KAKI ( Raka dan Yuki)

KAKI ( Raka dan Yuki)
14. Dewasa


__ADS_3

Siang ini Yuki dan Dea sedang berjalan menuju kantin tempat dimana biasanya mereka menghabiskan waktu untuk menunggu kelas selanjutnya.


Seperti biasa kantin selalu ramai dengan berbagai mahasiswa di beberapa fakultas yang ada. Walau banyak kantin yang bisa di pilih, entah kenapa Yuki dan Dea selalu nyaman dengan kantin yang terletak paling pojokan ini. Kantin tersebut merupakan salah satu tempat favoritenya Raka dkk, mungkin hal itu juga yang mengakibatkan Yuki ikutan nyaman dengan kantin ini. Karena bisa melihat Raka.


Yap bener sekali !


"Ki, minum apa?" Tawar Dea setelah memilih meja yang terletak paling ujung


"Gue green tea float dong Dee, mumpung gak ada Raka" jawab Yuki enteng dengan cengirannya.


Raka selalu mewanti-wanti Yuki agar berhenti makan atau minum yang manis-manis, berbahaya katanya, begitu juga dengan Nana- Mamanya Raka. Kemarin saja waktu makan malam Yuki sempat kena ceramah dua SKS dari Papa dan Mama nya Raka karena ketahuan membawa cokelat. Padahal yang beli cokelat itu anak mereka sendiri, yang dimarahi Yuki juga.


Lagian Rakanya juga kepinteran, udah tau Yuki gak suka cokelat malah dibeli. Gak salah Raka juga sih membeli Yuki cokelat, Yuki gak suka cokelat tapi suka kacang yang ada didalam cokelat tersebut.


"Nantik kalau dia nongol tiba-tiba gue gak nolongin yah Ki" balas Dea gak mau ikut-ikutan.


"Iyah. Lo santai aja" jawab Yuki cuek mengedar pandangannya memastikan keadaan aman atau tidak. Tapi orang yang dicari tidak kelihatan, hal itu membuat dada Yuki merasa lega.


"Cari apa lo?" Tanya Dea bingung yang ikutan celinguk sana-sini


"Cari Raka, kali aja dia sembunyi dimana gitu"


"Yeeeu lo kira doi apaan bisa sembunyi dimana-mana" Balas Dea kesal mendenguskan hidungnya "gimana rasanya lo pacaran sama Kak Raka beberapa bulan ini?" Tanya Dea membuka topik pembicaan mereka kali ini.


"Gak gimana-gimana, biasa aja" jawab Yuki cuek. Tapi tampak jelas dimatanya kalau dia begitu bahagia


Dea langsung mentoyor kening Yuki sedikit keras sehingga mampu membuat kepalanya terdorong ke belakang "sakit ****" ucap Yuki sewot.


"Mulut woi, tau Kak Raka bisa menang banyak lo" ucap Dea memperingati.


"Apa sih, orangnya gak ada juga" balas Yuki "lagian kalau di kiss gitu doang gue juga mau kali Dee hihi" lanjut Yuki dengan sedikit genit menutup mulutnya malu.


"Najis. Lo ganjen banget ****" sinis Dea menatap temannya itu


"Becanda gue, Elah lo mah serius amat. Kebelet di seriusin lo?" Tuduh Yuki kepada temannya itu


"Lo ngomong yang nggak-nggak sekali lagi, gue siram pakai ni jus ya Ki" ancam Dea mangangkat gelas jusnya


Mendengar ancaman dari Dea membuat Yuki merapatkan bibirnya, Yuki ingin protes Tapi diurungkan niatnya mengingat ancaman Dea yang tidak pernah main-main.


Sebel melihat Dea yang sibuk chatingan dengan pacarnya, membuat Yuki merasa seperti pot bunga yang sedang dipajang dipinggiran ruangan.


Dia mengambil ponselnya dan menelfon seseorang diseberang sana.


"Dimana?" Tanya Yuki dengan nada manjanya. Dea yang mendengar suara Yuki mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah suara, melihat Yuki yang sedang telfonan dengan nada manja membuat Dea mencibirkan bibirnya.


"Ntar kesini yah, Pulang bareng" adunya pada seseorang dengan menggembungkan pipinya.


"Iya tungguin yah, aku bimbingan dulu. Tapi rada lamaan. Gak apa-apa?"


"Iya gak apa-apa, lagian aku gak ada kelas lagi kok"


"Oke deh, inget ya jangan minum yang manis-manis"


"Semangat bimbingannya. Gak kok, gak minum manis-manis, air mineral doang" jawabnya bohong mendapat tatapan yang tajam dari Dea yang berada disampingnya


"Pinter. Makasih semangatnya. Aku tutup yah telfonnya"


"Iya-iya. Bye bang"


"Oke, bye car" ucap seseorang memutuskan telfonya.


"Uler banget ya Ki, pinter lo. Belajar dimana?" Tanya Dea yang dari tadi mulutnya sudah gatal ingin meneriaki Yuki yang berbohong dan berubah menjadi cewek genit.


"Yeh sama pacar sendiri apa salahnya sih, lo lupa panutan gue siapa ha? Ya elo lah" balas Yuki mendorong kening Dea dengan telunjuknya.


"Alasan lo."


"Bodo" jawab Yuki cuek.


"Ki? Anak-Anak pada gossipin lo. Katanya lo pacar bohongan sama Kak Raka"


"Lo dengerin mereka?" jawab Yuki santai, asik meminum green tea nya belum Raka datang


"Gimana gak dengerin, sepanjang gue jalan mereka ngebahasnya. Lo kan tau Raka gimana, fans segala umat dengan tampang mahadewanya" ucap Dea melebih-lebihi


"Lebay lo. Emang mereka bicarain apa?" Tanya Yuki yang terlihat masa bodo, tapi untuk menghargai temannya itu, Yuki terpaksa harus ngikut arah pembicaraan Dea


"Mereka bilang lo pacaran sama kak Raka cuma numpang tenar, gak pernah kelihatan romatis, sosial media juga gak saling follow"

__ADS_1


Yuki ketawa mendengar penjelasan Dea. Pasalnya itu masalah kecil, kenapa sampai orang-orang diluar sana memperhatikannya segitunya kali.


Yuki gak habis pikir dengan cara pemikiran orang saat ini.


"Kenapa lo? malah ketawa?" Tanya Dea kahwatir


"Nggak, gue heran aja sama orang sekarang Yang suka ngurusin hidup orang. Kayak kurang kerjaan banget gitu" ucap Yuki melebarkan senyumnya tak habis pikir


"Kan gue udah bilang Raka itu siapa, gue rasa lo juga taukan gimana Raka dikalangan mahasiswa atau siswi lainnya".


"Iya gue tau. Bukannya gue gak mau follow to follow sama Raka, cuma kita pengen punya privacy masing-masing Dee. Gue percaya Raka, Raka juga percaya gue. Kita gak se-protective itu sama pasangan"


Sebelum melanjutkan kalimatnya, Yuki menyempatkan menyedot minumannya


"Masalah kita gak pernah terlihat romantis didepan umum kayak couple goals lainnya, Dee gue dan Raka itu pacaran cuma berdua, cukup yang tau gimana kita itu kita berdua aja. Lagian kita juga gak minat pamer-pamer gitu, dan juga gue sama Raka bukan typical orang yang suka ngelakuin hal romantis. Menurut gue dia udah sopan dan manis aja gue udah lebih dari cukup kok" jelas Yuki


Dea cukup melongo mendengar penjelasan Yuki yang menurutnya sangat diluar dugaan.


Dea sendiri tau gimana gaya pacaran Raka dan Yuki, kalau kata anak sekarang mungkin seperti temen rasa pacar. Temen diluar, tapi pacar didalam.


Kalau lagi rame didepan teman-teman manggil dengan sebutan lo-gue, tapi kalau lagi berduaan manggil aku-kamu. Hal yang sangat jauh berbeda dengan Dea.


"Lo nyindir gue ya Ki? Kok gue sedikit ngerasa sama ucapan lo"


Mendengar itu membuat Yuki melepaskan tawanya. Yuki tau gaya pacaran nya dengan Dea berbeda jauh.


Dea yang selalu ngumbar kemesraannya dan Yuki yang selalu terlihat biasa didepan umum.


"Gak lah, ngapain gue sindir lo. Lagian tiap-tiap orang punya gaya pacarannya sendiri, kayak lo sama gue yang beda. Kalau mau sama mungkin cowok kita juga sama Dee" ucap Yuki asal yang beri tabokan yang nyaring dari Dea untuk Yuki


"Mulut lo yah, gak pernah direm. Baru aja tadi gue ngerasa bangga sama lo. Sekarang udah lo jatuhin gitu" balas Dea kesal melihat kebodohan temannya itu "Udah ah gue cabut. Itu temen lo dateng" tunjuk Dea kearah pintu masuk yang menampilkan seorang cowok yang sedang melihat kearah meja mereka.


"Bye" lanjut Dea berlalu meninggalkan Yuki. Sekilas Yuki melihat dua orang tersebut tampak bicara singkat sebelum mereka sama-sama menjauhkan diri.


"Raka mana?" Tanya cowok itu yang sudah mendaratkan pantatnya diatas kursi yang diduduki Dea tadi


"Lagi bimbingan, lo gak bimbingan?" Tanya Yuki menoleh sebentar ke cowok tersebut dan kembali memainkan sedotannya


"Oh gitu" balas Gio tampak tak semangat "Udah tadi" jawabnya singkat, menempelkan pipinya diatas meja yang beralaskan dengan ranselnya.


Yuki yang melihat Gio tak bersemangat mengerutkan keningnya, masalahnya baru kali ini dia melihat Gio seperti ini. Biasanya Gio selalu bisa mancing emosinya tanpa lihat situasi dan keadaan.


Gio menarik nafasnya dalam dan menggeluarkannya kasar "Gak kenapa-kenapa, mood lagi jelek aja" jawabnya dengan mata sayu.


Yuki melongo.


Dia kira cowok disebelahnya ini punya banyak cadangan energy sampai gak bisa ngerasain mood jelek. Pikirannya salah, ternyat Gio juga manusia yang bisa ngerasain mood jelek.


"Coba sini cerita sama gue, kali aja gue bisa bantu"


Mendengar itu Gio menyunggingkan senyumnya "tumben lo baik sama gue" ucapnya sedikit menggoda memainkan alisnya


Melihat itu membuat Yuki berdecak lalu buang muka "Muka lo minta dikasihani sih" jawab Yuki cuek malas melihat muka songongnya Gio


Gio tertawa "Bangke lo" balas Gio mendorong bahu Yuki. "Kemarin gue ikut mami-papi, disana anak-anaknya temen papi pada bawak pasangan, gue jadi envy" lanjutnya yang kini udah menelungkupkan wajahnya sepenuhnya dengan tangan yang terlipat.


Yuki menatap miris dengan cerita Gio, dia baru tau kalau cowok juga bisa merasa envy seperti itu


"Ya cari pacar makanya, jangan nyepik mulu" sewot Yuki


Reflek Gio mengangkat kepalanya dan menegakkan badannya kembali menghadap Yuki "mau cari dimana? Panti jompo?" Tanya Gio sinis. Dikiranya cari pacar itu gampang kali yah.


"Kolong jembatan aja sekali" sahut Yuki tak terima.


Gio mentap Yuki malas menaikkan sebelah bibinya keatas "ck ah katanya mau bantu"


"Eh bukannya lo suka sama Bee ya?" Tanya Yuki memutar badannya penuh menghadap Gio.


Mendengar nama Bee sekilas membuat mata Gio berbinar-binar, Yuki yang melihat perubahan itu yakin kalau Gio beneran suka sama Bee adiknya Noval.


"Tapi abangnya gak suka gue" jawabnya kembali menyenduh mengingat Noval yang selalu melarangnya untuk mendekati Bee


"Gue juga sih kalau jadi Kak Noval juga ngelarang Bee deket sama manusia kerdus Kayak lo" jawab Yuki menunjuk Gio dengan dagunya.


"Tapi Ki, gue deketin cewek lain itu cuma main-main, mana pernah gue sampai say love gitu" bela Gio tak mau di salah kan


"Eh anak dugong, kerna lo gak pernah serius dan hanya main-main itu makanya Kak Noval ngelarang lo. Mana mau lah dia adiknya jadi korban lo" jawab Yuki yang emosinya sedikit tersulut.


"Eh anak monyet" balas Gio tak terima "maksud gue itu, gue nganggap mereka-mereka itu temen, merekanya aja yang baper. Apa salah gue memperlakukan mereka lembut dan manis?"

__ADS_1


"Lo sampai menghancurkan hati mereka, lo bilang lembut dan manis? Sakit lo?" Caci Yuki sinis


"Lo niat bantu gue gak sih?" Balas Gio mulai tak sabaran melihat pembicaraan mereka yang makin melebar entah kemana


"Yaudah gini deh, kalau lo beneran Serius sama Bee, lo tunjukin didepan kak Noval kalau lo serius jangan nyepik sana-sini lagi. Inget restu abang itu nomer satu"


Gio diam cukup lama mencerna ucapan Yuki


"Kenapa Bee gak kayak lo aja yah Ki, anak tunggal. Jadi gue gak perlu lewatin abangnya dulu" ucap Gio dengan mata menyeduh.


Yuki menepuk bahu Gio dengan kasar, sampai Gio meringis sakit "Gak usah ngebacot, cinta itu buta. Lo gak bisa milih sama siapa lo mau, ikuti hati lo. Tunjukin lo serius"


Mendengar itu membuat Gio menatap Yuki takjub "lo habis di kasih apa sama Raka bisa dewasa gini?" Tanyanya curiga


"Lo gak perlu taulah, cukup gue Raka dan tuhan yang tau" jawab Yuki dengan kikikan geli.


Belum sempat Gio memperotes ucapan Yuki kembali, Raka sudah datang bersama Noval, hal itu langsung membuat raut wajah Yuki berubah jadi merkah berbinar-binar.


"Lama?" Tanya Raka tiba-tiba mengusap kepala Yuki dan duduk tepat disebelah gadis itu, yang sekarang posisnya diapit oleh dua cowok itu, Gio dan Raka. Sementara Noval memilih duduk didepan Gio.


"Lumayan sih, tapi gak apa-apa" jawab Yuki lembut disertai senyumannya, yang menurut Gio itu senyum sok imut dengan melirik Yuki mencibir.


"Mau langsung pulang atau kemana dulu?" Tanya Raka kembali membenarkan anak rambut Yuki yang berserakan.


Yuki meraih tangan Raka yang ada di wajahnya itu, dan menariknya kebawah digenggam "langsung pulang aja, gue males disini ada manusia kerdus" jawab Yuki melirik Gio sekilas. Raka dan Noval yang tau maksud dari Yuki hanya ketawa kecil melihatnya. Yang mereka tau Yuki dan Gio tidak pernah akur.


"Balik lo sonoh, gue juga ogah deket uler kayak lo" balas Gio tak terima dengan ucapan Yuki, sementara gadis itu membalas Gio dengan memeletkan lidahnya, yang membuat Gio berdecak geram.


"Lo berdua dari tadi kayak gini? Berantem?" Kali ini pertanyaan dari Noval Yang sudah jengah melihat keributan yang di buat oleh kedua orang itu.


Raka sendiri sudahdiam ingin mendengar jawaban dari orang yang bersangkutan.


"Ya nggaklah, orang kita tadi rangkul-rangkulan. Yah gak Ki" ucap Gio merangkul leher Yuki meminta gadis itu setuju dengan ucapannya.


Noval sendiri yang melihat itu cuma geleng kepala paham dengan watak temannya itu.


Yuki langsung menepis tangan Gio yang ada di lehernya "Baru gue bilang tadi, lo udah buat kesalahan lagi. Ck gak ngerti gue sama lo" ucapnya mentap Gio berang.


Gio yang tau maksud dari Yuki, mengerutkan bibirnya. Dia tau kesalahan yang baru di buat nya kali ini.


"Yuk balik" ajak Yuki menarik tangan Raka yang ada digenggamannya. Sementara Raka yang gak tau apa-apa nurut saja dengan perlakuan Yuki itu.


"Kak gue deluan ya, Gi inget lo berubah" pamit Yuki pada Noval dan Gio sebelum beranjak dari meja yang mereka tempati tadi.


"Kita duluan" ucap Raka sebelum berlalu meninggalkan dua cowok itu.


Setelah sudah ngerasa jauh dari Noval dan Gio, Raka langsung menoleh pada gadis yang berjalan disebelahnya itu.


"Kamu bilang apa sama Gio?" Tanya Raka penasaran dengan ucapan Yuki tadi


Yuki menghentikan jalannya Yang diikuti oleh Raka "Kamu sadar gak kalau Gio beneran suka sama Bee?" Tanya Yuki menatap Raka dengan lekat, yang dianggukan oleh Raka


"Kak Noval tau?" Tanyanya kembali


Sekilas Raka nampak berfikir sebelum menjawab "Noval itu typical cowok yang gak peka. Jadi dia ngira kalau yang dilakuin Gio kayak nyepik atau modus-modus ke Bee itu hany main-main"


Yuki cukup diam beberapa menit "kasian Gio, padahal dia beneran tertarik sama Bee" ucapnya miris mengingat nasib cowok itu.


Melihat itu Raka menyunggingkan senyumnya, walaupun Yuki sering kesal dan emosi dengan tingkah Gio, tapi nyatanya pacarnya itu peduli dengan temannya, buktinya saja pacarnya sampai terlihat prustasi seperti itu.


Raka meraih pipi gembul Yuki "udah gak usah terlalu dipikirkan. Aku yakin kok sebenarnya Noval bukan gak suka liat Gio deketin Bee, hanya saja Noval belum siap kalau Bee lebih deket sama Gio ketimbang dirinya, yah semacam jiwa jealous abang terhadap adiknya lah. Lagian setau aku Noval ngelakuin hal kayak gitu kesemua cowok yang deketin Bee" jelas Raka


Yuki cukup melongo mendengar penjelasan dari Raka. Dia gak tau kalau abang itu punya sifat yang se jealous itu.


Yuki berusaha menyadarkan dirinya, dia tidak boleh iri sama Bee yang bisa merasakan hal seperti itu.


"Aku baru tau kalau Kak Noval se protective itu" ucapnya kembali melanjutkan jalan menuju parkiran mobil.


"Aku juga baru tau kalau kamu tadi sedikit envy sama Bee" goda Raka menoleh pada Yuki


Yuki merapatkan bibirnya menahan umpatannya lalu Yuki buang muka, menghindari tatapan Raka. Dia lupa kalau cowok yang berada disampingnya ini yang sekarang sedang menggenggam tangannya itu ada cowok yang super peka.


"Gak boleh iri-iri gitu, kita semua punya perjalanan hidup masing-masing, ngerti?" Tanyanya mengeratkan genggamannya


"Iyah ngerti" jawab Yuki malu-malu masih tanpa menoleh


Melihat itu Raka melepas genggamannya dan menarik leher Yuki merangkulnya dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah gadisnya "pinter, itu baru pacar abang" ucapnya mencolek dagu Yuki dengan tangan sebelahnya lagi.


**Next**🐝

__ADS_1


__ADS_2