KAKI ( Raka dan Yuki)

KAKI ( Raka dan Yuki)
28. Speechless


__ADS_3

"Car, betah gak tinggal disini sama keluarga Abang?" Tanya Raka, mereka berdua Yuki dan Raka sedang santai-santainya dikamar menghabiskan malam dengan cara bercerita satu sama lain seperti sekarang ini.


Yuki yang tengah tiduran di atas paha Raka dengan memainkan tablet di tangannya menoleh pada Raka yang sedang menatapnya.


"Kok abang nanya gitu?" Tanya Yuki.


"Gak ada pengen nanya aja. Soalnya teman-teman di kantor Abang pada bilang gak ada menantu yang senang tinggal serumah sama mertua, jadi ya kepikiran gitu sama pacar" jawabnya dengan mengelusdagu wanita itu.


Mendengar itu membuat Yuki mengerutkan keningnya lalu menatap tajam mata Raka.


"Gak ada alasan buat aku gak senang tinggal disini bang. Mama papa adek memperlakukan aku seperti mereka memperlakukan Abang, gak ada bedanya" jawab Yuki begitu tulusnya.


Mendengar penjelasan Yuki membuat hati Raka merasa lega, untuk tidak berfikiran yang aneh-aneh lagi.


"Abang sayang kalian semua. Abang gak mau kalau disuruh memilih" ucapnya mengecup penuh sayang kening istrinya itu.


Yuki meraih tangan Raka lalu memainkan jari-jari Raka.


"Gak ada yang nyuruh Abang untuk milih, aku betah disini. Sebelumnya aku gak pernah ngerasain gimana rasanya ngumpul tiap pagi di meja makan, gimana rasanya pulang ada yang nyambut, gimana rasanya makan masakan tangan mama, gimana rasanya ngumpul di ruang keluarga bercerita tentang apa saja yang terjadi, dinasehati sama mama papa. Disini aku ngerasain semua itu, disini aku betah, disini aku nyaman" jelas Yuki kembali dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Raka tersenyum lalu mengusap mata Yuki dengan ibu jarinya. Ia tak berkata lebih banyak lagi, Ia tau perasaan yang dirasa kan istrinya sekarang ini. Walau istrinya itu sudah lebih baik hubungannya dengan mamanya, tetap saja kadang istrinya itu merasa belum bisa berdamai sepenuhnya sama rasa sakit yang pernah di rasakannya dulu.


"Semua sayang pacar, mama Yuni, mama papa adek. cara kita aja yang sedikit berbeda nunjukinnya. Jangan nangis lagi, Abang gak mau liat mata ini basah lagi" ucapnya, lalu membungkukkan badannya sedikit dan mengecup kedua mata Yuki.


Bukannya merada, Yuki malah makin mengeluarkan air matanya yang membuat Raka sedikit bingung.


"Aku gak tau gimana nasib aku kalau aku gak kenal Abang, gak kenal keluarga Abang" ucapnya sedikit terisak menahan tangisnya dengan menggenggam tangan Raka yang berada didadanya "aku pasti gak bakal pernah ngerasain hal yang sekarang aku rasakan. Bahkan dulu buat ngebayanginnya aja aku gak mampu, aku gak berani" lanjutnya masih terisak-isak membuat Raka ikut terhanyut akan kesedihan istrinya itu.


"Sini duduk, Abang peluk" ajak Raka mengangkat badan Yuki yang lemas karena menangis lalu dipeluknya begitu eratnya.


"Kali ini Abang izinin pacar untuk menangis kayak begini, tapi lain kali gak bakal Abang izinin. Abang gak mau mata indah ini, mata bening yang pertama kali buat Abang tertarik berubah jadi merah gini" ucapnya mengelus punggung Yuki guna menenangkan istrinya itu.


"Janji ya sama Abang jangan nangis lagi" ucapnya memohon melepas pelukannya menatap mata sembab Yuki.


Yuki tak menjawab, ia berusaha menenangkan tangisnya yang tak juga mau berhenti.


Dengan sekuat tenaga Yuki menghentikan tangisnya dan berusaha mengangguk menjawab ucapan Raka tadi.


Melihat itu Raka merasa lega dan kembali menarik tubuh mungil Yuki kedalam pelukannya menenangkan istirnya itu dengan mengusap penggungnya dengan lembut hingga ia merasakan sesuatu.


"Car, kok gak ada hambatannya gini?" Tanya Raka polos kembali meraba-raba punggung Yuki.


Seketika rasa sedih Yuki tadi tiba-tiba lenyap entah kemana dan berganti menjadi rasa malu. Lalu dengan cepat ia lepas pelukannya dan mengusap kasar pipinya yang basah dengan menatap Raka seperti sedang melihat musuh.


"Bisa gak, Abang gak usah buat aku malu? Orang lagi sedih juga" ucapnya dengan tatapan tajam lalu menghempaskan tubuhnya berbaring dengan memunggungi Raka.


Raka yang tak tau dimana letak kesalahannya menggaruk keningnya yang terasa galat memikirkan hal itu.


"Abang kan cuma nanya, kenapa harus malu? Lagian Abang udah lihat semuanyakan. Udah gitu juga Abang udah cicipi tiap incinya" ucap Raka santai.


Mendengar kalimat yang terasa sevulgar seperti membuat pipi Yuki merah padam, untung suaminya itu tak melihatnya.


Hingga saat ini Raka masih suka bingung dengan jalan pikiran wanita, terutama istirnya ini.


"Ya tetap aja aku malu, walaupun aku udah jadi istri Abang, tetap aja jiwa kegadisan aku itu masih ada tersisa" jawab Yuki yang masih enggan membalikkan badannya.


Mendenger jawaban seperti itu membuat Raka tersenyum tipis.


Tanpa mempedulikan kekesalan Yuki, Raka ikut tidur disamping istrinya itu. Tak lupa dengan tangan yang langsung melingkar dipingang Yuki dan menyusup masuk kedalam kaus Yuki langsung menyentuh perut wanita itu.


Yuki merasa risih tapi sekaligus merasa nyaman. Menikah dengan Raka membuat ia sering mendapati sentuhan-sentuhan yang belum pernah didapatinya sebelumnya dan hal itu membuat aliran darahnya mengalir begitu cepat dan juga merasakan perasaan aneh didalam tubuhnya.


"Yaudah Abang minta maaf ya" ucap Raka mengelus-ngelus perut rata itu dan mengecup-ngecup leher jenjang wanita itu yang membuat bulu kuduk yang punyanya meremang.


"Yiidih ibing minti miif yi" ejek Yuki meniru ucapan Raka tapi dengan nada mengejek, "minta maaf tapi tangan udah nyosor kemana-mana ya" lanjutnya menyindir.


Raka tak peduli malah tertawa dan makin membenamkan wajahnya keleher Yuki untuk menghirup aroma tubuh wanita itu.


"Gak tau, kalau deket pacar bawaannya pengen kayak gini mulu. Mungkin balas dendam karena selama ini gak bisa kayak gini kali yah" jawabnya santai makin mengeratkan pelukannya pada Yuki dan dengan tangan yang mulai jalan kemana-mana.


Yuki sedikit heran, kenapa suaminya ini yang tak lain tak bukan pacarnya dulu bisa berubah begini sikapnya. Dulu waktu pacaran, boro-boro kasih sentuhan begini, ciuman aja kadang dia gak mau lebih dari semenit. Alasannya takut kebablasan. Dan tangannyapun selalu diletakkannya di pipi Yuki, agar tidak jalan kemana-mana.


Tapi sekarang berubah jadi seratus delapan puluh derajat. Raka yang tidak bisa diam kalau lagi berduaan, Raka yang selalu mencuri-curi kesempatan, Raka yang selalu memancing-mancing perasaan aneh yang ada didiri Yuki dan Raka yang selalu berhasil membuat Yuki terangsang hanya karena sentuhan-sentuhan luar biasa dari tangannya.


"Dulu waktu pacaran pernah gak sih berfikiran ngelakuin hal yang kayak begini?" Tanya Yuki menyatukan tangannya diatas tangan Raka yang ada diperutnya lalu dielusnya berlahan.


Raka tak langsung menjawab, ia tengah menikmati aroma lavender yang selalu dapat diciumnya ditubuh istrinya itu.


"Kayak gini gimana?" Tanya Raka ingin lebih jelas.


"Ya lebih dari ciuman yang biasa kita lakuin dulu" jawab Yuki.

__ADS_1


"Pernah dulu sekali" balas Raka kemudian.


Merasa tertarik membuat Yuki memutar badannya yang kini berhadapan langsung dengan Raka.


"Kapan?" Tanya Yuki penasaran dan mengangkat kakinya agar mengimpit kaki suaminya itu.


Raka mengalihkan tatapnnya dari manik mata Yuki.


"Waktu kita mabar mobile legends" jawabnya malu-malu.


Yuki mengerutkan keningnya "kok bisa? Akukan gak ngapa-ngapain waktu itu" balas Yuki mengingat kejadian yang susah lama berlalu.


Seingatnya memang ia tak ngapa-ngapain, ia tidak kekampus, terus Raka datang kerumah ngobrol dan berlanjut main game bareng. Udah, itu aja.


Raka menggaruk keningnya, merasa bingung mau jawab apa "ya emang gak ngapa-ngapain car" jawabnya terputus memikirkan kata selanjutnya.


"Tapi itu kan pertama kalinya Abang nyium wangi tubuh kamu secara langsung, jadi pengen ngecium yang lainnya. Terus momentnya juga ngedukung banget, cuma berdua dengan posisi yang seintim itu" lanjutnya menutup jawabnya merasa malu, seketika ia berfikir sudah menjadi cowok yang paling bejat.


Melihat kelakuan lucu dari suaminya itu membuat Yuki tertawa.


Raka langsung menoleh, membahas tatapan Yuki "Kok ketawa sih? Lagi malu gini juga" ucap Raka dengan merengut.


Yuki menyentuh pipi Raka yang bersih dari bulu-bulu halus, salah satu kebiasaan Raka yaitu tidak suka membiarkan wajahnya dipenuhi bulu-bulu halus.


"Lucu aja, ternyata Abang bisa mikir kesana juga" jawab Yuki lalu mengelus dada Raka, memainkannya dengan membentuk gerakan-gerakan abstracts.


Mendengar itu giliran Raka yang tertawa lalu mencubit pipi istrinya itu dengan geram "Abang juga manusia normal, pacar. Laki-laki mana yang gak punya nafsu lihat didepannya ada lawan jenisnya dan juga ada kesempatan" timpal Raka memainkan tangannya dibibir merah Yuki.


Salah satu bagian tubuh Yuki yang menarik baginya, bibir merah alami sedikit penuh dibawah dan tak lupa dengan teksture lembut.


"Ada" jawab Yuki cepat.


"Siapa?"


"Laki-laki belok"


Raka tertawa dengan mengacak rambut Yuki.


"Abang nyerah, ini diluar konteks pembahasan kita" ucapnya masih tertawa, "lagian kita gak tau apa yang terjadi sama mereka, jadi gak boleh ngehakimi mereka begitu aja. Kalau itu life style mereka, ya hak mereka. Selagi mereka masih bisa nangung sendiri akibatnya kita cukup diam melihat saja. Ya walau masih banyak diluar sana yang cara mikirnya berbeda. But it's okay, perbedaan yang nyatukan kita semua. Yang jelas jangan sampai rasis" jelas Raka yang membuat Yuki tercengang merasa speechless dengan pemikiran yang terbuka dari suaminya.


"Emang kalau berada dilingkungan positive gini, hidupnya jadi nyaman banget ya bang" ucap Yuki takjub, masih tidak bisa berkedip dari mata Raka.


Raka tertawa lalu menarik tubuh istrinya itu kedalam pelukannya.


"Nyaman karena statusnya udah aman, coba kalau Abang belum ada status terus main meluk gitu, bahaya yang ada" balas Yuki membuat Raka tertawa kembali dan mengangguk.


"Bener sih, dulu waktu masih pacaran, mau ciuman aja mesti hati-hati" ucapnya kembali.


Yuki mengendurkan pelukannya sedikit mendangak menatap Raka "Oiya, seingat aku setelah kita mabar waktu itu, aku cium kamu deh bang. Kalau tadi kita ngebahas Abang pernah mikir kesana dengan moment dan ada kesempatan kenapa Abang bisa nahan? Kenapa gak ngelakuinnya aja?" Tanya Yuki kembali dengan mengingatkan beberapa cuplikan kejadian waktu itu.


Raka menarik tangan Yuki yang ada didadanya, lalu dibawanya kebibirnya hingga di kecupnya telapak tangan istrinya tersebut.


"Gak tau kenapa, mungkin sangking abang sayangnya sama pacar sampai gak mau pacar rusak" jawabnya "Padahal waktu itu Abang udah mau mati nahan diri, tapi ya Alhamdulillah sih, semuanya gak terjadi di luar batas" lanjutnya tersenyum bahagia, merasa lega.


"Jadi karena itu sekarang melampiaskannya?" Tanya Yuki memastikan yang dianggukin oleh Raka dengsn cengirannya.


"Kan udah halal" ucap Raka mencium bibir Yuki, "Udah bebas mau ngapain aja" lanjutnya menurunkan ciumannya keleher, "terus dapet pahala lagi" sambungnya kemudian dengan mencium kembali bibir merah merkah istrinya itu yang lama-lama berubah menjadi pangutan-pangutan kecil.


Ditengah aksinya itu, tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dari luar yang membuat keduanya saling pandang lalu tertawa geli karena kegiatan mereka selanjutnya terhenti.


"Abang?" Panggil Arka dengan manjanya dari luar pintu.


Raka yang mendengar panggilan adiknya itu segera turun dari kasurnya "Bentar ya car" ucapnya mengusap kepala Yuki lalu berjalan keluar kamar.


Setelah dibukanya pintu, terpampang wajah memelas dari Arka.


"Maaf ya adek ganggu. Adek boleh pinjem stick PS punya Abang gak? Stick ps yang di bawah gak berfungsi" ucapnya cemberut.


Melihat rasa bersalah dari wajah adiknya itu membuat Raka tersenyum dan mengacak rambut Arka.


"Gak apa-apa, Abang sama Kaki lagi ngobrol aja. Masuk dek, biar Abang ambilin dulu" ucap Raka kembali berjalan masuk kekamarnya.


"Adek tunggu disini aja bang, papa udah nunggu juga dibawah" tolak Arka yang merasa segan untuk masuk ke kamar abangnya itu.


Dulu waktu abangnya masih lajang, Arka begitu bebas keluar masuk kamar itu untuk bermain PS atau hanya sekedar untuk mengganggu abangnya.


Tapi sekarang karena abangnya itu udah menikah, Arka harus merubah sikapnya itu. Walau sedekat apapun ia sama abang atau kakak iparnya itu, ia harus memberi privacy untuk keduanya. Dan itu sesuai dengan ajaran papa mamanya.


Raka datang memberikan stick game yang ada ditangannya dan menyerahkannya kepada Arka "nih dek, besok kalau sempat pulang kerja Abang mampir ketoko buat beli yang baru" ucapnya mengacak rambut hitam adiknya itu.


Arka mengangguk dan menerima barang tersebut, "makasih ya bang, adek kebawah duluan" ucapnya pamit dan berjalan meninggal kan abangnya yang masih berdiri didepan pintu menatap punggung adiknya itu lalu masuk kedalam kamar kembali.

__ADS_1


"Semenjak kita nikah adek gak pernah masuk ke kamar ini" ucap Raka menaiki kasur dengan membaringkan diri disebelah Yuki yang sudah menunggunya.


"Padahal dulu tiap bentar tiap menit pasti kesini, ada aja yang dicarinya yang padahal tujuan utamanya ya mau gangguin Abang" ucap Raka pada Yuki dengan tawa hangatnya mengingat kelakuan adik bungsunya yang bentar lagi akan menjadi Abang juga.


"Tanpa disadari adek udah tumbuh jadi anak laki-laki dewasa" lanjut Raka menatap lurus langit-langit kamar.


Dari tatapan yang dipancarkan Raka atau bahkan dari cara suaminya itu memperlakukan Arka, tapi kita semua sudah dapat mengira kalau pemuda ini begitu sayang sama adiknya itu.


"Kata papa Abang ngemanjain adek banget"


Raka menoleh dengan senyum lembutnya kali ini dan bukan senyum menggoda yang biasanya ia tunjukkan jika ingin menggoda Yuki.


"Papa sampai marah sama Abang karena itu" ucapnya dan kembali menatap langit-langit kamar yang berwarna putih dengan digabungin lampu LED berwarna hijau.


"Loh, kenapa?" Tanya Yuki tertarik dengan cerita Raka. Baginya semua hal yang diceritai suaminya itu sangat menarik untuk didengar.


"Papa mau adek juga tumbuh dan berkembang jadi anak yang mandiri dan dewasa, yang gak bergantung pada orang lain. Tapi Abang sama mama ngelanggar itu, Abang memperlakukan adek seperti anak kecil yang tidak bisa apa-apa sendiri.


"Abang punya alasan ngelakuin itu. Pertama, Abang sayang sama adik Abang. Kedua, abang gak mau apa yang dirasain Abang dulu, adek juga ngerasain" ucapnya dan berhenti sejenak untuk menenangkan emosinya.


"Walaupun papa sayang sama abang, papa yang paling the best. Tapi papa dulu gak selalu ada dua puluh empat jam buat Abang. Abang sadar, papa punya pekerjaan dan tanggung jawab yang harus dilakukannya dikantor ataupun perusahannya yang membuat waktu papa untuk Abang tersita. Sampai Abang terbiasa ngelakuin segala halnya sendiri, tidak berkembang sesuai dengan anak seusia abang. Abang kecil udah tau rasanya kehilangan, udah tau ngurus diri sendiri gimana, udah tau berdiri dengan kaki sendiri dan tidak bergantung pada orang lain, udah tau rasanya memiliki masalah dan memikirkan masalah, udah tau rasanya harus gimana menghadapi orang-orang yang bermuka dua. Masa kecil abang gak semenarik itu, masa kecil abang semiris itu" ucapnya dengan suara bergetar menahan emosi yang selama ini dipendamnya sendiri, lengannya yang dari tadi sengaja diletakkannya menutupi matanya berhasil membuat ia menutupi kesedihannya.


Walau begitu, Yuki sebagai istri tau kalau suaminya saat ini sedang tidak baik-baik saja.


"Abang gak pengen adek ngerasain itu. Adek punya Abang yang bisa dimintainya bantuan jika dia perlu. Sampai semua bantuan dan perhatian Abang sama mama jadi suatu kebiasaan buat adek, bikin kepribadian adek jadi manja seperti sekarang ini" ucap Raka serius lalu tiba-tiba tertawa lalu menyeka pipinya yang sedikit basah.


"Salah Abang emang, Abang ngakuin kok, dari adek kecil sampai besar seperti sekarang ini, Abang selalu memperlakukan adek seperti adik kecil Abang. Tapi Abang percaya, semanja apapun adek di depan mama papa dan Abang, adek pasti punya sisi dewasa yang membuat dia bisa bergantung pada dirinya sendiri, setidaknya didepan teman-temannya. Dan selama Abang lihat dipergaulan adek terhadap teman-teman dan lingkungannya, adek bisa menempatkan diri dimana dia harus bersikap dewasa atau manja. Dan hal yang adek lakuin tadi menurut Abang salah satu sifat dewasa dari adek" lanjutnya kembali membuat Yuki merasa speechless untuk kedua kalinya di hari dan waktu yang sama.


Hal yang selalu membuat Yuki merasa terkagum-terkagum dengan tingkah dan pemikiran pemuda disampingnya ini. Bagi Yuki setiap berbicara dengan Raka, ada saja hal yang membuat rasa cinta, rasa sayang dari dirinya tumbuh untuk suaminya itu.


Dengan senyuman tulus dari Yuki, ia tarik wajah Raka agar menghadap langsung padanya yang dibalas dengan tatapan bingung dari pemuda tersebut.


"Aku tau kenapa orang-orang bisa begitu nyaman dekat Abang dan Abang selalu dikelilingi dengan orang-orang yang sayang sama abang. Abang memiliki jiwa positive, yang membuat orang merasa nyaman dan sayang kenal sama abang. Aku gak tau, untuk keberapa kalinya selama aku kenal Abang, aku merasa kagum sampai gak tau mau bicara apa. Yang jelas sampai saat ini aku benar-benar kagum dan merasa bangga bisa miliki Abang. Aku sayang Abang. No! Lebih dari itu, sampai aku gak tau mau gimana lagi mengekspresikannya untuk Abang" ucap Yuki serius dan penuh yakin.


Raka terdiam cukup lama mencerna kata perkata yang diucapkan Yuki begitu manisnya untuk didengarnya hingga ia akhirnya melengkungkan senyumnya begitu lebarnya.


"Lebih dari itu juga Abang sayang sama pacar, Terima kasih untuk kata-kata manisnya" ucapnya tulus mengacak rambut Yuki masih dengan bibir yang memancarkan senyum bahagia, "andai aja Abang tau kalau pacar bakal ngomong kayak gitu, pasti udah Abang siapin kamera buat ngerekam. Lumayan kan buat bukti kalau pacar bener-bener bucinnya Abang" ucap Raka serius dengan tampang polosnya.


Sementara Yuki yang merasa malu dengan ucapnya itu dan juga digoda seperti itu langsung kendaratkan cubitan pedasnya keperut Raka.


"Bisa gak sih gak usah ngerusak momen" geramnya lalu memutar cubitannya yang membuat Raka meminta ampun untuk dilepas.


"Ampun car, saaaaa...saaaakit. Ya Allah ini KDRT sih namanya" teriak Raka meminta ampun dan berusaha melepaskan tangan kecil itu dari perutnya.


Merasa puas dengan cubitanya akhirnya Yuki melas tangannya dari perut Raka.


"Mau lagi?" Tanyanya galak.


Raka tak bersuara hanya gelengan kepala dengan bibir cemberut.


"Sakit" cicitnya memelas minta dikasihani.


"Makanya kalau lagi serius itu ya serius. Kayak gini ni kebanyakan main sama Gio. Mestinya yang berubah itu Gio, bisa jadi lebih manusia lagi, bukannya Abang udah jadi manusia tapi masih mau jadi yang lain. Sini, mana yang sakit?" omel Yuki dengan mulut yang udah komat-kamit lalu masih mau perhatian mengelus perut Raka yang bekas cubitannya tadi.


Melihat istrinya ngomel seperti membuat Raka tersenyum, bukannya merasa kesal atau tersingung dengan ucapan istrinya tentang salah satu sahabatnya. Ia tau omelan itu bukan berarti apa-apa bagi istrinya, ia juga tau kalau istrinya itu sudah menganggap sahabat-sahabatnya bagian dari keluarganya.


"Gemesin banget sih lagi ngomel-ngomel gini" Goda Raka mencubit pipi Yuki dengan kedua tangannya lalu mendekatkan wajahnya hingga menyentuh bibir wanita itu.


"Sayang pacar banyak-banyak" ucapnya dan kembali mencium bibir itu.


Sementara jauh disana.


Gio garuk-garuk telinganya yang gatal.


"Woi kambing!" Berang Noval menendang tulang kering Gio dengan kakinya membuat pemuda yang ditendang itu menghentikan kegiatannya.


"Sakit *****! Apaan?" Tanyanya gak kalah galaknya.


"Lo taukan kita lagi makan ngapain lo garuk-garuk telinga ha? Bikin selera makan orang hilang aja" berang Noval mengakhiri acara makannya.


Gio memelas "telinga gue gatel Val, kayak ada yang ngomongin jelek tentang gue gitu" jawabnya.


Noval menatap Gio dengan sinis hingga bibirnya terangkat sebelah "Emang sejak kapan cerita tentang lo ada yang bagus?" Tanya Noval sinis lalu meraih gelas minumnya dan meminumnya.


"Eh semua cewek yang kenal gue, yang pernah deket sama gue, punya kesan baik ya sama gue. Ini ni gue tau siapa orang yang ngomong jelek tentang gue" balas Gio memajukan bibirnya.


Bukan hanya Gio saja yang tau siapa orang yang suka ngomong jelek tentang Gio, Novalpun tau. Orang itu suka berkeliaran dengan santai dan tenangnya dilingkungan mereka.


"Awas aja lo Ki kalau jumpa, gak gue kasih ampun" timpal Gio dengan senyum anehnya yang membuat Noval geleng kepala lalu meletakkan jari telunjuknya kekening dan ditariknya memirik.


"Gila" maki Noval pelan.

__ADS_1


**Next**🐝


__ADS_2