
Pagi itu terihat Yuki memasuki kantin kampus dengan ransel yang sudah stay di bahunya dan tidak lupa tabung gambar yang selalu dibawanya kemana-mana.
Tampak kantin pagi ini sudah dipenuhi oleh beberapa mahasiswa atau mahasiswi yang asik mengunyah makanan atau yang hanya sekedar numpang duduk menuggu jadwal kelas dengan berbagai celotehan khas mahasiswi pada umumnya.
Di tempat pojokan paling sudut, Yuki melihat sesosok cowok yang tangan kirinya sibuk dengan laptop dan tangan kanannya sibuk dengan sendok. Pemandangan yang sangat sering dilakukan oleh kakak tingkatnya yang sedang melakukan tugas akhir.
"Kapan jeleknya sih tu orang" lirih Yuki menatap kagum cowok yang berada di meja pojokan yang kali ini hanya menggunkan kaos warna putih, tapi dapat dilihat di atas ranselnya yang tergeletak di meja ada hoodie berwarna grey.
"Deket bawaannya kesel, jauhan gini aja pengen nyenderan mulu" lirihya kembali masih berdiri di pintu masuk kantin memandangi cowok tersebut.
"Woi bengong aja" teriak Dea mengagetkan temannya itu "ngapain lo diri disini? Mau ngamen?" Sindir Dea
Yuki mendenguskan nafasnya kasar "ngagetin lo tayi" maki Yuki menatap temannya itu sekilas dengan malas. Lalu lanjut kembali menatap lurus tempat cowok itu berada dan diikuti oleh Dea
"Lah tu Kak Raka, cowok lo kan? Gak lo samperin?" Tanya Dea kearah Raka lalu kembali menatap Yuki bingung.
"Ntaran dulu, gue lagi menikmati nikmat tuhan pagi ini" jawab Yuki dengan mata berbinar tanpa menoleh sedikitpun
"Komuk lo mupeng ****. Najisin tau gak" ucap Dea mengusap kasar wajah Yuki
"Sirik ae lu" sewot Yuki yang kembali sadar dan memilih duduk dimeja Yang dekat dengan pintu masuk kantin diikuti oleh Dea
"Dee?" Panggil Yuki
"Hm?" Gumamnya sibuk dengan buku menu yang ada diatas meja
Yuki memain kan tabung gambar yang ada ditangannya "Gue sampai sekarang masih ngerasa excited jadian sama Raka" ucapnya malu-malu "Raka ngerasain hal yang sama kayak gue gak sih?" cicitnya kembali.
Dea yang membaca menu makanan mengalihkan bacaannya pada Yuki "setau gue ni yah yang pernah nanya sama Kak Denis, semua cowok pasti ngerasain hal kayak gitu, apa lagi sama cewek yang disukanya. Jadi intinya gue rasa Kak Raka juga ngerasain"
"Masa? Kayaknya nggak deh, buktinya dia biasa aja tu" ucap Yuki senduh menekukkan bibir bawahnya mengingat kelakuan Raka yang biasa saja padanya.
"Ki, Cowok sama cewek itu beda, bukan sama. Jadi cara mereka menunjukkannya juga beda kalik. Gak mungkin kan mereka kayak lo yang salting-salting gak jelas gitu, yah mereka pasti mempertahankan tampang coolnyalah" cecar Dea. Dea jadi gemesh sendiri mengingat betapa enolnya pengalaman temannya ini dalam hal mengenal cowok.
"Kak Denis juga pernah bilang dan ini di benarkan oleh Dean, prinsip cowok itu 'harus tetap ganteng didepan walau didalam ambyar', ngerti kan maksudnya?"
"Iyah gue ngerti, lo kira gue sebodo itu apa sampai gak ngerti gituan" sinis Yuki tak terima.
Dea hanya noleh sebentar pada temannya "Dih, di kasih tau malah nyolot" ucapnya setelah memesan makanan.
"Tapi emang mesti banget kaya gitu ya Dee?"
"Ya menurut lo aja gimana, cowok itu harga dirinya tinggi. Mana mau kelihatan lemah depan cewek, ada sih tapi yang kayak begitu ya paling gak banyak lah" lanjutnya.
"Enak banget yah jadi lo punya kakak cowok, jadi ngerti, bisa sharing juga. Gue juga mau dong Dee"
Dea mendengus mendengar ucapan rendom Yuki "Kalau lo mau punya kakak cowok, Yang lo pacarin itu Noval, bukannya Raka si anak sulung. Ogeb" balas Dea mentoyor kening Yuki tidak santai.
"Yee namanya juga cinta itu buta, mana bisa gue milih"
"He, kalau cinta itu buta, gak bakal lo tau Kak Raka itu cakep, terus lo suka" balas Dea sinis
Mendengar ucapan Dea membuat Yuki senyum malu sendiri "jangan di inget dong Dee, ih lo mah ntar kesannya gue suka karena fisik lagi" jawabnya mengerutkan bibirnya.
Dea mendengus kasar "lo lupa gimana histerisnya lo dan gimana terkagum-kagumnya elo sama ketampanan kak Raka ha? Lupa lo ?" Ucap Dea memberi penekanan pada setiap kalimatnyanya "Kalau lo lupa biar gue ingetin lagi"
Yuki menatap Dea tidak suka dengan bibir naik sebelah "gue inget ****, inget banget malah. Malu-maluin banget yah Dee kalau di inget haha" ucapnya dengan tawa geli
"Baru sadar lo? Dasar bucin"
"Iyah baru sadar haha" tawanya "lagian Dee, gue suka bukan karena fisik aja, yah walau awalnya gitu sih hihi" ucapnya disertai tawa malunya. "Tapi makin gue ikutin, gue makin kenal pribadi dia gimana. Jadi yah gitu, gue udah jatuh cinta begitu dalam" ucapnya serius dengan tenang "jadi bawaannya pengen minta di halalin tau gak sih Dee hihi" lanjutnya dengan tawa geli lagi.
Kalau udah ngebahas perasaannya tentang Raka gak tau kenapa urat malu Yuki tiba-tiba putus, gak tau malu. Mungkin ini efek dari terlalu mengagumin seseorang, sampai begitu cintanya, sehingga terjadi yang disebut dengan bucin.
Lama-lama gue ganti nama juga jadi 'Yuki Bucinnya Raka Marcellia', batin Yuki dengan kikikan geli membayangkannya.
Dea yang melihat kelakuan temannya itu cuma bisa geleng kepala takjub, masalahnya baru kali ini liat orang yang sebegitu gilanya sama satu cowok. Dea sendiri yang sudah punya pacar tidak begitu menunjukkan kekagumannya dengan pacarnya pada siapapun.
Yuki salah satu cewek yang unik, akan begitu kagum dan tergila-gilanya sama orang yang membuat dia tertarik, sampai gak bisa menyimpan rasa kekagumannya. Dan kebalikannya dengan orang yang tidak disukainya, dia akan begitu galak dan juteknya.
Dea yang menghadap langsung kearah meja Raka, sementara Yuki memunggungi. Sehingga Dea langsung bisa lihat Raka yang berjalan dengan senyum merkah dipipinya menuju meja mereka berdua.
Dea senyum licik pada Yuki yang tak melihatnya, Raka yang beberapa langkah lagi akan sampai "sebegitu sukanya lo sama Raka?" Tanya Dea yang sesuai rencananya, Raka tepat berada dibelakang Yuki.
Mendengar pertanyaan tersebut, sontak membuat Raka menghentikan langkahnya dan menunggu jawaban Yuki dari balik punggung.
Sementara Yuki yang sedang memainkan pipet digelas minumnya menghentikan kegiatannya itu dan memicingkan matanya menatap Dea
"Kalau gue gak sesuka itu Dee, gak bakal gue sebucin ini. Kan gue udah bilang tadi, gue udah jatuh terlalu dalam Dee, sampai gak bisa keluar lagi" jawabnya
__ADS_1
Dea dan Raka yang mendengar jawaban Yuki saling pandang, disertai dengan senyum geli dari mereka.
Kalau Yuki tau Raka ada dibelakangnya mana mungkin dia berani bicara seperti itu.
Raka masih diam dibelakang Yuki dan memberi Dea kode agar bertanya lebih lagi.
"Emang sebucin apa sih? Udah bucin sampai ketulang-tulang? Atau udah sampai ke urat syaraf?" Tanya Dea sedikit menyindir. Walau dia tau bucinnya temannya itu udah sampai ke DNA !
"Udah sampai ke DNA Dee"
Raka di belakang Yuki sudah menutup mulutnya dengan tangan agar menahan tawa lepasnya.
Tuhkan bener, batin Dea atas jawaban Yuki
"Gue ngikutin doi dari semester satu sampai sekarang udah semester Lima" jawabnya dan dianggukin oleh Dea, Dea sudah tau dari awal mereka kenalan waktu masih Maba dulu kalau Yuki naksir Seniornya itu.
"Lo hitung Dee, berapa tahun gue nunggu doi biar deket" ucapnya berubah jadi sedih. Sedih jika di ingat gimana dulu dia berusaha deket tapi tidak punya keberanian, cuma bisa kagum dari jauh.
Sedangkan Raka masih setia berdiri dibelakang Yuki, Raka berusaha kelihatan cool walau sedikit shock mendengar kejujuran Yuki tadi.
"Kurang lebih dua setengah tahun" jawab Dea menghitung
"Tuh, dua setengah tahun Dee gue suka dan nunggu tanpa tertarik sama yang lain" ucapnya yang sedikit tenang "lo kira aja kurang bucin apa lagi coba gue. Gue ikutin kemana dia pergi. Kekantin? Gue samperin, belakang gedung? Gue samperin, Sampai gue sendiri nyaman disana. Duh perpustakaan lagi, Gue samperin Dee, sampai gue pernah ketiduran nungguin dia disana" lanjutnya, sementara Dea dan Raka sudah senyum-senyum sendiri mendengarnya.
"Tapi kan perjuangan lo gak sia-sia Ki, lo akhirnya jadiankan sama Kak Raka" ucapnya dengan tenang.
Raka yang masih setia ingin mendengar percakapan kedua wanita itu memilih untuk duduk nyender di kursi yang ada dibelakang Yuki, sementara tangannya terlipat didada dan menghadap langsung kepunggung Yuki.
Yuki menyenderkan punggungnya kesandaran kursi "ya iya sih gak sia-sia" jawabnya lesuh dengan suara melemah dan menurunkan bahunya,
Raka yang mendengar dan melihat itu mengerutkan keningnya bingung. Begitu juga dengan Dea, bingung dengan perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu.
Sedetik kemudian ekspresi Yuki langsung berubah ceria kembali "Eh Dee, Kasih tau dong ciri-ciri cowok salting gimana" ucapnya mengedip-ngedipkkan matanya genit.
Dea tampak berfikir sebelum menjawab pertanyaan Yuki "setau gue ni ya, kalau cowok salting sama sih kayak kita cewek, pipinya merah"
Raka yang mendengar jawaban dari Dea mengerutkan keningnya dan menyipitkan matanya.
"Raka gak pernah gue liat merah pipinya, Tapi pernah sih waktu gue nabrak dulu, itu juga katanya karena kena matahari"
"Iya juga yah, orang tu anak kulitnya putih gitu, kaya kapas" ucap Dea melirik Raka sekilas dan dibalas dengan Raka memelet lidahnya pada Dea, yang membuat Dea hampir saja mengumpat "Tapi katanya ada juga yang kalau salting telinganya memerah Ki, lo pernah liat telinga Kak Raka memerah gak?" Lanjutnya antusias sekilas melirik kearah Raka kembali.
Seketika Raka memegang telinganya, detik itu juga dia merasa telinganya memanas
"Gak pernah liat gue, ntar deh gue perhatiin" balas Yuki mengangguk-angguk atas ucapan Dea.
"Nah harus itu. Gue yakin disitu titiknya" ucap Dea pasti, serta melirik sombong kearah Raka menaik turunkan alisnya.
"Oke! Pokoknya Dee, Raka mesti bucin kaya gue. Enak aja cuma gue sendiri yang bucin dianya nggak hu" ucapnya semangat.
Hampir saja Raka ngakak dengar perkataan Yuki itu, kalau saja Dea tidak memberinya peringatan.
Sorry, ucap Raka tanpa suara, dengan cengiran khasnya.
"Atur aja Ki atur" balas Dea tak mau ambil pusing.
Belum sempat Yuki membalas ucapan Dea, sebuah tangan putih mengusap kepalanya dan itu membuat Yuki kaget sampai menjerit kecil, hampir saja dia jatuh kalau Raka tidak segera menahan kursi yang diduduki Yuki
"Astaghfirullah, gue kira siapa. Rese banget sih ih" omel Yuki kesal memukul bahu Raka berkali-kali. Raka yang berhasil mengerjain Yuki tak henti-hentinya ketawa, Dea yang melihat juga ikut ketawa di kursinya.
"Ya lo fokus banget cerita sampai gak tau kalau pacarnya ada dibelakang" ucapnya yang kini sudah duduk disamping Yuki
"Ha? Dibelakang? Sejak kapan lo dibelakang?" Tanya Yuki panik, harapannya jangan sampai Raka mendengar ucapannya tadi sama Dea, apapun itu. Jangan sampai.
"Gak lama kok, baru aja ini" balas Raka dengan lembut menatap Yuki lekat, disertai senyum yang membuat matanya hilang.
Manis, batin Yuki.
Yuki cukup bengong menikmati senyum itu, senyum yang selalu membuat Yuki betah menatap Raka dari kejauhan. Senyum tulus. Senyum andalan yang bisa membuat Yuki hilang fokus dan lupa apapun.
Sementara Dea yang mendengar hanya berdecak sinis "ekhem. Inget masih ada orang disini" sindir Dea
"Oh orang, kirain cicak di dinding" ledek Raka disertai tawanya yang diikuti oleh Yuki. Membuat Dea mengerutkan bibirnya kesal.
"Cocok lo berdua, udah ah gue pergi. Bye" balasnya meninggalkan sepasang kekasih itu
"Lah ngambek" ucap Raka membuat Yuki menyikutkan tangannya keperut Raka
"Woi Dee? Woi ! Minum lo belum di bayar **** !" Teriak Yuki, membuat Raka menyentil mulut Yuki.
__ADS_1
Sekilas Dea memutar kepalanya menghadap Yuki "pakai uang lo dulu, ntar gue ganti" ucapnya kembali berjalan keluar area kantin.
"Ck ah Kebiasaan tau gak tu anak Ka" ucapnya kesal mengerutkan bibirnya
"Yaudah biar gue yang bayar, udah gak usah kesel gitu" ucapnya menatap Yuki lembut dan intens.
Yuki yang di lihat seintens itu mengalihkan perhatiannya pada gelas minum yang ada didepannya.
Ambyar ****, batinnya mengutuk dirinya
Lagian Yuki kesal bukan karena masalah bayar membayar, tapi kesal karena seenaknya aja tu anak pergi ninggalin dia sendiri dengan Raka. Kan dia grogi.
Awas aja lo Dee, habis lo ditangan gue, batinnya kesal.
Raka meraih tangan Yuki yang berada diatas meja "Yuk pindah ke belakang" ajaknya, belum sempat Yuki menjawab Raka sudah menarik tangan Yuki, mau tak mau Yuki mengikut dari belakang melewati beberapa meja.
Sesampainya mereka dimeja tempat Raka duduk tadi, Raka langsung membereskan beberapa buku yang berserak diatas meja dan menutup laptopnya.
"Loh kok di tutup laptopnya?" Tanya Yuki bingung.
Sekilas Raka menoleh dengan senyum manisnya "Kan udah ada pacar disini, ngapain masih sibuk dengan laptop dan teman-temannya" ucapnya, melanjutkan membereskan buku-bukunya.
Mendengar kata-kata seperti itu berhasil membuat Yuki blushing mendadak dan merapatkan bibirnya agar tidak membuat lekukan keatas.
Too weak Ki, batin Yuki, mengalihkan tatapannya dari Raka
"Ada kelas jam berapa?" Tanya Raka setelah selesai dengan buku-bukunya lalu menatap Yuki yang tak menoleh padanya.
"Jam satu" jawab Yuki singkat tanpa menoleh sedikitpun
Raka mengangguk-anggukan kepalanya dengan jawaban Yuki "keluar jam berapa?" Tanyanya kembali masih menatap Yuki
"Jam tiga" jawabnya cepat. Secepat detak jantungnya saat ini
Dari ujung matanya, Yuki tau kalau Raka sedang menatapnya dengan intens, dan hal itu membuat Yuki salah tingkah dan gak berani menoleh pada Raka.
"Kalau pacar ngomong itu diliat dong" balas Raka yang sekarang sudah menompang pipinya sebelah dengan tangannya, tidak lupa disertai dengan senyum manisnya
"Gimana mau liat, lo liatin gue kaya gitu dari tadi" jawab Yuki sinis, masih tanpa menoleh.
Mendengar jawaban Yuki berhasil membuat Raka ketawa ngakak sampai air matanya sedikit keluar.
Mendengar tawaan Raka, Yuki menolehkan kepalanya dan berdecak "Gak lucu juga" ucapnya sewot.
"Kamu lucu banget" ucap Raka ditengah-tengah tawanya menarik hidung Yuki tidak kuat.
Kamu?, batin Yuki mengulang
Mendengar ucapan Raka itu reflek membuat Yuki menegang ditempat tanpa bergerak sedikitpun dengan melihat Raka yang masih tetap tertawa.
Melihat Yuki yang diam dengan tatapan kosong membuat Raka menghentikan tawanya "Ki, kamu kenapa? Kok diam? Jantung kamu kambuh lagi?" Tanya Raka panik mengguncang-guncang bahu Yuki.
Yuki menyentuh tangan Raka yang berada dibahunya dan menyingkirkannya dari situ "gue gak apa-apa" jawab Yuki lemah, sangking lemahnya dia tak mampu menahan kepalanya untuk berdiri dan alhasil menyenderkan pipinya diatas meja dengan menghadap ke Raka.
"Gue cuma ... shock ... sama ucapan lo tadi" ucapnya terputus-putus seperti habis lari mengelilingi GBK
Raka memicingkan matanya dia tau maksud Yuki "Kamu?" Tanya Raka memastikan yang dijawab anggukan dari Yuki.
"Kenapa? Gak suka ya?" Tanya Raka
"Suka. Banget" jawab Yuki malu menutup wajahnya dengan telapak tangannya dan berhasil membuat Raka menarik bibirnya untuk tersenyum
Raka menarik tangan Yuki agar menjauh dari pipinya dengan sebelah tangan dan menggenggamnya. Sementara tangan sebelahnya lagi digunakan untuk mengusap pipi Yuki.
"Kalau suka kenapa reaksinya gitu uumn?"
"Shock aja, sebelumnya kan gak pernah denger lo ngomong kaya gitu sama siapapun"
Sekilas Raka menyunggingkan senyum tipisnya "biar membedakan aja sih, kamu dengan yang lain. Kamu pacar aku" ucapnya, kali ini dengan senyum merkah yang membuat mata Raka hilang
Ambyar !!
"Pipi gue udah merah belum Ka?" Tanyanya tanpa semangat, energinya benar-benar terkuras hanya untuk terlihat biasa saja, walau tetap gagal.
"Udah, malah dari kamu aku tarik kesini pipi kamu udah merah gitu. Ini makanya di elus biar gak makin merah" goda Raka dengan senyum smirk nya.
"Rakaaaaa reseeeeeek" retiak Yuki cepat, segera menutup wajahnya kembali dengan kedua tangannya, membuat Raka ketawa ngakak.
"Love you" bisiknya ditelinga Yuki. Walau Raka tak melihat langsung wajah Yuki, tapi Raka yakin dibalik itu pipi Yuki bersumuh merah.
__ADS_1
Sementara Yuki yang mendengarnya sudah menyunggingkan senyum "love you too" balasnya dengan suara pelan, namun dapat di dengar Raka.
**Next**❤️