
Siang ini Raka bersama Noval sedang melewati koridor dikampusnya menuju tempat favorite mereka jika sehabis bimbingan yang dapat menguras otak berserta energi.
Kekampus satu harian full dari pagi sampai sore, jumpa pembimbing paling lama sejam atau dua jam-an. Yang bikin lama itu menunggunya, yaps menunggu ketidak pastian dari pembimbing. Untung mahasiswa Yang sudah semester atas kayak mereka udah kebal dengan hal yang berbau menunggu seperti itu atau berbau janji-janji manis yang sering Doping atau pembimbing ucapin.
Mereka berdua sudah sampai dikantin yang jadi langganan mereka jika menunggu jadwal dosen. Kantin paling pojok dengan meja yang juga paling pojok.
The best.
"Siap ini mau langsung pulang Val?"
"Kayaknya. Mau jemput Bee juga, Pak Dodi gak bisa jemput".
Raka hanya mengangguk mendengar jawaban Noval, yang lalu menolehkan mukanya kesegalah arah seperti mencari seseorang.
Noval yang melihat itu juga ikutan memutarkan pandangannya keseluruh ruangan lalu kembali ke Raka lagi "Cari siapa?".
"Biasa cewek bar-bar, satu harian ini gak ada kabar" jawab Raka santai tanpa menoleh.
Raka meraih ponselnya lalu mengecek chat yang dikirimnya dari pagi belum juga dibaca oleh cewek tersebut.
Noval sedikit mencibir "Gak ada aja lo berani bilang bar-bar, coba depannya kalau berani" tantang Noval.
"Gue kena pelet Val, depan dia bawaannya lemah aja gitu" balas Raka dengan wajah yang dibuat sok memelas, yang jatuhnya membuat Noval menggidik geli.
"Sumpah Ka najisin lo, udah kayak Gio ****" umpat Noval, "tanda-tanda bucin ni, hati-hati aja lo" lanjutnya memperingati.
"Gak apa, yang jelas masih tahap awal belum sampai ke DNA" ucapnya dengan gelak tawa menyindir seseorang.
Noval menaikkan alisnya sebelah menatap bingung sahabatnya itu "fix lo udah kena virus bucin ka"
Raka bembenarkan posisi duduknya lalu berdehem "Gue sih gak masalah mau dibilang bucin atau apapun itu, selagi gue ngelakuinnya tulus karena gue seneng dan sayang, kenapa tidak? Ini hidup kita ya terserah kita Val. Lo gak lupakan apa yang lo perbuat dulu sampai lo dikatain bucin tingkat dewa sama Gio?".
Noval tampak menarik nafasnya dalam dan membuangnya secara kasar "Gue males nginget Ka, tapi lo bener" jawabnya dengan senyum tipisnya "Kalau kita udah Sayang, tanpa disadari kita pasti ngelakuin hal yang memalukan atau lebay. Sampai orang mikir kita itu begonya udah mendarah daging".
"Gini deh Val, gak usah jauh-jauh ya. Gue aja dulu Yang tau lo pergi ke UK cuma karena pengen jengukin mantan lo yang sakit aja sampai mikir lo gak waras berlebihan" ucap Raka yang membuat Noval mendengus kan hidungnya secara kasar. "Tapi setelah gue jalanin, ternyata bener. kalau udah sayang mana ngerti kita hal-hal memalukan atau berlebihan seperti itu. Ya bawaannya kayak apa ya, kayak emang udah wajar aja gitu".
Noval manggut-manggut menanggapi omongan Raka "Gue baru sadar Ka dulu bisa lebay gitu" lanjutnya dengan tawa yang diikuti Raka.
Mereka sama-sama menertawakan hal yang menurut mereka memalukan seperti itu.
ππππ
"Kamu ngapain kesini?" Tanya Yuki dengan rawut bingung sebab Raka sudah berdiri santai dengan senyum lebarnya didepan pintu rumah Yuki.
Raka tak langsung menjawab. Dia lebih memilih mencium pipi pacarnya itu terlebih dahulu "aku cari cewek bar-bar, eh taunya disini" ucapnya dengan kerlingan yang langsung dapat cubitan di lengan Raka "tuhkan bener, disini. Aku gak salah alamat dong" lanjutnya mencium kembali pipi Yuki satunya lagi.
"Apa sih gak jelas" timpal Yuki buang muka mengalihkan pipinya yang sudah merah merkah.
"Ini aku gak diajak masuk? Capek loh baru balik kampus langsung kesini mau jumpai pacarnya" dengan nada ngambeknya yang membuat Yuki melirik di ujung matanya "Atau apa aku balik aja yah?"
Yuki langsung menoleh kembali pada Raka dengan tatapan malesnya "ngambekkan. Yaudah hayuk masuk" ajaknya yang lebih dulu masuk kerumah.
Baru beberapa langkah dia kembali menoleh kebelakang dimana Raka masih pada posisi awalnya tidak bergerak sedikitpun.
Ditatapnya Raka dengan bingung "Kok gak jalan?"
"Gandeng dong car pacarnya. Kan lagi kangen" ucapnya menyodorkan tangannya untuk diraih oleh Yuki. Mau tak mau, dengan males Yuki meraih tangan Raka dan menggandengnyaasuk kedalam rumah.
"Manja banget, untung sayang" lirih Yuki sedikit berbisik.
"Kenapa?" Tanya Raka yang langsung menoleh pada Yuki
"Gak, tadi ada monyet lewat" jawabnya cepat.
"Oh gitu sayang kamu juga" Balas Raka melepas tangannya dari tangan Yuki dan menarik leher gadis itu agar lebih dekat dengannya lalu di ciumnya pucuk pala gadis itu.
"Abang ih, keringetan jangan deket-deket lah" ucap Yuki kesal dengan perlakuan Raka yang menjepit lehernya dengan tangan cowok itu.
"Bau tau" lanjutnya berusaha melepaskan rangkulan Raka.
Raka langsung melepaskan rangkulannya dan menatap gadis yang didepannya itu dengan tatapan malas "Bener ni bau? Awas ya ntar rengek-rengek minta peluk. Abang gak mau" balasnya buang muka lalu mendengus kasar.
Mendengar ucapan Raka langsung membuat Yuki panik. Dengan berusaha dia meraih tubuh Raka agar kembali memeluknya, namun Raka tidak membalas hanya diam saja "abang peluk" rengek Yuki merentangkan tangannya.
Raka melirik sebentar "Gak mau" jawabnya menekankan penolakannya.
"Harus mau!" Balas Yuki tak mau kalah, "peluk" perintah Yuki kembali merentangkan kedua tangannya dengan muka yang udah cemberut.
Raka menahan bibirnya agar tidak ketawa melihat muka pacarnya itu yang terlihat menggemaskan jika sedang merajuk seperti sekarang ini.
"Peluk" Ulang Yuki dengan nada manjanya masih dengan tangan yang direntangkan.
Raka yang melihat tingkah manja pacarnya itu, akhirnya luluh juga dan menerima pelukan Yuki "gemesh nya" ucapnya mengeratkan pelukannya pada Yuki.
"Udah makan?" Tanya Raka melepas pelukannya dan menarik tangan Yuki untuk duduk dikursi panjang yang berada diruang santai rumah Yuki.
"Udah, tadi delivery"
"Delivery bisa, Balas chat aku gak bisa" sindir Raka lalu menjarakkan duduknya menjauh dari Yuki.
Yuki kembali mendekat.
"Ih apa sih bang, ngambek mulu" ucapnya menowel-nowel pipi Raka dari samping. "Kayak cewek pms aja. Eh tapi aku gak gitu-gitu banget deh"
Raka langsung menoleh "aku? Ngambek? Sorry it's not my style" lanjutnya kembali buang muka.
__ADS_1
Yuki menahan tawanya.
Dia tau kalau cowok disampingnya ini dalam keadaan mood yang tidak baik, pasalnya dari tadi pagi dia sudah di-spam chat oleh cowok itu. Tapi karena keasikan ngegame, Yuki lupa membalas chatnya. Dan sampailah cowok itu sekarang disini, dirumah Yuki.
Yuki memeluk Raka dari samping "maaf atuhlah bang. Tadi lagi ngegame, jadi lupa bales" jawabnya dengan cengiran menunjuk tangannya membentuk huruf V "peace ya" lanjutnya memainkan alisnya naik turun.
"Emang main apa? PUBG?" Tanya Raka yang hanya melirik kearah Yuki, mempertahankan sisi manjanya aka ngambek.
Yuki menggeleng, "ML hehe"
Raka langsung membalik menghadap Yuki yang membuat pelukan Yuki pada pinggang Raka terlepas "Beneran? Mabar yuk" ajaknya antusias. Entah kemana hilangnya sifat manjanya tadi.
"Hayuk, siapa takut"
"Tapi yang kalah harus ada hukumannya ya" ucap Raka memberi penawaran dengan kedipan mata.
Melihat itu membuat Yuki mendengus kasar, perasaannya tidak enak. Pasti ada maksud terselubung di balik kata hukuman.
"Kayak mencium bau-bau gak enak ya bang" sindir Yuki yang hanya membuat Raka tertawa dengan mengacak pucuk kepala Yuki "Apa hukumannya?" Lanjutnya.
Raka tampak berfikir sebentar "hukumannya, kalau kalah harus cium yang menang" Tanyanya dengan senyum genitnya.
"Tuhkan emang gak bener" ucap Yuki protes melempar bantal sofa yang ada didekatnya kepada Raka "kalah atau menang mah sama-sama menguntungkan buat kamu"
"Yah harus dong, namanya juga lagi usaha" Balas Raka santai.
"Gak mau, pokoknya kalau aku yang menang Abang harus ajak aku keliling Jakarta naik motor! Gimana? Setuju?"
"Boleh deh, siapa takut. Jelas akulah yang menang, orang aku udah pro kok" jawabnya dengan songong dan memeletkan lidah pada Yuki.
"Kita liat aja nanti, point siapa yang gede antara kita berdua itu pemenangnya. Deal?" Tawar Yuki menyodorkan telapak tangannya.
"Deal" balas Raka menerima jabatan tangan Yuki tanda kesepakatan mereka telah disetujui.
ππππ
"Baaaang, tolongin disini ni aku di keroyokin" teriak Yuki heboh dengan ponselnya.
"Bentar car. Ini lagi hancurin turret".
"Bang, ih itu si fanny bahaya banget. Ngejar aku mulu"
"Mana? Sini biar sama abang. Pacar bunuh monster buff aja biar levelnya naik. Biar abang backs up".
"Oke" jawab Yuki yang terlihat tidak tenang dengan rambutnya.
"Kenapa?" Tanya Raka yang melihat kerisihan Yuki dengan rambutnya.
"Rambutnya gangguin ni" jawab Yuki tanpa menoleh. Masih fokus dengan gamenya.
"Karetnya di kamar bang, lagian lagi main ntar AFK lagi".
Raka berhenti bermain dan meletakkan ponselnya di atas sofa yang ada disebelahnya.
"Sini abang iket" ajak Raka yang sudah memegang karet rambut ditangannya yang tadi diambil dari ranselnya.
"sini deketan" ditariknya tangan Yuki dan didudukkan tepat didepannya.
Yuki yang masih asik dengan gamenya nurut aja ditarik oleh Raka agar duduk didepannya.
"Abang gak main?" Tanyanya masih sibuk mengusap-usap ponselnya dengan gemash.
"Bentar, cepol rambut pacar dulu biar gak risih" jawabnya yang mulai berkutat dengan rambut panjang Yuki.
Tanpa sengaja Raka menyentuh leher Yuki yang membuat cewek itu bergidik dan menjerit.
"Geli bang, jangan disentuh ih" omel Yuki mecubit paha Raka.
"Eh sorry sorry, gak sengaja" jawab Raka dengan muka tanpa dosa.
Wangi, batin Raka mengendus leher Yuki.
"Lama ya" sindir Yuki.
Raka tertawa "pacar aja yang main, aku liatin aja ya" jawabnya menyudahi menyepol rambut gadisnya.
"Loh kok gitu? Ntar AFK loh, mau?"
"Gak apa-apa, aku mau kayak gini liat pacar main" balasnya menyandarkan dagunya di bahu Yuki.
Yuki yang mendapati serangan tiba-tiba tersebut langsung menegang.
Diam.
Kalem.
"Bang, deru nafasnya jangan kena leher. Geli" ucap Yuki ikutan menghentikan gamenya.
"Kayak gini?" Tanya Raka mendekat kan hidungnya pada leher Yuki.
"Geli ih" teriak Yuki "nih kan aku merinding" ucapnya menunjukkan rambut-rambut halus ditangannya yang sudah berdiri.
"Mana? Gak kelihatan"
"Nih" tunjuk yuki kembali yang langsung ditarik oleh Raka "***** sakit" teriak Yuki saat Raka menarik rambut-rambut halus ditangannya itu.
__ADS_1
"Eh mulutnya" ucap Raka memperingati.
"Salah siapa mainnya kasar gitu ha? Kan aku refleks" alasan Yuki memajukan bibir bawahnya.
Melihat itu membuat Raka membasahi bibirnya. Udah dari tadi dia menahan diri untuk tidak kelewat batas. Emang bener berduaan seperti ini berbahaya, ada aja cara buat iya-iya.
Rak berdecak kasar membenamkan mukanya di bahu Yuki.
"Kenapa?" Tanya Yuki melihat sikap aneh pacarnya itu.
"Gak kenapa-kenapa" jawabnya masih dengan wajah yang menempel di bahu Yuki.
"Terus kenapa berdecak?"
"Kamu gemesin, takut khilaf" jujur Raka dengan suara menyenduh.
Yuki yang mendengar itu menoleh sekilas dengan senyum tipisnya serta mengusap kepala Raka yang membuat perasaan Raka kembali tenang dan nyaman.
"Emang khilaf versi kamu gimana?"
Raka mengangkat kepalanya "Yah gak gimana-gimana sih, cuma takut kebablasan ciumin kamu mulu" jawabnya dengan malu-malu, terlihat dari telinganya yang sudah berubah menjadi kemerahan.
Gemesh, batin Yuki.
Yuki tertawa dan mengacak kembali rambut Raka.
"Yaudah sini cium" lanjutnya membenarkan duduknya menghadap kebelakang, tepatnya kearah Raka.
Mendengar itu membuat Raka terkejut, dia tidak mengira mendapat respond seperti itu dari pacarnya ini.
Raka meraih pinggang Yuki dengan kedua tangannya "Tapi aku kan belum menang car"
"Kata siapa?" Tanya Yuki meraih ponselnya kembali, "ni liat credit score siapa yang tinggi?" Tanyanya memberi ponselnya pada Raka.
Raka menerima "lah aku, kok bisa?" Tanyanya bingung yang melihat credit score nya lebih tinggi dari pada Yuki.
"Tapi katanya pro, yah bisa lah" balas Yuki dengan nada songong Raka seperti tadi yang membuat Raka melihatnya tertawa.
"Jadi boleh cium ni?"
Yuki buang muka, malu "bisa gak sih kalau mau cium itu gak usah nanya-nanya gitu. Kan malu" cicit Yuki dengan rona merah dibibi.
Raka menarik tubuh Yuki, lebih mendekat dan memeluknya dengan dagunya yang sudah menempel kembali di bahu Yuki. Sementara dada mereka saling bersentuhan membuat deguban jantung keduanya saling terasa.
"Ntar kalau gak izin dibilang cowok kurang aja lagi"
Yuki kembali menghadap pada Raka dengan jarak mereka yang hanya beberapa sentimeter "Berarti kemarin-kemarin itu kamu kurang ajar dong" Ucap Yuki mengingatkan kembali Raka yang beberapa kali menciumnya secara tiba-tiba.
Raka tampak berfikir mencari alasan apa yang cocok untuknya "itu kan beda car, aku cium kamu waktu itu biar kamu diem, gak bawel lagi"
Yuki mencibir "alasan aja kamu mamang" jawabnya memainkan rambut Raka dengan kedua tangannya.
Melihat itu membuat Raka tak tahan.
Chup.
Diciumnya bibir Yuki sedikit lebih lama dari sebelumnya lalu dilepas kembali.
"gemesh" lirihnya "pengen gigit" lanjutnya kembali menyatukan kedua hidung mereka.
Merasa mendapat kesempatan, Yuki segera mengigit pipi Raka yang chubby nya mengalahkan dirinya. Dan hal itu membuat Raka menjerit kesakitan, pasalnya Yuki tidak nanggung-nanggung menggigitnya. Sampai meninggalkan bekas seperti itu.
"Sakit ya Allah car" adu Raka kesakitan mengusap pipinya yang gigit tadi.
"Geraaaaaam banget. Gemesh" ucapnya mengatup-ngatupkan giginya seperti ingin mengigit kembali dengan cengiran khas tanpa dosanya.
"Tapi sakit pacar"
"Uluuu uluuu pacar aku" goda Yuki mengusap-usap "sini-sini diobatin" timpalnya meniup-niup pipi Raka yang bekas gigitannya tadi.
Nyaman, hangat. Itulah rasa yang dirasain keduanya saat ini.
Rasa sayang, yang hanya mereka tunjukkan jika hanya berdua seperti saja.
Raka yang jarang berkata manis tapi menunjukkan perasaannya lewat tingkah dan sikap manisnya yang sederhana tapi mampu membuat Yuki bengap-bengap seperti ikan kekurangan oksigen.
Dan Yuki yang selalu terlihat bar-bar dengan tingkah dan ucapannya, tapi di balik itu selalu ada sikap pedulinya dan manisnya.
Perbedaan yang menyatukan.
Perbedaan yang menjadikan pelengkap.
Persamaan yang mendekatkan.
Persamaan yang menjadikan pemanis.
Raka meraih pipi Yuki agar menghadap seutuhnya padanya.
"Love you car" ucapnya.
Belum sempat Yuki mebalas Raka sudah mencium kembali bibir Yuki.
Chu\~
Nextπ
__ADS_1