
"Assalammualaikum, Dee" ucap Yuki riang dengan loncat-loncat kecil memasuki rumah besar itu. Tampak jelas dari raut wajahnya kalau dia sedang bahagia, terbukti dari tadi bibirnya tak berhenti mengembangkan senyum lebarnya.
"Waalaikumsalam. Wah kayaknya ada yang lagi seneng ni" goda seorang pria yang tak bukan dan tak lain adalah Denis. Kakak laki-laki Dea.
Yuki menghentikan langkahnya dan menatap Denis dengan malu-malu. Walau sesering apapun ia main kerumah sahabatnya ini dan ngobrol dengan kakaknya Dea, tetap saja kalau lagi berduan gini dia merasa grogi. Masalahnya kakaknya Dea ini, Bang Denis salah satu cowok idamannya Yuki. Cakep, dan kalem. Pokoknya kalau ngelihat Bang Denis, bawaannya adem aja gitu.
Yuki sendiri bukan type cewek yang gampang suka sama cowok. Tapi dia gampang tertarik sama cowok yang berjiwa kalem dan bertutur kata lembut. Catat! Bertutur kata! Bukan yang suka melempar kata gombalan atau modusan.
Dan hal itu lah yang membuat ia suka sama Bang Denis, sama halnya dengan Raka. Bang Denis dan Raka sama-sama memiliki jiwa kalem, dan tutur kata yang lembut. Satu lagi, sama-sama bisa menghargai wanita. Terihat dari cara bang Denis memperlakukan kak Dewi yang jutek, dan Dea yang manja. Bang Denis selalu sabar menghadapi kakak dan adik ceweknya itu.
Tapi tetap saja bang Denis dan Raka berbeda. Bang Denis hanya dikagumin sebagai kakak laki-laki. Sedangkan Raka dikagumin sebagai sesosok pria yang mengisi hatinya.
Mengingat itu membuat Yuki senyum-senyum sendiri.
"Hey" sahut Denis mencolek hidung kecil Yuki, menyadarkan lamunannya yang udah melayang entah kemana.
"Eh bang Denis" ucap Yuki malu-malu, merapikan anak rambut yang berserakan dipipinya.
Denis menaikkan kedua alisnya, ikut ketularan senyum dari Yuki "jadi ada cerita bahagia apa sampai senyumnya gak luntur gitu" ucap Denis kembali menggoda Yuki, yang membuat Yuki makin terlihat malu-malu.
Yuki masih melebarkan senyumnya pada Denis "Lagi seneng aja, project dari kampus udah beres bang" jawab Yuki sengaja berbohong.
Denis menaikkan alisnya menatap Yuki dalam dengan sedikit memicingkan matanya "kayaknya nggak deh, Abang malah ngelihat kayak lagi berbunga-bunga gitu. Pasti ada berita lebih besar dari itu kan?" Tebak Denis yang membuat Yuki memelototkan matanya kaget dengan tebakan Denis tadi.
Refleks Yuki memukul pelan lengan Denis beserta dengan tawa lebarnya "ih apa sih bang Denis, udah kayak cenayang gitu" ucapnya disela tawanya.
Denis ikutan tertawa dengan mata yang membentuk garis lurus "Abang tunggu kabar baiknya ya" ucapnya lembut disertakan dengan mengacak pelan rambut Yuki.
Ini yang membuat Yuki nyaman dan merasa dekat dengan keluarga Dea. Abang dan kakanya nya Dea, bang Denis dan Kak Dewi memperlakukan dirinya seperti adik sendiri. Begitu juga dengan mama dan papanya Dea, Walaupun mereka jarang ketemu tapi cukup dekat dengan Yuki.
Sementara Yuki hanya membalas ucapan Denis dengan kedipan mata dan juga jari yang membentuk oke diudara. Tak lupa dengan senyum lebarnya, yang membuat Denis makin mengacak tangannya dikepala Yuki sangking gemeshnya.
"Yaudah naik gih. Tunggu Dea dikamarnya aja, bentar lagi juga balik kok" ucap Denis.
"Dea gak dirumah bang?" Tanya Yuki yang dibalas dengan gelengan oleh Denis.
Yuki menatap Denis lekat dengan memicingkan matanya "pasti lagi nunggu pacarkan? Makanya nyuruh aku keatas" Tanya Yuki menyelidiki.
Mendengar itu refleks Denis mentoyor kening Yuki dengan jari telunjuknya "apaan, sok tau gini ni bocah. Liat tu abang lagi ada kerjaan" tunjuknya pada laptop yang bergeletak diatas meja.
Merasa tuduhannya salah membuat Yuki merasa malu "eh iya lagi ada kerjaan ya" ucapnya cengar-cengir menggaruk tangannya.
"Yaudah gih naik" suruh Denis.
"Oke, bye bang" pamit Yuki melangkah menjauh dari Denis dan menaiki anak tangga menuju kamar Dea.
Denis yang melihat kelakuan Yuki yang sebelas dua belas dengan adiknya cuma bisa geleng-geleng kepala.
🐝🐝🐝🐝
Lagi asik-asik berbaring di kasur dengan ditemani MP3 yang menempel ditelinganya, Yuki dikagetkan dengan kedatangan sang pemilik kamar yaitu Dea.
"Woi, ngapain lo sini" ucap Dea mengagetkan.
Bukannya menjawab pertanyaan temannya itu, Yuki langsung bangkit dari tidurnya dan berlarih kearah Dea yang masih berdiri didepan pintu "Dee" teriak Yuki heboh meraih tangan Dea, yang jatuhnya seperti sedang merengek-rengek.
"Lo kenapa?" Tanya Dea menyerngitkan keningnya, "dua kali ya Ki lo kayak gini, beberapa bulan lalu diajak pacaran. Sekarang apa? diajak nikah?" Tebak Dea dengan tatapan sinisnya berjalan melewati temannya begitu saja.
"Ih Dee, lo tau dari mana?" Teriak Yuki kembali mengikuti Dea rebahan diatas ranjangnya.
"Tau apa?" Tanya Dea melirik dari ujung matanya.
"Lo tau dari mana gue diajak nikah?"
Dea refleks bangun, sekarang posisinya sudah duduk di atas ranjang menghadap kearah Yuki "serius? Lo diajak nikah sama Kak Raka?" Ulang Dea, yang dijawab dengan anggukan antusias dari Yuki.
"Ki, beneran?" Tanya Dea kembali dengan antusias.
"Iya Dee, lo ngerti bahasa manusia gak sih" kesel Yuki.
"Sumpah Ki, kok gue yang seneng ya dengernya. Terus, terus lo jawab apa? Lo terima kan"
Yuki diam dalam senyumnya melihat kelakuan temannya yang heboh sendiri.
"Kalem Dee. Yuki sekarang bukan Yuki yang **** kayak dulu" ucap Yuki dengan senyum sombongnya.
"Jadi lo terima?" Tanya Dea heboh yang dijawab dengan gelengan dari Yuki.
Dea mengerutkan keningnya "lo tolak?" Tebaknya sekali lagi yang masih dijawab dengan gelengan dari Yuki.
"Lo terima enggak, lo tolak juga enggak. Jadi lo jawab apa nyet?" Ucap Dea yang mulai kesel dengan jawaban yang diberikan Yuki.
Yuki mendekatkan wajahnya kearah Dea dengan senyum tipisnya yang membuat temannya itu menyerngitkan keningnya ditatap seperti itu "gue jawab, gue pikir-pikir dulu" ucapnya santai dengan memainkan alisnya.
Dan seperkian detik mendengar jawaban temannya itu, tangan lentik Dea mendarat sangat kuat tepat dilengan Yuki.
__ADS_1
Plak
"*****! Sakit Dee. Lo kasar banget tayi" teriak Yuki protes dengan kelakuan temannya itu.
Dea yang mendengar teriak Yuki hanya mendenguskan hidungnya tepat didepan wajah Yuki.
"Sakit beneran bangke" aduh Yuki kembali mengelus lengannya yang masih terasa nyeri, "gak ada angin, gak hujan seenak jidat aja lo nabok gue".
"Itu untuk orang yang begonya totalitas"
"Maksud lo?"
Dea menatap Yuki dengan sinis "lo masih nanya maksudnya?" Tanyanya dengan intonasi tinggi.
"Lah ngegas. Kayak orang gak seneng liat temennya bahagia aja".
"Eh nyet! Bukan gue gak seneng liat lo bahagia. Tapi gue gak seneng liat lo yang begoknya udah mendarah daging begini" lirik Dea kearah Yuki dari ujung rambut sampai ujung kaki, yang membuat Yuki sendiri risih ditatap seperti itu.
"Mana yang katanya 'Yuki sekarang bukan Yuki yang **** kayak dulu'. Jawab kayak gituan aja masih salah" Lanjutnya kembali.
Yuki yang tak terima di katain **** langsung protes "dimana salahnya sih?"
"Salahnya itu, kenapa lo gak langsung jawab 'yes I do' kenapa pakai gaya-gayaan 'gue pikir-pikir dulu" ucap Dea yang mulai tersulut emosinya dengan hampir mencekik leher temannya itu.
"Ya gue kan mau jual mahal dulu. Gak mau lah main terima aja, entar yang ada gue dikira ngarep lagi"
Dea berdecak kuat "eh maemunah" ucapnya mentoyor kening Yuki, "tanpa lo undur-undur gitu, bang Raka juga udah tau kalau lo emang ngarep bege" lanjutnya dengan geram.
"Hah!" Balas Yuki dengan tampang polosnya.
"Hah heh hah heh lo. Balik lo sonoh! Ogah gue punya temen yang begenya kayak lo" usir Dea mendorong-dorong badan Yuki keluar dari kamarnya.
"Dee! Kok lo ngusir gue sih" protes Yuki tak mau keluar.
"Suka-suka gue dong. Kamar-kamar gue ini" balas Dea berhasil mendorong Yuki keluar dan menutup pintunya dari dalam, "balik Ki! Lo renungin jawaban lo apaan" usir Dea teriak dari balik pintu.
"Tega lo ya. Temen apaan ni" ucap Yuki mencoba gedor-gedor kamar Dea yang tak ada jawaban lagi dari pemilik kamar.
Yuki diam cukup lama menatapi pintu yang tertutup rapat itu.
"Lo gak tau aja Dee kenapa gue gak langsung terima ajakan Raka. Lo gak tau latar belakang keluarga gue. Gue cuma gak mau nasib nyokap sama, sama nasib gue" lirih Yuki pelan menatap kosong pintu tersebut.
Gak perlu waktu lama, Yuki berhasil menghilangkan rasa sedihnya.
"Nyet gue balik. Bye!" Teriak Yuki menendang keras pintu kamar Dea seperti tak pernah merasakan kesedihan.
"Ki, Ki. Kerna gue tau elo makanya gue dukung" ucap Dea menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan temannya itu.
🐝🐝🐝🐝
"Duar!" Teriak Raka mengagetkan Yuki dari belakang.
"Astaghfirullah Abang!" Teriak Yuki kaget menepuk kuat lengan Raka "kalau aku serangan jantung gimana? Mainnya kaya bocah parah" sewotnya.
"Yah jangan dong" jawab Raka dengan wajah sedihnya "habis kamunya bengong gitu, kalau ntar tiba-tiba Megatron datang terus kamu di culik gimana? Mau?" Ucap Raka menakut-nakutin yang kini sudah duduk tepat disebelah Yuki dengan membawa beberapa cemilan di plastic yang disodorinya kepada ceweknya itu.
Setelah di usir dari rumah Dea, Yuki sengaja mengajak Raka untuk ketemuan ditaman yang berada dikomplek perumahannya.
Yuki menerima plastic yang diberikan Raka dan mengambil isi plastic yang berupa dua kaleng minuman dan diberikannya kepada Raka "yah percuma dong aku punya Bumble Bee kalau sama Megatron aja masih takut" balas Yuki mengikuti lelucon Raka.
Raka tertawa hingga matanya tak terlihat "bisa banget sih pacarnya Abang" ucapnya mengacak kepala Yuki dan menyodorkan kembali satu kaleng minum yang sudah dibukanya kepada Yuki.
"Makasih" ucap Yuki menerima, yang dibalas dengan usapan dikepala Yuki dari Raka.
Mereka berdua sama-sama diam menikmati suasana malam ditaman dengan ditemani sekaleng minuman yang berada di tangan mereka dan beberapa snack lainnya.
"Ka, menurut kamu aku gimana?" Tanya Yuki menoleh sebentar kearah Raka yang sibuk dengan minuman kalengnya.
Raka menoleh kearah Yuki, menatap penuh minat dari atas rambut hingga bawah kaki "bar-bar" jawab Raka singkat tanpa ekspresi.
"Bar-bar?" Ulang Yuki dengan bibir naik sebelah.
Raka mengangguk "Iya bar-bar. Terus galak, cerewet, ngambekkan udah gitu manja lagi" lanjutnya kembali dan membuat Yuki cemberut mendengarnya.
"Kok gak ada bagus-bagusnya ya aku" lirih Yuki menunduk memainkan minuman kalengnya.
Raka yang melihat dan mendengar menyunggingkan senyumnya yang tak telihat oleh Yuki "tapi gak tau kenapa, bisa buat aku tertarik kayak ada maghnetnya gitu".
Yuki mejulurkan lidahnya seperti ingin muntah "najisin banget sih bang, belajar dari siapa?" Tanyanya dengan senyum gelinya.
"Kenapa? Udah cocok jadi casanova kan?" Sombong Raka memainkan alisnya.
"Casanova dari hongkong" sinis Yuki yang membuat Raka tertawa.
"Di balik semua kata yang aku bilang dan menurut kamu gak ada bagus-bagusnya itu, gak tau kenapa hal itu pula yang buat aku jadi suka" Ucap Raka merapikan anak rambut yang mengenai pipi Yuki, "Kamu cantik, munafik kalau aku bilang aku nggak mandang fisik. Tapi lebih dari itu, aku lebih dulu suka sama sifat jelek kamu tadi" lanjutnya mencolek hidung mancung Yuki.
__ADS_1
Yuki yang mendengarnya di buat tertegun, pasalnya dibalik sifat jeleknya itu ternyata ada orang yang menyukainya. Difikirnya selama ini orang hanya melihat bentuk fisiknya saja tanpa mau menerima sifat jeleknya.
Yuki memberi senyum manisnya kepada Raka atas jawaban yang mampu membuat dirinya melayang itu.
"Senyumnya dong kondisiin bikin khilaf aja ntar" Ucap Raka dengan wajah cemberutnya mengusap penuh wajah Yuki.
Yuki yang melihat itu hanya bisa tertawa. Dia cukup tau bagaimana Raka sejauh ini. Dan menurutnya, pacarnya itu masih tau batasan dan menghargainya selayaknya perempuan yang berharga.
"Kamu kenapa ngajakin aku nikah?" Tanya Yuki yang tiba-tiba.
Raka yang mendengar langsung mengerutkan keningnya dengan senyum tipisnya "bukannya akhir dari pacaran itu menikah yah?" Tanya Raka.
"Ada kok yang akhirnya putusan" jawab Yuki cuek mengidikkan bahunya.
"Oh jadi maunya putusan nih?" Tanya Raka menghadap kearah Yuki.
Yuki yang mendengar pertanyaan Raka langsung memutar tubuhnya menghadap penuh kearah Raka dengan wajah yang sudah cemberut "kamu maunya putus?" Tanyanya.
"Kan aku maunya ngajak nikah car bukan putus" ucapnya meraih tangan Yuki dan digenggamnya "Kamu tu yang diajakin kayak gak mau gitu" balasnya dengan lembut.
"Aku bukan gak mau Ka, tapi kan Kamu tau gimana keluarga aku. Aku cuma gak mau aja nasib aku ntar bakalan sama kayak mama"
"Hei liat aku" Ucap Raka menarik dagu Yuki agar kembali menghadap kearahnya dan menangkupkan kedua tangannya dipipi gadis tersebut "Aku mungkin gak bisa janjiin buat selalu bahagiain kamu karena kita pasti ngalamin up and down, tapi aku janji gak bakalan ninggalin kamu apapun itu alasannya" Ucapnya penuh keyakinan mengelus pipi Yuki.
"Apapun?"
"Iyah apapun alasannya, aku akan tetap mempertahaninnya"
"Misal kalau kita bener-bener berada di titik terbawah, aku sama kamu udah lelah dengan hubungan kita. Gimana caranya buat mempertahankannya?"
Raka tampak berfikir sejenak lalu memberi senyum manisnya kepada gadis yang berada didepannya ini "aku gak tau cara ini ampuh atau nggak, Karena aku berharap kita gak akan pernah mengalami kata lelah".
"Tapi kalaupun misal terjadi, aku bakalan ajak kita berdua buat bicara dari hati kehati tanpa emosi, untuk mengingat hal apa yang membuat kita bisa sampai kesaat dimana kita bersama. Karena aku percaya cinta itu gak pernah hilang walau ada rasa bosan atau lelah, hanya saja kita punya pilihan buat ngelepas atau mempertahankannya.
"Kenapa jawabannya bisa meyakinkan banget gini?" Tanya Yuki merusak moment yang langsung dapat cubitan pelan di hidungnya.
"Lagi serius juga" Ucap Raka dengan bibir yang sudah maju beberapa senti yang membuat Yuki gemesh dan segera memeluk Raka dari samping.
Yuki tertawa "Janji ya gak ninggalin aku" ucap Yuki menyodorkan jari kelingkingnya kepada Raka.
"Iyah janji, insha Allah" ucapnya menerima uluran jari kelingking Yuki dan ditariknya tubuh Yuki kedalam pelukannya.
"Mau nanya, boleh?" Tanya Yuki di Dalam pelukan Raka.
"Dari tadi bukannya udah nanya ya" jawab Raka menyenderkan dagunya di kepala Yuki menghirup wangi shampoo dari rambut Yuki.
"Ck ah, serius!" Kesel Yuki mencubit perut Raka, yang membuat Raka tertawa telat berhasil membuat pacarnya marah.
"Iya-iya, sayang mau nanya apa hm?" Tanyanya lembut membujuk kembali Yuki.
"Kenapa bisa suka sama aku?" Tanyanya memain-mainkan jari jemari Raka ditangannya.
"Ya karena kamu suka sama aku kan. Masa aku suka sama orang yang gak suka sama aku" jawab Raka santai tanpa memikirkan perasaan Yuki yang refleks langsung melepas pelukannya dan menarik kuat pipi Raka.
"Bisa serius gak?" Amuk Yuki masih menarik-narik pipi Raka membuat yang punya merasa sakit sekaligus tertawa terbahak-bahak.
"Kurang serius apa sih Abang udah ngajakin pacar nikah, tapi belum dijawab sampai sekarang" balas Raka mengelus pipinya setelah berhasil terlepas dari tangan Yuki.
"Yaudah hayuk" jawab Yuki langsung.
"Hayuk apa?" Tanya Raka masih sibuk dengan pipinya yang merasa nyut-nyutan.
"Hayuk nikahlah" Jawab Yuki sedikit menaikkan intonasi suaranya.
Raka tersenyum "jadi diterima nih?" Tanyanya memainkan alisnya naik turun yang membuat Yuki mencibir melihatnya.
"Gak! Di tolak!" Jawab Yuki jutek.
"Di tolak tapi masa pipinya merah gitu" goda Raka mentowel-towel pipi Yuki.
"Gak usah pegang-pegang deh" kesel Yuki menepis tangan Raka di pipinya.
Raka memajukan bibir bawahnya cemberut "kalau cium boleh?" Tanyanya dengan manja.
"Boleh" jawab Yuki cepat dengan senyum pepsodentnya, yang membuat Raka ikut tertawa melihatnya.
"Dasar" Ucap Raka mengacak rambut Yuki "Eh, tapi aku mau ralat beberapa kalimat aku tadi siang. Boleh?" Tanya Raka meminta izin.
"Apa?" Tanya Yuki.
"Nikahnya gak tunggu kita lulus. Tapi setelah aku lulus. Boleh?"
"Ha? Maksudnya?" Tanya Yuki menjarakkan duduknya dari Raka.
"Maksudnya, kita nikah setelah aku lulus kuliah yang tinggal beberapa bulan lagi" jawab Raka dengan santainya.
__ADS_1
"Lah bang, bentar lagi dong" teriak Yuki panik.
**Next**🐝