
"Lo kenapa hari ini bad mood gitu" Tanya Dea ragu-ragu. Sebenarnya dari tadi dia sudah ingin bertanya, tapi mengingat mood temannya itu udah jelek dari awal masuk kelas, dia urungkan juga untuk bertanya. Tapi makin kesini dia makin penasaran, melihat mood temannya itu tak kunjung membaik, sampai akhirnya ia beranikan untuk bertanya.
"Kenapa gimana?" Tanya Yuki menyerngitkan alisnya.
Terlihat Dea menarik nafasnya secara kasar sebelum lanjut kembali bicara "gue liat lo hari ini banyak bengong, dan juga komuk lo gak bangetlah hari ini. Lo baik-baik ajakan sama Kak Raka?" Tanya Dea
"Kita baik-baik aja kok Dee, cuma lagi pusing aja banyak tugas kan" jawab Yuki meyakinkan.
Kita emang baik-baik aja Dee, perasaan gue aja yang gak baik, ucapnya membatin
"Gue tau lo Ki, gue kenal lo gak sehari dua hari. Gue tau ekspresi apa aja yang lo tunjukin tiap harinya. Dan hari ini lo gak cukup baik-baik". Diraihnya tangan Yuki, lalu ditepuknya berlahan "cerita sama gue kenapa"
"Percaya deh, gue beneran gak kenapa-kenapa Dee" ucapnya sedikit memaksakan senyum. "Makasih udah khawatirin gue" lanjutnya kembali.
Dea diam sejenak menilik kembali raut wajah Yuki walaupun udah tidak seperti tadi pagi "lo taukan kalau gue selalu ada buat lo" kata Dea, yang di anggukin oleh Yuki. "Pinter" ucapnya kembali mengacak rambut Yuki.
"Dee?"
"Apa?"
"Lo habis makan apa? Biasanya juga bar-bar?"
"*******" umpat Dea menjambak rambut Yuki.
🐝🐝🐝🐝
Selepas kepergian Dea, tinggal lah ia sendiri di kelas meratapi nasib dengan mood yang belum juga membaik dengan menopang dagunya pada meja kerusi yang didudukinya.
Ponselnya yang sedari tadi berbunyi, bertanda ada telfon masuk di abaikannya begitu saja. Yuki tau itu telfon dari Raka, seseorang yang selalu menjadi moodboosternya selama ini.
Huft, terdengar hembusan nafas yang dibuang secara kasar.
Kemarin Raka masih menjadi salah satu orang yang selalu bisa membuat moodnya baik atau yang sering disebut sebagai moodbooster. Tapi hari, panggilan moodbooster untuk Raka hilang begitu saja.
Semua berawal dari pagi tadi di parkiran Yuki melihat Raka goncengan dengan seorang cewek yang Yuki tidak tau itu siapa. Mereka bukan hanya sekedar goncengan, tapi Yuki juga melihat keakraban dari keduanya yang saling tertawa bersama.
Sebenarnya hal ini udah sering ia lihat dari mereka belum pacaran sampai sudah pacaran. Raka goncengan dengan cewek, ngumpul bareng dan tertawa lepas. Biasanya jika melihat itu dia tidak pernah ambil pusing atau memikirkannya. Hal biasa bagi Yuki.
Hal biasa.
Tapi entah kenapa kali ini melihat itu dia merasa tidak suka dan tidak senang. Melihat itu seperti hatinya panas kayak kebakar dengan api yang begitu besar.
"Seperti orang lagi cemburu" celetuknya tanpa sadar.
Seperkian dekit dia baru tersadar dengan apa yang diucapkannya barusan "ya masa gue cemburu sih" Rengeknya sendiri, menjedut-jedutkan keningnya pada meja kursi yang didudukinya. "Biasa juga nggak" lanjutnya.
"Gue percaya Raka" lirihnya berusaha yakin, "Gue tau dia aslinya gimana. Gue tau pergaulan Raka gimana. Pokoknya gue tau segala halnya tentang Raka. Dia beda dari yang lain" ucapnya tegas meyakinkan dirinya sendiri.
"Tapi kali ini sistem kekebalan perasaan yang ada didalam tubuh lagi lemah. Gue benar-benar cemburu atau apapun itu namanya" ucapnya senduh dengan lirihnya.
Dia menopang pipinya dengan sebelah tangan, sementara tangan satu lagi sibuk mengetuk-ngetuk meja.
Yuki berdecak kasar "bisa diketawain Dea atau Gio kalau mereka tau gue cemburu gini" ucapnya dengan tawa hambar.
Dan hal itulah yang membuat Yuki tidak mau bercerita pada Dea. Dirinya terlalu gengsi mengakuinya. Cukup Dea tau dirinya bucin, jangan sampai Dea tau kalau dirinya juga cemburuan. Walau cemburu Yuki belum masuk ketahap yang harus mengekang pasangannya.
Sedangkan kalau Gio tau, bisa habis dia jadi bulan-bulanan manusia kerdus itu. Masih ingat jelas dibenaknya gimana mulut kurang ajarnya Gio yang selalu membahas perlakuan Raka waktu itu ketika hendak menjemput Arka.
Memalukan !
"Kalau gini ceritanya gue jadi ke pengen punya pacar bad boy kan" ucapnya asal, Yang tiba-tiba kebayang muka sengak Gio yang tengah memeletkan lidahnya.
"Idih" ucapnya bergidik ngeri, "ogah banget kalau bentukkannya kayak tu anak. Makan hati yang ada lama-lama, berisik kayak kaleng rombeng". Ucapnya sinis merasa geli.
Yuki meraih ponselnya yang dibiarkannya dari tadi di kursi sebelahnya, dan menelfon seseorang.
"Waalaikumsalam ma. Mama dimana?"
"Ini mama dirumah mau jemput adek, kenapa sayang?"
"Kiki ikut boleh gak ma? Udah gak ada kelas lagi hehe"
"Beneran? Boleh-boleh, mama jemput ya sayang"
"Hehe iya ma. Maaf ya ma ngerepotin. Ntar kalau mama udah di parkiran kabari ya, Biar Kiki yang samperin mama"
"Gak apa-apa sayang, mama seneng lagi ada temennya. Tungguin yah jangan kemana-mana"
"Siap ma, assalammualaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah selesai telfonan dengan Nana, mamanya Raka. Yuki segera keluar dari kelas menuju parkiran mobil dimana mobilnya sedang terparkir.
Tepat di koridor menuju area parkir Yuki berpapasan dengan Raka yang lagi ngumpul bersama teman seangkatannya termasuk Noval juga.
Melihat itu Yuki hanya melewati sekumpulan seniornya begitu saja tanpa menoleh. Tapi sebelumnya dia sempat melirik kearah Raka yang juga sedang menatapanya dengan tatapan bingung.
Sebelumnya hal biasa bagi Yuki lewat depan seniornya tanpa menoleh atau menegur. Tapi akhir-akhir ini semenjak dia bersama Raka, Raka selalu mengajarkannya itu bersikap sopan pada siapa saja baik yang dikenal atau tidak.
Baru beberapa langkah Yuki berjalan melewati sekumpulan seniornya itu, tangannya sudah tarik oleh seseorang, Hal itu membuat Yuki membalik dan menghentikan jalannya dan mendapati Raka sedang menatapnya bingung.
"Kamu kenapa?"
Plis lah sekali-sekali gak usah pakai nada lembut gitu, lemah gue!, batin Yuki tidak suka
"Kenapa? Emang aku kenapa?" Tanya Yuki datar tanpa melihat kearah Raka, baginya kali ini lapangan bola yang berada disampingnya lebih menarik dari pada cowok didepannya ini.
Raka mengulurkan tangannya menyentuh pipi Yuki dan menariknya menghadap kearahnya kembali "Kamu cuekin aku, telfon aku juga gak diangkat. Kenapa hm? Aku ada salah?" Tanyanya.
Yuki menarik tangan Raka menjauh dari pipinya "Emang kamu ngerasa salah?" Tanyanya tajam yang dijawab dengan gelengan dari Raka, "Yaudah kalau gak ngerasa punya salah ngapain nanya?"
__ADS_1
"Jelas aku harus tanya car, kamu cuekin aku. C.U.E.K.I.N" jelasnya menekankan kata cuek dikalimatnya masih terlihat sabar menghadapi Yuki.
Yuki mendengus kasar "Kamu lupa aku aslinya gimana?" Tanyanya tajam "Udah ah, aku gak ada waktu buat ribut sama kamu. Udah sana balik sama temen kamu, aku mau pulang" lanjutnya kembali.
Belum sempat Raka kembali bersuara Yuki sudah pergi meninggalkan Raka yang masih terbengong-bengong dengan perubahan sikap Yuki.
Setelah sampai di parkiran, Yuki lebih memilih menunggu didalam mobil dengan memain-mainkan ponselnya melihat photo-photo di album dan berhenti disalah satu photo Raka yang diambilnya secara diam-diam.
"Kenapa sih tampanya gak bisa banget untuk di jutekin" cibir Yuki melihat photo itu.
"Sebel" ucapnya melempar ponselnya sembarangan.
Dreeet dreet
"Ya halo ma?"
"..."
"Oh udah di depan, Iya ma Kiki kesana"
"..."
"Waalaikumsalam"
🐝🐝🐝🐝
Yuki berlari menuju gerbang kampus dimana yang disebuti Nana tadi bahwasannya dia sudah sampai digerbang. Dia mengedarkan pandangannya sekeliling dan mendapati sebuah mobil Pajero terparkir tidak jauh dari gerbang masuk dimana tempat dia berdiri saat ini.
Dari jendela mobil terlihat tangan yang melambai-lambai kearahnya, dan secara naluri Yuki mengikuti arah tangan tersebut.
Terlihat didalamnya sepasang suami istri sudah melebarkan senyumnya pada Yuki.
"Loh mama sama papa?" Tanya Yuki setelah tau siapa pemilik mobil dan tangan yang melambai padanya tadi.
"Papa ni minta ikut juga" ucapnya menyikut tangan suaminya yang langsung menoleh pada istrinya.
"Gak apa-apa kan papa ikut Ki?" Tanya sang suami disertai wajah memelasnya. Dan hal itu membuat kedua wanita itu saling pandang dan tertawa.
"Ya Allah yah gak apa-apa dong pa, lagian tadi Yuki juga minta ikut sama mama" jawab Yuki santai yang masih berdiri diluar mobil.
"Lah masih diluar. Ayo masuk, panas loh" ajak Nana menyuruh Yuki masuk kedalam mobil.
Sepanjang perjalanan dari kampus ke sekolah Arka, Yuki tidak banyak bicara kecuali jika ditanya dia akan menjawab secukupnya. Tidak seperti biasanya dia yang selalu aktif ngajak Nana bercerita mengenai hal apapun.
Sontak hal itu membuat Hadi dan Nana saling pandang dengan tatapan bingung.
Nana dan Hadi saling lirik memberi kode "Kiki tunggu dimobil aja sama papa ya, mama mau masuk dulu sekalian ada yang mau dibahas sama gurunya adek" ucap Nana yang dianggukin oleh Yuki.
Tinggallah Yuki dan Hadi berdua didalam mobil tanpa berbicara.
Hadi berdehem "Kiki kenapa diem aja?" Tanyanya membalikkan badan menghadap kebangku belakang, membuat Yuki tersadar dari lamunannya.
"Ha? Kenapa pa?" Tanyanya dengan tampang incconect , Yang baru sadar dari lamunannya.
Mendengar cara Hadi bertanya padanya membuat hatinya tersentuh, pasalnya dia tidak pernah mendapatkan pertanyaan seperti itu baik dari papanya atau bahkan dari mamanya sendiri.
Jangan kan menanyakan masalahnya, menanyakan kabar saja mamanya cuma sempat sekali setahun.
"Kiki gak apa-apa pa" ucapnya memaksakan senyum.
"Kiki udah anggap papa sama mama orang tua Kiki kan" Tanya Hadi yang dianggukin oleh Yuki, "Terus kenapa masih gak mau cerita? Ada masalah sama mama atau abang ya?"
Dia diam cukup lama memikirkan apakah harus menceritakan masalahnya atau memendamnya saja.
"Sama mama baik-baik aja pa" jawabnya menjeda, "sama abang juga sebenarnya gak ada masalah. Cuma Kiki aja yang cari-cari masalah" cicitnya menundukkan kepala tidak berani menatap langsung mata Hadi.
Mendengar itu Hadi menyerngitkan keningnya "Cari-cari masalah gimana? Coba sini duduk samping papa, cerita masalahnya apa" ucapnya mengajak Yuki duduk disampingnya.
"Kalau Kiki cerita papa janji ya jangan diketawain" ucapnya mengacungkan kelingkingnya pada Hadi, setelah ia pindah duduk disamping Hadi.
Hadi sempat menahan tawanya melihat kelakuan anak gadis yang ada didepannya itu, yang mau tidak mau ia menyodorkan kelingkingnya juga kepada Yuki.
"Janji" ucapnya menautkan kelingkingnya.
"Jadi gini pa" ucapnya menjeda, membenarkan duduknya "tadi pagi Kiki liat abang goncengan sama cewek__"
"Cemburu?" Potong Hadi langsung.
Yuki diam sejenak tak langsung menjawab "Emang itu cemburu?" Tanyanya "Biasanya Kiki liat kayak gitu biasa aja loh pa" lanjutnya menggebu-gebu.
Hadi mengusap kepala Yuki penuh lembut "sebiasa apapun Kiki melihat hal kayak gitu, kadang jiwa egois bisa lebih besar dari pada logica. Wajar kalau Kiki ngerasain hal cemburu, apa lagi kalau itu milik kita" ucapnya tenang.
"Cemburu itu hal manusiawi. Stop beranggapan kalau cemburu itu tanda kita tidak percaya diri seperti lirik film Dilan, papa gak pernah setuju sama kata-kata itu. Bagi papa cemburu itu bukti kalau kita punya perasaan lebih terhadap orang yang dicemburui. Asal kita tau batasan cemburu itu apa"
Yuki mendengarkan tiap ucapan yang Hadi lontarkan kepadanya dengan seksama dan serius.
"Jadi wajar kalau Kiki yang biasanya gak cemburuan tapi tiba-tiba cemburu gitu pa?" Tanyanya memastikan
"Menurut papa wajar-wajar saja. Kita yang sesama temen, sesama saudara aja juga ada kan rasa cemburu. Apa lagi sama pasangan sendiri yang statusnya milik kita. Seperti yang papa bilang di awal tadi, asal tau batasannya dan tidak berlebihan sampai kita hilang kepercayaan. Itu jelas tidak boleh"
"Cowok itu sebenarnya senang di cemburuin loh Ki"
"Masa sih pa?"
"Iya. Karena cowok itu paling suka keberadaannya diakui. Jadi ketika cewek cemburu berarti cowok itu sangat berarti baginya. Makanya cowok juga seneng saat di butuh kan, seperti Yang papà bilang tadi cowok suka keberadaannya diakui. Sampai sini paham?" Tanyanya memastikan kepada Yuki yang dari tadi hanya diam mendengarkan.
"Paham pa" jawabnya dengan senyum malu-malunya.
"Pinter" ucap Hadi mengelus kembali pucuk kepala Yuki " sekarang coba Kiki jelaskan sama abang apa Yang Kiki rasain, biar abang juga ngerti dan gak mengira-ngira Kiki kenapa. Ingat, sepeka apapun cowok, cowok tetap tidak pernah tau apa yang ada difikiran cewek. Cowok gak seorang cenayang yang tau tanpa diberi tau".
Yuki menyunggingkan senyumnya dengan lebar.
__ADS_1
Mendapat pencerahan dari Hadi membuat perasaan Yuki merasa membaik, setidaknya dia sudah bisa tersenyum.
"Makasih ya Pa udah dengerin bahkan kasih solusi untuk masalah Kiki. Baru kali ini Kiki ngerasain gimana rasanya cerita sama papa atau mama. Kiki bersyukur banget" ucapnya tulus.
Hadi hanya membalas ucapan Yuki dengan senyum tulusnya juga
"Papa gak punya anak perempuan, atau saudara perempuan. Dan dengerin cerita Kiki kayak gini tu, jadi pengalaman berharga bagi papa. Papa jadi tau gimana rasanya mengkhwatirkan anak perempuannya" lanjutnya menatap Yuki penuh arti. "Lain kali kalau ada masalah jangan dipendam sendiri lagi ya, coba berbagi sama papa atau mama. Kiki bukan orang lain lagi di keluarga ini" ucapnya yang dianggukan Yuki serta dengan senyum merkahnya.
Dia merasa tersentuh dengan perlakuan keluarga Raka, baik dari papa mama dan adiknya Raka. Semua sayang dan peduli sama Yuki. Yuki merasa mendapatkan keluarga baru yang gak pernah dia rasakan.
Tak lama setelah mereka selesai bercerita tentang masalah Yuki, tampak lah Nana dan Arka yang saling gandengan tangan menuju area parkir tempat dimana mereka menunggu.
"Lah ada Kaki" ucap Arka antusias setelah sampai didalam mobil, "tumben Kaki ikut?"
"Gak boleh nih Kaki ikut?" Tanya Yuki dengan pura-pura tersinggung.
"Eh bukan gitu" ucapnya gelagapan, "adek tuh seneng, Kaki sering-sering ya ikut mama jemput adik" lanjutnya dengan wajah polosnya, melihat itu membuat Yuki jadi gemesh sendiri dan mengacak rambut anak cowok itu.
Melihat Yuki yang sudah bisa tertawa lepas, Nana jadi melempar pandangannya pada Hadi dengan menggerakkan mulutnya tanpa suara "Udah?" Yang dianggukin oleh Hadi serta menempelkan jari jempol dan telunjuknya membentuk huruf o di udara serta mengedipan matanya pada Nana.
🐝🐝🐝🐝
"Ma, Pa" Panggil Raka. Semua orang yang ada dimeja makan menoleh pada sumber suara. "Maaf yah baru dateng" lanjutnya menyalim kedua tangan orang tuanya, lalu mengacak kepala adik bungsunya Arka.
Selanjutnya dia beralih pada Yuki yang berada disebelah Arka, "hai" ucapnya juga mengusap pucuk kepala Yuki.
Yuki yang masih gengsi karena sudah menyuekin Raka hanya membalas dengan gumaman saja.
"Kok baru datang bang? Mama sama papa udah mau balik loh" ucap Nana cemberut melihat anak sulungnya yang dari tadi ditungguin untuk makan bersama malah baru datang.
"Hehe maaf ma, tadi abang lagi discussi sama temen. Jangan cemberut dong" Sahutnya membujuk mamanya. Nana tidak menjawab dan asik memakan makanannya.
Yuki dan Arka yang dari tadi mendengar tidak mau ikut campur masih fokus dengan makanan mereka masing-masing.
"Uda gak apa-apa, biar mama urusan papa. Abang mau makan dulu atau gimana? Papa harus balik lagi soalnya ke kantor".
"Abang ikut balik aja lah pa" jawabnya melirik Yuki sekilas.
Hadi menoleh pada Yuki "Kiki pulang sama abang gak apa-apa? Soalnya Papa harus mampir kekantor dulu"
Mendengar itu Yuki langsung menghentikan makannya, gimana bisa dia kesini sama mama papanya Raka tiba-tiba pulang harus sama anaknya. Mana Yuki lagi diaman lagi sama Raka, kan malu.
"Gak apa-apa kan sayang?" Bujuk Nana
"Iya ma gak apa-apa" jawab Yuki pasrah. Mau menolak juga gak enak.
"Adek sama abang juga ya pa" sambung Arka
"Abang pakai motor dek, ya masa kita gonceng tiga?" Jawabnya melihat lucu pada adeknya itu.
"Eh gitu, iya deh" balasnya cemberut.
"Lain kali ya kita main bareng. Sekalian sama Kayo sama Masval" bujuk Raka. Yang dijawab anggukan dari Arka.
"Yaudah ayo pulang, malah bengong" ajak Nana merangkul leher Arka menariknya keluar restaurant dan diikuti yang lainnya.
"Abang hati-hati bawa motornya. Jangan ngebut" pesan Nana setelah berada di parkiran mobil. Raka dan Yuki lebih memilih mengantar mama dan papanya dulu.
"Iya ma" jawabnya menyalim tangan mama papanya dan diikuti oleh Yuki.
Setelah mobil yang dikendarai Hadi sudah melaju meninggalkan Yuki dan Raka, tinggallah mereka berdua saja yang masih diam-diaman tanpa bersuara.
"Mau balik atau mau diem-dieman disini?"
"Balik lah" jawab Yuki cepat masih dengan muka juteknya.
"Yaudah ayo, malah bengong" ajak Raka menarik tangan Yuki dan memasukkannya kedalam kantong hoodienya. Yuki pasrah saja tangannya ditarik oleh Raka menuju parkiran motor.
"Udahan ya ngambeknya"
"Siapa yang ngambek sih" balas Yuki sewot mengalihkan tatapannya dari Raka. Menghindari tatapan Raka yang meluluhkannya.
"Ada tu tetangga depan ngambek gak jelas" sindir Raka melirik Yuki. "Aww sakit car" teriak Raka meringis mendapati cubitan dipinggangnya.
"Baikan ya, jangan ngambek-ngambek lagi" ucapnya merangkul leher Yuki, "Kalau cemburu juga bilang-bilang ya biar aku sering ngelakuinnya" goda Raka dan kembali mendapati cubitan lebih keras dari yang pertama.
"KDRT ih" teriak Raka kesakitan.
"Bodo. Salah siapa ngomong gak di filter" balas Yuki galak tapi masih dengan pipi yang merkah merona.
"Damai dulu lah, lagi romantis gini gandengan. Masa masih berantem"
"Ya kamunya ngeselin" cicit Yuki mendongak menatap Raka
"Habis kamunya gemeshin" balas Raka, mengecup kening Yuki penuh sayang.
"Dih cium-cium sembarangan. Malu ih" ucap Yuki malu-malu mengedarkan pandangannya ke area parkir.
Aman, untung gak ada orang, batin Yuki
Lalu menoleh pada Raka dengan tatapan galaknya "Kalau diliat orang gimana?"
"Ya biarin, sama pacar sendiri ini kan" jawab Raka santai membalas tatapan Yuki
"Ch ah susah ngomong sama manusia kayak kamu yang sespesies sama Gio gini" ucap Yuki berdecak buang muka.
Raka meraih pipi Yuki menariknya agar menoleh padanya.
Chup
"Masih mau bawel?" Ancam Raka mencium bibir Yuki.
__ADS_1
**Next**🐝