
"Pacar besok udah ngampus ya?" Tanya Raka, tapi matanya sibuk membaca kata perkata yang ada dibuku Yang saat ini sedang dibacanya.
Yuki menoleh "Iya, udah kangen sama Dea juga. Abang juga udah mulai masuk kerja lagikan besok" jawab Yuki yang lagi tidur selonjoran disamping Raka dengan sebuah laptop yang ada didepannya.
Raka yang tengah asik membaca buku disamping Yuki menoleh pada istrinya tersebut.
"Iya, cuti Abang kan cuma tiga hari car. Pacar diajak honeymoon gak mau" jawabnya menutup buku yang dibacanya tadi.
Yuki mengerucutkan bibirnya cemberut "terus siap pulang dari honeymoon baru aku pusing mikirin gimana tugas akhir, gitu?".
Raka tertawa lalu mendekat menarik tubuh Yuki kedalam pelukannya.
"Terus apa gunanya Abang kalau pacar masih pusing mikir tugas akhir? Abang kan bisa bantu" ucapnya membenamkan wajahnya ditengkuk istrinya itu.
Udah berapa kali Yuki protes dengan kelakuan Raka yang suka membenamkan wajahnya ditengkuk atau lehernya tetap saja suaminya itu tidak pernah mau dengar. Sekali dengar, beberap menit lagi dilakuin lagi. Gitu aja terus. Lama kelamaan Yuki udah jengah dan juga udah terbiasa akhirnya membiarkannya saja.
"Ntar ya bang, kalau aku udah buntu banget baru minta tolong. Sekarang aku mau berusaha dulu" ucap Yuki memainkan jari-jari Raka yang ada di perutnya.
Raka mengangkat kepalanya menatap wajah cantik istrinya, Yang juga menatapnya "semangat ya. Ingat ada Abang disamping pacar sebagai suami, ada Abang di belakang pacar sebagai supporter" ucapnya dengan lembut membuat hati Yuki menghangat mendengarnya.
Bagi Yuki saat ini gak ada yang lebih sempurna di matanya selain suaminya.
Walau suaminya itu jarang menyuarakan perasaan atau mengumbar kata-kata cinta, tapi Raka selalu royal dengan kata-kata yang bisa membuat Yuki selalu bangga dan bahagia memiliki suami seperti Raka.
Lagi pula ia bukan cewek yang gila dengan kata-kata cinta, atau cewek yang selalu minta di sanjung. Bukan, Yuki bukan cewek seperti itu. Ia hanya seorang cewek yang butuh seseorang yang bisa mensupport apapun pilihannya. Dan ia temukan di diri Raka.
"Aku gak bakal lupa selagi cincin ini masih aku liat dijari Abang" jawabnya mengangkat tangan Raka yang dijarinya melingkar cincin pernikahan mereka.
Raka mengangguk lalu mendaratkan ciumannya di pipi Yuki yang awalnya hanya ciuman tapi lama kelamaan berubah menjadi gigitan kecil.
"Ninggalin jejak, habis Kamu ya bang" geram Yuki menatap Raka yang sedang nyengir padanya.
Mendengar itu wajah Raka yang awalnya bahagia tiba-tiba cemberut.
"Kan pipi sih car, bukan yang lain-lain" timpal Raka.
"Ya makanya pipi, Abang" ucap Yuki dengan wajah datarnya "Gio itu pasti masih berkeliaran dengan perasaan keponya. Aku tu udah ngebayangin gimana wajahnya Gio kalau ngeliat satu celah aja" Lanjutnya dengan mendengus mengingat wajah menyebalkan dari cowok yang bernama Gio.
Raka mengeratkan pelukannya hingga kepala Yuki sekarang berada di dada cowok itu "Gio salah apa sih car sampai dimusuhin segitunya".
"Gak salah apa-apa sih, tapi wajahnya cocok banget buat ditindas. Udah gitu dia gak pernah marah haha jadi seru di gangguin" jawab Yuki dengan tertawa yang diikuti oleh Raka juga.
Mereka tertawa bersama.
"Jahat banget. Istri siapa ini" goda Raka mengecup bibir Yuki.
"Istrinya Abang lah, kenapa? nyesel? Sorry gak bisa" balas Yuki dengan santainya lalu memeletkan lidahnya pada Raka.
"Udah gak usah mancing-mancing. Sini tidur sama Abang" balas Raka mencium sekilas bibir Yuki lalu menarik kembali badan istrinya tersebut kedalam pelukannya dengan kakinyaΒ mengimpit kaki Yuki, serta tangannya mengelus punggung wanita tersebut.
ππππ
"Ma, maaf ya Kaki ketiduran. Tadi niatnya mau ngerjain tugas akhir, eh endingnya malah ketiduran" ucap Yuki berdiri didepan mama mertuanya dengan perasaan malu.
Gimana gak malu, saat ini ia tinggal dirumah mertua tapi kerjaannya gak ada. Masih pagi tapi udah tidur, terus gak ada bantu-bantu lagi.
Nana tersenyum begitu lembutnya menepuk-nepuk sofa yang ada disampingnya "sini" ucapnya memanggil Yuki.
Yuki mendekat dengan rasa bersalah bercampur malu lalu mendaratkan bokongnya di sofa kosong tersebut.
"Kok ngomongnya gitu? Ini kan rumah Kaki juga, lupa ya kalau Kaki itu anak menantu dirumah ini, hm?" Ucap Nana.
"Ya tapikan Kaki malu ma, mama lagi hamil. Bukannya membantu, Kaki malah enak-enakan tidur" cicitnya, menunduk.
Nana mengelus bahu menantunya itu "Mau bantu apa? Mama aja juga gak ada kerjaan. Eh tapi bener Kaki Mau bantu mama?" Tanya NanaΒ yang dijawab cepat dengan anggukan dari Yuki.
"Mau, mau. Mama mau Kaki ngapain?" Tanya Yuki bersemangat menggenggam tangan Nana.
"Bun" panggil Gio yang baru datang.
"Nah itu orangnya" ucap Nana menoleh pada Gio dan diikuti oleh Yuki juga.
Yuki menatap tampang santai Gio dengan kening berkerut.
Kok bisa Gio disini sementara suaminya memberitahunya kalau ia ke kantor mendadak karena ada hal penting yang harus di urusnya dengan proyek yang dipegangnya saat ini.
"Gak kerja?" Tanya Yuki.
"Kerja lah. Lo liat wajah gue ada tampang suka makan gaji butanya emang?" Balas Gio santai lalu duduk di sebelah Nana, sehingga sekarang ibu hamil itu ada ditengah-tengah Gio dan Nana.
"Terus kalau kerja ngapain disini?" Tanya Yuki sedikit nyolot.
Nana yang gak ke bagian untuk ngomong memilih diam menunggu gilirannya.
"Eh pengantin baru" sindir Gio melirik Yuki yang terhalang oleh Nana, "gue itu kesini juga karena menjalankan tugas dari bapak boss" sambungnya.
"Bohong lo kan? Tugas apaan sampai disuruh kesini?" Balas Yuki masih tak percaya.
"Gak tau, Tanya bunda ni. Ayah bilang gue di suruh kerumah karena bunda nyuruh. Gitu" jelas Gio.
"Apa ma?" Tanya Yuki kali ini pada Nana.
Gio geleng-geleng kepala melihat Yuki yang penasaran seperti itu "Kepo" timpalnya, membuat Yuki melempar bantal sofa yang ada ditangannya pada Gio.
"Diem lo" sahut Yuki tak terima di katain seperti itu.
Gio nurut diam dengan hati yang dongkol.
"Kaki tadi bilang sama mama mau bantuin mamakan?" Tanya Nana yang akhirnya kebagian untuk bicara.
"Eh iya, mama mau Kaki ngapain?" Tanya Yuki kembali bersemangat melupakan rasa kesalnya pada Gio.
"Beliin mama salad buah yang ada di jalan Senopati dong, deket sekolah adek".
"Oke. Mama tunggu dirumah ya, biar Kaki beliin" ucap Yuki berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga untuk mengambil dompet dan juga kunci mobilnya.
"Tapi sama Gio ya" lanjut Nana yang membuat Yuki tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya yang sudah menginjak Satu anak tangga dengan wajah kagetnya.
Sementara Gio yang sebenarnya sudah tau tampak terlihat santai saja.
"Mau?" Lanjut Nana bertanya kembali dengan wajah yang terlihat tenang tapi sedikit berharap.
Yuki tidak langsung menjawab, ia menoleh sebentar pada Gio yang dengan songongnya juga menatapnya.
"Iya mau ma" jawab Yuki pasrah tak tega menolak permintaan ibu hamil tersebut.
Gio berdiri dari duduknya "yaudah Ayo kalau gitu. Ntar keburu jam makan siang, jalanan macet".
"Ya sabar dong. Mau ambil dompet dulu ke atas" jawab Yuki dengan juteknya.
"Please deh, lo lagi jalan sama anak pengusaha batu bara ya. Jadi gak usah kayak orang susah gitu deh" balas Gio membanggakan dirinya.
Mendengar itu membuat Yuki menatap Gio sinis dengan bibir sebelah naik keatas, sementara Nana senyum saja mendengar kalimat yang pada kenyataannya itu emang benar.
"Ma Kaki jalan dulu ya. Doain Kaki pulang dalam keadan tanpa tanduk" ucapnya pamit menyalim tangan mama mertuanya.
Nana tertawa dengan mengelus perutnya.
"Ada-ada aja sih Ki" timpal Nana geleng-geleng, "Gio, bawa mobilnya hati-hati, kasian mobilnya kalau nabrak" lanjutnya membuat Gio mendengus.
"Bunda" lirihnya cemberut "Kok malah mobilnya yang di kwahtirkan" celetuknya memelas.
"Itu karena mobil lo lebih mahal dari diri lo" sambung Yuki membuat Nana tertawa kembali.
Gio tak menjawab ucapan Yuki, ia mendengus kencang tepat didepan wajah Yuki. Jelas hal itu membuat Yuki dengan cepat melayang tabokannya di bahu cowok itu, tak lupa dengan tampang galaknya.
"Dah ah, ma Kita berangkat dulu ya. Assalammualaikum" ucapnya menyalim Nana dan berjalan keluar rumah yang diikuti Yuki disampingnya.
"Waalaikumsalam, hati-hati sayang" sahut Nana masih di posisi duduknya.
ππππ
"Ih ada ketoprak. Beli yuk?" Ajak Yuki pada Gio yang berjalan di sampingnya.
Semua orang yang berada dikawasan tersebut melihat kearah mereka berdua. Gimana tidak, Gio yang berpakaian rapi dengan kaos yang dilapisi jas serta sepatu converse untuk melengkapi penampilannya.
Sementara Yuki sendiri hanya menggunakan kaos yang dipadukan dengan celana tidur serta dilengkapi dengan sendal jepit. Sangat tidak cocok sekali untuk mereka berjalan bersamaan seperti itu.
Tapi pada dasarnya mereka berdua yang memiliki sifat cuek tidak peduli dengan orang-orang sekitar yang melihat mereka dengan tatapan aneh untuk Yuki, serta memuja untuk Gio.
"Suka ketoprak emang?" Tanya Gio berjalan santai dengan tangan dimasukkan kedalam kantung celana.
Yuki menoleh "suka, tapi gak pakai toge" mendengar nama toge Yuki memeletkan lidahnya seperti ingin muntah.
Mendengar itu Gio memandang kearah Yuki bingung "bukannya toge bagus buat kesuburan ya?" Tanya Gio polos Yang langsung dapat tatapan tajam dari Yuki.
"Oke skip" lanjut Gio yang tau diri dengan tatapan tajam dari Yuki tadi.
"Selesai pesen punya mama, kita mampir kesana ya" tunjuk Yuki kembali ke kios ketoprak tadi.
"Atur aja, ntar gue bilang nggak, tiba-tiba gue pulang tinggal nama lagi" sindir Gio melirik Yuki.
Yuki menoleh lalu tertawa begitu lebarnya, dan Gio yang melihat itu mencibir mengacak rambut Yuki.
Selesai dengan pesanan Mama mertua Yuki, Gio dan Yuki berjalan kekios ketoprak sesuai dengan rencana mereka tadi.
"Mas ketopraknya dua, Satu gak pakai toge ya" pesan Gio kepada penjual ketoprak, sementara Yuki sudah duluan memilih meja untuk mereka duduk.
__ADS_1
Tak berapa lama Gio duduk, pesanan mereka datang juga.
"Gimana hubungan lo sama Bee?" Tanya Yuki dengan menyuapkan ketoprak ke mulutnya.
"Ya gitu lah, kadang manis kayak gulali dipasar malam, kadang pait kayak teh gak pakai gula, kadang hambar kayak sop kurang garam" jawab Gio sedikit tak bersemangat membahas hubungannya yang sampai sekarang belum lancar seperti jalan tol.
Yuki menoleh dengan bibir mencibir "galau banget ya?".
Gio tak langsung menjawab, ia menarik nafasnya dalam lalu dihembuskannya keras.
"Gak galau, kadang bingung aja mau dibawa kemana hubungan gak jelas ini" lirih Gio yang mulai sedikit ngedangdut.
"Terus mau nyerah?" Tebak Yuki.
Gio diam kembali, lalu menoleh menatap Yuki, membuat Yuki mengangkat alisnya bingung.
"Lo aja bisa nunggu Raka sampai happy ending gini, masa gue yang cowok gak bisa" ucapnya pelan tapi penuh dengan ke yakinan serta senyumnya yang mekar membuat Yuki ikut tersenyum.
"Bagus" ucap Yuki menepuk kuat bahu Gio "itu baru namanya cowok" lanjutnya memainkan alisnya membuat Gio tertawa pelan.
"Lo gimana?" Tanya Gio kembali melanjutkan makannya.
"Gimana apanya?" Tanya Yuki dengan mulut yang berisi dengan makanan.
"Gimana selama menjadi istri dari anaknya Yudhistira?" Jelas Gio dengan mengunyah makanan.
Yuki mengambil gelas yang berisi dengan es teh manis, lalu di minumnya sebelum menjawab pertanyaan Gio.
"Ya seperti yang lo liat. Gue bahagia, mereka semua memperlakukan gue seperti anak mereka sendiri. Dari awal gue kenal sampai sekarang gue nyaman sama keluarga ini, mama sama papa gak pernah nganggap gue orang asing, begitu juga sama adek yang bisa langsung deket sama gue, padahal gue tau dia orang yang cukup selektif. Gue gak ngerti mereka itu hatinya terbuat dari apa" jawab Yuki dengan tenang mengingat wajah kedua mertuanya.
Yuki ingat betul gimana pertama kali ia masuk kedalam keluarga itu dulu, ia langsung berasa dianggap seperti anak sendiri, yang membuat Yuki nyaman seperti menemukan keluarga baru kembali.
"Gue juga gak tau terbuat dari apa, yang jelas mereka orang-orang baik yang pernah gue kenal" timpal Gio yang dianggukin oleh Yuki.
Yuki noleh pada Gio yang sedang menyisihkan kentang ke pinggir piringnya.
"Gak suka kentang?" Tanyanya Ketika melihat itu.
Gio menggeleng "lembek" jawabnya menyuapkan kembali campuran beberapa sayur kedalam mulutnya.
"Sini buat gue" timpal Yuki menyendok beberapa kentang dari piring Gio kepiringnya.
"Gue seneng makan sama lo sama Abang, gue dapet apa yang gue suka secara cuma-cuma" lanjutnya Yang membuat Gio menyerngitkan keningnya bingung.
"Maksudnya?".
"Ya ini, sama lo gue dapat kentang karena lo gak suka kentang. Kalau sama Abang gue sering dapet kuning telur ...".
"Karena Raka gak suka kuning telur?" Ucap Gio menyambung kalimat Yuki yang dipotongnya.
Yuki mengangguk dengan senyum bahagianya seperti habis memenangkan sebuah hadiah besar.
"Padahal biasanya gue yang sering dapat tu" sinis Gio yang membuat Yuki menghentikan tangannya menyendok.
"Ha?" Tanyanya bingung.
"Iya, biasanya yang sering kebagian kuning telur dari Raka itu gue".
Yuki tertawa keras "lo doyan juga?" Tanyanya tak percaya.
Gio mengangguk dengan polosnya.
"Sorry dude" timpal Yuki menepuk bahu Gio "status gue lebih tinggi dari lo, jadi gue lebih berhak dari pada lo sekarang" lanjut Yuki dengan wajah songongnya Yang membuat Gio tersedak dengan makanannya sendiri.
Bukannya menolong, Yuki malah menertawai tampang kasihan cowok itu, yang pada akhirnya Yuki menolong dengan memberi Gio minum karena kesedaknya tak kunjung berhenti.
"Makanya kalau makan itu pelan-pelan dong. ini nggak, kayak orang gak makan setahun aja" omel Yuki mengusap leher cowok itu.
"Eh upil dugong" timpal Gio menoyor kening Yuki "Ini kalau gak karena lo nepuk bahu gue, gue juga gak bakal kesedak begini" lanjutnya kembali masih terihat kesal dengan kelakuan istri sahabatnya itu.
"Ya maaf" cicit Yuki yang merasa bersalah lalu nyengir menampakkan gigi kelincinya.
"Lo sendiri gimana bisa deket sama yang lainnya termasuk keluarganya abang?" Tanya Yuki menyudahi makannya.
Gio menopang dagunya dengan sebelah tangan lalu mengerutkan keningnya yang tampak berfikir mau dari mana ia akan memulai ceritanya.
"Gue, Raka, Noval dulunya waktu SD satu academy olahraga. Tapi kita semua gak deket, karena kita beda tim udah gitu sifat kita juga beda. Raka yang selalu ramah dan sopan sama siapa saja, Noval yang pendiam dengan muka juteknya dan gue yang kata orang berisik dan gak mau tenang" jelas Gio menghentikan sejenak ceritanya untuk menyeruput minumnya.
"Tapi waktu SMA kita gak sengaja daftar di sekolah yang sama, udah gitu sempat Satu kelas juga. Yaudah sejak disitu kita semua dekat, kemana-mana bareng karena hampir semua kegiatan kita diluar sekolah samaan".
"Disitu gue jadi mikir, ternyata pandangan gue selama ini kalau kita gak bisa deket dengan orang yang sifatnya berbeda dengan kita itu adalah salah. Buktinya Gue, Raka, Noval memiliki sifat yang sangat bertolak belakang tapi bisa bersahabat. Kenapa? Karena kita saling melengkapi".
Yuki masih diam mendengarkan dengan seksama cerita dari Gio yang menurutnya sangat menarik.
"Khusus untuk Raka, pertama gue kenal di academy gue taunya dia gak punya mama, tapi dipertengahan gue sering liat dia diantar sama wanita yang ternyata mamanya, Bunda. Bunda ramah banget, walau gue gak deket sama anaknya dia sering senyum atau negur gue. Disitu gue udah mulai deket sama Bunda. Jadi waktu SMA dekat sama Raka, sama bunda jadi makin deket. Yang pertama juga karena Bunda jiwanya masih berjiwa anak muda, kalau cerita deket Bunda itu bebas, kita gak ada segan-segannya. Sama ayah juga gitu, yang penting kita ngomongnya gak kelewat batas" lanjut Gio bercerita tentang awal mulanya bisa dekat sama keluarga Yudhistira.
"Serius? Gue gak pernah denger cerita itu. Emang mama mau ditinggal? Bukannya mama paling gak bisa ya jauhan sama anak-anaknya? Diajak keluar kota atau Negeri sama papa tanpa Raka atau Arka aja mama gak mau" timpal Yuki akan cerita Gio.
"Nah itulah hebatnya bunda Ki. Bunda itu tau dimana ia harus bersikap menjadi ibu dan menjadi teman. Bunda selalu kasih kita q-time untuk para cowok-cowok ngumpul" jawab Gio bangga dengan sifat Bundanya itu.
Yuki tak mampu berkata-kata lagi, ternyata bener Yang dibilang Raka. Mamanya itu emang wanita sempurna didunia ini.
"Mendengar cerita lo, gue jadi ngiri sama Raka atau Arka" lirih Yuki dengan senyum tipis.
Gio mengerutkan keningnya "Kenapa?".
Yuki menghembuskan nafasnya kasar "iya, punya keluarga yang seperfect itu. Lo sama Noval jugakan? Keluarga kalian gak kayak gue".
Gio menatap Yuki dengan senyum tipisnya lalu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Bukan lo aja yang berfikir ngiri gitu, gue juga pernah kalau gue lagi egois" ucap Gio tak semangat membuat Yuki langsung menoleh pada cowok tersebut.
"Lo sama gue itu nasibnya gak jauh beda" lanjutnya lagi Yang membuat Yuki makin penasaran dengan cerita cowok itu.
"Mami papi pulang kerumah cuma sekali sebulan, itu juga gak lama. Paling lama cuma tiga hari. Gue pengen punya keluarga yang selalu nyambut gue setiap pulang dari berpergian dan selalu gue liat setiap gue sarapan tiap pagi. Tapi gue gak punya itu, sama kan kayak lo dulu? Tapi sekarang lo udah senengkan? Gue juga udah" lanjutnya tersenyum menyentuh kepala Yuki.
Diam. Yuki hanya bisa diam. Dia gak tau selama ini perasaannya dan Gio itu sama, sama-sama kesepian. Cuma cowok itu lebih mahir menutup kesepiannya dengan keberisikannya. Yuki salut sama cowok yang ada didepannya ini.
Yuki memiringkan kepalanya menatap Gio yang menunduk lalu mengangkat tangannya dengan jempol uang mengacung didepan wajah Gio.
"Hebat" ucap Yuki dengan senyum manisnya.
"Untuk?" Tanya Gio bingung.
Yuki kembali menyandarkan badannya ke kursi "karena lo gak pernah ngeluh" lanjut Yuki.
"Kan gue udah bilang, lo aja bisa masa gue nggak" balas Gio dengan songongnya yang membuat Yuki kembali hilang respect pada cowok itu.
"Nyesel gue muji liat muka songong lo ****" maki Yuki dengan sinisnya Yang membuat Gio tertawa keras.
Kembali ke aslinya, batin Yuki.
"Udah ketawanya?" Tanya Yuki dengan malasnya.
"Udah dong, seneng gue dapet supply vitamin hari ini" jawab Gio memainkan alisnya naik turun.
"Gue mau nanya serius kali ini" ucap Yuki pelan menoleh kekiri dan kekanan.
"Apaan?" Tanya Gio ikut menoleh kekiri dan kekanan seperti Yuki dengan tampang bingung.
"Abang pernah pacaran gak?" Tanya Yuki pelan.
Mendengar itu membuat Gio mencibir menatap Yuki.
"Lo kan istrinya, ya lo Tanya langsung sama orangnya lah" balas Gio gak mau menjawab.
Yuki cemberut "malu" cicitnya pelan.
"Terus sama gue gak malu gitu?" Sinis Gio.
Yuki menggeleng "Nggak, lo orangnya kan gak tau malu. Jadi gue biasa aja" jawab Yuki dengan santainya.
"*******" maki Gio dengan senyum terpaksanya.
"Cepat kasih tau" paksa Yuki menarik-narik lengan jas Gio.
"Pernah" jawab Gio dengan terpaksa.
Yuki langsung memutar badannya kembali menghadap Gio "Pernah? Cantikan siapa? Gue atau mantannya?" Tanya Yuki sedikit menaikkan suaranya Yang membuat Gio sedikit terkejut.
"Lo mau tau banget ya?" Tanya Gio santai dengan tangan Yang terlipat didada.
Sementara Yuki mengangguk dengan penuh harap.
"Lo jangan besar kepala ya, gue juga terpaksa ngomong gini" ucap Gio membuat Yuki makin penasaran "Masih cantikkan elo" lanjutnya membuat Yuki tersenyum dengan jari telunjuk dan jempol yang mengacung lalu ditaruhnya di dagunya.
"Udah gue duga, gue itu emang paling cantik" ucapnya dengan wajah songongnya.
Gio yang melihat kelakuan norak dari cewek didepannya mencibir dengan geli.
"Terus-terus Kenapa bisa putus?" Lanjut Yuki kembali bertanya.
"Ya karena gak jodoh lah. Kalau jodoh mungkin lo gak sama Raka sekarang" balas Gio seenaknya membuat Yuki melayangkan tangannya sangat kuat ke paha Gio.
"Sakit woi" teriak Gio meringis.
"Makanya mulut tu di sekolahin" berang Yuki dengan sinisnya.
__ADS_1
"Lah kan gue bener sih" sewotnya mengelus pahanya yang masih kesakitan.
Yuki tak merespon kembali, ia diam memainkan pipet yang ada digelas didepannya.
Gio tersenyum tipis "Udah sih, kan lo yang dapetin Raka juga, ngapain masih bahas-bahas masa lalu".
"Kan gue penasaran, emangnya gak boleh" ucap Yuki tanpa menoleh.
"Oke gue kasih tau" lanjut Gio membuat Yuki kembali tertarik menghadap Gio.
"Mungkin mantannya gak secantik lo Ki, tapi dia baik banget. Orangnya kalem, tenang, ya mirip Raka banget sih kalau menurut gue, tapi ini versi ceweknya" jelas Gio.
"Terus kenapa bisa putus? Selingkuh? Dengan alasan Kamu terlalu baik buat aku, gitu?" Sindir Yuki yang tak terima mendengar pujian untuk mantan pacar Raka.
"Bukanlah, lo pikir mereka berdua lagi main sinetron" balas Gio.
"Terus?".
"Lo pernah denger gak? Positive sama positive itu gak bakal bisa nyatu, begitupun dengan negative sama negative. Mereka harus berlawanan biar bisa tarik menarik".
"Ha? Maksudnya?" Tanya Yuki yang tak mengerti dengan penjelasan Gio.
Gio berdecak ia membenarkan duduknya sebelum kembali menjelaskan ucapannya.
"Raka positive, mantannya itu positive. Jadi mereka berlawanan. Biar ada saling Tarik menarik jadi mereka harus membutuhkan negative. Contohnya ya kayak lo gini negative, bar-bar" ucap Gio menjelaskan membuat Yuki menatap tajam kearah cowok itu.
"Mau bar-bar atau apapun itu, bodo amat. Yang penting gue yang dapetin Abang" balas Yuki tak mau kalah begitu saja dengan mantannya Raka.
"Iya-iya. Atur aja Ki atur. Udah sesi tanya jawabnya? Udah bisa balik sekarang? Gue mau balik ke kantor lagi" Tanya Gio yang dianggukin oleh Yuki.
"Yuk, kenyang gue denger cerita lo" balas Yuki melangkah duluan menjauhi Gio keluar Kios dengan menenteng plastic yang berisi pesanan mama mertuanya.
Gio mentap punggung Yuki dengan senyum tipisnya "Dasar perempuan" sindirnya.
πππππ
"Bun, Gio balik dulu ya. Di kantor masih ada yang mau dikerjakan" pamit Gio setelah selesai dengan tugasnya membeli salad untuk istri bossnya itu.
"Gak disini dulu? Bentar lagi ayah sama adek pulang. Sekalian makan malem disini aja Yo" balas Nana yang berusaha berdiri dengan perut gedenya.
Yuki yang disebelah wanita itu membantunya berdiri.
"Terima kasih" bisik Nana dengan senyum lembutnya dan mengelus wajah menantunya.
"Kapan-kapan ya Bun, beneran Gio masih ada kerjaan yang tadi belum kelar".
"Yaudah, Bunda minta maaf ya udah buat Gio repot hari ini" ucap Nana yang merasa tidak enak.
Gio tersenyum "kan buat adik Gio juga, gak masalah" jawabnya mengelus perut wanita tersebut, "Gio pamit ya Bun, gue balik Ki" ucapnya melangkah keluar rumah.
"Hati-hati, Ada lampu merah terobos aja" ucap Yuki membuat Gio kembali membalikkan badannya dengan sedikit memiringkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya Gio yang dianggukin oleh Nana yang ikut penasaran.
"Kali aja bosen hidup" jawab Yuki dengan wajah ngeselinnya.
Gio diam dengan tatapan tanpa ekspresi lalu mengacungkan jari kelingkingnya kedepan wajah Yuki yang dibalas dengan meletan lidahnya dari Yuki.
Nana sendiri yang melihat kelakuan dua orang dewasa Yang seperti anak-anak itu geleng kepala dengan mengelus perutnya.
Jauh-jauh ya Nak, batinnya dengan tersenyum lembut.
"Abang udah pulang ya ma?" Tanya Yuki ikut duduk disamping Nana.
"Udah, dikamar deh kayaknya lagi tidur Ki. Dari tadi gak turun-turun" jawab Nana membuka saladnya.
"Kaki mau gak?" Tawar Nana.
"Gak ma, Kaki kenyang tadi udah makan ketoprak sama Gio" tolaknya dengan menyengir.
"Emm ma, Kaki keatas boleh?" Tanya Yuki malu-malu.
Nana Mendengar pertanyaan konyol seperti itu menyerngitkan keningnya "Loh kok minta izin gitu? Yaudah gih keatas" jawabnya dengan senyum lebarnya.
Yuki langsung melengkungkan bibirnya "Terima kasih mama" ucapnya menyium sekilas pipi mertuanya lalu lari menaiki tangga.
"Pelan-pelan Ki, ntar jatuh" teriak Nana memperingati yang dijawab dengan acungan jempol dari Yuki.
Setelah sampai dilantai atas, Yuki langsung masuk kekamar Raka yang sekarang juga ditempatinya dan menemukan Raka sedang tidur dengan memeluk guling.
Melihat Raka memeluk guling dengan posesivenya, Yuki dapat ide jail. Ia tarik pelan guling tersebut lalu dengan berhati-hati ia naik keatas kasur dan menggantikan guling tadi dengan badannya sendiri untuk dipeluk Raka.
"Dari tadi kek" bisik Raka dengan mata terpejam membalas pelukan Yuki lebih erat.
"Loh gak tidur?" Tanya Yuki mengangkat kepalanya.
"Di gangguin gimana bisa tidur" jawab Raka masih dengan mata tertutup.
"Sorry" balas Yuki mengusap wajahnya di dada Raka.
"Cium dulu biar di maafin".
Chup\~
Satu ciuman mendarat dipipi Raka.
"Itu tadi apa?" Tanya Raka kaget membuka matanya.
"Ciumkan" Jawab Yuki cepat.
"Kok gak berasa?".
"Kayak gini gak berasa?" Ulang Yuki kembali mencium pipi Raka.
"Nggak berasa car" kekeuh Raka membuat YukiΒ tampak bingung.
"Jadi yang berasa gimana?" Tanyanya tak mengerti kemana maksud tujuan Raka.
"Ni kayak gini" ucap Raka menarik dagu Yuki lalu mendaratkan ciumannya di bibir istrinya, "berasakan?" Tanyanya, yang dianggukin dengan polosnya oleh Yuki.
"ni kalau mau yang lebih berasa lagi" lanjut Raka kembali mencium, tapi kali ini lebih dalam dan lama dari pada di awal tadi.
Baru saja Yuki terbuai dengan ciuman Raka, Raka menarik tangan Yuki yang sudah masuk kedalam kaosnya.
Yuki mengangkat kepalanya menatap Raka dengan tampang bingung.
"Lanjutin ntar malem aja ya car" bisik Raka mengelus bibir istrinya, lantas hal itu membuat Yuki malu dan membalikkan badannya memunggungi Raka.
"Abang sih mancing-mancing" cicit Yuki.
Raka mendekat dan meraih badan Yuki hingga kepala istrinya itu membentur dengan dada bidangnya "Loh kok Abang sih car?"
"Ya terus masa aku" balas Yuki tak mau kalah.
"Yaudah maaf ya" balas Raka mengecup pucuk kepala Yuki, sementara tangannya sudah melingkar di perut Yuki.
Yuki mejawab dengan deheman memainkan tangan Raka yang ada di perutnya.
"Kemana aja tadi sama Gio?" Tanya Raka dengan lembutnya.
"Ke Senopati beli salad buat mama, terus sekalian beli ketoprak. Enak banget bang, kapan-kapan kita kesana ya".
"Makanan aja, cepet ya. Dasar istri Abang" timpal Raka mengeratkan pelukanya karena sangking geramnya dengan wanita yang berada didekapannya itu.
"Bang" panggil Yuki masih tenang, "Gak usah mancing-mancing ya, ini depan belakang loh aku nahannya" lanjut Yuki menahan tangan Raka yang mulai jauh masuk kedalam kaosnya.
Gimana tidak, di belakang Raka mengendus-ngendus leher Yuki tepat di belakang tengkuknya. Sementara didepan, tangan Raka sudah berjalan mengitari perutnya hingga sekarang hampir naik keatas.
"Siapa yang mancing-mancing sih car. Mancing-mancing tu kayak gini ni" jelas Raka menindih badan Yuki secara tiba-tiba dengan bertumpuh sama sikutnya. Lantas hal itu membuat Yuki menjerit kaget.
"Aaakh! Abang mau ngapain? Tadi katanya ntar malem" cicit Yuki gugup mendapat perlakuan secara tiba-tiba seperti itu.
"Kalau Abang tarik kembali ucapannya boleh?" Goda Raka dengan mencium leher Yuki berkali-kali membuat Yuki meringis menahan geli.
Tanpa disadar, mendapat perlakuan yang membuat Yuki terbuai untuk kesekian kalinya, kaki Yuki sudah melingkar ke pinggang Raka.
"Php lagi?".
Raka tersenyum begitu lebarnya hingga matanya membentuk garis lurus "Kalau pacar mau sekarang, Abang gak nolak" goda Raka kembali dengan kedipan matanya.
Tapi tanpa dijawab setuju oleh Yuki, tangan Raka sendiri sudah menyusup masuk kembali kedalam kaos hingga berada di titik paling sensitive bagi Yuki.
Eeughhh. Lenguh Yuki
"Curang, udah curi start duluan" timpal Yuki cemberut merasakan sesuatu yang tadinya di dadanya sempit tiba-tiba plong begitu saja.
"Sorry" bisik Raka pelan, lalu mendaratkan beberapa kali kecupan di bibir Yuki, sementara tangan satunya lagi masih stay berada didalam kaos istrinya itu.
"Abaaang" panggil Yuki dengan sekuat tenaga menormalkan suaranya.
"Hmm? Kenapa pacar?" Jawabnya ditengah aksinya mengelus perut Yuki yang sudah mulai berjalan naik keatas.
"Mau, boleh?" Mintanya dengan wajah yang sudah sangat-sangat merah.
Raka tersenyum lebar mengangguk "dengan senang hati" bisiknya lalu mendaratkan ciumannya dari bibir menuju leher dan berlanjut hingga kebawah.
"Kalau mau teriak, gigit Abang aja ya. Biar gak kedengeran sampai luar" lanjut Raka kembali.
__ADS_1
**Next**π