
Yukiki
Abang????
Raka Y
Yes, I'm here babe :*
Yukiki
Dih najis :((
Raka Y
Hahaha kenapa sih sayang?
Yukiki
dimana?
Raka Y
Yukiki
Astaghfirullah
Kurang kebawah ih :p
Raka Y
Beneran ni mau sampai bawah?
Yukiki
Emang berani?
Raka Y
Kalau sama pacar mah kenapa gak berani.
Jadi gimana? Mau lihat sampai bawa gak? :p
Yukiki
Eh nggak, jangan dong. Becanda doang hehe
Raka Y
Bisanya cuma nantangin doang. Sini peluk, jadi gemesh.
Yukiki
Dih bukan nantangin, takut gakuku ganana aku tuh
Raka Y
Ha? Apaan tu gakuku ganana?
Yukiki
Gak kuat-kuat gak nahan-nahan hihi
Raka Y
Astaghfirullah belajar dari mana sih
Yukiki
Dea tuh ngajarin kemarin.
Eh iya, awas yah kamu nyebar-nyebar kayak gitu sama yang lain.
Raka Y
Kenapa emang kalau aku nyebar ke yang lain?
Yukiki
AKU BUAT GAK BERBENTUK BADAN LAGI NTAR !!!🔪
Raka Y
Dih serem. Ya nggak lah car, kan pacar aku kamu, ngapain aku nyebar ke yang lain.
Aku gak se player itu sayang.
Yukiki
Beneran ya
Raka Y
Iyah bener :*
Kenapa nanya dimana tadi?
Yukiki
Tuh kan jadi lupa aku.
Karena kamu ni -_-
Raka Y
Lah jadi aku yang disalahin dong.
Kenapa sayang? Umm kenapa?
Yukiki
Numpang mandi dong :((
Mesin air rusak :( terus airnya juga habis huhu sedih aku tu bang :((
Raka Y
Utayaaang sedihnya pacar aku uluu uluu.
Tapi gak boleh ah, ntar air dirumah ikutan habis juga :((
Yukiki
Pelitnya Ya Allah 😏
Tetangga aku kemarin ada yang meninggal. Matinya gak ada yang liatin karena dia pelit.
Kamu mau kayak gitu?
Raka Y
__ADS_1
Kebanyakan nonton azab ni orang 😏
Tetangga aku sering nonton azab, matinya beneran kena azab :((
Yukiki
Lagi serius loh ini -_-
Raka Y
Oh mau di seriusin? Udah siap?
Yukiki
Dih apa sih gak jelas.
Aku otw !!
Raka Y
Lah main otw aja
Hati-hati :*
🐝🐝🐝🐝
"Loh, mau kemana bang buru-buru?" Tanya Nana yang melihat Raka menuruni anak tangga dengan tergesah-gesah
"Mau ketempat Yuki ma. Tadi katanya mau kesini. Tapi gak sampai-sampai juga sampai sekarang" jawab Raka yang terlihat khawatir.
"Udah coba di telfon belum bang?"
"Udah ma, tapi gak diangkat sama Yukinya"
"Yaudah samperin gih, ntar kenapa-kenapa lagi. Abang hati-hati nyetirnya, habis hujan jalanan licin" ucap Nana menasehati Raka "ntar kalau kenapa-kenapa telfon mama, Oke"
"Oke ma. Abang pamit yah, assalammualaikum" pamit Raka mencium kedua pipi mamanya dan tak lupa mencium tangan wanita tersebut.
"Waalaikumsalam"
🐝🐝🐝🐝
Raka sampai dirumah besar yang bercat putih yang bercampuran dengan warna hijau. Tampak diluar rumah ini sangat sepi seperti tidak berpenghuni. Bayangkan saja rumah sebesar ini hanya dihuni oleh gadis itu sendiri, sedangkan Mbak yang dulu merawatnya sudah tidak bersamanya lagi semenjak gadis itu lulus SMA.
Sementara tukang bersih-bersih hanya datang tiap sekali seminggu untuk membersihkan rumah tersebut. Untuk urusan dapur, Yuki lebih memilih masak sendiri atau kalau lagi malas dia bisa order via online.
Selama pacaran Raka hanya datang kerumah besar ini beberapa kali saja dan itu hanya untuk mengantar dan menjemput Yuki. Kalau soal untuk mampir atau main, Raka lebih memilih main dirumahnya saja. Hal itu di karenakan rumah Yuki yang sepi dan tidak ada siapa-siapa membuat Raka merasa tidak nyaman.
Raka mendekati pintu hendak mengetuk pintu yang ada didepannya "Gak di kunci?" Ucap Raka bingung melihat pintu tersebut tidak tertutup rapat "Ini lupa ngunciin atau gimana?"
Dan ini adalah pertama kalinya bagi Raka masuk kedalam, yang langsung dikejutkan dengan pintu yang tidak tertutup rapat.
"Ntar kalau ada orang luar yang masuk gimana? Ceroboh banget sih" omelnya yang tak jelas pada siapa.
Sementara dia sudah masuk kedalam dan tidak menemukan seseorang yang ingin ditemuinya.
"Benar-benar sepi yah. Seperti beberapa tahun lalu" gumamnya tersenyum kecut melihat suasana rumah yang sepi tanpa tersentuh kehangatan seorang ibu.
Huachim,
Terdengar suara bersin dari lantai atas, Raka mengikuti nalurinya jalan begitu saja menaiki tangga yang mengantarkan dirinya menuju lantai dua kesumber suara.
Dilantai dua tersebut terdapat beberapa kamar salah satunya kamar Yuki. Dan paling pojokan terdapat sebuah sofa panjang yang dilengkapi dengan televisi yang berukuran besar.Biasanya Yuki menghabiskan waktu untuk menikmati kesendiriannya disini dengan bermain video game.
Dan disitulah Raka nenemukan seorang gadis sedang meringkuk diatas sofa memeluk dirinya sendiri yang hanya menggunakan kaos yang berukuran besar dan juga jogger pants.
Melihat itu Raka sempat menyerngitkan keningnya. "Katanya mau kerumah, ini malah tidur disini" gumamnya heran melihat tingkah pacarnya itu.
Dia diam sejenak memperhatikan, hingga sebuah senyum mengembang dari bibirnya. Dia akui bahwa gadis didepannya yang sekarang ini lagi berbaring memiliki kecantikan yang begitu natural.
Yuki juga memiliki kulit putih bersih sehingga dia jarang bahkan tidak pernah menggunakan bedak. Tetapi ada satu jerawat yang menarik perhatian Raka yang berada di kening.
Melihat itu membuat Raka gemesh, dia tau jerawat itu sempat membuat pacarnya merasa uring-uringan, bahkan pernah ditutupinya dengan plester.
Selama kenal, Raka hanya tau kalau Yuki cuma menyimpan lisptick dan perfume di ranselnya. Pacarnya ini juga bukan type cewek yang begitu peduli hal-hal yang berbau make-up . Yang dia tau Yuki hanya mengunakan mascara untuk dimatanya, lipstick untuk dibibirnya dan perfume untuk melengkapi penampilannya yang sedehana.
Namun karena kesederhanaan Yuki itulah yang membuat Raka tertarik dengan gadis itu. Menurutnya Yuki adalah gadis yang tidak pernah neko-neko untuk soal pakaian dan juga makeup.
"Cantik" ucap Raka tanpa sadar seperti terhipnotis akan wajah polos gadis yang ada didepannya.
Lalu setelahnya Raka tersadar dengan ucapannya, membuat dia tersenyum geli.
"Car, bangun hey" ucapnya lembut membangunkan pacarnya itu, tetapi terdengar seperti bisikan. Disertai dengan elusan lembut dipipi gadis itu.
"Pacar, bangun yuk." ulangnya mencoba membangunkan kembali seperti pertama tadi dengan sedikit menaiki volume suaranya
Mendengar suara Raka yang mengganggu tidurnya membuat Yuki membuka mata dan tampak Raka yang sedang menatapnya dengan senyum merkah dibibirnya.
Yuki terlihat bingung melihat Raka yang berada didepannya duduk dengan santai menatapnya "Ngapain kamu duduk dibawah situ?" Tanyanya dengan tatapan tajam.
"Nothing to do. Cuma liatin kamu tidur dengan bibir kebuka, terus itu iler yang nempel dipipi" jawabnya santai menunjuk pipi gadis itu.
Mendengar jawaban Raka sontak membuat Yuki segera membalikkan badannya menghadap sandaran kursi dan memunggungi dengan celotehan-celotehan yang tidak jelasnya pada Raka. Dia merasa malu mendengar jawaban Raka yang membuat harga dirinya merosot begitu saja.
Hal itu membuat Raka tertawa lepas, padahal tadi dia hanya berbohong, gak tau akan mendapati respon seperti itu.
"Becanda ya Allah, malah dianggep serius" ucapnya membujuk Yuki dan mencolek-cokelat pinggang gadis tersebut.
"Bohong. Udah berapa lama kamu disitu?" Tanyanya jutek dengan suara yang terbenam dengan sofa.
"Beneran becanda. Gak lama, paling satu jam an lah" balasnya, kali ini mengacak rambut Yuki.
"Ck ah, kenapa gak dibangunin sih?" Tanyanya berdecak menepis tangan Raka yang berada dikepalanya.
"Kalau ni sofa bisa ngomong mungkin dia bakalan ngomong 'helow sadar diri dong, lo tidur kayak kebo'."
Yuki memukul badan Raka tanpa menoleh, masih menyembunyikan wajahnya.
"Makanya bangun, masa pacarnya dipunggungi. Mending balik kalau gitu mah" ancamnya. Yang kemudian langsung berdiri, beranjak dari duduknya.
Merasakan adanya pergerakan, Yuki langsung menoleh "Eh jangan dong" ucapnya memeles dengan bibir bawahnya yang lebih maju "sini duduk" ajaknya menarik badan Raka agar duduk disampingnya.
Raka nurut saja ketika badannya ditarik oleh Yuki untuk duduk bersampingan.
"Katanya mau kerumah, ditungguin gak dateng-dateng, di telfonin juga gak diangkat"
Yuki membenarkan duduknya lebih menghadap ke Raka dan menyandarkan badan sampingnya pada sandaran sofa "tadi hujan, yaudah aku mandi hujan aja dari pada jauh-jauh kerumah kamu"
Raka juga melakukan hal seperti Yuki, jadi sekarang mereka duduk berhadap-hadapan "Makanya tadi bersin-bersin?" Tanyanya
"Bersin doang wajar kali, orang gak kenapa-kenapa" jawab Yuki santai memainkan kaos bawahnya. Tidak berani melihat kearah Raka.
"Apaan gak kenapa-kenapa. Itu lihat, hidung merah, ini ni mata kamu juga berair loh pacar" balasnya mengusap mata Yuki yang sedikit berair. "Pasti kepalanya pusing ya?" Tanyanya menangkupkan kedua tangannya di pipi Yuki.
"Hu'um, tapi gak apa-apa kok"
Raka menyipitkan matanya menatap Yuki tajam "Yakin?" Tanya Raka memastikan meraup tangan Yuki.
"Iya"
"Jangan mandi-mandi hujan lagi. Oke?"
__ADS_1
"Iya, oke" jawab Yuki pasrah.
"Yaudah sini peluk" balasnya santai merentangkan kedua tangannya. Tak butuh waktu lama Yuki langsung menerima pelukan dari Raka dan membenamkan wajahnya pada dada bidang cowok tersebut dan menghirup dalam aroma kesukaannya.
Uum wangi, batinnya.
Wangi yang selalu Yuki cium jika berdekatan dengan cowok ini. Wangi yang selalu menjadi candu bagi Yuki selama mengenal Raka. Wangi yang selalu bisa menenangkan pikirannya.
"Kok kamu bisa masuk?" Tanya Yuki dalam pelukan Raka.
"Ya bisa lah, pintunya gak kekunci. Udah gitu gak ketutup rapat lagi"
"Emang iya?"
"Iya, lain kali jangan ceroboh. Kalau orang gak di kenal masuk gimana? Kurang kerjaan tau gak" omel Raka seperti memarahi Arka kalau lagi berbuat kesalahan.
"Iyah sorry. Gak lagi-lagi" balas Yuki, mengeratkan pelukannya.
"Oke. kamu tau gak, kamu itu type aku banget?"
Yuki mendongakkan wajahnya mentap Raka "Nggak, kenapa aku?" Tanyanya dengan senyum geli.
Raka mengecup pucuk kepala Yuki berkali-kali dengan gemesh. Dia sempat tercium aroma strawberry yang berasa dari rambut gadis itu, yang diyakininya berasal dari shampoo."Type aku tu gak muluk-muluk, yang enak dan rajin meluk aja. Kayak kamu ini" ucapnya dengan kerlingan.
"Yeeeu, belajar modus dari siapa? Gio?" Tanyanya kembali membenamkan wajahnya menghirup aroma manly dari Raka
"Kok modus sih? Beneran tau" ucapnya menumpuhkan dagunya pada kepala Yuki.
"Beneran apa?"
"Beneran kriterianya kayak gitu. Aku juga suka kalau kamu lagi manja kayak gini, terus nanti ngedusel-dusel dileher aku"
Yuki melepas pelukannya, tetapi tangannya masih berada disisi pinggang Raka "hehe leher kamu anget, terus wangi. Jadi enak buat ngedusel-dusel" jawabnya dengan cengiran khasnya.
"Tapi kenapa giliran aku yang ngedusel kayak gitu gak boleh? Hmm?" Tanyanya meraih tubuh Yuki dan memeluknya kembali.
"Kan tau, aku sensitive kalau lehernya di sentuh. Ih geli" balasnya, mengedikkan bahunya seakan baru saja merasakan hal yang menggelikan.
Raka langsung melepas pelukannya dan berdecak "ck ah curang, padahal pengen gerasain juga gimana rasanya ngedusel-dusel" jawabnya dengan cemberut.
Yuki melihat perubahan dari raut wajah Raka, membuatnya gemesh, jarang-jarang Raka menunjukkan sisi childish nya seperti ini "Tapikan gak mesti dileher"
"Terus dimana?" Ucapnya menantang Yuki
Yuki diam sejenak hingga dia menggeserkan duduknya menjauh dari Raka "sini, tiduran disini" jawabnya mengajak Raka agar tiduran dipahanya.
"Serius?"
"Gak mau? Yaudah" jawabnya santai. Sebelum Yuki beranjak pindah dari duduknya Raka sudah meletakkan kepalanya pada paha Yuki
Raka menarik satu tangan Yuki dan didenggamnya diatas dadanya "Gak nolak dong hehe" ucapnya menggoda, sedikit mendongak keatas menatap Yuki.
Sedangkan Yuki hanya membalas dengan memonyongkan bibirnya serta tangannya yang satu lagi bebas mengelus-elus rambut Raka.
"Dasar"
"Dasar apa? Dasar cinta sama aku?" Goda Raka memainkan alisnya.
Yuki menoleh sebentar sebelum mengalihkan pandangannya dari muka songong Raka "Emang aku pernah bilang cinta sama kamu?"
"Pernah, tapi itu juga karena aku yang ngomong duluan. Kalau ngomong langsung gitu gak pernah" jawabnya santai. Sekarang beralih memainkan jari-jari Yuki Yang ada ditangannya.
Mendengar jawaban Raka yang santai seperti itu membuat Yuki kembali menoleh pada Raka "Gak nyuruh aku buat say love?"
Raka melirik Yuki yang sedang menatapnya juga "buat apa? Aku gak perlu pengakuan car, toh aku juga udah tau perasaan kamu gimana sama aku kan"
"Tau dari mana?"
"Dari perlakuan kamu"
Yuki mengerutkan keningnya "Emang aku gimana?"
"Bawel kalau deket sama aku" ucapnya mencubit bibir Yuki dari bawah "Gak mau diem kaya induk macan. Tapi kadang-kadang juga berbubah jadi kalem yang gemeshin kaya kucing. Dan satu lagi, kalau kamu gak punya perasaan sama aku, gak mungkin kamu mau mendengar kata-kata aku untuk belajar berhenti menggunakan kata-kata yang kasar" jawabnya memamerkan giginya yang rapi.
"Demi kebaikan kenapa nggak" jawab Yuki mengeles ucapan Raka
Raka mengacungkan telunjuknnya dan menggoyangkannya kekiri dan kekanan "no" ucapnya santai dengan senyum merengnya "spesifiknya, kalau kamu gak punya perasaan sama aku, gak mungkin kamu bisa bucin sampai ke DNA sama aku" ucapnya sedikit menahan tawanya di kalimatnya yang terakhir. Raka teringat pengakuan Yuki kepada Dea waktu itu.
Sedangkan Yuki yang mendengar itu terlihat terkejut membelalakkan matanya "Apa sih lebay banget sampai ke DNA" ucapnya memaksakan tersenyum agar mengalihkan rasa keterkejutannya.
"Eh Kak Noval gimana?" Tanya Yuki mengalihkan topik.
Raka yang melirik Yuki dari ujung matanya tau kalau pacarnya itu berusaha mengalihkan topik membicaraan. Mau gak mau Raka mengikuti kemauan Yuki.
"Noval baik, kan dari awal dia udah bilang dia gak kenapa-kenapa"
"Emang yah. Gio tu lebay, hyperbola banget tu anak" ucap Yuki kesel menarik-narik rambut Raka. Menyebut namanya saja sudah membuat darah Yuki naik sampai keubun-ubun.
"Car, ini pala aku. Bukan Gio. Sakit tau" ucap Raka meringis memegangi kepalanya yang rambutnya ditarik-tarik.
"Eh sorry-sorry. Sakit?" Tanya Yuki khawatir segera mengelus kepala Raka
"Sakit lah, pakai nanya lagi" jawab Raka cemberut.
"Yaudah ini udah di elus. Diem dong, gak usah manja"
"Manja sama pacar sendiri emang gak boleh?"
"Gak boleh" jawab Yuki cepat
"Yaudah" ucapnya buang muka. "sanah gak usah pegang-pegang" lanjutnya menepis tangan Yuki yang berada dikepalanya.
"Yaudah" jawab Yuki cepat, mengikuti kemauan Raka.
"Cari pacar lain boleh gak sih" sindirnya.
"Yaudah cari sanah cari. Biar kamu sebelas dua belas sama mantan Kak Noval. Ada yang tulus didepan, tapi masih berasa kurang cari yang lain" balasnya menyindir tak kalah dari Raka.
Raka langsung bangun dari tidurnya menghadap Yuki dan meletakkan tangannya yang mengembang didepan bibir gadis tersebut.
Lalu menciumnya sekilas, walau secara tidak langsung berciuman tapi mampu membuat Yuki shock "aku gak mungkin cari yang lain kalau didepan aku ada seorang gadis yang begitu special yang bisa menarik aku masuk kedalam dunianya" ucapnya santai, kemudian mengacak rambut Yuki.
Yuki merasa tertegun "Apa sih" balasnya buang muka dengan bibir mengerut.
Chup
Satu kecupan mendarat tepat dibibir Yuki tanpa halangan seperti sebelumnya "udah dibilang itu bibirnya gak usah manyun gitu. Kan khilaf jadinya" ucapnya segera memeluk Yuki yang masih diam terpaku dengan ciuman tiba-tiba tadi.
Cool kan? Padahal aslinya Raka sudah menahan malu.
"Tiba-tiba banget" lirih Yuki malu-malu
"Kenapa? Mau yang lama?" Tanya Raka menggoda, dengan telinga yang sudah mulai merasa panas.
Beruntung baginya Yuki yang sekarang lagi bersembunyi didadanya sehingga tidak mengetahui perubahan warna pada telinganya.
"Nggak lah" balas Yuki menepuk dada Raka dengan tawa kecilnya
"Kirain, kalau iya biar di lanjut lagi" godanya kembali.
"Nggak ih, Simpan untuk besok aja" balasnya yang membuat keduanya saling tertawa lepas.
__ADS_1
**Next**❤️