
Setelah seminggu berlalu, dan acara pingitan bagi kedua calon mempelai terlewati, tiba lah waktu dimana acara sakral Yang ditunggu-tunggu datang, yaitu acara ijab dan Kabul dimana Raka akan mengikrarkan janji suci didepan semua keluarga, sahabat dan para saksi lainnya.
Pagi ini Raka tampak lebih tampan dari biasanya, ia menggunakan jas berwarna putih untuk acara ijab dan kabul lengkap dengan bawahan berupa kain batik yang melilit dipinggangnya, tak lupa peci berwarna putih menghiasi kepala Raka.
Hhhuuu
Terdengar suara helaan nafas dari Raka. Jika waktu acara lamaran kemarin dia grogi, kali ini rasa grogi itu jauh beribu-ribu kali lipat dirasakannya.
Hadi melihat Raka yang tampak grogi didepan kaca mendekati anak sulungnya itu "Grogi ya bang?" Tanya Hadi lembut dengan senyum khas yang selalu ia tunjuk kan kepada anak-anaknya.
Raka membalas senyum papanya "banget pa. Rasanya jantung Abang gak tenang berdetak dari tadi"
"Wajar. Papà juga gitu. Bahkan untuk kedua kalinya papa juga ngerasain hal yang sama, malah jauh lebih grogi dari yang pertama" curhat Hadi yang membuat Raka tertawa.
"Karena yang kedua cinta pertama papa kan?" Tebak Raka, Hadi mengangguk dan tertawa, begitu juga dengan Raka yang ikutan tertawa.
Raka tidak pernah merasa kecewa mengetahui bahwa mamanya yang telah pergi tidak pernah ada di hati papanya. Malah dia merasa bangga kepada papanya ini, walau demikian masih bisa memperlakukan mamanya sebagaimana layaknya suami yang sayang pada istrinya.
Hadi mengusap bahu Raka dengan lembut dan juga dengan senyum tipisnya, sementara matanya kini sudah bekaca-kaca menahan tangis yang dibendungnya sedari tadi.
"Anak papa sudah besar" ucapnya mengelus kepala Raka yang dibatasin oleh peci, setetes air mata bening jatuh dari mata Hadi dan mengenai tangan Raka.
Seumur hidup Raka, baru kali ini ia melihat papanya menjatuhkan air mata, apapun itu mau air mata bahagia atau sedih. Ini kali pertama baginya.
"Baru kemarin rasanya abang nangis minta ikut papa dan gak mau papa tinggalin, sekarang Abang Yang bakalan ninggalin papa" ucapnya berusaha terlihat cool, tapi isakan tangis itu keluar dari mulutnya, yang tak mampu ditahannya.
Raka sendiri yang pada dasarnya memiliki hati yang melow sudah meneteskan air mata pada saat papanya menyentuh bahunya.
"Jadi suami yang baik ya bang" pesan Hadi memeluk anaknya, "jangan pernah sekalipun Abang berkata kasar atau bersuara tinggi didepan istri, perlakukan ia selayaknya emas intan permata yang abang punya, harta yang paling berharga" ucapnya melepas pelukkannya dan menangkupkan kedua tangannya dipipi Raka "Ngerti?" Tanyanya mengusap pipi Raka yang basa.
Raka yang tak mampu bersuara hanya mampu menjawab dengan anggukan kepala.
"Papà mama adek, kita semua percaya sama Abang. Abang janji gak bakal ngecewain kitakan?"
"Janji pa" jawab Raka dengan isakan tangisnya.
Hadi tersenyum "terima kasih sudah jadi anak dan Abang kebanggaan kita semua. Papa bangga sama Abang" lanjut Hadi menepuk bahu Raka.
Mendengar kalimat terakhir itu membuat Raka memeluk papanya erat.
"Abang yang berterima kasih sama papa, sudah jadi papà terbaik yang Abang punya. Dan juga sama mama yang sudah tulus sayang sama Abang dan nerima Abang. Papà, mama, adek, nomer satu di hidup Abang. Terima kasih pa, sudah kasih kebahagiaan ini sama Abang. Abang sayang papa" ucap Raka susah payah menahan isakan tanginya, di balik itu Hadi tersenyum mengusap punggung Raka agar lebih tenang.
"Udah jangan nangis, ntar jelek waktu di photo" ejek Hadi mengusap pipi anaknya.
Raka mencibir "Siapa dulu yang nangis?" Sindirnya, membuat Hadi tertawa.
"Papa tadi kelilip debu, kamar Abang jarang dibersihin ni" elak Hadi menyalahkan kamar Raka.
"Pinter banget alibinya, ketularan mama ni pasti"
"Kalau mama denger, bisa kena jewer Abang" mendengar itu reflek Raka memegang daun telinganya dan membuat Hadi tertawa.
Hadi melirik arloji yang melingkar ditangan Kirinya "tiga puluh menit lagi turun ya bang, kita berangkat ke masjid. Papa kebawah duluan" ucap Hadi mengusap kepala Raka dan berlalu meninggalkan Raka sendiri.
Sesuai kesepakatan antara ia dan Yuki, mereka ingin melaksanakan acara ijab kabulnya di salah satu masjid besar yang terletak ditengah Kota, yang tidak jauh dari gedung pernikahan mereka.
Belum benar-benar keluar dari kamar, Hadi bertemu dengan ketiga pemuda yang berpakaian sama dengan yang dikenakannya, yaitu baju melayu berwarna biru dongker lengkap dengan kain songket yang melilit dipinggang mereka.
Untuk yang sudah menikah seperti Hadi, panjang kain songket tersebut sampai dibawah lutut. Sementara untuk Yang belum menikah atau lajang seperti Noval, Gio dan Arka, panjang kain songket itu hanya sebatas diatas lutut.
Pakaian melayu ini dipilih Yuki karena, mamanya memiliki darah melayu.
"Ngapain?" Tanya Hadi kepada ketiga pemuda itu yang sudah berdiri rapi diambang pintu kamar Raka.
Ketiganya saling senggol menyenggol untuk menyuruh siapa yang akan menjawab pertanyaan simple itu.
Raka melihat itu tertawa pelan, padahal papanya hanya bertanya santai tapi tidak ada yang berani menjawab.
"Mau ngobrol sama Abang bentar pa" jawab Arka yang pada akhirnya menjawab pertanyaan papanya dan dianggukin oleh dua orang yang berdiri tepat disamping Arka.
"Jangan lama-lama ya dek, bentar lagi kita harus berangkat" pesan Hadi, mengacak rambut Arka yang tanpa penutup dikepala.
"Ayah kebawah" pamit Hadi dan dianggukin oleh Gio dan Noval.
"KAWIN KAWIN HARI INI AKU KAWIN" teriak Arka dan Gio goyang-goyang menyanyikan lagu dari salah satu grub band ternama.
Noval? Jangan ditanya, mana mau bertingkah **** kayak Gio ini yang tidak ingat umur, mau saja bertingkah kekanakan seperti Arka.
Raka melihat kelakuan absurd dari Gio dan adiknya geleng kepala dengan senyumnya, dia cukup terhibur kali ini.
"Ma broooo gue mau kawin guys" teriak Gio memeluk Raka erat.
Dan dapat pukulan kuat dari belakang oleh Noval.
"Nikah ****, bahasa lo" timpal Noval geram, dan tidak dipeduliin oleh Gio.
"Gi, gue gak bisa nafas" protes Raka melepas pelukan Gio, "lo mau buat gue mati?"
"Sorry-sorry, gue tu seneng sahabat gue bakal sold out" balas Gio dengan tampang ngeselinnya, "kasih gue ponakan cepet ya Ka, gue pengen nimang-nimang bayi" ucap Gio memperagakan gimana caranya menimang bayi.
Arka dan Noval kompak mencibir mendengar ucapan Gio tadi.
"Buat sendiri Gi kalau mau cepet" ucap Raka santai.
Gio berdecak "noh tanya abangnya dulu" tunjuk Gio kearah Noval "Mau gak gue jadi adik iparnya".
"Berisik lo Gi, ada anak kecil juga disini. Masih bahas gituan" timpal Noval menutup kedua kuping Arka dengan tangannya.
"Lah gue gak ngomong aneh-aneh kali Val. Dih pms lo?" Celetuk Gio.
"Bacot" ucap Noval pelan tanpa suara.
"Dek kok diem? Bantuin Kayo dong" ucap Gio meminta bantuan kepada Arka.
Arka tersenyum, tetapi matanya sudah berkaca-kaca.
"Lah dek kok nangis? jangan nangis dong. Malu entar diliat cewek cantik" ucap Gio mencoba menghibur Arka.
Bukannya mendukung, Raka malah memberi tatapan mautnya agar teman kampretnya ini bisa diam.
"Bisa diem gak sih Gi? Lo mana ngerti hal ginian. Mana ngerti gimana rasanya diposisi Arka, abangnya sendiri bakalan punya kehidupan baru. Gak ngerti lo" ucap Noval seperti menyuarakan perasaan Arka.
Gio yang mendapati perkataan seperti itu dari Noval menggaruk tengkuknya yang tak gatal "lo curhat Val?" Ucapnya polos tanpa rasa bersalah.
Raka yang mendengarnya ucapan polos Gio hampir tertawa, kalau saja dia tidak sedang memeluk adiknya.
"Abang kalau udah nikah sama Kaki, masih sayang adek kan? masih tinggal disinikan? masih mau denger cerita adek kan? masih peduli sama adek kan?" Tanyanya bertubi-tubi tanpa memberi jeda buat Raka menjawab.
Raka melepas peluknya, menatap Arka yang matanya sudah mulai memerah "denger ya dek" ucapnya disertai mengelap mata Arka.
"Adek adiknya Abang, gimana bisa Abang gak sayang sama adiknya sendiri. Abang sama Kaki bakal tinggal disini, buat denger semua cerita adek, dan kita bakal dan selalu peduli sama adek. Bukan hanya mama, papà, Abang, tapi Kaki juga" jawab Raka dengan tenang.
"Gak cuma itu, Kayo sama Masval juga peduli sama adek" sambung Gio yang dianggukin oleh Noval.
"Tuh banyak Yang sayang sama adek" jelas Raka, membuat Arka mengangguk dan mulai tersenyum sedikit.
"Abang nikah sama Kaki bukan ngebuat hubungan kita menjadi jauh, bukan. Malah mestinya adek seneng, ada Kaki. kakak perempuan, yang sayang sama adek seperti mama sayang sama kita"
"Nanti juga ada Kabee dek, doain aja ya Kayo jadi sama Kabee" ucap Gio lantang yang membuat Noval melayangkan sepatunya kearah Gio, untung saja Gio cepat mengelak.
"*******" maki Noval pelan yang membuat Gio tertawa ngakak.
Arka dan Raka ikutan tertawa. Setidaknya untuk sekarang Arka sudah merasa tenang.
"Noval, Gio, Adek" panggil Nana diambang pintu, "Ditungguin Papa dibawah sayang" Lanjutnya dengan lembut.
Hari ini Nana pakai pakaian yang senada dengan Yang di pakai Hadi dan ketiga pemuda ini. Warna biru dongker, dengan memakai hijab berwarna abu-abu sebagai penutup kepalanya. Kalau di liat lebih seksama, pakaian yang mereka kenakan saat ini sama seperti pakaian yang digunakan saat lebaran di daerah yang beradat melayu.
"Iya Bun, kita kebawah" jawab Noval, "Ka baca doa, semoga lancar" pesan Noval, Raka menjawab dengan mengacungkan jempolnya diudara.
Dan setelahnya ketiga orang yang dipanggil tadi, benar-benar sudah keluar dari kamar Raka. Tetapi Nana masih setia berdiri diambang pintu kamar dengan memegang perutnya yang lebih kelihatan dari biasanya, atau mungkin karena efek baju yang digunakannya memiliki potongan lebih kecil dari baju yang biasa ia pakai dirumahan.
"Mama ngapain berdiri disana?" Tanya Raka dijawab gelengan dari Nana, "Gak mau masuk liat anaknya yang cakep ini?" Tanjutnya berusaha menghibur Nana. Berhasil, Nana tertawa dan berjalan mendekat kearah Raka.
Nana mengelus pipi Raka dan tersenyum "jagain mantu mama ya sayang, apapun yang terjadi, jangan pernah sekalipun Abang ada niatan buat ninggalin dia. Bisa?".
Raka mengangguk dengan yakin "insha Allah ma" jawabnya.
Nana tersenyum, mengecup kedua pipi Raka "yuk kebawah, kita berangkat" ajak Nana Yang dianggukin oleh Raka.
🐝🐝🐝🐝
Hari ini, merupakan hari yang ditunggu-tunggu bagi semua pasangan kekasih, dimana hubungan mereka akan di halalkan dengan ikatan pernikahan.
Untuk acara ijab kabul yang di ada kan di Masjid, Yuki menggunakan pakaian kebaya berwarna senada dengan Raka, dan juga menggunakan hijab sebagai penutup kepala.
"Ki, yuk berangkat nak" ucap Yuni masuk kekamar anaknya.
Yuki menoleh, menghadap kearah mama Yuni, mamanya Yuki "iya ma".
"Masya Allah, cantik banget anak mama" ucap Yuni, mengelus kepala Yuki.
"Terima kasih ma" balas Yuki dengan senyum bahagianya.
Baginya ini pertama kalinya ia bisa berintekasi sedekat ini dengan wanita yang telah melahirkannya kedunia.
Tanpa bersuara, Yuni selaku mamanya Yuki meraih tangan Yuki dan mengelusnya dengan sayang.
"Maafin mama selama ini tidak pernah ada disamping Yuki" ucapnya dengan mata berkaca-kaca, "maafin mama ninggalin Yuki sendiri. Maafin mama yang tidak bisa memilih untuk bersama Yuki, mama minta maaf untuk kesalahan mama selama ini" lanjutnya.
"Maafin mama tidak bisa menjadi ibu Yang baik buat Yuki" ucapnya menunduk dengan terisak.
"Ma" panggil Yuki dengan lembut, "Yuki yang seharusnya minta maaf, Maafin Yuki yang gak bisa ngertiin mama".
__ADS_1
"Maafin Yuki ya ma" ucap Yuki dengan tulus, mencium tangan mamanya.
Yuni tersenyum dengan begitu lembutnya, mengangguk "Mama mafin nak" ucapnya berusaha tersenyum "mama maafin" ulangnya lagi.
"Udah dong, mama jangan nangis lagi. Ntar make up nya luntur" goda Yuki mengelap pipi Yuni.
Yuni tersenyum, interaksi yang selalu dimimpikannya selama ini.
"Boleh mama berpesan sama Yuki?" Tanya wanita itu hati-hati.
Yuki menyerngitkan keningnya "Yuki anak mamakan?" Tanyanya, "Kenapa harus minta izin? Mama mau pesan apa sama Yuki?".
Yuni tak langsung menjawab, ia menatap anak gadisnya itu dengan lekat.
"Jadi istri harus nurut sama suami ya nak, jangan pernah membangkang. Jangan kayak mama, cukup mama yang ngerasain sakitnya ditinggal" pesan Yuni dengan berusaha tersenyum, menghilangkan betapa pedihnya hidupnya dimasa itu.
"Dengerin apa kata suami, inget ridho Allah ridho suami juga".
Yuki meraih leher mamanya dan memeluknya dengan erat "iya ma, Yuki bakalan ingat pesan mama. Pesan pertama yang mama sampai kan kepada Yuki" lirihnya.
Yuni melepas pelukannya dan mengangguk, "yuk berangkat, kasian Abang udah nunggu lama di Masjid" goda Yuni mencolek dagu Yuki.
"Apa sih ma" protes Yuki dengan senyum malunya.
🐝🐝🐝🐝
"Abang, kangen" bisik Yuki dengan manjanya disamping Raka, setelah beberapa hari ini tidak ketemu.
Sekarang mereka semua sudah berada di Masjid tempat dimana akan berlangsungnya acara ijab kabul.
Raka tersenyum "kangen banget?" Tanya Raka pelan, Yuki mengangguk dengan antusiasnya.
"Banget, banget, banget" jawab Yuki.
"Sabar ya, ntar Abang peluk" godanya mengusap lembut kepala Yuki, "btw, pacar eh istri eh apa sih" ucap Raka tertawa yang diikuti oleh Yuki.
"Mau ngomong apa?" Tanya Yuki masih dengan tertawa.
"Kamu cantik" ucapnya memberikan kedipan mata pada Yuki.
"Dih genit" bisik Yuki malu-malu.
Setelah semua para saksi dan penghulunya sudah hadir, acara pembacaan ijab kabul akan dimulai.
Tampak jelas dari cara Raka menarik nafas kalau kini ia sedang merasa tegang, takut semua tidak berjalan dengan lancar.
"Bismillah dulu bang, biar gak tegang" bisik Yuki menenangkan, mengusap lembut tangan Raka.
Belum mukhrim Ki.
Duh tor, lebih dari ini gue juga udah pernah kalik.
Oh ok deh.
Sebesit wajah tegang itu sekarang sedikit berubah lebih santai "makasih" ucapnya tanpa suara.
"Kita mulai ya" Tanya penghulu.
"Ananda Raka Yudhistira Bin Hadi Yudhistira Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Yuki Marcellia Binti Seno Marcelliawan dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat dan emas dua puluh empat karat sebesar dua belas koma dua puluh lima gram, tunai".
Raka menarik nafas dalam "Saya terima nikah dan kawinnya Yuki Marcellia Binti Seno Marcelliawan dengan maskawinnya yang tersebut diatas tunai" ucapnya dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?"
"SAH!"
"Alhamdulillah, Raka dan Yuki. Sekarang kalian berdua sah menjadi suami dan istri baik secara agama ataupun secara hukum".
🐝🐝🐝🐝
Setelah selesai dengan acara ijab dan kabul dan juga penukaran cincin. Selanjutnya mereka semua beralih ke gedung dimana acara resepsinya diberlangsungkan.
"Cape ya?" Tanya Raka melihat raut lesuh dari perempuan yang kini sah menjadi istrinya sedang duduk dan bersandar dibahunya.
Yuki mengangguk tak bersemangat. Dari tadi hingga saat ini, semua tamu tidak henti-hentinya datang mengucapkan selamat kepada ia dan Raka, alhasil ia tak berhenti untuk berdiri dengan menggunakan high heel setinggi sepuluh sentimeter itu.
"Sini kakinya Abang pijit, pasti pegelkan" ucapnya turun dan berjongkok kekaki Yuki.
"Bang, malu diliatin tamu. Aku gak apa-apa kok" ucap Yuki merasa tak enak dengan semua mata yang tertuju padanya.
"Gak apa-apa, kasian istri Abang. Ini kakinya sampai bengkak gini" jawab Raka sedikit mendongak menghadap Yuki, "sabar ya, bentar lagi juga acaranya selesai" lanjutnya dengan tersenyum.
"Abang manis banget" balas Yuki dengan cemberut.
"Itu muji atau gimana? Mukanya gak singkron gitu"
Yuki tertawa "muji. Sangking manisnya aku gak tau mau berekspresi apa".
Diujung sana, tempat Gio dan Noval berdiri. Gio terlihat miris melihat interaksi Raka dan Yuki sebagai pengantin baru.
"Makanya nyusul kalau mau kayak gitu" balas Noval malas-malasan sibuk merhatiin tamu undangan yang datang.
"Emang boleh?" Tanyanya, mulut sibuk bertanya. Tangan sibuk mencomot beberapa makanan.
"Lah yang ngelarang lo siapa?" Sinis Noval "bokap lo juga nggak gue". Balas Noval santai dengan tangan kanannya masuk kedalam kantong celana.
"Maksudnya gue, emang boleh gue nikah sama Bee?"
"Gi, gue lagi males ribut ya. Tempatnya juga gak mendukung"
Gio meletakkan semua makanan yang telah diambilnya diatas meja, meraih tangan Noval.
"Ngapain lo pegang-pegang tangan gue? Homo lo?" Tanya Noval bergidik horror.
"Najis gue homo sama lo" kesal Gio nenghempas tangan Noval dan menatapnya sinis.
"Ya terus?"
Muka kesel Gio berubah menjadi memohon "restuin gue dong Val, lo gak kasian sama gue yang ganteng ini tapi masih jomblo" rengek Gio memohon-mohon.
"No" balas Noval singkat.
"Yes! Please Val say yes!" Paksa Gio.
"**** mau lo apa sih Gi?" Geram Noval.
"Bee lah, gue mau Bee Noval Alkatiri!"
"Ya terus kalau udah gue restuin, lo mau apa?"
Gio tersenyum "Ya gue nikah lah sama Bee. Gimana sih" jawab Gio dengan entengnya.
Plaaak
"**** sakit ****" berang Gio mengusap bahunya.
"Makanya kalau ngomong otak di pakai. Adik gue masih kecil *****, lagian lo mau lewatin gue? Eh gak usah gue deh, Mas Novan?" Ucap Noval dengan sinisnya,
Gio cemberut, ia tak kuasa mendengar kenyataan kalau ia harus menunggu Mas Novan dan juga Noval nikah dulu baru bisa menikahi Bee.
"Yaudah gue tunggu" ucap Gio tak bersemangat.
"Gio, Noval" panggil Hadi, "Kenapa? Dari tadi ayah liat berantem mulu, lagi ngerebutin apa? Cewek ya?". Tanyanya menyelidiki kedua pemuda ini.
Gio cengengesan "eh ayah, nggak kok. Kita lagi bahas kerjaan. Iyah kan Val?" Ucap Gio menyikut Noval memberi kode.
Noval mencibir atas perlakuan Gio "Gio ngebet nikah yah" jawab Noval jujur, tak mau be kerja sama dengan Gio.
Mendengar itu membuat hadi tertawa, berbeda dengan Gio yang sudah menahan umpatannya untuk Noval.
"Coba sana, berdiri ditempat Abang. Kali aja dapat hidayah" ejek Hadi masih tertawa, melihat Gio cemberut membuat Hadi makin kencang tawanya.
Noval sendiri sudah menahan tawa melihat temannya ternistakan seperti itu.
"Becanda" balas Hadi mengacak kepala Gio "Abang manggil. Katanya dia mau buat surprise untuk Yuki" lanjutnya.
"Yaudah kita kesana dulu ya Yah" pamit Noval dan Gio.
"Jadi?" Bisiknya Gio pada Raka, setelah mereka berada di panggung tempat kedua mempelai duduk.
Sementara Noval bekerja untuk mengalihkan pandangan Yuki.
"Jadi, lo sama Noval tunggu sini. Jagain istri gue" suruh Raka.
"****, istri dong. Udah gak pacar lagi" goda Gio membuat telinga Raka memerah, malu.
"Bacot ah Gi" ucap Raka beranjak dari tempatnya menuju panggung musik.
"Ekheeem. Selamat siang semua, maaf menggangu waktunya sebentar" ucap Raka di atas panggung.
Mendengar suara yang di kenal, Reflek Yuki langsung menoleh kearah panggung, dimana Raka duduk dengan memegang gitar ditangannya.
Raka tersenyum, melihat Yuki menatapnya dengan bingung.
"Abang ngapain disana Kak?" Tanyanya pada Noval yang ada disebelahnya.
"Mau mijit" jawab Gio asal.
Mendengar jawaban Gio, Yuki langsung memasang muka bad mood nya.
"Gak usah dengerin monyet berkoar Ki" hibur Noval membuat Yuki memeletkan lidahnya pada Gio "kita dengerin aja Raka ngpain ya" lanjutnya yang dianggukin Yuki.
"Saya ingin menyanyikan sebuah lagu. Yang jelas bukan lagu saya, karena saya bukan penyanyi" ucap Raka malu-malu, membuat para tamu tertawa.
__ADS_1
"Lagu ini saya persembahkan untuk wanita yang sekarang sudah sah menjadi istri saya. Wanita yang Menurut saya sangat-sangat luar biasa. Luar biasa bisa bikin saya kesel kalau merasa kangen, luar biasa bikin saya uring-uringan kalau tidak ada kabar darinya, luar biasa bahagia bisa liat senyumnya".
Raka tertawa dengan ucapannya sendiri "saya malu, tapi mentor saya Gio, bilang: cewek suka dengar pengakuan jujur seperti itu, yang membuat dirinya berharga. Dan disini saya harus bilang, kamu berharga untuk saya" ucapnya menatap lurus kearah Yuki.
Mendengar kejujuran dari Raka membuat Gio menutup wajahnya "perlu banget nama gue dibawa-bawa Ka" lirihnya merasa malu.
Noval dan Yuki yang ada disamping Gio, ikut tertawa. Begitu juga dengan para tamu lainnya yang tertawa menikmati hiburan dari Raka.
"Terima kasih sudah mau menyukai pria biasa ini dari awal perkuliahan sampai saat ini. Terima kasih sudah mau menunggu hingga saat ini. Terima kasih sudah mau bersabar. Love you so much Yuki Yudhistira. Ayo bekerjasama untuk melewati hari-hari kita selanjutnya dengan kebahagiaan dan tetap berada disamping saya setiap saya bangun tidur dan tidur kembali" lanjut Raka.
Disana, ditempat Yuki berdiri. Yuki sudah meneteskan air matanya merasa haru, speechless, tak tau mau berkata apa-apa.
Selesai mengungkapkan semua perasaannya, Raka memetik gitarnya dan mulai menyanyikan lagu yang dia persembahkan untuk orang yang dicintainya, istrinya.
By My Side - Rendy Pandugo
(Dengerin ya biar dapet feelnya wkwk)
Can you imagine,
Bisakah kau membayangkan,
The sun didn't shine when you woke.
Matahari tidak bersinar saat kau terbangun.
Can you imagine,
Bisakah kau membayangkan,
If I didnt get the letter you wrote.
Andai aku tidak mendapatkan surat yang kau tulis.
I'll be lost to nowhere to go,
Aku akan tersesat kemana pun aku pergi,
I'll be blind and feeling solo...
Aku akan buta dan merasa sendiri...
Solo...
Sendiri...
Can you imagine,
Bisakah kau membayangkan,
To spent the night and find it too cold.
Menghabiskan malam dan merasakan itu begitu dingin.
And I can imagine,
Dan aku bisa membayangkan,
All through the dark when no one to hold.
Sepanjang gelap saat tidak ada seorang pun yang bisa aku peluk.
Turn the light on when we're home,
Hidupkanlah lampu saat kita di rumah,
Stay with me when the night comes.
Tetaplah bersamaku saat malam datang.
Baby you are the light,
Sayang, kau adalah cahaya,
You are my sunshine,
Kau adalah matahariku,
After the dark.
Setelah gelap.
And my baby,
Dan sayangku,
You are my heart,
Kau adalah hatiku,
You are my guide.
Kau adalah pemanduku.
All through the night,
Sepanjang malam,
Stay by my side.
Tetaplah di sisiku.
Huhuhuuuuu...
Huhuhuuuuu...
Baby you are the light,
Sayang, kau adalah cahaya,
You are my sunshine,
Kau adalah matahariku,
After the dark.
Setelah gelap.
And my baby,
Dan sayangku,
You are my heart,
Kau adalah hatiku,
You are my guide.
Kau adalah pemanduku.
Stay by my side.
Tetaplah di sisiku.
Oh baby you are the light (you are the light)
Oh sayang, kau adalah cahaya (kau adalah cahaya)
You are my sunshine,
Kau adalah matahariku,
After the dark.
Setelah gelap.
And my baby (and my baby)
Dan sayangku (dan sayangku)
You are my heart,
Kau adalah hatiku,
You are my guide.
Kau adalah pemanduku.
All through the night,
Sepanjang malam,
Stay by my side.
Tetaplah di sisiku.
You are my guide.
Kau adalah pemanduku.
All through the night,
Sepanjang malam,
__ADS_1
"Stay by my side" ucap Raka melirik Yuki untuk bait terakhirnya.
**Next**🐝