
Setelah acara lamaran Raka didepan keluarga Yuki beberapa bulan kemarin di terima, sekarang Raka dan Yuki sedang disibukkan dengan mempersiapi berbagai keperluan acara pernikahan mereka. Mulai dari gedung, gaun, undangan, catering sampai souvenir hampir semua sudah beres sekitar sembilan puluh lima persen.
Semua ini tak luput dari kerja sama mereka sebagai sepasang calon pengantin yang kompak dan juga calon pengantin yang tidak terlalu ribet untuk segala urusan acara mereka.
Mereka cukup mempercayakan segala keperluan acara pernikahan mereka dengan wedding organize yang sudah mereka pilih sebelumnya, dan juga ada beberapa hal yang di bantu oleh Nana mamanya Raka.
Dan selama mempersiapkan acara pernikahan tersebut, ada beberapa hal yang membuat mereka ribut kecil dengan adanya perbedaan pendapat dari ke duanya, ya tidak jauh berbeda dari pasangan calon pengantin pada umumnya.
Seperti Yuki yang minta ijab kabulnya digabungin dengan acara resepsi, tapi Raka ingin dipisah saja, karena dia mau waktu yang khusuk untuk acara sakral saat ijab kabul. Kemudian, Yuki mau resepsinya diadain di indoor dengan tema yang fomal, tapi Raka pengen diadain di outdoor dengan tema garden party.
Dan betapa beruntungnya Yuki punya calon suami seperti Raka yang pada akhirnya nurut dan ngalah dengan keinginan calon istrinya.
Begitu juga dengan Raka yang beruntung memiliki calon istri seperti Yuki yang segala keputusannya selalu bertanya kepadanya, walau tak jarang pada akhirnya keputusan itu tetap berada ditangan Yuki sendiri.
Raka sendiri tidak pernah mempermasalahkan hal itu, menurutnya acara resepsi pernikahan seperti ini memang ajangnya para wanita untuk mewujudkan sesuai dengan apa yang mereka mimpi-mimpikan.
Dan dia sebagai pria dewasa yang selalu diajarin oleh kedua orang tuanya untuk berprilaku sebagaimana pria dewasa menghormati pilihan perempuan, cukup menerima dan menikmatinya.
"Jadi gak apa-apakan Bang, entar gaunnya ada motif warna pink?" Tanya Yuki. Mereka sekarang berada di boutique yang mengurus pakaian pengantin mereka untuk fitting terakhir kalinya.
Jadi menjelang acaranya diberlangsungkan kan yang hanya tinggal beberapa hari, tepatnya delapan hari lagi, mereka harus sudah menyelesaikan semua hal yang menyangkut urusan mereka berdua. Karena nantinya mereka berdua akan dipingit dirumah masing-masing dan dilarang untuk bertemu sampai hari H sesuai dengan adat yang dijalanin.
Raka tersenyum, "jangan kan motif, full pink aja enggak apa-apa kayak koko pink waktu itu" batin Raka mengingat kejadian beberapa tahun lalu ketika mamanya hamil Arka dan ngidam ia dan papanya harus memakai koko berwarna pink. Hal yang membuat ia kebal dengan warna pink sampai sekarang.
"Gak apa-apa Car, yang penting bagus menurut kamu" jawab Raka dengan tenang.
"Bener gak apa-apa? Gak terpaksa kan?" Tanya Yuki memastikan.
Raka meraih tangan calon istrinya agar Lebih mendekat kearahnya "sini liat" ucapnya menarik Yuki "liat mata aku, ada rasa-rasa terpaksanya gak?" Lanjutnya yang membuat Yuki diam seribu bahasa terkunci akan mata indah Raka.
Sementara karyawan boutique yang mendampingi mereka tidak jauh dari mereka duduk sekarang, buang muka dengan pipi yang bersumuh memerah melihat adegan yang dapat membuatnya iri.
"rumput tetangga emang lebih hijau" batin Karyawan tersebut.
Setelah melihat keromantisan dari kedua pasangan itu ia memilih menjauh, mengingat dia sudah tidak diperlukan lagi dan juga ingin memberi privacy untuk pelanggannya.
"Sampai sekarang aku masih penasaran Kenapa mata Abang bisa sebagus ini?" Ucapnya terpesona tanpa berkedip.
Raka yang mendengar jawaban Yuki yang tidak sesuai atas pertanyaannya mengerutkan keningnya bingung.
"Bisa gak yah besok anak kita punya mata sebagus ini" lanjutnya tanpa sadar yang membuat Raka menggigit bibirnya menahan senyumnya yang hampir saja melebar.
Raka yang tidak tahan ditatap seperti itu mengusap wajah Yuki dengan kasar agar tersadar dari lamunannya.
"Abang!" Berang Yuki.
"Biar sadar, habis bengong gitu liatin akunya. Entar kalau udah sah kita buat anak yang matanya kayak Abang" goda Raka menahan tawanya Yang hampir keluar melihat tampang Yuki yang sudah memerah seperti udang.
"Kok Abang tau aku mau punya anak yang kaya gitu matanya" ucap Yuki malu-malu menunjuk mata Raka.
Raka tertawa dengan kerasnya, untung dia segera menutup mulutnya. Kalau tidak seisi ruangan ini bakalan dengar tawa Raka yang menggelegar "Tadi Kamu ngomong langsung kayak gitu, gak sadar ya?" Tanyanya yang masih menggoda Yuki
Yuki masih bengong dengar ucapan Raka tadi, hingga beberapa menit dia sadar dan langsung membalikkan badannya memunggungi Raka dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dia tidak sadar atas ucapannya beberapa menit lalu itu diutarakannya secara didepan Raka.
Malu ****. **** banget emang, batin Yuki merutuki betapa **** dirinya.
Raka yang melihat kelagat yang menggemashkan dari calon istrinya cuma bisa menyunggingkan senyum lebarnya. Gak tau Kenapa baginya apapun yang dilakukan gadis didepannya ini dapat menarik perhatiannya dan membuat ia merasa gemesh sendiri.
"Sama Abang sendiri masih malu? Gimana bisa jadi anaknya kalau malu gitu" ucap Raka sedikit berbisik masih menggoda Yuki.
Yuki langsung melayangkan tangannya pada paha Raka membuat si korban meringis kesakitan "Ngomong apa sih bang ih" elak Yuki tanpa menoleh.
Raka gak tau apa, dibalik itu pipi Yuki udah berubah lebih merah dari pada udang rebus dan juga tiba-tiba udara berubah jadi panas menurut Yuki.
"Lah tadi katanya mau punya anak biar matanya samaan kayak aku" jawab Raka dengan polosnya dan membuat Yuki menggeram mendengarnya.
"Ya iya, tapi gak usah di jelasin gitu. Kan malu ih" balas Yuki masih memunggungi Raka, gak berani menghadap langsung ke calon suaminya.
"Coba sini hadap Abang, malunya gimana" ucap Raka menarik Yuki menghadapnya kembali, dan terpampanglah wajah manyun Yuki dengan bibir yang sudah maju beberapa senti.
Raka tersenyum melihat ekspresi manyun dari calon istrinya tersebut "uluuu-uluuu tayang sini-sini peluk" Ucapnya menarik Yuki kedalam pelukannya. Yuki yang di tarik begitu pasrah saja, dia tidak peduli dengan beberapa pelanggan lainnya yang melihati mereka dengan wajah mupeng.
Baginya pelukan dari Raka ini merupakan salah satu candu yang wajib didapatinya setiap hari.
"Yuk pulang" ajak Yuki yang masih setia dipelukan Raka.
"Gimana mau pulang kalau masih dipeluk gini" goda Raka yang membuat Yuki langsung melepas pulakannya dan memberi tatapan yang tidak disukai Raka, mata yang diputar keatas dan tanpa eskpresi.
Bukannya kesal atau apa, Raka malah tertawa melihat kelakuan gadisnya itu.
"Hayuk" ajak nya menarik tangan Yuki, berjalan keluar boutique.
"Abang kemobil aja dulu, aku mau ngomong sama Mbaknya bentar" ucap Yuki
"Siap" jawabnya memberi hormat kepada Yuki. Sebelum benar-benar beranjak dari pintu keluar, Raka menyempatkan mencium pipi Yuki "eh kelepasan" ucapnya dengan tampang rasa bersalah dengan segera menutup mulutnya dengan tangannya.
Yuki sendiri yang dicium tiba-tiba dan didepan umum seperti itu ingin marah, tapi melihat tampang Raka yang lucu seperti itu membuat Yuki menahan kemarahannya.
"Dah sana masuk mobil" usir Yuki mendorong-dorong badan Raka.
🐝🐝🐝🐝
Setelah selesai dari boutique, Raka dan Yuki memilih mengahabiskan waktu weekend mereka duduk santai di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari rumah Yuki.
"Udah berapa kali sih dibilang jangan minum yang manis-manis, tetep aja diminum. Ngeyel banget sih" omel Raka pada Yuki yang duduk didepannya sedang asik menikmati green tea floatnya.
Yuki yang tidak peduli omelan Raka tetep asik meminum minumannya.
__ADS_1
Raka yang melihat kelakuan perempuan yang beberapa hari lagi ini akan menjadi istri sahnya hanya bisa tersenyum tipis. Pasalnya sekeras apa ia melarang, maka sekeras itu juga Yuki memohon agar diizinkan.
"Udah ya, lain kali gak ada yang namanya jajan manis-manisan" ucap Raka sedikit tegas dengan wajah seriusnya.
Mendengar itu Yuki langsung menoleh kearah Raka "Abang" rengeknya dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin.
Melihat itu hampir saja Raka luluh. Tapi setelah dia mengingat beberapa belakangan ini pacarnya itu sering merasa stress Karena mengurus dan menjelang pernikahan ia melampiaskan dengan memakan dan meminum yang manis-manis. Dan hal itu yang membuat kali ini dia tidak boleh luluh hanya Karena ditatap seperti itu.
"No!" Ucap Raka singkat dan tegas dengan menggeleng kan kepalanya, guna mempertegas ucapannya.
Yuki menghempaskan punggunnya pada sandaran kursi lalu melipat kedua tangannya didada dan menatap Raka dengan tatapan sinisnya "kita nongkrong di cafe, masa gak boleh pesen yang manis-manis" omel Yuki, "bolehnya pesen air putih gitu? Ck ah" lanjutnya berdecak langsung buat muka.
Mendengar omelan Yuki, Raka mengetuk kening gadis itu pelan yang hanya dapat lirikan oleh Yuki "Abang bilang kan lain kali car, bukan ngelarang. Habis beberapa hari ini kamu minum sama makan yang manis-manis loh" jelas Raka tenang dengan suara lembutnya, "ntar sakit sayang" lanjutnya yang membuat Yuki langsung menoleh kearahnya.
"Mau kan denger Abang kali ini? Buat kebaikan Kamu juga kok. Ntar kalau sakit gimana? Misalnya sakit gigi, emang mau pas acara ntar pipi Kamu bengkak, terus gak bisa senyum didepan tamu-tamu?" Ucap Raka kembali dengan menjelaskan efek apa yang terjadi jika dia terlalu sering memakan yang manis-manis.
Mendengar penjelasannya Raka membuat Yuki meringis hanya kerena membayangkannya, ia menggeleng kan kepalanya semangat tanda tidak ingin hal seperti itu terjadi.
"Gak mau" ucapnya sedikit menekukkan bibirnya kebawah "
Tau gini, kenapa gak dari kemarin-kemarin ya di takutin, Batin Raka menggigit bibirnya menahan tawa.
"Yaudah sini peluk sama Abang biar tenang" ucapnya mendekatkan diri dan merentangkan kedua tangannya yang langsung disambut oleh Yuki.
"Ngomongin sakit, mama sakit apa bang?" Tanya Yuki melepas pelukannya dari Raka.
Raka mengerutkan keningnya "sakit?" Tanyanya bingung Yang di jawab anggukan dari Yuki.
"Iya, tadi pagi mama bilang gak bisa ikut ke boutique Karena sakit" jawabnya polos.
Mendengar jawaban Yuki membuat Raka melepas tawanya.
"Kok ketawa? Gak ada yang lucu juga" balasnya cemberut, tak terima di ketawain.
Raka mengacak pucuk kepala gadis yang berada disampingnya ini dengan menahan tawanya "ya emang gak ada yang lucu sih" jawabnya santai, "emang mama belum ada bilang sama pacar?"
"Bilang apa? Mama gak ada ngomong apa-apa, cuma bilang mama sakit terus ntar perginya berdua sama Abang aja. Udah gitu doang".
Raka tersenyum "mama lagi hamil" bisik Raka pelan tepat di telinga Yuki, yang langsung membuat sang pemilik berteriak histeris.
Sadar hal konyol Yang baru saja dilakukannya membuat Yuki segera menutup mulutnya, dan menatap sekeliling cafe dengan tatapan minta maafnya pada mengunjung Yang merasa tidak nyaman dengan teriakannya tadi.
Berbeda dengan Yuki Yang merasa malu dengan kelakuan konyolnya, Raka malah menikmati dengan tawa yang tidak berhenti.
"Abang sih ih, bikin aku kaget" amuknya kesel memukul bahu Raka, "eh tapi beneran mama hamil bang?" Tanyanya antusias, kini raut kesal itu sudah pergi entah kemana.
"Yap bener sekale" jawab Raka santai.
"Serius?" Ulang Yuki yang hampir histeris kembali, Yang di anggukin males dari Raka.
Kesel juga ditanya berulang-ulang untuk jawaban yang sama.
"Ya Allah ih aku seneng banget" ucap Yuki bahagia dengan menggenggam tangan Raka, "mama yang hamil, kamu sama adek yang mau punya adik. Kok aku yang seneng sih ih" lanjutnya dengan wajah Yang terpancar bahagia.
"Pokoknya aku seneng" ucapnya reflek memeluk Raka. Raka sendiri tidak menolak dipeluk mendadak seperti itu, "aku tu udah lama tau bang pengen punya adik bayi. Tapi gak kesampaian" lanjutnya.
"Bentar lagi kamu juga bakal punya adik bayi sendiri car" goda Raka yang tidak disadari oleh
Yuki.
Yuki melepas pelukannya "mama aku gak bakal hamil" balas Yuki datar, mengingat mamanya yang gak mau menikah kembali.
"Aku kan gak bilang dari mama kamu car"
"Terus?"
"Ya dari pacar lah, tenang ntar aku bantu" jawab Raka santai dengan kedipan sebelah matanya.
"Sakit" teriak Raka mengelus perutnya.
Dia gak tau pernah salah apa perutnya sama gadis yang disebelahnya ini, hingga selalu jadi korban kekerasan.
"Makanya itu otak jangan mesum" balas Yuki.
"Kok mesum sih? Kan bener, ntar kita juga bisa punya kalau kita kerja sama" jelas Raka.
Yuki berdecak "iya tau, tapi gak mesti jelasin sekarang juga kalik bang"
"Terus kapan dong?" Pancing Raka.
"Ya ntar kalau udah sah" jawab Yuki malu-malu merunduk ke meja, yang langsung dapat tertawaan dari Raka.
"Gemesh" timpal Raka mengendus leher Yuki.
"Udah berapa bulan sih bang? Kok bisa gak keliatan?" Tanya Yuki.
"Raka tampak mengingat-ingat "berapa ya, Abang lupa. Kayaknya tujuh atau enam bulanan deh" tebak Raka.
"Gimana sih, gitu aja bisa lupa" timpal Yuki kesal.
"Tujuh deh, Abang tau mama hamil waktu sebelum Abang sidang. Itu umur kandungannya udah 4 minggu. Jadi kalau dihitung sekarang iya tujuh bulanan car" jelas Raka, sementara Yuki sendiri mengganggukan kepalanya tanda paham dengan apa yang dijelaskan oleh Raka.
"Bang, yuk balik" ajak Yuki.
"Yakin mau balik?" Tanyanya memainkan anak rambut Yuki. "Gak mau puas-puasin dulu? Seminggu loh kita gak bakal jumpa" Ucap Raka mengingat kan.
Yuki tampak memikirkan kembali ucapan Raka "iya ya, tapi mau pulang aja. Mau jumpa mama. Mama jahat gak bilang-bilang kalau lagi hamil. Lagian bisa banget nyembunyiin perut gede gitu" omel Yuki dengan bibir yang sudah mengerucut ke depan.
"Bilang sama mamanya dong, masa sama Abang" protes Raka.
__ADS_1
"Ya makanya hayuk balik, Abang" geram Yuki.
Yuki memicingkan kan matanya Melihat raut wajah gak senang dari Raka "atau jangan-jangan Abang ni yang gak mau balik cepet-cepet ya?" Goda Yuki.
"Nggak ah" jawab Raka cepat buang muka.
"Heleuh, bohong ni" ucap Yuki mencolek dagu Raka.
"Apa sih car"
"Gak mau balik cepet-cepet kan?" Ulang Yuki.
"Iya-iya, Puas?"
Yuki tertawa "ya Allah gemeshnya" ucap Yuki geram memeluk tangan Raka.
"Jadi, gak jadi balikkan?" Tanya Raka memastikan dengan tampang sedikit berharap.
"Oh jadi dong, masa nggak" jawab Yuki pasti dengan wajah songong, yang membuat Raka langsung menatap Yuki dengan tatapan datarnya.
Tentu melihat itu membuat Yuki pecah tawa, jarang-jarang bisa jailin Raka begini. Lagian menurutnya tumben sekali pacarnya ini bersikap manja seperti sekarang ini.
Raka tak mempedulikan tawa Yuki, sekarang mood nya benar-benar buruk.
"Yaudah hayuk balik" ajak Raka menarik tangan Yuki tanpa ekspresi.
"Bentar" cegah Yuki, "Kenapa tu muka kayak gini" tunjuknya, sedang kan Raka langsung buang muka tak ingin ditatap seperti itu oleh Yuki.
"Gak Kenapa-kenapa" jawab Raka masih buang muka.
"Abang yang aku kenal gak begini, dia selalu menyampaikan langsung keinginannya. Jadi Abang Kenapa?" Tanya Yuki.
Raka yang tadi sudah berdiri duduk kembali "seminggu itu lama, pacar malah minta balik cepet-cepet. Kan ketemuannya belum puas"
Yuki langsung mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari Raka. Ia akui Raka termasuk kategori cowok manja, tapi walaupun demikian pacarnya itu tau tempat dimana dia bisa bermanja-manja.
Dan untuk kali ini, Raka tidak pernah bersikap manja seperti ini.
"Abang kenapa? Tumben kayak gini" Tanya Yuki.
Raka sendiri yang gak tau ada apa pada dirinya menatap Yuki "Gak tau, akhir-akhir ini bawaannya kangen terus pengen deket kamu aja gitu" jawabnya.
Yuki makin mengerutkan keningnya "tumben banget. Biasanya juga aku yang minta-minta deket sampai ganggu kerjaan kamu"
"Gak tau, pacar pelet Abang ya?" Tanya Raka asal yang membuat Yuki langsung memukul lengan Raka.
"Aw" Ucap Raka meringis. Tadi perut, sekarang lengan. Siap ini apa lagi?.
"Mulut nya, keseringan main sama Gio gini ni, jadi gak bener" omel Yuki.
Sementara diseberang sana.
Gio menggaruk telinganya yang gatel, pertanda orang menyebut namanya "Lagi mules gini, sempat-sempatnya orang jelek-jelekin nama gue" ucap Gio miris yang sedang nongkrong di tempat terdamainya.
"Becanda car. Love you" bujuk Raka, yang tidak ditanggepin oleh Yuki.
"Dih ngambek" goda Raka mentowel-towel pipi cubby Yuki yang enggan untuk menoleh.
"Dulu-dulu bilangin aku bucin. Sekarang bilang kalau aku main pelet. Padahal nyatanya emang dianya aja yang udah bucin sama kita" sinis Yuki yang membuat Raka tertawa.
Gak tau kenapa hari ini ia gampang sekali tertawa hanya karena melihat gadis didepannya ini.
"Iya emang udah bucin. Makanya di jawab dong itu ucapan cintanya tadi"
"Love you too" balasnya masih enggan menoleh kearah Raka.
"Pacarnya dimana, ngomongnya dimana" sindir Raka.
Yuki yang merasa sindiran dari Raka langsung menoleh, dan seketika bibirnya langsung menyentuh pipi Raka.
"Cium colongan hehe" ucapnya dengan senyum menggoda.
Yuki yang malu setengah mati mendapati ciuman dari Raka di tempat umum seperti sekarang ini langsung menoleh kesegala ruangan melihat apakah ada orang yang melihat mereka.
"Abaaaang ih" amuk Yuki menjambak rambut Raka, sementara Raka yang tau kesalahannya pasrah saja diberlakukan seperti itu.
Perut udah, lengan udah, rambut? Sudah juga. Lengkap.
"Kalau orang-orang liat tadi gimana? Ih aku malu tau bang" berang Yuki yang wajahnya kini berubah jadi merah.
Raka sendiri tampak santai dengan amukan dari Yuki "cium pipi doang kali car, tu orang-orang cium bibir biasa aja tu" bela Raka menunjuk salah satu pengunjung yang berada di meja paling pojok.
Yuki berdecak geram pada Raka "Mau pipi atau bibir, yang jelas aku malu. Kayak gak ada tempat lain aja, masa di tempt umum gini"
"Loh jadi mestinya dimana?" Tanya Raka.
"Ya dimana gitu, mobil atau rumah kek" jawab Yuki polos.
Raka tersenyum dan mengacak rambut Yuki "pacar-pacar, polos banget. Untung bentar lagi mau di halalin"
"Lagian mau di halalin atau nggak, aku percaya kalik kamu gak bakal berani Lebih dari kissing" goda Yuki memainkan alisnya.
Mendengar pernyataan Yuki membuat Raka hanya bisa tersenyum. Pacarnya benar, ia tidak akan pernah bisa melakukan hal lebih dari itu.
"Kissing aja udah buat aku merasa bersalah, apa lagi lebih dari itu" ucapnya.
"Ini ni yang buat aku gak pernah takut mau deket gimanapun sama kamu" ucapnya santai dengan senyum manis "sayang Abang banyak-banyak" lanjutnya memeluk pinggang Raka yang dibalas oleh Raka.
"Sayang pacar juga, tapi bohong"
__ADS_1
"Abang!"
**Next**🐝