
"Bulan depan udah bisa daftar dong?" Tanya Noval yang sedang mengikat tali sepatu miliknya.
Mereka bertiga Raka, Noval dan Gio baru saja selesai menunaikan ibadah sholat dzuhur di Masjid yang berada dilingkungan kampus.
"Bisa banget. Lo gimana, Gi?" Tanya Raka menyikut Gio yang berada disampingnya sedang memainkan ponsel.
Gio menoleh "Gue sih ok, gak tau mas Anang".
Noval mengerutkan keningnya serta menaikkan sebelah bibirnya keatas "Mas Anang siapa?" Tanyanya, lalu berdiri dari duduknya yang diikuti oleh kedua temannya.
Mereka bertiga mulai melangkah berjalan menjahui area Masjid.
Gio memutar matanya males "lo gak kenal?" Tanyanya dengan nada mencemooh, "Itu loh penyanyi, mantan suaminya Kridayanti" lanjutnya kembali.
Noval berdecak "Keseringan ikut Mbak Mbak komplek ngumpul lo" balas Noval sinis.
"Terus, hubungan lo sama Mas Anang apaan?" Kali ini giliran Raka yang bertanya dengan wajah polosnya yang dianggukin oleh Noval yang juga ikut penasaran.
Gio menunjukkan wajah seriusnya lalu mendekat kearah kedua temannya "Yah gak ada hubungan apa-apa, cuma ngikutin gaya dia kalau jadi juri aja" ucapnya menggarut tengkuknya yang gak gatal dengan wajah tanpa dosa.
"*****" Raka dan Noval kompak mengumpat tepat didepan muka Gio, dan melongos meninggalkan Gio yang masih tertawa terbahak-bahak memegang perutnya sampai matanya hilang tak terihat.
"Lah ditinggal" ucapnya di tengah tawanya.
"Bulan depan ya, deal" lanjut Noval kembali serius setelah Gio berhasil mengejar langkah mereka.
"Gue nurut aja, asal kita bisa lulus bareng-bareng" jawab Raka melirik kedua temannya secara bergantian.
Gio menepuk bahu Raka dan merangkulnya sambil berjalan "lo manis banget sih Ka, terharu gue" ucapnya dramatis menyerka air matanya yang kering.
Raka yang melihat ekspresi Gio, melirik sinis dan hampir pengumpat kasar. Ada aja hal aneh yang dapat membuat suasana tiba-tiba rusak kalau mulut rombeng Gio sudah bicara.
Sementara Noval yang berjalan tidak jauh dari Gio segera mendekat dan mentoyor kepala temannya itu dari belakang "ngerusak moment lo, ****" kesal Noval berlalu meninggalkan Raka dan Noval.
Melihat itu Raka lebih memilih ikut Noval meninggalkan Gio yang sedang mencak-mencak gak jelas.
"Ditinggal lagi, ini kenapa begini banget sih nasib pangeran" lirih Gio pada dirinya sendiri dengan mengelus dada.
"Woi, untung lo dua temen gue ya makanya gue mau ditinggal dua kali begini" teriaknya kembali mencak-mencak mengejar kedua temannya.
🐝🐝🐝🐝
"Gi, awas ya kalau lo gak tulis nama gue di skripsi lo. Gue bongkar rahasia lo sama Bee kalau lo pernah masuk kamarnya buat ambil kaosnya" ancam Noval dengan mulut yang sibuk mengunyah permen karet.
Gio yang merasa diancam merapatkan bibirnya menahan kekesalan. Bisa-bisanya Noval mengancamnya dengan kejadian memalukan seperti itu. Pasalnya itu kejadian yang sangat-sangat ingin Gio lupakan, Tapi kenapa mesti diingatkan kembali.
Niat hati ingi mengambil kaos punya Bee, eh yang keambil malah tanktop. Sangking paniknya dia masuk kekamar Noval teriak histeris dengan menunjukkan sebuah tanktop yang berwarna maroon didepan wajah Noval.
"*******" ucapnya akhirnya kalah sama bujuk rayuan setan yang ada disekelilingnya.
Sementara Raka yang mendengar ancaman dari Noval jadi ketawa. Masalahnya waktu kejadian dia ada disitu baru datang dengan tampang yang masih bingung. Dan jadi tameng bagi Gio untuk mengembalikan tanktop milik Bee.
"Gue masih bertanya-tanya, ngapain lo ambil tu tanktop?" Tanya Raka ditengah tawanya.
"Kaos, bukan tanktop" jawab Gio kesal, sangking kesalnya ia ingin melempar temannya itu dengan botol aqua yang ada ditangannya.
"Tapi yang lo ambil kan tanktop" kali ini Noval yang ikutan bersuara tidak peduli dengan kekesalan Gio.
"Salah ambil gue, namanya juga panik"
Raka kembali tertawa dengan memegang perutnya yang sudah tegang karena terlalu banyak tertawa "buat apaan lo kaos Bee?" Tanya Raka yang dianggukin oleh Noval. Pasalnya dari kejadian waktu itu Gio gak mau buka mulut untuk menjawab alasannya mengambil kaos Bee.
"Mau gue santet" jawab Gio asal, yang membuat Noval segera berdiri dari duduknya.
Belum sempat Gio lari, Noval sudah meraih leher Gio dan menjepitnya dengan sikutnya, sementara tangan satunya lagi sibuk menjitak kepala Gio.
"Ngomong apa lo barusan?"
"Ampun Val, ampun. Sakit ****" teriak Gio berusaha melepaskan diri dari cengkraman Noval.
Raka yang melihat itu hanya tertawa terpingkal-pingkal menikmati keributan yang dibuat oleh kedua temannya itu, dan begitu juga orang-orang yang berada disekitar mereka juga ikutan tertawa sampai menyoraki dan memberi dukungan pada Noval.
"Ngomong lo sekali lagi" ucap Noval kembali menjitak kepala Gio.
"Gak Val, gue becanda. Beneran, ya Allah lo galak parah sumpah"
"Terus Val. Perlu gue ambilin batu gak?" timpal Raka mengompori kekesalan Noval.
"Wah gila lo Ka, bukannya ngelerai malah ngomporin. Woi Val ****, sakit" teriak Gio meringis mengusap kepalanya yang dijitak kuat oleh Noval.
Sudah puas dengan kepala Gio, akhirnya noval melepakan rangkulannya dari leher temannya itu.
"Sakit tau" ucapnya protes mengusap-usap kepalanya yang sakit bekas jitakan temannya itu dan dengan bibir yang mengerut keatas.
"Makanya lain kali kalau ngomong di filter dulu ni mulut" balas Noval menarik kuat bibir manyun Gio, yang membuat Raka melihat itu kembali tertawa lagi.
"Bangke" umpat Gio kesel mengelus bibirnya dan merapikan rambutnya yang sudah acak-acakan.
__ADS_1
"Jadi gimana? Mau lo bikin dengan kata-kata manis atau itu cerita terbongkar?" Ancam Noval kembali dengan santai, tidak peduli dengan apa yang barusan dia lakukan pada temannya itu.
Siapa bilang Noval adalah cowok kalem? Itu hanya tipu muslihat saja, bahwa aslinya Noval adalah cowok yang manja, setiap keinginannya harus dipenuhi atau diturutin.
Gio menatap dengan malas "lo selow Val, dari awal sampai akhir nama lo yang gue tulis" balasnya asal.
Mendengar itu membuat Raka ngakak terbahak sementara yang diomongin sudah mengkerucutkan bibirnya kesel.
"gila, kalah kekuasaan Dekan dkk sama nama lo Val" celetuk Raka ditengah tawanya yang dianggukin oleh Gio.
"Anak pemilik yayasan mah sultan Ka" balas Gio ikut menyindir. Balas dendam dengan apa yang dilakukan Noval tadi pada dirinya.
"Mending gak usah deh Gi" Balas Noval sedikit kesal lalu buang muka, menoleh kearah lain.
Gio melihat temannya itu dengan tatapan mencibir "ni anak Ka" ucapnya pada Raka dengan menunjuk kearah Noval, yang membuat Noval hanya melirik dengan ujung matanya saja "jarang ngambek, tapi sekali ngambek emang kayak cewek" lanjutnya kembali yang membuat Raka menggigit bibirnya menahan tawa.
Emang susah sama orang yang jarang ngambek, sekali ngambek bikin hati was-was.
"Siapa yang ngambek sih?" Tanya Noval menaikkan nada suaranya, tak terima dituduh seperti itu.
"Yaudah iya, ntar gue bikin nama lo bagus-bagus. Udah jangan ngambek, kayak cewek aja" ucap Gio akhirnya mengalah.
Segimanapun kalem dan dewasanya Noval, tetap saja jiwa adik didalam dirinya masih terbawa-bawa dilingkungan pertemanannya. Yang terkadang bisa tiba-tiba bersifat manja seperti sekarang ini. Untung saja kedua temannya ini bisa dewasa menghadapi sikap manja Noval.
Raka yang punya adik bisa ngerti gimana kelakuan dan sifat Noval yang sebagai adik di keluarganya, Gio yang anak tunggal bisa menggangap Noval sebagai saudaranya.
"Beneran?" Tanya Noval masih merasa belum puas.
"Iyah bener, ah elah. Kapan gue bohong sih Val?" Jawab Gio yang mulai tersulut emosinya.
Wajah Noval kembali sumringah "yes" ucapnya melayangkan kepalan diudara yang membuat Gio menatapnya dengan tatapan sinisnya.
"Ka, itu Yuki goncengin siapa?" Tunjuk Gio tiba-tiba pada sepeda motor yang dikenalinya adalah milik Yuki yang sedang melewati area parkir dengan berboncengan seorang cowok.
Kebetulan ketiganya sedang nangkring dibawah pohon yang berada di pojokan parkiran motor tempat biasa mereka habiskan waktu sepulang dari ngampus.
Raka menajamkan penglihatannya dengan sedikit mengerutkan kening sehingga alisnya menyatu "mana?" Tanyanya masih mencari keberadaan pacarnya.
"Noh" tunjuk Gio mengarahkan telunjuknya kearah gerbang kampus dimana sepeda motor yang dikendarai Yuki berhenti.
Sesuai dengan instruksi Gio, Raka dan Noval mengarahkan pandangannya kearah tunjuk Yuki.
"Itu Bima" jawab Noval setelahnya dengan santai.
Raka langsung menoleh dan diikuti oleh Gio "Bima? Bima mana?" Tanya Gio yang lebih dulu bertanya. Lalu menoleh pada Raka yang masih terlihat santai "selingkuhan Yuki?" Tanyanya dengan wajah polos pada Raka.
Belum sempat Raka menjawab pertanyaan dari Gio, bekas permen karet Yang berada di dalam mulut Noval sudah melayang tepat didepan wajah Gio.
"Makanya kalau ngomong gak usah ngasal"
"Gue nanya ****, tu pacarnya aja santai gitu" tunjuknya pada Raka yang terlihat santai dengan pertanyaan dari Gio tadi.
"Itu kerna dia udah tau gimana mulut rombeng lo" balas Noval masih tak mau kalah.
"Yaudah mestinya lo juga tau gimana gue dong" ucap Gio tak mau kalah juga.
Belum sempat Noval membalas kalimat Gio kembali, Raka sudah memotong ucapannya "astaghfirullah, malah ribut" ucap Raka menghentikan keributan dari kedua temannya itu.
"Noval ni Ka"
"Jelas lo, malah nuduh gue"
"Kok gue?"
Raka mengacak-acak rambutnya yang tampak sedikit kewalahan menghadapi keributan dari kedua temannya ini yang tak kunjung mereda.
"Val, Kalem" tegur Raka mengingatkan kepada Noval yang hendak membalas ucapan Gio kembali. Mendengar teguran itu membuat Noval mengurungkan ucapannya dan lebih memilih diam seperti suruhan Raka.
"Jadi Bima itu siapa?" Tanya Gio kembali yang masih terlihat penasaran.
"Yang jelas bukan selingkuhan yang seperti lo tuduhin" jawab Raka.
"Lah bukan?" Tanya Gio dengan tampang polosnya.
"Ya bukan lah" sambung Noval terihat masih kesal dengan Gio.
Gio menoleh sekilas pada Noval, dan langsung dibalas tatapan tajam dari pemilik mata "apa lo liat-liat?" Ucapnya dengan galak serta membesarkan matanya, guna membuat Gio merasa takut. Bukannya takut, yang ada Gio malah melepehkan lidahnya merasa jijik.
"Val" Panggil Gio mendekatkan wajahnya kearah Noval "kok lo yakin gitu kalau Bima Bima itu bukan selingkuhan Yuki? Atau jangan-jangan ..." ucapnya menjeda kalimatnya dengan senyum menggoda nan licik, yang membuat Noval langsung mendorong jauh wajah menggelikan Gio dari hadapannya menggunakan telunjuknya.
"Ka jelasin ni sama temen kesayangan lo, biar ngerti dan gak suuzon mulu hidupnya" perintah Noval melirik sinis kearah Gio yang juga meliriknya dengan bibir yang sudah berkerut.
Raka terlihat menarik nafas begitu dalam sebelum menjelaskan kepada temannya itu "Bima itu teman kelasnya Yuki yang dulu juga pernah satu project sama Noval" ucap Raka yang diterima anggukan mengerti dari Gio.
"Masa? Kok gue gak pernah liat dia ya"
"Ya iyalah, setiap jalankan mata lo liatnya kecewek-cewek" balas Noval sinis, yang membuat Gio refleks jadi tersenyum malu-malu.
__ADS_1
"Udah ah sakit pala gue liat lo dua berantem mulu. Gue cabut" pamit Raka begitu saja meninggalkan kedua temannya dengan sepeda motor yang dikendarainya menjauh dari area parkiran tempat mereka nongkrong tadi.
"Lo mau kemana?" Tanya Gio meraih tangan Noval yang hendak melangkah menuju motornya.
Noval menatap malas kearah temannya itu "Ya mau baliklah. Lo gak balik?" Tanyanya.
"ya baliklah. Lo kira gue penjaga ni kampus gak balik-balik" jawab Gio santai.
"Yaudah ayo, malah nanya"
"Woi bentar dulu, gue mau ngomong" ucap Gio menghadang jalan Noval.
Noval mendengus kasar dengan tangan yang berdecak dipinggang "lo dari tadi udah ngomong Gi, mau ngomong apa lagi sih?" Ucap Noval yang mulai geram dengan kelakuan Gio.
Gio berdecak "ini soal Yuki" jawabnya santai.
Noval menyerngitkan keningnya menatap bingung teman yang didepannya ini "Yuki? Yuki kenapa?".
Gio diam sejenak memikirkan kata apa yang pantas dia ucapkan agar temannya ini tidak tersinggung dengan pertanyaannya.
"Lo suka sama Yuki ya?" Tanya Gio hati-hati, terihat dari rautnya yang sedikit tidak yakin akan pertanyaan dirinya.
Sementara Noval yang mendengar pertanyaan konyol dari Gio hanya membalas dengan senyuman tipisnya atau lebih tepatnya senyum meremehkan.
"Benerkan lo suka sama Yuki?" Tanya Gio kembali memastikan melihat tidak ada jawaban sanggahan dari temannya itu.
Kini Noval merubah raut wajahnya menjadi datar dan serius tanpa ekspresi sebelum menjawab "dari mana lo bisa mikir kalau gue suka sama Yuki?" Tanyanya.
Gio menggigit bibirnya tampak berfikir keras atas pertanyaan dari Noval.
"Ya gue taulah, gue merhatiin lo" tunjuk Gio, "Dari awal gue ketemu Yuki sampai sekarang gue selalu denger elo lebih tau tentang Yuki dan lebih perhatian kedia".
Noval senyum tipis dengan bibir naik sebelah "udah, gitu?" Tanyanya sinis yang membuat Gio menyerngitkan kening, "kayak gitu lo bilang suka?" Tanyanya kembali membenarkan posisi dirinya lebih mendekat kearah Gio "lo kenal gue berapa tahun?" Tanyanya lebih serius membuat Gio memundurkan langkahnya.
Gio membasahi bibirnya agar menghilangkan rasa kecanggungan yang ada "kurang lebih sepuluh tahun" jawabnya cepat dengan yakin.
Gio tampak diam sejenak menarik nafas dalam sebelum melanjutkan kembali ucapannya "gue cuma mau lo sadar kalau Yuki itu milik Raka, temen lo sendiri dan temen gue. Gue gak mau cuma karena cewek, lo dan Raka hancur, dan hubungan persahabatan kita juga ikutan hancur. Gue gak mau kehilangan salah satunya atau keduanya, gue gak mau Val" lanjut Gio kembali dengan mata sendu menahan emosinya yang sudah memuncak.
"Sepuluh tahun, tapi lo gak tau gimana gue. Sepuluh tahun tapi lo mikir gue kayak gitu" ucapnya menyendu dengan senyum sinisnya.
"Lo denger kata gue baik-baik" ucapnya tajam dan serius membuat Gio sedikit menahan nafasnya takut melihat perubahan raut wajah dari Noval "Gue gak sebrengsek itu buat ambil milik sahabat gue sendiri, dan gue juga gak segoblok itu buat ngelepasin kalian cuma karena cewek. Ngerti lo!" Ucapnya tajam dan berlalu meninggalkan Gio yang masih diam ditempat tanpa berani bersuara.
Baru berapa langkah Noval berjalan menjauh, ia kembali berbalik pada Gio yang membuat Gio menatapnya bingung "kenapa?" Tanya Gio menantang.
Noval tak langsung menjawab, dia menatap temannya itu lebih dalam "gue seneng lo peduli sama temen lo. Tapi gue gak suka cara berfikir lo" ucapnya mencela, "gimana bisa gue ngerelain adik gue deket sama orang yang cara berfikirnya kayak lo gini" lanjutnya kembali dan beranjak melangkah menjauh dari Gio, sebelum itu tidak lupa Noval memberi senyum mencemoohnya.
Setelah peninggalan Noval, Gio berdehem baru bisa bernafas dengan lega "itu tadi maksunya apa ya?" Tanyanya bingung dengan menggaruk keningnya yang tak gatal.
🐝🐝🐝🐝
"Loh Car, tumben ngajak nongkrong dicafe. Biasa juga di Alfamart atau Indomart".
"Udah datengnya telat bukan ngehibur malah komplain lagi" sahut Yuki sebel dengan bibir yang sudah maju beberapa senti.
Raka yang sadar akan kesalahannya cukup mengalah tak membalas ucapan pacarnya itu "maaf ya aku telat" ucapnya mengelus pala pacarnya yang dijawab dengan deheman saja dari Yuki "kenapa sih bad mood gitu? Coba sini ngadep aku, cerita yuk" bujuk Raka menarik wajah pacarnya agar mendekat dan menghadap kearahnya.
"Kenapa hm?" Ulangnya lagi dengan mengelus pipi Yuki.
"Itu tu, si Bima" adunya dengan cemberut.
Raka memiringkan wajahnya menatap dalam pacarnya itu "Kenapa sama Bima, hm?" Tanyanya lembut.
Perasaan cewek kali yah, kalau lagi down atau kesel ditanyain 'kenapa' dengan intonasi yang lembut seperti itu dapat menghadirkan jiwa melow.
Yuki memajukan bibir bawahnya yang membuat Raka gemesh sendiri melihatnya "lah kenapa itu tampangnya jadi makin jelek gini?" Tanyanya sedikit dengan tawa khasnya mengacak rambut Yuki.
"Bima tu ngeselin banget bang. Udah maksa-maksa minta anterin kebengkel buat jemput mobilnya, eh giliran udah sampai dibengkel dan mobilnya udah bener aku ditinggal gitu aja bang" ucapnya menggebu-gebu dengan emosi yang membara. Tapi Raka yang melihat kekesalan pacarnya itu cukup terhibur dan menyunggingkan senyum lebarnya.
"Ih gila gak sih itu ngeselin. Awas aja ntar kalau jumpa, aku bijek-bijek jadi prekedel tu anak. Ih pokoknya seb... ih Abang! Ini kenapa mulut aku ditempel struck minuman sih?" Tanyanya masih dengan emosinya.
"Biar diem. Masa aku cium kamu depan umum biar kamu gak ngomel-ngomel lagi" jawab Raka santai tanpa rasa bersalah, yang membuat Yuki memalingkan wajahnya yang sudah merah merkah.
"Ngomong apa sih, gak jelas banget" lanjutnya menahan senyum masih tanpa menoleh.
Melihat tampang salting dari Yuki membuat Raka merasa gemesh sendiri, dan menarik pacarnya itu lebih mendekat kearahnya dan menyenderkannya dibahunya.
"Ya Allah dek, gemeshin banget sih" ucapnya mencium sekilas pucuk pala Yuki dan mengacaknya yang membuat yang punya marah.
"Berantakan ih bang" teriak Yuki tak terima rambutnya di acak-acak seperti itu dan menjauh dari bahu Raka.
"Namanya juga gemesh" jawab Raka tanpa rasa bersalah.
Yuki memutar matanya males.
"Kesel banget kalau udah dapet tatapan kayak gitu. Siapa yang ngajarin sih?" Tanya Raka dengan sinis.
"Kenapa? Gak suka?" Tanya Yuki galak.
__ADS_1
"Suka dong masa nggak. Habis lulus kuliah nikah yuk" ajak Raka.
**Next**🐝