KAKI ( Raka dan Yuki)

KAKI ( Raka dan Yuki)
3. Insiden


__ADS_3

Sekeras apapun kau coba buat hilangkan, tetap saja rasa itu ada pada dirimu. Bahkan kau tak tau akan itu


-Yuki Marcellia-


——————————————————-


Tampak seorang gadis yang berlari-lari menuju parkiran motornya dengan tampang merah merkah dipipinya, seperti seseorang yang sudah berlarian sangat jauh.


Memang jauh bagi Yuki, dia terpaksa berlari dari lantai tiga menuju parkiran kerna jadwal part time Nya di cafe sudah telat setengah jam. Dan ini dikarenakan dosennya yang terlalu lama mengajak Yuki berdiskusi sampai tidak ingat waktu.


"**** udah telat setengah jam gue" rutuk Yuki menaiki dan melajukan motor Trackernya menjauhi area kampusnya.


Masih dengan kecepatan yang tinggi Yuki melewati jalanan menuju Cafe dimana tempat dia bekerja part time. Yuki sengaja mengambil pekerjaan itu untuk mengisi kekosongan waktunya. Dari pada diam menyendiri dirumah yang tidak ada siapa-siapa, apa salahnya mengambil job itu, pikir Yuki.


Ciiiiiiit


Spontan Yuki memencet rem motornya yang menghasilkan bunyi gesekan antara ban dan aspal.


"Lo gak apa-apa?" Tanya Yuki dengan tampang panik. Gimana tidak panik, hampir saja dia menabrak orang.


Belum sikorban sempat menjawab pertanyaan Yuki "Lagian lo sih, pakai acara duduk dijalan. Gak tau gue lagi buru-buru apa" omel Yuki setelah rasa shock nya mulai menghilang.


"Pertama, gue gak apa-apa. Kedua, gue bukan duduk disini. Dan ketiga, mana gue tau kalau lo lagi buru-buru, gue kan bukan cenayang" jawab korban dengan santai dibarengin dengan senyum ramahnya.


Yuki yang sempat melihat senyum itu, mengernyitkan keningnya yang merasa aneh melihat cowok yang jadi korban nya ini.


"Trus kalau lo gak duduk, ngapain lo jongkok disitu?? Lagi semedi?" Jawab Yuki sengit.


"Gue gak juga lagi semedi, gue lagi nolongin dikucing yang tidur an ditengah jalan" ucap cowok itu mengangkat kucing yang ada ditangannya dan membawanya kepinggir jalan.


Yuki hanya membulatkan mulutnya melihat kucing yang ada ditangan cowok itu dan mengikuti cowok itu berjalan kepinggir jalan. Dia sedikit kaget kerna melihat luka tergores di pergelangan tangan cowok itu.


"Jangan bilang itu ulah gue" panik Yuki.


"Itu tangan lo luka kerna gue" tunjuk Yuki pada pergelangan tangan cowo itu.


"Oh ini, kan gue udah bilang gak apa-apa, Lagian cuma luka ringan aja, paling beberapa hari juga udah sembuh" ucap cowok itu santai .


Yuki yang melihat tampang cowok itu yang baru sadar akan lukanya tau, kalau cowok itu sedang berbohong menahan sakit yang ada di pergelangan tangannya.


"Gak usah bohong, gue tau lo lagi nahan sakit, sini gue liat" Yuki menarik tangan cowok itu "eh tunggu dulu deh, kayanya gue pernah liat lo, tapi dimana yah" Tanya Yuki berbohong, jelas dia tau siapa cowok yang dia pegang ini, tapi sedikit acting Yuki pura-pura tidak kenal dan berusaha sesantai mungkin, padahal dari tadi dia udah teriak merutuki jantungnya yang udah berdebar gak karuan.


"Tadi" jawab cowok itu singkat.


Yuki yang masih beracting pura-pura tidak mau mengerutkan keningnya pura-pura bingung.


"Tadi pagi kita jumpa diparkiran, kebetulan lo nakbarak gue juga" jawab cowok itu santai dengan senyum yang mekar dibibinya.


Ini ni yang buat Yuki betah berlama-lama duduk dikantin ditemani green tea float. Senyum Raka. Senyum yang bisa baikin moodnya.


Kaget mendengar penjelasan cowok itu, Yuki melepas pegangannya pada tangan cowok itu dan menutup mulutnya.

__ADS_1


Acting luar biasa Yuki, udah bisa lo ikut Indonesia Award dengan nominasi actor terbaik, batinnya.


"Raka Yudhistira" ucap cowo itu mengulur tangannya memecahkan kekagetan Yuki.


Udah tau, batin Yuki menahan malu.


"Yuki, Yuki Marcellia" jawab Yuki gugub menerima uluran tangan dari Raka.


Mimpi apa dia bisa kenalan langsung sama kakak tingkatnya itu, perasaan tadi pagi dia merutuki hari ini.


"Btw maaf gue udah nabrak lo dua kali. Sebagai bentuk maaf gue, gue anter lo kerumah sakit. Kasihan gue liat muka lo yang nahan sakit dari tadi"


"Gak usah, gue gak apa-apa kok. Udah lo pergi gih, tadi lo ngebut banget pasti lagi buru-burukan."


"**** gue lupa kalau gue lagi buru-buru" ucap Yuki menepuk jidadnya. Dia ingat sama tujuannya, ke cafe milik om Leo.


"Yaudah gih lo pergi sana" usir Raka yang ngerasa gak enak kerna ulahnya.


"Lo ngusir gue?" Tanya Yuki dingin dengan tatapan tidak sukanya.


"Bukan, maksud gue—"


"Gak mau tau, pokoknya lo mesti gue anter kerumah sakit. Gue gak mau ntar disalahin kalau terjadi apa-apa sama lo. Urusan gue telat, ntar bisa diatasi"  potong Yuki akan ucapan Raka.


"Ok" pasrah Raka dengan perintah Yuki yang menutut Raka sedikit perlebihan. Walaupun dibilang lukanya cukup sakit dirasa, tapi beneran dia tidak apa-apa, sedikit istirahat juga lukanya akan sembuh. Pikir Raka.


"Eh motor lo gimana? Gue yakin lo gak sanggup bawa motor kalau ngelihat tangan lo yang secedera gitu."


"Bentar gue telfon Gio dulu" ucap Raka merogoh kantong celananya mengambil ponsel miliknya.


"..."


"Ambil motor gue Gi di jalan Cendana deket lapangan bola."


"..."


"Ok, sip. Thanks Gi" ucap Raka memutuskan sambungan.


Raka menaiki motor Yuki dengan posisi, Yuki yang membawa motor dan dia duduk dibelakang sebagai penumpang yang di gonceng.


"Seumur-umur baru kali ini di goncengin cewek" batin Raka dengan membentuk pipi yang berwarna merah tomat.


"Pipi lo kenapa merah gitu?" Lirik Yuki lewat kaca spion motornya.


"Oh ini efek kelamaan kena matahari" emang bener kelamaan kena matahari pipinya akan berubah warna menjadi kemerahan, tapi ada alasan lain yang membuat pipinya merah begitu.


"yaudah jalan. Makin sakit ni tangan gue" alibi Raka menghindari kegugupannya.


"Lo pegangan, jatuh ntar gue juga lagi yang di salahin" omel Yuki mulai menjalankan motornya.


Raka dan Yuki keluar dari rumah sakit, dengan tangan kanan Raka yang diberi gips, dokter bilang tangannya sedikit retak kerna kesenggol ban motor Yuki. Dan gak henti-hentinya Yuki mengomel kerna kesalahan itu akibat Raka yang duduk ditengah jalan. Padahal Raka sudah menjelaskan beberapa kali kalau dia tidak duduk dijalan. Tapi tetep aja namanya juga cewek tidak pernah mau mengalah, yah ujung-ujungnya cowok juga yang disalahin dan mengalah, itu lah yang sekarang dirasakan Raka.

__ADS_1


"Coba tadi lo gak duduk disana, pasti ini gak bakal kejadian. Tangan lo di gips, gue nabrak lo, gue telat" Ucap Yuki yang udah mulai terbiasa dengan Raka dan jantung yang bisa di ajak kompromi.


"Udah ada 5 kali lo ngomong gitu kalau gue hitung. Gak bosen emang ?" Tanya Raka santai melangkahkan kakinya menuju parkiran yang diikuti oleh Yuki.


"Bosenlah, namanya juga lagi kesel. Yah mana ingat kalimat yang udah diucapinnya" jawab Yuki tidak kalah sengitnya.


Huuuuft


Raka menarik nafasnya dalam, lalu menghembusnya dengan kasar. Membuat Yuki yang lagi ngomel-ngomel tidak jelas, menghentikan celotehannya.


"Kenapa?" Tanya Yuki galak.


"Setelah gue pikir-pikir, gue minta lo tanggung jawab udah buat tangan gue jadi begini"


"Apa?" Teriak Yuki kaget dengan pernyataan yang di sampai kan Raka "tanggung jawab? Lo kira gue lagi ngapain sekarang kalau enggak tanggung jawab? Main masak-masakan? Becanda lo !" Teriak Yuki tidak senang.


"Tanggung jawab maksud gue itu, lo mesti anter jemput gue kekampus selama tangan gue masih di gips" balas Raka masih tampang santainya. Berbera dengan Yuki yang sudah naik pitam dengan mulut yang megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen.


"Kok lo ngelujak gitu si?" Sinis Yuki "nyesel gue bantu" sewotnya.


"Yah lo liat dong tangan gue kaya gini kerna siapa? Gue mesti rajin kekampus buat bimbingan, gue gak mau yah nambah semester karena lo" tunjuk Raka mentoyor kening Yuki pelan, tapi bisa membuat Yuki meringis.


"Tadi kan lo bilang gak kenapa-kenapa, kenapa sekarang jadi gini? Lo mau ngerjain gue?" Tanya Yuki kesal. Kesallah kebaikkannya malah dimanfaatin gitu.


Baru tau kalau Raka aslinya sengeselin ini, padahal menurut pengamatannya selama ini Raka itu baik, ramah dan sopan kesemua cewek. Kebaikannya tidak pandang fisik, siapapun di tolongnya. Kenapa sekarang malah begini, rutuk Yuki.


"Tadi kan gue gak tau kalau tangan gue bakal di gips. Ngerjain lo gimana? Lo kan dengar sendiri dokternya ngomong apa, bahkan lo lihat sendirikan hasil ronsennya" jawab Raka santai, bahkan kelewat santai kalau menurut Yuki.


"Jadi Yuki Marcellia, dibagian mananya gue ngerjain lo?" Tanya Raka disertai kedipan matanya membuat Yuki memundurkan langkahnya selangkah.


"Brengsek !" Ucap Yuki tanpa suara, tetapi dapat dibaca pergerakan mulutnya oleh Raka.


"Anak gadis mulutnya harus manis, gak boleh ngomong kasar" ucap Raka memajukan langkahnya mendekati Yuki dan menggelus pucuk kepala Yuki.


Pen mewek ya Allah, batin Yuki menerima perlakuan Raka yang manis begitu.


"Siniin ponsel lo" ucap Raka mengadahkan tangannya.


"Bu..buat apaan?" Tanya Yuki gugup dengan perlakuan Raka tadi. Tapi sekuat tenaga dia menampilkan tampang galaknya. Yang menurut Raka itu lucu bukan menakutkan.


"Buat di jual, yah buat nelfonlah. Mana?"


Dengan terpaksa Yuki memberi ponselnya kepada Raka "makanya hidup tu modal, nelfon aja masih pinjem-pinjem" sinis Yuki dengan tatapan tajamnya. Baru kali ini ada cowok yang berani sama mulut dia yang tajem gitu.


Dengan cueknya Raka menerima ponsel yang ada ditangan Yuki, dan menelfon nomer seseorang. Tapi tak lama Hpnya berbunyi tanda ada telfon masuk "bukan gak modal, gue cuma mastiin aja nomer lo ada di Hp gue, kalau gue kasih nomer gue. Takutnya lo gak bakal mau nelfon gue duluan" ucap Raka cuek memberi kembali Hpnya kepada pemiliknya.


Sementara Yuki yang dari tadi sudah panas dingin ngadepin Raka yang menurutnya sudah ke terlaluan.


"Yuk pulang, keburu sore" ajak Raka meninggalkan Yuki yang masih diam menahan emosinya


"Ngeselin lo !" Teriak Yuki di balik punggung Raka.

__ADS_1


Raka yang mendengar teriakan Yuki hanya membalas dengan mengedikkan bahunya serta senyum yang mengembang dibibirnya.


**Next**🐝


__ADS_2