salah kepada orang lain.
Dengan menyeka air mata yang masih tertingg dipipinya Yuki mempercepat jalannya berharap kelas yang ingin dia masuki belum dimulai.
"Kenapa mesti jumpa, sih" omel Yuki masih sesegukan "momentnya enggak mendukung banget" cicitnya sedih melihat penampilannya yang bisa dibilang berantakan itu dengan mata dan hidung memerah.
Yuki melipat tangannya di atas meja dan menenggelamkan kepalanya di atas lipatan tangannya itu "sekali ketemu dalam keadaan kacau" rengeknya "coba lagi oke, jumpa aja enggak apa lagi dilirik" sambungnya kembali.
"Gue butuh energy lebih, mendem perasaan banyak menguras tenaga"
__ADS_1